
Di Rumah Sakit.
"Kapan aku bisa pulang?", tanya Cla mendengus kesal karena sejak kemarin dia sudah mengeluh ingin pulang ke hotel.
"Kata dokter kau harus seminggu di sini...", jawab Jo acuh.
"Ish... Biarkan aku di rawat di hotel saja... Toh hanya kaki dan tanganku yang cedera...!".
"Jadi kau mau cedera di sekujur tubuhmu baru kau akan diam dan tidak mengoceh sepanjang hari?", tanya Jo menatap tajam Claudya.
Terhitung sudah empat hari pasca kejadian yang menimpa mereka. Musuh Jo di kalangan bawah Paul Da Gomez pun masih dalam pencarian anggotanya.
Dibantu polisi setempat, jejak pria itu hilang ditelan bumi.
"Oh ya, aku lupa bertanya padamu tentang sesuatu..", ucap Claudya membalas tatapan Jo.
"Apa, hm?", tanya Jo.
"Siapa Mr. Rick?".
"Siapa?", Jo mencoba bertanya balik.
"Laki-laki brengsek itu menyebut satu nama.. Dan itu merujuk ke arahmu waktu itu...!", selidik Cla.
"Kau mungkin salah dengar...", elak Jo.
"Kau pikir aku tuli?".
"Hmmm, dalam keadaan seperti itu, bisa saja kau berhalusinasi...".
"Tidak.. Tidak...! Willy menyebut namamu...!", tuduh Claudya.
"Sudahlah. Tidak mungkin... Kau tahu namaku Richard Jo Fernand, mungkin itu yang dia maksud..".
"Dady dan Momy memanggilmu Rich.. Bukan Rick yang diakhiri dengan K.. Kau pikir dapat menipuku..?", jengkel Claudya.
"Aisshhhh.. Kau masih sakit, nanti baru dibahas. Sekarang kau makan, dan minum obat...", perintah Jo kemudian mengambil makanan yang sudah diletakan di atas nakas.
"Tapi....", belum selesai Claudya membantah, Jo sudah menyuapkan sesendok bubur ke dalam mulut Claudya hingga terpaksa wanita itu menguyahnya.
"Aku tidak mau makan lagi kalau kau tidak mengatakan yang sebenarnya.. Lalu siapa Paul?", lagi Claudya bertanya penasaran.
"Mau makan dengan sendok, atau dengan mulutku...?", tanya Jo mengancam, karena Wanita itu tidak mau diam.
Claudya menutup mulutnya, lalu terus menatap Jo dengan tajam.
Pria itu tersenyum akan tingkah wanitanya.
"Makanlah Cla...", bujuk Jo.
Wanita itu menutup mulutnya sambil menggelengkan kepala.
"Baiklah.. Akan aku ceritakan nanti, tapi makan dulu...!".
"Janji?".
"Hm..", Jo berdehem menjawab Claudya.
Wanita itu akhirnya mau makan setelah bujukan Jo.
Sesaat kemudian, acara makan itu selesai. Jo memberikan obat pada Cla. Wanita itu meminumnya.
"Apa?", tanya Jo pura-pura tidak tahu maksud dari tatapan Claudya yang terus memperhatikannya dengan sengaja.
"Kau sudah berjanji...!", ucap Claudya.
"Iya.. Sebentar, aku ke kamar mandi dulu...".
Jo beranjak dari tempat tidur itu lalu masuk ke kamar mandi. Sekitar setengah jam, Jo keluar dari kamar mandi mendapati Claudya yang sudah terlelap.
"Syukurlah dia sudah tidur.... Kalau tidak, akan ada banyak pertanyaan tentangku nanti...", ucap Jo.
Laki-laki itu sengaja lama berada di dalam kamar mandi menghindari memberi penjelasan kepada wanitanya. Ia tahu, efek obat yang diminum Cla membuatnya mengantuk.
Jo kemudian keluar dari kamar setelah menyelimuti Claudya.
"Ada berita?", tanya Jo pada Alvaro yang berada di luar.
"Paul Da Gomez bersembunyi di Mension Tuan John...", ucap Alvaro.
"Tuan John? Klienku?", tanya Jo heran.
"Benar Tuan. Ternyata Paul adalah keponakan Tuan John. Lebih tepatnya, istri Tuan John", penjelasan Alvaro.
"Menarik..", gumam Jo kemudian melengkungkan bibirnya ke atas. Tersenyum.
"Antarkan aku ke Mension Tuan John..", perintah Jo kemudian berjalan dan di susul oleh Alvaro.
"Baik Tuan....!".
"Jaga istriku dengan baik..!", ucap Jo pada kelima orang anak buahnya yang lain.
Mereka mengangguk lalu menunduk hormat pada Tuannya.
Satu jam perjalanan menuju Mension Tuan John.
"Persiapan bagaimana?", tanya Jo.
"Si Kelinci dan Si Semut sudah berada di sana sedang mengintai...", lapor Alvaro.
"Tetap awasi Mension itu...!".
Alvaro mengangguk.
Para penjaga Mension John membuka gerbang yang menjulang tinggi membiarkan mobil yang ditumpangi Jo masuk ke dalam Mension. Jarak dari gerbang menuju Mension cukup jauh sekitar 300 meter ke belakang.
"Kita sampai Tuan..", ucap Al yang membukakan pintu belakang tempat Jo duduk.
"Hm...", Jo hanya bergumam, merapikan jasnya, lalu menaiki tangga teras depan Mension itu.
"Selamat datang Tuan Jo...", sambut sang Tuan rumah. (Anggap saja pakai Bahasa Inggris Gaesss...)
"Selamat malam Tuan John. Maaf mengganggumu malam-malam..", ucap Jo.
"Tidak apa-apa. Justru saya senang anda mau berkunjung ke rumah sederhana ini...!", ucap John merendah.
Jo hanya tersenyum kemudian mengamati sekitar rumah itu yang ternyata sangat banyak penjaganya.
"Pengawal anda banyak sekali Tuan John..", ucap Jo melirik Al tanda memberi kode.
"Hahahaha. Itu bukan hanya pengawalku, tetapi juga keponakanku", sahut John yang kemudian mengajak Jo masuk ke dalam Mensionnya.
"Keponakanmu?", tanya Jo memancing.
"Iya, Tuan Jo. Dia sedang ingin menginap di sini, jadi membawa pengawalnya...", jawab John.
"Keponakanmu orang yang sangat penting...", sarkas Jo.
"Yah.. Bisa dibilang seperti itu... Ia pebisnis seperti kita juga...", ucap John. "Nanti akan ku kenalkan...".
"Baiklah...".
Sekitar hampir satu jam mereka berdua membahas bisnis dan kehidupan pribadi lainnya hingga yang dimaksud tiba.
"Hei Paul. Lihat.. Aku sedang bersama seorang yang penting dalam dunia bisnis. Ayo, mari akan ku perkenalkan...", ajak John ketika melihat keponakannya masuk ke mension itu menggandeng kekasihnya. Sepertinya mereka baru pulang dari suatu tempat.
Paul yang melirik ke arah Jo seketika tercekat.
"Bagaimana Ia tahu aku berada di sini?", batin Paul yang tetap berada di tempatnya.
"Dapat kau...!", Jo bergumam sambil tersenyum smirk ke arah Paul.
Jo pun berjalan mendekat ke arah Paul yang diikuti oleh John di belakangnya, sedangkan Alvaro telah memberi kode melalui handphonenya.
"Halo, Paul.. Kita bertemu lagi...!", ucap Jo.
"Kalian saling kenal?", tanya John heran.
"Ya.. Kami sudah berkenalan, hanya saja belum sempat berteman baik...!", balas Jo sambil terus tersenyum.
Paul gemetaran. Ia kemudian menyambut uluran tangan Jo dengan penuh keringat.
Mereka berdua saling tatap, tetapi tatapan Jo lebih mendominasi hingga membuat tangan Paul berkeringat dingin.
"Saya pikir anda kurang enak badan. Tangan anda dingin...!", sarkas Jo.
"Ahh iya Tuan.. Saya kurang enak badan, jadi sepertinya kita bertemu di lain waktu saja, aku hanya ingin istirahat...", ucap Paul menghindari Jo.
"Oh ya, baiklah. Selamat beristirahat Tuan Paul Da Gomez", sahut Jo dengan penuh maksud.
John yang hanya menyimak ikut memberi saran pada ponakannya tanpa tahu bahwa ponakannya menyimpan sebuah ketakutan.
Tuan John pun mengajak Richard Jo untuk kembali duduk di ruang tamu melanjutkan pembicaraan mereka yang sempat tertunda, sedangkan Paul manarik tangan kekasihnya menuju lantai atas kamar yang ditempatinya di rumah itu.
Tiba di kamarnya, Paul kemudian dibekap begitu juga kekasihnya hingga pingsan. Rupanya, Alvaro diam-diam memberikan perintah melumpuhkan pengawal yang menjaga mension tersebut hingga akhirnya Si Kelinci dan Si Semut dapat bergerak bebas masuk ke dalam kamar milik Paul.
Ruangan lantai dua mension sangat sunyi, hingga tidak di sadari oleh pemilik mension, bahwa keponakannya telah diculik oleh tamunya sendiri tanpa sepengetahuannya.
Beberapa jam di rumah itu, Jo akhirnya pamit pulang diikuti oleh Alvaro sang asisten kedua karena Bryand sudah diperintahkan pulang ke tanah air bersama Jeny asisten Claudya.
"Bangunkan dia...!", perintah Jo setelah masuk ke ruang penyekapan di markas mereka.
"Siap Mr..", sahut beberapa anak buah.
"Al, liburkan Si Kelinci dan Si Semut ke Spanyol...", ucap Jo melirik Alvaro.
Al yang paham akan kata liburan langsung merespon cepat perintah atasannya itu.
"Sudah Mr. Rick", ucap Alvaro yang telah selesai menghubungi dua orang mata-mata mereka.
"Hei bangun tulang bengkok..!!!", setelah mendapati Paul yang masih setengah sadar.
"Siram dia...!", perintah Jo lagi yang kemudian dilakukan oleh anak buahnya.
"Akhhhhhhh", teriak Paul kaget.
"Paul Da Gomez...", panggil Jo dengan pelan tetapi penuh tekanan. "Kematian adikmu adalah peringatan untukmu, tetapi tidak kau hiraukan...!".
"Cuihhhhh.. Kau......", teriak Paul.
"Apa?", tanya Jo dengan pelan tetapi masih penuh penekanan.
"Di mana kekasihku...??".
"Kekasihmu? Aku rasa dia sedang bermain dengan beberapa orang pengawalku...", ucap Jo menyeringai memancing kemarahan Paul.
"Jangan pernah menyentuhnya...", ancam Paul di bawah tekanan Jo.
"Seharusnya itu juga yang kau tanamkan dalam dirimu....! Tetapi, kau menyentuh wanitaku, membawa asistennya hingga hampir diperkosa oleh anak buahmu...", Jo berucap sambil menekan bahu kiri Jo dengan pisau yang ada di tangannya.
"Akhhhhh, sial.....!", teriak Paul kesakitan. "Aku akan membunuhmu....", ancamnya lagi.
Jo dan beberapa anak buahnya tertawa.
"Hahahaha.. Membunuhku? Bisa?", tanya Jo dengan santai lalu kembali duduk di kursi berhadapan dengan Paul.
"Lepaskan ikatanku dan kita bertarung....", tantang Paul.
"Sebelum itu aku ingin bertanya. Darimana kau dapatkan informasi pribadiku?".
"Kau lupa? Black Hunter adalah musuh banyak mafia kejam....", Paul berucap mengejek.
"Aku tahu. Karena aku menggagalkan banyak bisnis dari beberapa kelompok...", jawab Jo acuh. "Flowers Boomb, Dark Saint, Nightmare, Blood, dan masih ada beberapa kelompok lagi.."
"Termasuk adikku kau bunuh....", kecam Paul.
"Oh.... Adikmu salah tempat dengan merebut wilayah ku di beberapa negara Asia...".
"Karena kau tidak bisa memimpin....", ejek Paul.
"Hahahaha... Buktinya, hampir semua wilayah Asia aku kuasai, juga sebagian wilayah negara besar Eropa, termasuk di sini...!", sombong Jo.
Paul yang mendengar kesombongan Jo merapatkan giginya.
"Hei.. Awas gigimu pecah-pecah....", ejek Jo balik karena melihat gertakan gigi Paul.
"Sial.. Brengsek.. Lepaskan Aku.. Kita bertarung...!".
"Baiklah...", Jo memberikan perintah pada Alvaro untuk melepaskan ikatan Paul.
Setelah ikatan tali dari pria itu terlepas, Paul menelisik seluruh area penyekapan guna menemukan apa saja yang dapat digunakan sebagai senjata.
"Lepaskan kekasihku...", ucap Paul sebelum menyerang Jo.
"Kalahkan aku dulu, baru ku lepaskan kekasih seksimu itu...", sahut Jo menyeringai siap menerima serangan Paul.
Mendengar itu, Paul emosi kemudian berlari menyerang Jo dengan kayu yang berada ditangannya.
Jo menghindar dengan santai sedangkan. para anak buahnya jadi penonton.
"Ayo, serang lagi...", umpan Jo karena melihat Paul kelelahan akibat serangan bertubi-tubi yang dilayangkan tidak satupun mengenai Jo malahan dirinya merasa kesakitan akibat sayatan di bahunya oleh pisau Jo.
"Sial....", umpat Paul yang kemudian berlari ke arah Jo.
Melihat hal itu, Jo pun berlari dengan cepat ke menuju ke arah Paul, kemudian menusuk tepat di jantung pria itu. Seketika, tubuh Paul tersandar di bahu Jo.
"Adikmu mati bukan aku yang membunuhnya, tetapi senjatanya sendiri yang mencabut nyawanya. Sedangkan kekasihmu, ia tertidur lelap di atas ranjang mu malam ini...", ucap Jo berbisik di telinga Paul, sebelum nafas terkahir direnggut dari tubuh pria itu.
Jo kemudian pergi ke ruangannya dan membersihkan diri dari noda darah Paul yang menempel pada tubuh serta bajunya.
"Mr....", sapa Alvaro setelah Jo selesai mengganti pakaiannya.
"Hm... Ada apa?", tanya Jo.
"Bagaimana dengan Tuan John jika dia tahu ponakannya tidak ada di rumahnya..?".
"Pergerakan kita meninggalkan jejak semalam?", Jo balik bertanya.
"Tidak Mr... Saya hanya kuatir kejadian ini berefek pada kerjasama antara JF Group dan perusahan beliau...".
"Kita selalu bermain rapih Al. Tenang saja... Tidak akan berefek apa-apa pada perusahanku..!", jawab santai Jo.
"Ada kabar dari Si Rusa?", tanya Jo.
"Belum Mr.... Sepertinya pergerakan Si Rusa terbaca....", jawab Alvaro.
"Tarik kembali Si Rusa... Kirim Christian...", perintah Jo kemudian ke luar dari ruangannya.
"Baik Mr. Rick...", sahut Alvaro.
"Oh ya, kuburkan dengan layak jasad Paul sebelah adiknya...".
Alvaro mengangguk kemudian berjalan mengikuti langkah Jo ke mobil.
"Aku ingin menyetir sendiri.... Kau kembali ke rumah sakit lebih dulu...!", ucap Jo kemudian pergi dari markasnya menyusuri jalanan menuju sebuah apartemen yang ditempati seseorang.
"Sudah lama kau tidak kemari Rick...", sapa seorang wanita ketika membuka pintu apartemennya.
"Aku sibuk... Apa kabar?", tanya Jo lalu memeluk sebentar wanita itu.
"Aku baik...", jawab wanita itu kemudian mempersilahkan Jo meneguk secangkir kopi yang disiapkan.
"Anak-anak?".
"Anak-anak tumbuh dengan baik... Hanya yang pertama ingin berkunjung ke negaramu..".
"Nanti jika waktunya tepat. Kau tahu aku baru saja menikah...", ucap Jo.
"Ya.... Dan Kau ke sini berbulan madu...".
"Kau pahamkan maksudku?", tanya Jo lagi kemudian dijawab dengan anggukan oleh wanita itu.
"Kau lelah?", tanya wanita itu balik.
"Sedikit.. Aku baru saja menyelesaikan sesuatu...".
"Di markasmu?".
"Ya...", jawab Jo singkat kemudian memejamkan matanya perlahan.
"Istirahatlah... Aku akan menyiapkan kamar untuk kau tempati...".
"Jangan... Aku hanya singgah sebentar untuk melihatmu.. Setelah itu aku akan ke rumah sakit...".
Wanita itu menoleh lalu mengernyitkan keningnya.
"Jangan melihatku seperti itu...!! Cla sedang berada di sana....!".
"Apa kau menggempurnya terlalu kuat sehingga ia masuk rumah sakit?", tanya wanita itu diselingi dengan tawa.
"Paul Da Gomez bekerjasama dengan mantan kekasih istriku... Selebihnya kau tau lah...", jelas Jo.
"Ya ya ya.... Hidup di dunia yang kau pilih resikonya seperti itu...!".
"Hmmm. Rasanya aku ingin berhenti...!", ucap Jo lalu kembali bersandar di sofa.
"Lalu Black Hunter dan anggotanya?", tanya wanita itu penasaran.
"Mungkin akan ku serahkan ke David...".
"Jangan gila Rick.......!", bantah wanita itu kemudian berlalu ke kamarnya.
"Sea.........", panggil Jo ketika melihat wanita itu tidak lagi keluar dari kamarnya.
"Tutup pintunya setelah kau keluar dari sini Rick....", ucap sang wanita..
"Hmmmmmmm....", Jo menarik napasnya panjang lalu pergi dari apartemen itu.
Dalam perjalanan ke rumah sakit, mobilnya tiba-tiba saja diserang segerombolan orang yang menggunakan motor.
Dor....Dor...Dor...Dor.....
"Akhhh sial... Bisa tidak serangan di jeda dulu....?", umpat Jo.....
********