Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 7



.....selamat membaca....


"Apa itu...?"


Jo menyeringai ketika melihat kening Claudya yang mengerut tanda sedang memikirkan sesuatu. Tentu, pria itu mengetahui apa yang wanitanya pikirkan.


"Kau harus berkenalan dengannya sebelum kita menikah... Anggap saja PDKT..", ucap Jo.


"Ini adalah mainanmu setelah kita menikah nanti..", Jo memperjelas maksudnya.


"Apakah muat nanti?", tanya Claudya dengan wajah bodohnya.


"Tentu.. Kau akan merintih lebih dari malam ini", jawab pria yang sedang berada di atasnya.


Claudya memejamkan matanya ketika tangan Jo mengajarkan cara wanita itu untuk memanjakan naga miliknya.


"Lakukan hal ini setiap aku menginginkanmu", seringai Jo. "Jangan berhenti sebelum aku memintanya".


Wanita di bawah kukungan Jo itu terus menggerakkan genggaman tangannya naik-turun tanpa membuka matanya. Semakin lama semakin cepat karena Jo membantu genggamannya.


"Yahhh, begitu..." Jo terus berpacu. "Ahhhh....", des***ah pria pemilik naga ketika merasakan lahar panas yang tumpah.


"Malam ini cukup. Aku tidak akan meminta lebih meskipun aku ingin. Begitu juga kamu", Jo berucap sambil mengambil tisu di meja kecil samping ranjang mereka untuk membersihkan cairan lahar di atas perut Claudya.


Claudya memberi pijatan kecil ke tangan kanannya dengan tangan kiri karena merasa sedikit lelah ketika harus bekerja keras membuat Jo mengeluarkan bibit unggulnya.


"Aku tidak akan melakukannya lagi..!!", dengus Claudya. "Itu sangat melelahkan".


"Dan aku merasa nikmat", sambung Jo yang sudah berbaring di sebelah Claudya dan menarik wanita itu untuk tidur menghadapnya.


Claudya memberontak. Dia sedikit memukul dada Jo yang mendekapnya erat.


Pria itu hanya tertawa. Baginya, pukulan yang diberikan Claudya hanya sebuah tepukan kecil untuk membantunya tidur.


"Sudahlah. Jangan malu. Aku sudah mendapatkan DP yang ku maksud...", ucap Jo lalu memejamkan matanya.


"Iya, kau mendapatkan DP nya. sedangkan aku? Tadi itu nikmat, sekarang lelah yang ku rasakan", umpat Claudya dalam hati.


"Apa kau paranormal?", tanya Claudya heran karena Jo tahu bahwa Dia sedang mengumpat Jo.


"Aku hanya menebak dan ternyata benarkan? Kau sedang mengumpatku dalam hatimu", kata Jo lalu membuka matanya lagi.


cupp


Jo mengecup pelan bibir Claudya yang kini menjadi candu untuknya. Bibir tipis yang hanya dipolesi oleh pelembap.


"Kau cantik, Cla. Hanya saja kau terlalu berambisi sehingga membuatmu seperti iblis" Jo kembali berucap setelah mengecup bibir Claudya.


"Terima kasih atas pujiannya, Tuan Jo. Aku sangat bangga", jawab Claudya dengan nada sombongnya.


"Bukan aku memuji. Tetapi memberi peringatan!!!".


"Baiklah. Ku anggap tetap sebuah pujian", sahut Claudya lalu mensejajarkan kepalanya dengan dada bidang Jo. "Jangan terlalu memelukku erat. Aku engap..!!"


"Aku akan tetap memelukmu. Sudah ku bilang kan? Cukup untuk malam ini..!! Jangan berontak Cla. Aku tidak akan tahan jika kau terus menggesekkan gunung kembarmu pada tubuhku".


Claudya tiba-tiba sadar dirinya tidak berhelai sebenangpun bagian atasnya sehingga dirinya seperti patung yang bernapas tanpa menggerakkan lagi tubuhnya dalam pelukan Richard Jo.


"Tidurlah. Aku akan mengantarmu besok pagi ke rumah utama keluarga Lee".


"Jangan...! Antarkan saja aku ke apartemenku. Pakaian kerjaku ada di sana", Claudya berkata dengan cepat. "Apa yang akan aku jawab jika ayah bertanya aku dari mana sehingga diantar oleh pria menyebalkan ini?".


"Sebentar lagi kita menikah. Istirahatlah yang cukup. Karena aku tak mau, jika istriku pingsan sebelum melakukan kewajibannya", senyum Jo menjahili Claudya dengan mengelus punggungnya.


"Aku akan cuti seminggu sebelum menikah, dan dua Minggu setelahnya".


"Baiklah. Sekarang tidur atau kita lanjutkan ke hidangan utama?", ancam Jo.


"Iya-iya.. Aku tidur", kemudian wanita itu memaksa untuk menutup mata dan beberapa saat setelahnya ia pun terbang ke alam mimpi.


Ricard Jo pun sedikit melonggarkan pelukannya agar membuat Claudya lebih nyaman tidur dalam pelukannya.


"Kau benar-benar cantik. Tetapi kau ibarat iblis Cla. Aku tidak mungkin dapat meluluhkan hatimu hanya dengan menguasai tubuhmu. Aku yakin itu", gumam Jo memperhatikan lelapnya wanita itu tidur dalam dekapannya.