
Jam 19.00 waktu Jakarta, sehari setelah Claudya tiba dari Spanyol. Blue Restaurant.
"Selamat datang nyonya Claudya..", sapa Lucius ketika pintu ruangan VVIP di restaurantnya dibuka.
"Halo, Tuan.......", balas Cla dengan sedikit menjeda.
"Lucius...", lanjut Lucius mengenalkan diri.
"Ahh, Ya, Tuan Lucius... Terima kasih anda menyempatkan diri bertemu langsung dengan saya disaat anda sedang sibuk...!", ucap Claudya setelah dipersilahkan duduk oleh Lucius.
"Tidak apa-apa, nyonya Claudya.. Justru saya sangat senang bisa bertemu dengan anda langsung seperti ini...!", Lucius merendah.
"Baiklah, kita langsung saja membahas urusan kita, Tuan...", sahut Claudya tidak lagi ingin berbasa-basi.
"Hmmm, seperti yang diceritakan.. Anda tak suka terlalu basa-basi, ya?", senyum Lucius sambil bertanya.
"Ya... Anda benar...!", jawab Claudya singkat.
"Ehhemmm", Lucius berdehem sebentar. "Apa yang bisa saya bantu, nyonya Claudya.?", tanya Lucius lagi.
"Saya ingin menyewa beberapa bodyguard... Sekitar 7 orang", lagi Claudya menjawab langsung merincikan berapa anggota Centinental yang dibutuhkan.
"Anda tentu tahu peraturannya kan, nyonya?".
"Saya tahu. Saya akan membayar sesuai kesepakatan setiap bulannya dan jika pekerjaan mereka memuaskan, diakhir masa kontrak tentu akan mendapatkan bonus..", ucap Claudya santai.
"Saya suka gaya anda, nyonya...", puji Lucius.
"Terima kasih. Secara spesifik pekerjaan yang mereka lakukan akan dijelaskan oleh sekretaris saya...", ucap Claudya lalu berdiri.
Lucius sedikit tercengang, karena Claudya tidak mau berlama-lama dengannya di ruangan itu.
"Saya permisi, Tuan Lucius..", pamit Claudya.
"Ahhh iya, nyonya... Senang berbisnis dengan anda..", Lucius masih dengan kaget karena Claudya tiba-tiba saja pamit namun masih sempat untuk berjabatan tangan.
Claudya keluar dari ruangan itu, berjalan menuju tempat parkiran mobilnya diikuti oleh sekretarisnya Lusia.
"Saya kira anda masih ingin berlama-lama dengan Tuan Lucius, Nona...", ucap Lusia ketika mereka sudah ada di dalam kendaraan yang ditumpangi.
"Wajah mesumnya ingin saya hancurkan ketika menatap tadi. Saya seperti telanjang di hadapannya... Ihhhh, ngeri....!", gerutu Claudya.
"Tapi Tuan Lucius sepertinya tampan. Asistennya saja tadi yang berdiri di depan pintu juga sungguh tampan, apa lagi bosnya kan, nona?", rayu Lusia.
"Tampan tapi mesum ya sama saja, Sia... Jangan terpengaruh dengan wajah tampan laki-laki.. Tampan-tampan tapi berbaya ya ngeri juga kan?", sarkas Claudya yang sengaja menyinggung suaminya.
Lusia yang merangkap menjadi supir itupun melirik sekilas setelah mendengar umpatan Claudya pun meringis.
Mereka berdua terdiam hingga sampai kendaraan besi darat itu tiba di kediaman yang ditempati oleh Claudya dan suaminya.
"Ingat Sia.. Apa yang ku perintahkan. Jangan sampai asistenku Jeny mengetahui rencana ini.. Awas kau kalau ember. Ku kirim ke Afrika...!", ancam Claudya lalu masuk ke rumah besar itu.
.
.
.
.
Sedangkan di Spanyol, Jo mendapat laporan mengenai Claudya yang sedang bertemu dengan seseorang, namun tidak diketahui oleh anak buahnya sebab anak buah Lucius menutupi jejak kedatangan juga kepergian Lucius dari restaurant itu.
"Sial... Berapa orang yang kau suruh untuk mengawal istriku, Al?", tanya Jo kesal.
"Sepuluh orang, Tuan... Hanya saja, sepertinya yang ditemui oleh nyonya muda bukan orang biasa sehingga anak buahku yang ditugaskan tidak dapat menemukan orang itu...!", lapor Alvaro.
"Segera diskusikan dengan dokter kapan aku bisa kembali ke Indonesia...!", perintah Jo diangguki oleh Alvaro dan dikerjakan saat itu juga.
"Bryand.. Ahhh, aku bisa lupa si menyebalkan itu...!", gumam Jo setelah melihat Alvaro sudah keluar dari ruangan rawat inapnya.
tring-tring-tring....
"Siapa sih yang mengganggu waktuku melepas rindu?", umpat Bryand yang saat itu sedang bercocok tanam dengan kekasihnya Jeny.
"Tuan Jo....", batin Bryand lalu menerima panggilan itu.
"Halo, Tuan....", sapa Bryand.
"Kamu di mana? Jangan bilang sedang mencangkul dengan kekasihmu...!", tanya Jo.
"Tuan kok tahu, ya?", balas Bryand langsung sadar dengan apa yang diucapkan.
"Bryandddddd.......", panggil Jo kesal.
"Maaf, Tuan...", ucap Bryand merutuki kebodohan jawabannya.
"Sepertinya kau berniat ku gantikan....!", gerutu Jo. " Cepat selidiki siapa yang ditemui istriku tadi... Besok sudah harus ku terima laporannya..", perintah Jo mematikan sepihak panggilannya sebelum dijawab oleh asisten satu itu.
"Kebiasaan.. Akhhhhh, tidurku tak nyenyak lagi....", umpat Bryand yang ikut kesal.
"Kenapa?", Jeny bertanya dengan masih menggunakan selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Adakah jadwal nyonya muda bertemu seseorang malam ini?", tanya Bryand langsung.
Jeny sejenak berpikir, kemudian mengambil tab yang berisi seluruh jadwal Claudya.
"Tidak apa-apa. Kita lanjutkan yang tadi.. Tanggung kalau tidak selesai...", jawab Bryand langsung menyambar bibir kekasihnya dengan ganas.
dan yang terjadi, ya terjadilah.
Di sisi Lucius.
"Bagaimana?", tanya Lucius pada asistennya.
"Nyonya Claudya hanya menginginkan pengawalan jarak jauh, Tuan. Juga mengatakan jika ada orang yang mencurigakan di sekitarnya silahkan disingkirkan tetapi jangan membunuh mereka. Hanya disingkirkan saja...", lapor asisten itu.
"Hmmm? Tidak biasanya klien kita meminta hal seperti itu? Atau jangan-jangan ada sesuatu yang tidak beres?", duga Lucius. "Selidiki itu...!", lanjut perintahnya.
"Baik, Tuan...", jawab asistennya.
.
.
.
.
"Bagaimana, Al?", tanya Jo setelah Alvaro kembali setelah menemui dokter yang merawat tuannya.
"Anda diharapkan berisitirahat setidaknya sampai luka anda mengering, Tuan..", jawab Alvaro.
"Apa tidak bisa dirawat di Indonesia saja?", tanya Bryand lagi.
"Saya sudah sampaikan seperti itu juga, hanya saja dokter meminta kita untuk bersabar setidaknya seminggu ini...", lapor Alvaro lagi.
"Sial.... Frank si almahrum itu sungguh membuatku seperti orang sakit....", umpat Jo kesal.
"Memang anda sedang sakit, Tuan...", balas Alvaro.
"Apa kau bilang..... Alllllvvvvv....", belum selesai umpatan Jo, pintunya tiba-tiba dibuka.
"Rich.......", panggil seorang wanita yang usianya tidak muda lagi.
"Mom...?", Jo kaget karena orang tuanya ada di situ juga.
Ia melirik tajam Alvaro.... "Mengapa kau laporkan ke orang tuaku, Al? Aaaahhh, jadinya rumitkan?", batin Jo.
Seperti menggunakan telepati ya, Alvaro paham apa yang dikatakan oleh Jo. Ia hanya menunduk.
"Tuan Bryand yang melaporkannya pada Tuan Besar.. Sekali lagi maaf, Tuan...", Alvaro belas membatin.
"Mengapa begini sih, Rich?", tanya sang ibu negara dengan air mata berlinang.
"Momy, tenang yaaa.. Rich sudah tidak apa-apa.. Ini hanya luka kecil...", jawab Jo lembut.
"Luka kecil apa? Lihat.. Tubuhmu dililiti begini? Dad... Cari orang yang membuat anak kita seperti ini.. Momy akan memukulnya menggunakan panci jika bertemu...", ucap Momy Regina dengan tegas.
Jo tersenyum. Dady Don tentu tahu di mana orang yang membuat anaknya seperti ini pun hanya tersenyum kikuk.
"Mengapa kalian berdua hanya tersenyum?", tanya Momy Regina bingung melihat suami dan anaknya hanya tersenyum dengan perintah barusan.
"Momy mau ketemu sama orangnya?", tanya Jo pelan.
"Iya... Anak Momy yang ganteng ini tidak boleh terluka.. Sekalipun terantuk, yang akan Momy salahkan adalah benda yang membuatnya terantuk...", jawab sang ibu.
Dady Don memutar bola matanya malas. Begitulah istrinya. Memanjakan kedua putra mereka dengan begitu sayangnya.
"Dia sudah almahrum, Mom....", jawab Dady Don.
"Kok Almahrum? Masa orang mati kok bisa membuat anak kita begini, Dad?", tanya Momy Regina heran.
"Sudah-sudah, Momyku yang cantik, baik hati dan tidak sombong... Rich sudah tidak apa-apa. Sebentar lagi pulang kok...", ucap Jo membujuk ibunya agar tidak banyak bertanya.
"Sampai kapan?", tanya Momy Regina lagi.
"Seminggu ke depan, nyonya besar..", bukan Jo yang menjawab, tetapi Alvaro.
"Ehhh, Al.. Sejak kapan kamu di situ?", tanya Momy Regina yang sedari tadi tidak memperhatikan Alvaro.
"Dia sudah sejak tadi Momy dan Dady masuk...", jawab Jo.
"Oh... Tante pikir kamu pakai ilmu gaib biar gak kelihatan...", ucap Momy Regina yang mengundang tawa orang-orang di kamar itu.
"Momy ada-ada saja....", sahut Dady Don. "Ya sudah, Son... Dady dan Momy kembali ke apartemen, ya? Dari bandara langsung ke sini tadi karena Momy tidak sabar ingin bertemu kamu...".
"Iya, Dad.. Bawa Momy istirahat.. Nanti anak buahku yang mengantarny...", jawab Jo sambil menganggukkan kepalanya.
"Cepat sembuh anak Momy... Tapi Claudya...??", belum selesai berucap, Jo langsung memotongnya.
"Jangan biarkan Claudya tahu, Momy. Rich tidak mau kalau dia nanti kuatir.. Okey Momy?", harap Jo agar orangtuanya tidak memberitahukan kepada Claudya.
"Ya sudah, terserah kamu... Kami pamit, Boy..", pamit sang ayah pada Jo juga Alvaro.
"Jaga dia.. Jangan biarkan dia lakukan apapun atau memberi perintah apapun.. Biarkan ia istirahat agar cepat pulih...", pesan Dady Don sebelum mengajak istrinya meninggalkan tempat itu.
"Baik, Tuan Besar....!".