My Darling

My Darling
74



πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Zhafira melihat sang kakek buyutnya yang ternyata ikut juga berkunjung di ruangan perawatannya tentu saja membuat Zhafira merasa sangat terharu. Karena memang sudah sangat lama sekali Zhafira tidak pernah bertemu kembali dengan kakek buyutnya ini setelah kakek buyutnya ini menawarkan bantuan pada perusahaan Aisyah yang sempat hampir kolaps saat itu, yang sayangnya Zhafira pun menolak bantuan itu, dan memilih mencari investor dari luar dan ternyata di situ lah plot twist Zhafira dan Anggie bertemu bahkan terlibat dalam permasalahan hidup dengan seorang keturunan mafia terkuat di negara * yang sibuk dengan perebutan kekuasaan dan kepemimpinan sebuah klan terkuat dalam kartel.


Sultan Bhalendra yang akhirnya mendapatkan giliran untuk berada di dekat cicit perempuannya ini tidak dapat menyembunyikan perasaan haru nya. Dekapan yang diberikan Sultan Bhalendra sangat lembut yang sangat syarat penuh bermakna dimana berkali-kali Zhafira mendengarkan berbagai keluhan Sultan yang dijawab Zhafira dengan anggukan kepala atau gelengan kepala dan berkali-kali terlihat Zhafira yang mengusap punggung renta kakek buyutnya ini.


Hal ini tentu saja disaksikan oleh banyak pasang mata menatap momen mengharukan ini, bahkan sesekali mereka menyeka air mata yang tanpa sadar terjatuh dengan sendirinya. Dan pada momen percakapan ini dimanfaatkan Sultan Bhalendra untuk mengajak Zhafira melakukan video call dengan sang ayah tercinta nya, dimana Zhafira memanggil pria sepuh ini dengan eyang buyut.


Usia Malik sudah sangat sepuh, yang pastinya sudah lebih sepuh dari sang kakek buyutnya ini membuat Zhafira meringis pilu ketika sang eyang buyutnya berkali-kali memanggil nama Zhafira dengan nada penuh kerinduan dan air mata. Momen mengharukan ini membuat Malika merasa tersentil karena hal ini tidak akan pernah terjadi jika bukan karena dirinya, bermuara dari penyakit hatinya ketika merasa perhatian semua orang yang dia cintai, suaminya dan putranya berpusat pada Aisyah dan tidak lama kemudian setelah Zhafira hadir di dunia,


Bahkan semua orang lebih memfokuskan perhatian dan cinta kepada cucu, cicit yang membuat Zhafira memiliki label kesayangannya Bhalendra, berliannya Bhalendra. Padahal jika dirunut anak perempuan tidak akan pernah sama pembagian hasil warisan dimana pihak perempuan akan memiliki sebagian kecil saja.


Akan tetapi tidak berlaku untuk Zhafira. Bahkan dalam pembagian harta warisan, tuan besar pertama Bhalendra, yaitu tuan Malik Bhalendra memberikan pengumuman yang mengejutkan banyak anggota keluarga Bhalendra dimana Zhafira menguasai tujuh puluh persen milik Malik, tiga puluh persennya lagi di bagi untuk tiga putranya, sedangkan Sultan Bhalendra memberikan seluruh hartanya atas nama Zhafira, dan pembagian sahamnya sama seperti sang ayah dimana masing-masing anaknya hanya mendapatkan sepuluh persen saja.


Mendengar hal itu, beberapa istri anggota keluarga Bhalendra ikut terhasut bisikan syaitan dimana mereka akan memperjuangkan harta yang sebenarnya bukan hak mereka. Akan tetapi penyakit hati menggerogoti hati nurani mereka sehingga jalan apapun mereka tempuh. Padahal sepuluh persen yang diberikan itu sangatlah besar jika di nominal kan dengan mata uang. Karena banyak aset- aset lainnya yang sudah dibagi rata oleh Malik, dan Sultan Bhalendra.


Dan disinilah Malika akan memperjuangkan hak nya untuk tidak memasukkan nama Zhayn dan saudara- saudaranya dalam pembagian hak waris yang akan diumumkan oleh Idris pada pertemuan keluarga inti mereka. Sehingga tidak ada satupun anak Adhitama yang memiliki hak waris dalam pembagian harta warisan yang Idris miliki yang nantinya akan diumumkan oleh Idris dalam waktu dekat. Dan dari sinilah awal mula pertikaian yang terjadi diantara suami-isteri, antara Malika dan Idris, dendam yang menjadi kayu bakar dalam batinnya Malika sehingga membuatnya hanyut dalam perbuatan buruk dan kotor dengan menyakiti anak dan istrinya Adhitama.


Malika berulang kali menundukkan kepalanya dan mengangkat kembali kepalanya, kemudian menundukkan kembali kepalanya untuk menimbang apakah dirinya layak untuk menemui Zhafira. Karena di dalam relung hatinya yang paling dalam dia terlalu malu untuk menemui Zhafira, namun terlalu rindu pada satu- satunya cucu perempuan yang dia miliki. Tanpa kata, Malika memilih untuk pergi tanpa mengangkat kepalanya, tertunduk saja sembari menyeka air mata yang jatuh dengan sendirinya. Putra Malika lainnya, lebih tepatnya adik kandung Adhitama menyeka air matanya juga ketika melihat sang ibu yang lebih memilih pergi dari pada tinggal sini sembari menunggu giliran bertemu langsung Zhafira, Malika berpesan jika sampaikan saja salam darinya, dan meminta dia tetap tinggal dan bagaimanapun adiknya Adhitama turut bertanggung jawab atas apa yang terjadi di masa lalu sehingga kehadirannya untuk mewakili sang ibu yang yang tidak mampu menahan malu, rindu, dan sedih yang berkecamuk dalam dirinya sendiri yang hanyut dalam penyesalan yang dalam.


Kembali lagi ke momen haru yang terjalin diantara Malik dengan cicit kesayangannya. Dimana Zhafira mulai memikirkan setelah dirinya sembuh nanti. Dia akan segera datang untuk berkunjung ke mansion utama Bhalendra atau bahkan datang untuk menginap beberapa hari disana, dimana mansion utama yang sekarang hanya di huni tuan besar Bhalendra sebelumnya yaitu Sultan Bhalendra, dan Malik Bhalendra karena untuk yang lainnya sudah dengan di sengaja tereliminasi semenjak tragedi memilukan itu yang membuat hubungan antara anggota keluarga Bhalendra menjadi dingin hingga saat ini.


Dan pertemuan Zhafira dengan Sultan Bhalendra malam hari ini sebagai pembuka jalan seluruh anggota keluarga Bhalendra bisa memperbaiki hubungan silaturahmi yang sempat terputus dengan para tetua Bhalendra. Mereka sadar di usia mereka yang kian bertambah, dengan berbagai ujian hidup membuat mereka semakin dewasa dalam berfikir, dewasa dalam bersikap, dan mengakui jika semua yang ada di dunia tidak akan pernah di bawa mati kecuali amal ibadah dan amalan yang sholeh. Harta, tahta, apapun yang bersifat manusiawi akan ditinggalkan, kecuali nama baik. Oleh karena itu, mereka mulai memperbaiki citra itu untuk bisa dikenang baik ketika roh meninggalkan raga.


Sultan Bhalendra tidak memperdulikan apapun itu. Baik semua orang yang menyapanya dimana dari keseluruhan pengunjung yang datang adalah keluarga Bhalendra yang entah mengapa hadir hari ini, sehingga dua ruangan rawat inap Zhafira yang saling terhubung ini sangat penuh membuat perawat memperingati jika setelah jam makan siang, biasanya Zhafira diberikan waktu untuk istirahat. Dan Sultan Bhalendra sempat khawatir akan peringatan itu. Namun, Zhafira mengatakan jika dia baik-baik saja dan memberikan waktu pada Sultan Bhalendra untuk mengungkapkan segala rasa yang ingin diungkapkan olehnya. Panjang lebar Sultan bercerita yang intinya Sultan merindukan cicitnya ini datang mengunjunginya di mansion utama Bhalendra yang ternyata gayung bersambut ketika sang cicit berkata akan berkunjung dan bersedia menemui Malik serta menginap di mansion utama. Mendengar kabar gembira ini tentu saja membuat suasana hati Sultan bagaikan bunga di musim semi, bermekaran dan indah. Sultan Bhalendra sangat terlihat bahagia. Lihatlah, senyuman itu setelah sekian lama, akhirnya Sultan Bhalendra tersenyum dan menyapa beberapa orang yang baru saja tiba, padahal banyak anggota keluarga tahu bagaimana dinginnya Sultan setelah tragedi masa lalu terjadi. Bagaimana ekspresi Sultan menatap dingin satu persatu anggota keluarga Bhalendra, yang tidak lama kemudian Sultan memerintahkan kepala pelayan menutup pintu utama Bhalendra dari seluruh anggota keluarga Bhalendra tanpa terkecuali, termasuk anak kandungnya sendiri.


Tanpa menunggu lama, salah satu kerabat yang masih menjadi bagian keluarga Bhalendra langsung memanfaatkan momen bahagia Sultan dengan sebuah celetukan dimana sebuah celetukan ini berisikan sebuah lamaran langsung pada Zhafira agar Sultan segera menyetujui dan menerima perjodohan antara cicit laki-lakinya yang sudah lama mencintai Zhafira. Membuat Zhafira mendelik matanya ke arah orang yang menyampaikan niat baiknya.


" Aku tidak pernah menjodohkan cicit kesayangan aku "


" Khususnya untuk Zhaza, aku akan membiarkan Zhaza memilih pilihannya sendiri " ucap Sultan Bhalendra yang membuat semua orang terdiam, termasuk pria yang sedari tadi mencuri tatap pada Zhafira. Sungguh dia sudah menyukai Zhafira sejak Zhafira sedari kecil. Rasa itu semakin dalam dan tidak terkendali meskipun dia berusaha untuk menghilangkan nya dari dalam hatinya. Pria itu berharap bisakah Zhafira melihat ketulusan itu di matanya, tanpa melihat kesalahan para tetua di masa lalu. Bukankah mereka dekat di saat silaturahmi Zhafira dengan anggota Bhalendra lainnya sempat terputus.


Melihat musuh mengibarkan bendera secara terang-terangan di hadapan keluarga Abrisham membuat Ibrahim dan Amanda tidak menyia- nyiakan kesempatan mereka untuk ikut maju di area pertandingan, dan di momen inilah sepasang suami-isteri ini menjerat Zhafira dimana Zhafira tidak bisa berkelit lidah. Ibrahim dan Amanda berperan sangat apik, dan saling melengkapi membuat Azzam memijat pelipisnya kembali.


" Yah, kalau dari pihak Lesham, dan Abrisham sudah menyepakati hal ini sebelumnya, dan Zhaza juga terlihat nyaman dan menerima Kenzie. Maka lebih cepat lebih baik untuk kita segerakan niat baik ini " ucap Sultan Bhalendra yang menyangka jika Zhafira juga menyukai Kenzie.


Terlihat dari posisi Kenzie yang tidak pernah jauh dari Zhafira. Bahkan Zhafira diam saja ketika Kenzie menyentuh telapak tangannya, yang jelas-jelas Zhafira sangat menjaga marwahnya dari pandangan laki-laki yang bukan mahramnya. Dan disini terjadi kesalahpahaman. Zhafira berfikir jika Kenzie merupakan salah satu saudaranya dari pihak sang ayah yang belum pernah dia jumpai sehingga dia nyaman saja ketika berada di dekat Kenzie, karena sepupu dari pihak sang ayah termasuk mahram baginya, walaupun beberapa kali merasa risih ketika Kenzie menuntut lebih dari sentuhan itu.


Kenzie dengan mantap mengatakan jika Minggu depan dia dan keluarganya akan datang melamar Zhafira yang tentu saja membuat perasaan Zhafira bagaikan tersambar petir, Oh tidak.


Tidak mungkin terjadi, Zhafira terlalu shock sehingga tidak sadar jika Kenzie semakin memperdalam tautan tangan mereka. Zhafira menggelengkan kepalanya. Jangan, dia belum siap menikah.


Zhafira menatap sang ibu yang ternyata sudah tertawa lepas begitu pula dengan Amanda menyambut suka cita berita yang membahagiakan mereka walaupun posisi mereka sedikit jauh. Akan tetapi tidak untuk Adhitama dan Zhidan yang memandang Kenzie dengan tatapan menghunus seakan-akan Kenzie musuh yang harus mereka hilangkan.


Bagaimana bisa Zhidan tidak mengetahui jika ada maksud lain dari kedekatan mereka selama ini. Terlalu licik cara Kenzie mendapatkan Zhafira.


Sedangkan pihak keluarga yang awalnya mengajukan khitbah terlebih dahulu pada Zhafira melayangkan protes pada Sultan, mengapa Sultan langsung menyetujui tanpa melakukan penolakan seperti yang mereka alami tadi. Harga diri keluarga mereka dipermalukan, dan itu membuat suasana menjadi sangat tegang.


Ibrahim dan Amanda tetap kekeuh akan keinginan mereka, begitu pula dari pihak keluarga pria lainnya yang masih memperjuangkan hak putranya agar mendapatkan kesempatan yang sama. Suasana disini menjadi sangat tidak kondusif, salah bersikap sedikit saja maka akan terjadi perperangan


Kepala Zhafira terlalu berat memikirkan masalah pelik ini di saat kondisi kesehatannya seperti ini. Tidak ada yang mau mengalah, sehingga membuat Zhafira mendesah pasrah.


Zhafira segera turun dari ranjang pasien dimana Zhafira hampir terjatuh, dan Kenzie membantu Zhafira yang membuat Zhidan memerah wajahnya akibat memendam amarah, sedangkan pria lainnya yang hendak melamar Zhafira mengepalkan kedua tangannya.


Disini Zhafira memegangi telapak tangan kedua calon mertua dengan lembut dan mengatakan pada sang ibu kandung, siapakah yang akan diminta sang ibu untuk menjadi ibu mertua Zhafira. Dan Aisyah terkejut, mengapa Zhafira meletakkan semua tanggungjawab ini padanya.


Zhafira mengatakan pada Aisyah yang disaksikan oleh semua orang. Bahwa apapun yang terucap dari bibir Aisyah, maka itulah yang akan menjadi tujuan hidup nya, akan menjadi titah yang harus dijalankan oleh Zhafira. Aisyah menatap sang abang yang dijawab Azzam hanya menghardikan bahunya saja. Aisyah dilema, dan mengapa seakan-akan dirinya lah sebagai eksekutor proses pengeleminasian ini


Aisyah mendatangi ibu pria si A, dan membuat ibu pria si B langsung muram. Aisyah mengatakan jika sebelumnya Kenzie telah datang terlebih dahulu untuk meminang Zhafira, begitu pula dengan orang tuanya Kenzie, yang beberapa kali datang dan dijawab oleh sang abang, nanti. Dan akan ada pertemuan keluarga besar Lesham, Bhalendra, dan juga keluarga Abrisham untuk bagaimana dengan lamaran yang diajukan oleh Kenzie. Aisyah tidak bisa menerima lamaran putra si ibu A, dikarenakan alasan inilah.


Oleh karena itu, Aisyah dengan tulus meminta maaf kepada ibu si pria A, meminta maaf dengan sangat tulus, bahkan terkesan sekali tidak enak karena bagaimanapun Aisyah harus memilih, dan ada hati yang tersakiti karena tidak terpilih. Dan itu terjadi karena telah datang lamaran sebelum pria A mengajukan lamarannya malam hari ini, yang membuat keluarga pria A, dan pria A tersebut langsung menundukan kepala mereka yang kecewa karena penolakan halus yang dilakukan oleh Aisyah.


Dan ada benarnya, jika saja posisi mereka di balik, apakah mereka mau diperlakukan seperti itu, tidak dihargai. Dan itu poinnya.


Kecuali dua belah pihak ini ada yang tidak menyetujui, dan gagal dalam kesepakatan, maka pria A berhak mendapatkan kesempatan, ini adalah ucapan Aisyah yang membuat ibu si pria A langsung tersenyum kembali, yang artinya masih ada kesempatan. Jika pria B tidak mendapatkan kata iya dari Zhafira


" Zha "


" Mama masih menunggu jawaban kamu. Andai nanti dia tidak kamu terima " ucap ibu si pria A sembari menatap ke arah Kenzie


" Mas kamu sangat mencintaimu, nak "


" Mama juga menjamin kebahagiaan kamu, jika kamu menerima pinangan dari anak mama "


" Mama tidak berbohong, kami sangat bahagia dan menerima kamu di keluarga kami nantinya "


" Tanyakan Tasya, bagaimana tergila-gila mas kamu padamu , sampai tidak satupun perempuan di dekatinya sampai seumur ini hanya untuk menunggu kamu dewasa " ucap ibu si pria A dengan penuh harap.


Zhafira terkejut mendengar ucapan Tante baik hati yang terkadang sesekali berjumpa dengan dia secara sengaja atau tidak sengaja. Karena terkadang Tasya, yang saudara sepupu jauh dari pihak sang ayah sangat sering mengajaknya hangout bareng, dan selalu si Mas ini mengekor dalam perjumpaan mereka. Dan Zhafira baru tahu, ini yang dimaksud oleh sang Tante


Zhafira merasa sangat bersalah, wajah Zhafira sudah semakin sendu. Zhafira memeluk tubuh sang Tante, dan sang Tante juga memeluk Zhafira. Dia sangat berharap Zhafira menjadi anak menantunya. Mereka larut dalam haru yang membuat suasana kembali menjadi canggung.


" Zhaza akan patuh pada bunda, Ma "


" Namun Zhaza akan menjalankan istikharah, yang mungkin akan Allah SWT berikan jawaban dalam pilihanNya " ucap Zhafira yang seperti memberikan sedikit angin segar pada pihaknya.


Sedangkan Amanda, semakin menguatkan tekatnya, jika memang ada jalur langit untuk memuluskan jalannya, maka Amanda pasti melakukan jalur tol bebas hambatan itu. Melobi yang maha kuasa sangat tidak masuk akal jika dilakukan dengan cara tidak baik. Maka Amanda semakin mempertebal cara eklusif ini, bersedekah misalnya.


Akhirnya didapatkan waktu untuk Kenzie memantapkan niatnya di tempat yang sudah disepakati bersama, yang diajukan oleh Sultan Bhalendra. Siapapun prianya Zhidan tidak menyukai hal ini. Kakaknya adalah miliknya. Bisa- bisanya dua keluarga ini, dua pria ini hendak memperebutkan kakaknya, Ah, tidak bisa dibiarkan. Zhidan akan melakukan penolakan yang Zhidan yakini Zhafira pasti menyetujui atas apa yang dia pikirkan saat ini.


Tanpa Zhidan sadari, jika sang kakak telah meletakkan egonya diatas kehendak sang ibu, yaitu menikah. Zhafira kalah, Zhafira mengalah dengan keinginan sang ibu. Sehingga usaha Zhidan hanyalah sia- sia belaka. Toh siapa pun prianya sudah tidak penting lagi bagi Zhafira. Asalkan ibunya senang, maka dia biarkan saja siapapun pria itu. Sebegitu pasrah Zhafira soal calon suami, karena tidak ada dalam agendanya mengenai berumahtangga.


*


*


*


*


*


*


🌺🌺