
Tuan Rick sangat kejam..
"Informasi apa yang kau dapatkan?", tanya Jo di dalam mobil ketika keluar dari ruang sakit.
"Seperti yang diketahui, Jeny, si asisten itu ditahan oleh anak buah Paul...", lapor Bryand.
"Anak buah kita?".
"Sudah saya tempatkan di sekitar markas mereka. Tinggal tunggu perintah, Tuan..".
"Bagus. Jangan serang mereka sebelum saya sampai. Paul si tulang rawan itu akan saya urus sendiri", ucap Jo menyeringai.
"Baik, Tuan.. Alvaro nanti malam baru tiba di sini...!".
"Hm.. Suruh dia menjaga keamanan istriku di rumah sakit..!".
"Siap, Tuan...!".
"Satu lagi, mantan kekasih istriku?", tanya Jo lagi.
"Alvaro akan mengurusnya...", jawab Bryand.
Mereka berdua kemudian dengan pikiran masing-masing hingga sampai ke markas Paul Da Gomez.
"Bagaimana?", tanya Bryand pada Christo, ketua kelompok 3.
"Kelompok satu, Kelompok dua sudah berada di posisi. Si Kelinci melaporkan orang yang sama keluar masuk markas tersebut, sepertinya pemimpin mereka", jawab Christo.
"Paul?", tanya Jo.
"Belum terlihat Mr. Rick...", sahut Christo.
"Kita masuk...!", perintah Jo kemudian keluar dari persembunyian menyerang beberapa anak buah yang berjaga di depan markas.
Bunyi tembakan bersahutan. Anak buah Paul yang berada di situ sekejab saja habis tak tersisa. sedangkan di sisi lain markas, Si Kelinci dengan diam-diam menghabisi beberapa orang guna membuka jalan untuk kelompok satu dan kelompok dua melakukan penyergapan.
Mereka menghabisi para anak buah Paul tanpa ampun.
Sampai di dalam markas, Jo dan Bryand menyebar, diikuti beberapa anak buah mereka mencari tempat Jeny disekap.
Setelah berpencar mencari di beberapa ruangan, akhirnya mereka kembali bertemu di suatu ruangan yang belum diperiksa.
"Sepertinya di dalam ruangan ini...!", ucap Bryand.
Anak buah mereka mendobrak. Di dalam ruangan itu, terlihat Jeni yang diikat di atas tempat tidur tanpa sehelai benangpun.
"Brengsek.....", teriak Bryan beringas menghajar beberapa orang yang bersiap menikmati tubuh Jeny.
Jo melihat seseorang yang bersiap menyelinap keluar melalu jendela ruangan itu, langsung menghujamkan tembakan mengenai kaki orang itu.
"Akh..... Sial....!", orang itu meringis.
Anak buah Jo yang lain langsung meringkus cepat laki-laki itu dan membawanya ke hadapan Jo.
"Sudah kau apakan perempuan itu...!", tanya Jo dingin menatap sengit laki-laki itu.
"Aku hanya mengikuti perintah...!", jawab laki-laki itu di luar pertanyaan yang diajukan Jo.
Jo menelisik wajah pria di depannya, sedangkan Bryan, setelah menghabisi beberapa orang anak buah Paul, langsung melepaskan ikatan tali Jeny, lalu menyelimuti tubuh polos wanita itu dengan selimut yang ada di situ.
"Tenanglah.. Aku akan melindungi mu...", ucap Bryand.
Jeny hanya menangis, karena hampir saja tubuhnya disetubuhi oleh beberapa orang.
"Bryand....", panggil Jo.
"Iya, Tuan?", sahut Bryand, lalu menghampiri Jo dengan tetap memeluk tubuh Jeny.
"Dia....", tunjuk Jo.
"Orang kepercayaan Paul Da Gomez... Berarti pria itu tidak ada di sini....!", ucap langsung Bryand.
"Cari keberadaan pria itu..!", perintah Jo langsung keluar dari ruangan itu dengan kesal.
"Bawa ke markas, siksa dia sampai dia katakan di mana Tuannya..",, ucap Bryand pada Christo.
"Baik, Tuan Bryand..", jawab Christo langsung membawa laki-laki itu yang sebelumnya dipukul sampai pingsan.
Jo langsung menuju rumah sakit dengan mobil berbeda, sedangkan Bryand dan Jeny di mobil yang lain langsung menuju hotel karena Jeny tidak mau dibawa ke rumah sakit.
Setelah sampai di rumah sakit, Jo langsung menuju ke kamar istrinya.
Dahi Jo mengkerut, karena tidak melihat satupun anak buahnya berada di depan kamar tersebut.
Jo yang sudah panik, langsung masuk ke kamar. Dilihat sang istri yang berbaring sedang ditodong pisau oleh seorang pria.
"Sial....!", Jo bergumam pelan, tetapi berusaha untuk tetap santai.
"Willy Sin...", sapa Jo.
"Kau mengenalku, Tuan Jo? Luar biasa...", ucap Willy.
"Kau mantan kekasih istriku...", jawab Jo, masih terlihat tenang.
"Jo... Tolong....", Cla mulai berucap lirih karena dirinya diancam.
"Jangan merengek honey. Aku akan membunuhnya, lalu kita bisa hidup bahagia...", ucap Willy lalu berusaha mencium bibir Cla tetapi Cla berontak.
"Jangan berani bertindak sejauh itu.. Atau bibirmu tak bisa lagi kau gunakan...", ucap Jo mulai merasa marah akan sikap Willy.
"Kau bisa apa? Anak buahmu sudah diurus oleh Tuan Paul. Jadi jika kau mau selamat, serahkan istrimu...", ancam Willy.
"Jangan berani mengancamku...!", sargah Jo dengan dada yang mulai naik turun.
"Kau pikir aku takut? Akan seperti apa jika istrimu ini tau kau adalah ketua mafia yang kejam? Atau ku panggil saja dengan sebutan Mr. Rick?", seringai Willy mulai membuka kedok Jo.
"Diam kau...!", ucap Jo marah.
Richard Jo melangkah mendekat.
"Jangan mendekat......!!!", teriak Willy melihat ancamannya tidak dihiraukan Jo.
"Aku akan menghabisi mu, kemudian si Paul keparat itu...", seringai Jo.
Claudya mulai merasa cemas dan sakit, karena lehernya ditekan dengan pisau milik Willy sehingga sedikit mengeluarkan darah.
"Jangan takut... Aku akan menyelamatkanmu...!", ucap Jo lembut menatap Cla yang air matanya sudah berlinang.
Willy menoleh melihat wajah Cla, sehingga Jo memiliki kesempatan saat itu.
Dengan gerakan cepat, Jo melumpuhkan tangan Willy yang sedang memegang pisau mengancam Cla, lalu melintir ke belakang tangan itu, hingga bunyi patahan.
Willy berteriak, dan dengan segala kekuatannya melepaskan cengkraman tangan Jo, lalu mencoba merebut kembali pisau yang jatuh di lantai rumah sakit dan menyerang Jo.
Serangan-serangan Willy dianggap seperti serangan seorang perempuan, sehingga memudahkan Jo menghindar.
"Kau seperti perempuan, pantas, istriku tidak mau denganmu...!", ejek Jo sambil menghindari serangan Willy.
Pria itu semakin marah akan ucapan Jo, sehingga menyerang membabi buta. Hingga akhirnya, Jo yang merasa sia-sia jika menghabiskan waktu bermain-main, langsung melumpuhkan Willy dengan satu kali tendangan mengarah ke rahang.
Willy ambruk...
Jo mendekat ke arah Cla yang histeris karena perkelahian di dalam kamar inap itu.
"Tenanglah, dia sudah pingsan. Aku akan menyuruh anak buahku untuk menyekapnya..", ucap Jo sambil mengelus punggung Cla dalam pelukannya.
"Kau tidak apa-apa?", tanya Cla sesegukan.
"Tidak. Kau baik-baik saja?", tanya Jo balik.
"Iya. Aku hanya merasakan perih di leherku..", adu Claudya.
"Akan ku panggil dokter. Tunggu sebentar...!".
Jo lalu menjauh dari ranjang Cla, kemudian menghubungi anak buah lainnya untuk ke rumah sakit.
"Jo... Katanya anak buah Paul ada di luar ..", ucap Cla mengingat perkataan Willy tadi.
"Tidak... Mereka tidak akan datang...", Jo menjawab dengan yakin. Karena ia tahu, bahwa sebagian anak buah Paul telah dibunuh, dan Paul harus melarikan diri karena diincar Jo.
"Kamu yakin?", tanya Cla dengan masih gemetar.
"Yakin.. Kau tenang ya...?", Jo kembali ke ranjang dan memeluk menenangkan Claudya.
"Baiklah...!", ucap Claudya lalu memejamkan matanya.
########
Di hotel, tempat Bryand dan Jeny.
"Kau baik-baik saja?", tanya ulang Bryand setelah memastikan dokter yang dipanggil ke hotel itu pergi.
"Kau sudah bertanya hingga 10 kalo asisten Bryand", ucap Jeny dengan lemah.
"Akh, iya kah? Aku lupa...", kikuk Bryand.
Jeny hanya mendengus, lalu memejamkan matanya. Namun, beberapa saat ia kembali membuka mata.
"Bryand, ada yang ingin aku tanyakan...", ucap pelan Jeny yang masih di dengar Bryan.
"Apa?".
"Siapa Mr. Rick?",......