
Malam berganti. Hari berlalu begitu cepat. Pernikahan mereka memasuki bulan ke empat. Jo dengan kesibukannya, Claudya juga dengan kegiatan sehari-harinya.
Kadang waktu menggerus kebersamaan mereka berdua. Bertemu hanya ketika mau tidur, atau sarapan, selebihnya urusan perusahaan masing-masing diutamakan. Terlihat seperti itu.
Richard menyadari perubahan di dalam rumah tangganya. Kegiatan yang biasanya dilakukan sepasang suami istri di atas ranjang menjadi berkurang, atau bahkan sangat berkurang.
Sedang di sisi lain, Claudya semakin gila kerja. Pergi pagi, pulang larut malam. Melakukan hubungan suami istri pun hanya sesingkat itu. Kadang Jo sengaja menggoda, tetapi jawabannya adalah "Aku lelah, Jo".
Jangan berbicara soal akhir pekan, atau hari libur tanggal merah. Claudya tidak mengingat itu, bahkan sang asisten, teman, serta sahabat yang sudah dianggap seperti saudara selalu mengingatkannya.
Wanita itu seakan tuli. Jawabannya "ya ya ya.. Jo tidak akan mengeluh....". Selalu sama.
Empat bulan seharusnya pernikahan mereka masih hangat-hangatnya. Tetapi tidak seperti yang dibayangkan.
"Bryand, menurutmu bagaimana pernikahanku?", tanya Jo di suatu pagi ketika baru sampai ruangannya.
"Baik-baik saja, Tuan...", jawab Bryand.
"Kau sepertinya buta, Bryand. Kau bahkan melihatnya sendiri, atau kau tak berani berkomentar?", Jo bertanya lagi.
"Maaf, Tuan. Sepertinya nyonya muda sangat sibuk belakangan ini dengan proyek baru dari perusahaan luar negeri itu...", ucap Bryand.
"Tetapi tidak harus melupakan tugasnya sebagai istri kan?", kesal Jo lalu menatap ke arah luar jendela.
"Saya paham apa yang anda rasakan, Tuan. Saya sudah meminta bantuan Jeny serta sekretaris nyonya muda di JS Group untuk mengurangi jadwal padatnya, namun nyonya muda bersikeras untuk tetap pada jadwal yang sudah ada, Tuan...", lagi Bryand menjawab.
"Terus? Pria itu? Apa masih tetap ngotot untuk bertemu langsung dengan Cla?".
"Sepertinya dia masih mencari cela, Tuan...".
"Katakan pada Jeny untuk tetap menjaga istriku dengan baik... Hindari pertemuan yang mempertemukan mereka...!", tegas Jo.
"Baik, Tuan...".
"Satu lagi... Hancurkan perlahan perusahan lelaki brengsek itu di sini, sehingga dia tidak mampu mengusik ketenangan ku. Juga, Aries si pengkhianat dalam Black Hunter, singkirkan segera...", perintah Jo lagi.
Bryand menjawab dengan anggukan. Lalu meninggalkan Jo di ruangan Presdir sendirian.
tok-tok-tok....
Verena masuk ke ruangan Jo setelah dipersilahkan oleh pemilik ruangan itu.
"Ada apa, Ve?", tanya Jo.
"Pertemuan dengan klien dari Jerman itu seharusnya lima belas menit lagi, tuan Presdir...", jawab Verena sambil menundukkan kepalanya.
"Lalu?", Jo mulai mengernyit heran karena sekretarisnya itu menjeda ucapannya.
"Mereka membatalkannya, Tuan Presdir..", ucap Verena.
Pria itu langsung menaikan sebelah alisnya.
"Kenapa?", tanya Jo lagi.
"Saya tidak diberitahukan alasannya, Tuan..".
"Hmmmmm, baiklah... Lanjutkan pekerjaanmu...", sahut Jo mempersilahkan sekretarisnya kembali ke meja kerjanya.
"Al, selidiki apa yang sebenarnya terjadi...!", perintah Jo melalui interkom yang terhubung ke ruangan Alvaro.
Alvaro sang asisten kedua yang telah kembali ke dalam negeri usai urusannya di Spanyol selesai pun paham yang dimaksud Jo. Karena sang sekretaris Jo adalah kekasihnya, tentu ia tahu apa yang sedang terjadi.
Tidak butuh waktu lama untuk seorang Richard Jo Fernand mendapatkan informasi yang ia mau.
"JS Group mengajukan tawaran kerjasama yang lebih menguntungkan untuk klien itu, Tuan..", Alvaro memberi laporan yang ia terima dari anak buahnya.
"JS Group? Apakah mereka tidak tahu itu adalah klienku?", tanya Jo heran.
"CEO tidak mengetahui kalau klien kita di ambil oleh perusahan mereka...", jawab Alvaro.
"Lalu? Siapa? Tidak mungkinkan istriku?", tanya Jo dengan sedikit emosi.
"Sebenarnya.....", Alvaro ragu untuk menjawab.
"Apa? Katakan...!".
"Nyonya muda yang mengajukan kerjasamanya, Tuan...".
"What? Are you kidding me?", umpat Jo.
"JS Group sepertinya ingin merambah juga ke proyek energi terbarukan seperti perusahaan kita, Tuan...", lapor Alvaro lagi.
"Sial... Sepertinya aku terlalu membebaskan istriku berbuat sesukanya...", kesal Jo.
Pria itu lalu mematikan sebelah pihak teleponnya kemudian mengambil jas serta kunci mobilnya dan pergi menuju perusahaan JS Group.
.
.
.
.
.
Tiba di perusahaan besar itu, Jo memarkirkan mobilnya asal di depan pintu lobi perusahaan.
Laki-laki itu berjalan cepat menuju ke ruangan istrinya tetapi jalannya terhenti ketika bertemu dengan kakak Iparnya, Lee El.
"Oh, hai Kak.. Maklum, sibuk...", jawab Jo apa adanya.
"Kalian tidak pernah ke rumah. Sudah beberapa bulan...", lagi El berucap.
"Kalau ada waktu kosong, kami ke rumah utama keluarga Lee, kak. Untuk sekarang, Kakak tahu sendiri Cla bagaimana sibuknya...", jawab Jo lagi.
"Kalian memang berjodoh, jawaban hampir sama setiap kali kalau aku bertemu adik yang manja itu...", kekeh El.
"Kalau begitu aku permisi kak...", pamit Jo yang dibalas anggukan El.
Jo berjalan cepat, tanpa mengetuk maupun peduli pada sekretaris Cla yang duduk di meja depan pintu ruangan wakil CEO itu, masuk begitu saja.
Ruangan itu kosong. Jo kembali ke luar dan bertanya.
"Di mana Wakil CEO?".
"Ada di ruangan meeting, tuan Jo...", jawab Lusia seadanya.
"Masih lama?", tanya Jo lagi.
"Mereka baru saja mulai meeting, tuan. Mungkin sekitar satu jam atau lebih...", jawab sang sekretaris itu.
"Baiklah... Di ruangan meeting nomor berapa?".
"Nomor 3, tuan...", jawab sang sekretaris paham maksud Jo.
Jo pun pergi dari situ dan menuju ruangan meeting yang dimaksud. Tanpa mengetuk, Jo langsung masuk ke ruangan itu.
Laki-laki itu tersenyum ke arah klien orang Jerman tersebut. Senyum meremehkan.
"Tu-tuan Jo...", sapa sang klien itu (anggap saja menggunakan bahasa Jerman).
Jo yang sangat fasih berbahas Jerman pun menyeringai. Ia paham bahwa klien itu sangat gugup atau bahkan ketakutan karena seharusnya bekerjasama dengan JF Group, namun berpaling begitu cepat ketika ada tawaran bagus dari perusahan lain.
"Halo, Tuan Han....", sapa balik Jo.
Claudya yang berada di situ dibuat heran, karena Jo seakan tidak peduli bahwa dirinya berada di situ juga. Apa lagi itu perusahaannya dan kliennya.
Jo melirik sekilas ke arah Claudya, lalu balik lagi melirik ke arah orang Jerman itu.
"Bagaimana anda bisa berada di sini?", tanya tuan Han.
"Aku suami dari wanita ini", jawab Jo sambil mencengkram erat bahu Claudya yang sedang duduk di situ.
Claudya meringis. Tetapi ia tidak tahu, bahkan ia tidak memeriksa detail kliennya.
Lelaki Jerman itu kaget. Ia tak menyangka, bahwa perusahaan yang ia khianati, ternyata perusahaan dari suami klien barunya itu.
"Aku tidak tahu....", ucap Han menyesal, karena ia juga tidak mendapatkan informasi apapun dari sekretarisnya tentang siapa wakil CEO yang bekerjasama dengannya ini.
"Apa kau tahu sayang bahwa kau berbuat kesalahan?", tanya Jo pada istrinya yang masih menatapnya heran. Jeny pun dibuat bungkam. Ada aura permusuhan yang mencuat di ruangan itu.
"Kesalahan?", Cla balik bertanya.
Jo tidak menjawab, melainkan menarik tangan istrinya keluar dari situ dan pergi menuju ke ruangannya.
Tetapi sebelum keluar, Jo menatap tajam tuan Han.
"Jangan pernah menginjakan kakimu di perusahaan ini... Kerjasama kalian tidak akan berlangsung...", ancam Jo pada tuan Han yang terlihat ketakutan.
"Apa-apaan kamu?", tanya Cla ketika mereka berada di ruangan Cla.
"Kamu tidak tahu kesalahanmu, Claudya Gitta?", Jo balik bertanya dengan dadanya sudah bergemuruh.
"Apa?", tanya Cla lalu menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Kamu tidak memeriksa detail calon klien itu?", lagi Jo bertanya.
"Sudah....", jawab Cla santai, padahal sebenarnya ia tidak terlalu peduli pada detail kliennya. Selama mendapatkan keuntungan, kenapa tidak? Begitu kan?
"Kau merebut klienku, Cla...".
"Klienmu? Sudah tanda tangan kontrak?", Cla balik bertanya dengan menyeringai.
Jo bungkam.
"Belumkan? Selama itu belum berlangsung, klien itu masih berstatus free....", santai Cla.
"Kamu mau bersaing denganku, Cla?", tanya Jo mulai menduga.
"Kalau bisa, kenapa tidak?".
Jawaban yang diberikan Cla menjadi pukulan telak bagi Jo. Ia menjadi bingung, jika harus bersaing dengan istrinya yang notabene sudah terbersit cinta di hatinya.
Berperang dengan logika dan perasaan, menjadikan Jo dilema. Jawab yang tidak diduga oleh pria itu seakan membuat dirinya dalam sebuah pilihan sulit.
Jika harus mengahncurkan, bukan saja Cla yang dihancurkan, tetapi perusahaan itu juga. Tetapi jika tidak dilakukan, maka Cla akan tetap pada kegigihannya.
Namun itu dapat menjadikan cela bagi musuh seorang Richard Jo untuk mengahncurkannya. Bukan hanya Jo yang dilumpuhkan apabila persaingan antara JF dan JS Group benar-benar terjadi, tetapi juga Claudya yang ada di dalamnya.
"Kau benar-benar ingin bersaing denganku, Cla? Apa El tahu tentang ini?", tanya Jo memastikan.
"Ya... Kenapa tidak??", balas Cla telak.
"Baiklah.. Aku ikut permainanmu, Cla.. Namun, jangan pernah menyesali sesuatu nanti....", ucap Jo lalu pergi dari ruangan itu.