Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 9



"Jen, kau mau membuatku mati ha?", teriak Claudya ketika Jeny mulai melajukan kendaraan mereka dengan kencang di jalan bebas hambatan.


"Kita sudah terlambat 1 jam, Nona....!!", sahut Jeny santai dengan tetap fokus pada jalanan.


Ketika hati dan pikiran Claudya sedang kacau karena ulah Jeny, tiba-tiba handphonenya berdering.


"Hallo, Yah...." jawab Claudya setelah membaca id pemanggil.


"Kamu di mana?", tanya Ayah dengan nada cemas.


"Lagi di jalan, Yah. 10 Menit lagi Cla sampai", ucap Claudya sambil matanya melototi Jeny yang sedang meliriknya melalui kaca spion bagian tengah mobil.


"Cepatlah. Semua sudah menunggumu sejak sejam lalu..", perintah ayah Albert kemudian mematikan sambungan teleponnya.


huhhhhhh...


"Semua gara-gara lelaki menyebalkan itu...!!", gerutu Claudya yang masih didengar Jeny.


"Kita hampir sampai, Nona...", kata Jeny ketika kendaraan yang mereka naiki sudah masuk ke jalan menuju kantor JS Group.


"Jeny.... Bagaimana penampilan saya?", kembali Claudya berucap dengan formal.


"Selalu terlihat cantik, Nona. Seperti biasa. Cuma hari ini lebih berseri", sahut Jeny dengan senyum. "Kita sudah sampai..".


Jeny memarkirkan kendaraan di depan pintu masuk lobi kantor kemudian security yang berjaga di situ membukakan pintu belakang untuk Claudya.


"Terima kasih, pak Amir. Sudah sarapan?", tanya Claudya basa-basi.


"Sama-sama, Nona. Saya sudah sarapan...", jawab Amir sembari menunduk hormat pada anak dari Presdir JS Group tersebut.


"Baiklah. Kalau begitu mari, pak Amir", ucap Claudya lagi lalu berlalu pergi.


"Nona Claudya sangat baik, tutur katanya juga sangat sopan, pantas akan digadang-gadang menjadi penerus Tuan Albert" gumam Pak Amir sang security ketika melihat Claudya berlalu pergi masuk ke perusahaannya.


Di sisi lain..


"Maaf, saya terlambat, ada sedikit urusan tadi..", Jo berucap kemudian duduk di singgasana Presiden Direktur JF Group.


"Jelaslah terlambat, toh lagi ngurung cewek dari semalam", gerutu Bryand yang duduk di samping Bosnya itu.


"Kita mulai meetingnya hari ini", lanjut Jo. "Dan 1 lagi, seperti biasa, jangan ada yang berani menyela presentasi laporan dari setiap devisi..!", peringat Jo.


"Baik, Tuan..", sahut peserta meeting.


"Hmmmm.. Mulai dari devisi keuangan", perintah Jo.


"Baik, Tuan Jo. Terima kasih. Saya akan menyampaikan laporan secara garis besar keuangan perusahaan kita bulan ini, baru saya akan rincikan bagian-bagiannya.....", lanjut kepala devisi keuangan tersebut.


Pertemuan berlangsung hingga lewat jam makan siang. Jo tidak memberikan kesempatan bagi peserta meeting untuk meninggalkan ruangan meeting.


Sesekali Jo menyatukan uratan di keningnya karena ada laporan maupun plan dari beberapa devisi yang tidak sesuai dengan keinginannya.


"Saya sudah mendengarkan dan menganalisis berkaitan dengan laporan yang kalian semua berikan.....", kemudian Jo diam beberapa saat.


Para kepala devisi mulai berkeringat. Mereka sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh Richard Jo jika ada kelalaian atau kesalahan yang dilakukan oleh devisi mereka. Tidak segan-segan Jo akan memutasi mereka yang tidak mampu memimpin devisinya masing-masing. Meski itu adalah kesalahan pertama dari devisi tersebut. Kesalahan pertama adalah tetap disebut kesalahan.


"Untuk kepala devisi pemasaran, anda dipindah tugaskan ke cabang JF Group yang ada di kota S. Untuk kepala Pabrik JF Group, anda akan menggantikan posisi kepala devisi pemasaran di JF Group pusat. Kemudian untuk setiap produk yang dihasilkan oleh pabrik pusat maupun pabrik cabang tetap menggunakan kualitas terbaik. Tingkatkan apa yang perlu ditingkatkan. Perbaiki setiap kesalahan yang ada. Bulan depan saya mau peningkatan profit perusahaan 10% dari bulan ini..!!", tegas Jo.


Semua kepala cabang yang tadi menunduk tiba-tiba mengangkat kepalanya menghadap Jo.


"Ide kalian yang tercetus setelah rapat ini, sampaikan kepada saya, atau Alvaro dan Bryand..!".


Mereka semua mengangguk patuh pada atasan.


"Baiklah, meeting kita selesai....! Minggu depan saya cuti..! Kalian boleh pulang setelah keluar dari sini", perintah Jo kemudian berlalu keluar.


huffffttttttt..... Para petinggi perusahaan laglngsung menghembuskan napas setelah beberapa jam dalam ketegangan selama meeting.


"Bryand, katakan pada Al, siapkan mobil...! Kau boleh pulang...", Jo berucap ketika sedang berjalan menuju lift khusus yang selalu dia gunakan.


"Aisss.. apaaan sih? Mengganggu kesenangan orang saja", gerutu Al ketika Hpnya berdering.


"Hallo asisten pertama?", Al berseru ketika melihat id pemanggilnya.


"Siapkan mobil. Tuan akan pulang...!", perintah Bryand.


"Baik, asisten pertama", jawab Alvaro kemudian mematikan teleponnya setelah selesai.


"Tuan Jo akan pulang. Kita lanjutkan malam ini, baby...", ucap Al pada sang sekretaris. "Aku tunggu malam ini di apartemen ya?"..


"Iya... Hati-hati", sahut sang sekretaris ketika melihat sang kekasih keluar dengan buru-buru.


Beberapa saat.


"Tuan...", sapa Al ketika melihat Jo berjalan menuju mobilnya.


"Hm.. Jangan kotori kantorku dengan kelakuanmu dengan sekretarisku.!!", telak Jo.


"Maaf, Tuan...", tunduk Alvaro.


"Hm.... Kita ke JS Group...!!", perintah Jo.


"Siap, Tuan", kemudian masuk ke kursi pengemudi.


Di JS Group.


"Seminggu lagi kamu cuti, Cla... Ayah tidak ingin kamu kelelahan karena pekerjaan ini..!", Ayah Albert berucap.


"Ayah tenang saja, Cla akan menyelesaikan pekerjaan ini, lalu menyerahkan ke Pak Sony yang menggantikan Cla menjadi Kepala Devisi Keuangan kantor pusat JS Group", sahut Claudya kemudian kembali sibuk di ruangannya.


Hpnya kemudian berdering. Melirik sekilas, ia menatap heran karena tidak biasanya pria menyebalkan itu telepon.


"Hm. Ada apa? Aku sibuk", ketus Claudya setelah mengangkat panggilan telepon itu.


"Aku jemput sekarang ke apartemenku. Aku tidak bisa menunggu hingga akhir pekan", jawab Jo dengan senyum. "Pasti wajahnya sangat ketus", gumam Jo dalam hati.


"Wah, Tuan Jo tersenyum? Mungkin kesambet setan di lobi kantor tadi", lirih Alvaro yang didengar Jo.


"Al, kau sepertinya harus ke Nigeria untuk menjadi Direktur di sana ya?", Jo berucap dengan melototkan matanya pada asisten keduanya itu.


"Ah, tidak Tuan Bos. Saya jadi asisten anda saja...", lirih Alvaro.


Jo hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat Alvaro yang resah jika dipindahkan ke Nigeria.


"Hei, kau berbicara denganku atau dengan asistenmu itu? Aku sangat sibuk...!" Claudya menyela di balik teleponnya.


"Sorry, baby.. Aku hampir sampai di kantormu. Keluar sendiri atau aku akan mengatakan pada ayahmu bahwa semalam kau bersamaku di hotel?", ancam Jo.


"Haissss..... Baiklah aku keluar...", sahut Claudya. Lalu mematikan telepon sebelah pihak.


"Kau menggemaskan, Cla", kembali Jo bergumam dalam hati.


"Ayah, Cla duluan ya? Richard Jo jemput..", kemudian berlalu buru-buru meninggalkan ayahnya dengan banyak pertanyaan.


"Cla... Ayah belum selesai bicara....", teriak Ayah Albert di depan pintu ruangan putrinya.


"Nanti di rumah. Aku tidak pulang malam ini. Katakan pada ibu, jangan menungguku", balas teriak Claudya yang sedang diperhatikan anak buahnya di devisi tersebut.


"Itu Nona Claudya, Tuan...", Alvaro berucap ketika melihat Claudya berjalan sendirian menuju mobilnya.


Jo keluar dari dalam mobilnya, dengan maksud menyambut calon istrinya itu dengan pelukan dan ciuman. Namun apa yang di dapat? Pelukan ia dapatkan, tetapi ciuman? Yang Jo dapatkan adalah bibirnya mengecup tas branded yang dikenakan Caludya.


"Jangan sok romantis dan mencari-cari kesempatan...!!", ketus Claudya kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang.


"Ohhhh God.....", sungut Jo....