Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 27



Waktu berputar. Siang berganti malam. Claudya pun berusaha menyelesaikan pekerjaannya agar dapat segera kembali ke rumah dan berbicara dengan suaminya.


Meski sudah berusaha secepat mungkin menyelesaikan beberapa pekerjaannya yang tertunda karena Jo, tetap saja wanita itu kembali ke rumahnya setelah waktu makan malam.


"Tuan sudah di rumah?", tanya Cla saat disambut oleh beberapa pengawal yang bertugas di rumah itu.


"Tuan belum pulang, nyonya..", jawab sang pengawal.


"Baiklah, terima kasih...", ucap Claudya lalu masuk ke dalam rumahnya.


Wanita itu meraih handphone genggamnya dari dalam tas, menghubungi suaminya namun tidak ada jawaban.


Di sisi lain, Jo sedang bertemu kliennya di sebuah restoran mewah, setelah mengistirahatkan pikirannya di apartemen pribadi siang tadi.


"Ke mana dia?", gumam Cla yang merebahkan dirinya di ranjang.


Perempuan yang berstatus istri dari Richard Jo Fernand itu pun terlihat sangat lelah, namun ia harus menahan matanya untuk tidak terpejam, agar masalah dengan suaminya segera terselesaikan.


Menelpon asisten sang suami yang menempel dengan suaminya pun percuma. Sama tidak diangkat.


"Hufttt", desah Claudya pelan.


.


.


.


.


.


"Tuan, sepertinya nyonya muda menghubungi ...", ucap Bryand setelah melihat beberapa panggilan tak terjawab di handphonenya.


"Hmmm..", Jo hanya menyahut sekilas lalu kembali memejamkan matanya ketika sang asisten mulai menggerakkan kendaraan roda empat yang mereka naiki.


Tentu Jo tahu bahwa istrinya sudah berada di rumah. Tidak seperti biasanya yang selalu pulang di atas jam sepuluh malam. Jika masih jam begini istrinya sudah pulang, berarti ada sesuatu.


Sampai di rumah, Jo tidak langsung menuju kamarnya, melainkan bertemu Alvaro di ruang kerjanya.


"Sampai di mana?", tanya Jo tanpa basa-basi.


Alvaro paham apa yang dimaksud Jo.


"Perusahaan cabang yang mereka bangun di sini mulai kocar-kacir, Tuan. Cara kita mengakuisisi perusahaan kecil yang bergerak di bidang yang sama dengan perusahaan mereka ternyata membuahkan hasil..", lapor Alvaro.


"Bagaimana perusahaan pusat mereka di Swiss?", lagi Jo bertanya memastikan.


"Data perusahaan mereka dilindungi dengan baik, Tuan. Tetapi tim saya akan berusaha membobolnya...", jawab Alvaro. "Dan satu lagi, ternyata mereka mau mendirikan kelompok The Blood di wilayah ini. Anak buah bayangan kita pun ditawar oleh mereka dengan bayaran fantastis...".


"Rupanya dia ingin membangun kekuatan di setiap wilayah...?", duga Jo sambil menyeruput kopi yang tadi disiapkan oleh pelayan rumah itu.


Alvaro mengangguk tanda menjawab apa yang diduga oleh Jo.


"Terus anak buah kita?", lagi Jo bertanya.


"Tentu saja menolak, Tuan...!".


"Baiklah... Serang beberapa perusahaan cabang yang dimilikinya. Dan tetap awasi segala pergerakan anak buah kita. Bisa saja mereka menjadi pengkhianat di Black Hunter...", ucap Jo memberi perintah.


Alvaro mengangguk lagi dan pamit untuk menjalankan pekerjaannya.


Jo sejenak memejamkan matanya lalu beranjak keluar dari ruangan kerja menuju kamarnya.


Laki-laki itu masuk dan mendapati Claudya yang sudah terlelap menunggunya di sofa. Ternyata, ia kalah melawan rasa lelahnya sehingga Cla pun terlelap menunggu Jo.


Jo membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Selesai dari urusannya di kamar mandi, dan setelah berganti pakaian tidurnya, Jo pun membopong Claudya memindahkan wanitanya ke ranjang mereka.


Claudya menggeliat, namun matanya terasa berat untuk dibuka, sehingga tetap terlelap saat Jo memindahkannya.


"Kau pekerja keras, Cla.. Hanya saja ambisimu tidak hanya akan menghancurkanmu, tetapi juga keluarga kita...", gumam Jo dalam hati.


Rencana awal Claudya untuk menyelesaikan masalahnya pun batal karena ia kelelahan, sehingga mereka berdua terlelap tanpa menyelesaikan masalahnya.


Pagi tiba.


Jo yang masih berselimut merasa terganggu akibat sinar matahari yang masuk melalui jendela kamar.


"Kamu sudah bangun?", tanya Jo dengan suara serak bangun tidurnya.


Dilihatnya bahwa Claudya sudah selesai membersihkan tubuhnya tetapi masih menggunakan handuk sebatas dada dan paha.


"Hmm. Pulang jam berapa semalam?", jawab Claudya dengan deheman lalu balik bertanya.


"Sebelum jam sebelas sepertinya...", jawab Jo lalu bangun dari tidurnya menuju ke kamar mandi.


"Kamu marah?", tanya Claudya lagi mengikuti Jo menuju ke kamar mandi.


"Tidak,..", jawab Jo singkat.


"Kamu marahkan?". Claudya mengulangi pertanyaannya karena Jo menjawabnya dengan singkat.


"Bagaimana menurutmu kalau aku melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan kemarin?", Jo balik bertanya.


"Aku akan marah tentunya...", jawab Claudya.


Claudya tetap mengikutinya ke sana kemari.


"Aku mau berurusan dengan toilet, mau ikut?", tanya Jo, karena Claudya tidak keluar dari kamar mandi.


"Selesaikan saja, aku menunggu di sini...", jawab Claudya sambil berdiri di depan cermin besar yang ada di kamar mandi itu.


Jo masa bodoh, ia melepaskan seluruh pakaiannya di hadapan Claudya tanpa beban atau malu. Toh sudah suami istri kan?. Kemudian menyelesaikan urusannya dengan closet.


"Kamu masih marah, Rich?", tanya Claudya dengan nada kali ini yang lembut.


"Seperti jawabanmu tadi, Cla...".


"Kamu marahkan..? Aku minta maaf....", ucap Cla sungguh-sungguh.


"Sebenarnya aku tidak marah, Cla. Hal seperti itu adalah biasa di dalam urusan bisni, namun aku kecewa, kenapa harus kamu? Sedangkan JS Group tidak pernah menangani proyek seperti itu. Jika kamu mau mengembangkan perusahaanmu, katakan pada El, karena dia pemimpinnya di sana, atau pada ayahmu. Atau jika tidak, katakan padaku, karena perusahaanku juga bergerak di bidang tersebut", jawab Jo panjang lebar menjelaskan.


"Maaf...", ucap Cla menunduk.


"Kamu tahu artinya pernikahan kita?", tanya Jo.


Claudya mengangguk. Ia paham arti pernikahan mereka. Tidak hanya menyatukan dua raga, tetapi juga menyatukan dua perusahaan besar di negeri ini.


Jo yang masih tanpa busana apapun mendekat ke arah Claudya lalu memeluknya.


"Kamu boleh lakukan apa saja, Claudya Gitta. Tetapi untuk hal-hal seperti itu, tanyakan pada El atau padaku. Jangan bertindak seenaknya seperti itu...", ucap Jo kemudian mencium kening istrinya.


Claudya membalas pelukan Jo dan mengangguk sambil terus mengucapkan maaf.


Suasana di kamar mandi yang awalnya dingin pagi itu kini berubah hawa. Jo merasakan tubuhnya mulai panas. Peredaran darahnya bergerak cepat.


Sedangkan di sisi sang wanita, mulai merasakan adanya pergerakan dari si naga yang menusuk-nusuk handuk di tubuhnya.


"Ehm, Rich.....", panggil Cla menyadari bahwa jantung suaminya berdetak lebih cepat, juga jantung pada tubuhnya.


"Sekali saja...", ucap Jo yang paham.


Muka Claudya memerah.


Jo meraih sebelah tangan Claudya yang melingkar di tubuhnya, menuntun ke arah si naga. Claudya tentu paham apa yang harus dilakukannya pada si naga.


Gerakan tangannya dari perlahan kemudian sedikit lebih cepat.


Jo memejamkan matanya sesaat. Pria itu kemudian menuntun istrinya ke arah samping bathup dan duduk di situ, sehingga wajah sang istri lurus pada wilayah naganya.


Tatapan Claudya menengadah ke mata Jo.


Jo yang melihat itu mengangguk. Arti anggukan itu dipahami Claudya, sehingga goa geriginya menelan naga itu.


Perlahan pelan, tiba-tiba cepat, membuat Jo semakin tidak sabarnya, hingga mereka pun dengan sekejab, Jo sudah berada di depan area terlarang sang istri.


Tubuh yang hanya terbalut handuk membuat Jo leluasa mengeksposnya.


Claudya menggeliat, merasakan sesuatu yang akan meledak pada tubuhnya. Gerakan Jo semakin cepat, sehingga sesaat kemudian tubuh wanita itu gemetar.


Mereka berdua berpindah di bawah shower. Jo menghidupkan keran, hujan di kamar mandi menjadikan suasana semakin panas.


Naga siap, area wanitanya pun siap, sehingga terjadilah hentakan dari belakang yang dilakukan oleh Jo..


Claudya terus saja meraung. Sudah lama mereka berdua tidak seperti itu. Jo semakin cepat bergerak.


Sekitar satu jam mereka berdua di kamar mandi... Tidak memperdulikan apa yang sedang terjadi dengan handphone mereka masing-masing. Yah... Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan, tetapi telepon dari kedua asisten yang juga berpacaran itu tidak dihiraukan oleh kedua orang yang sedang berusaha menang di atas sana.


"Huftttttt... Lama-lama bisa ku pecat bos itu...!", gerutu Bryand yang diangguki oleh Jeny kekasihnya, asisten dari istri sang tuan.


"Memangnya bisa? Sebelum anda memecatnya, anda sudah jadi sate....", sahut Alvaro yang tiba-tiba ada di situ.


"Kau datang pagi sekali..? Ada apa?", tanya Bryand.


"Ada urusan lah.... Dari pada anda sibuk menggerutu, tuh, bawa kekasih anda ke kamar... Palingan tuan akan turun sekitar jam makan siang....!", ucap Alvaro tanpa saring.


Jeny yang mendengar ucapan Alvaro dibuat memerah.


Bryand pun menggeplak kepala sang asisten kedua itu.


"Bicara itu disaring dulu... Malu kan pacarku? Tapi,... Ya sudahlah, ayo sayang, kita tinggalkan si tulang ekor ini di sini menunggu bos...", ajak Bryand yang tidak ditolak oleh Jeny menuju kamar.


Bryand pun mencoba melakukan aktivitas senam pagi bersama kekasihnya ketika mereka sudah berada di dalam kamar milik Bryand.


Baru mulai pemanasan, dan tubuh mereka berdua keadaan polos, siap untuk saling menikam, handphone Bryand berdering.


Id pemanggil, Boss...


"Keluar sekarang, atau ku dobrak pintunya?", ancam dari seberang telepon...


"Si-siap, Bosss..",


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Wallllaaaa, si Boss, ditunggu malah lagi enak-enakkan. Mah sekarang, giliran lagi mau enak, diancam..... wahhhhhh... asik yaa....


...****************...