Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 66



Cantika berjalan cepat menuju ruangannya. Bangun pagi di hotel dengan keadaan polos dan mendapat sebuah surat serta uang seolah dirinya adalah wanita bayaran juga Sonya sang sekretaris yang semalam pergi bersamanya tidak bisa dihubungi.


"Kemana asisten itu?", geram Cantika pelan karena tidak mendapati Sonya di ruangannya.


Lagi ia menghubungi, namun belum sempat terhubung, Sonya masuk ke dalam ruangannya.


"Kamu darimana?", tanya Cantika langsung.


"Saya dari apartemen, nona...", jawab Sonya.


"Semalam apa yang terjadi? Hm?", lagi Cantika bertanya dengan nada tinggi.


"Saya tidak tahu. Saya bangun tadi pagi sudah berada di sebuah kamar hotel.. Saya coba menghubungi anda namun tidak bisa.. Akhirnya saya pulang ke apartemen baru ke sini, nona..", Sonya menjawab sambil menunduk.


"Sial...!", kesal Cantika.


"Cepat hubungi pelayan yang kita bayar.. Aku ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya..", perintah Cantika diangguki oleh Sonya.


Beberapa kali dihubungi, pelayan Club malam yang sengaja dibayar Cantika untuk menjebak Jo tidak merespon.


"Tidak diangkat, nona..", lapor Sonya.


"Brengsek.... Akhhhh.. Sial....", teriak Sonya.


Ia seperri orang gila pagi itu. Seharusnya rencananya berhasil, namun ia sendiri terjebak dengan situasi yang dibuatnya.


Sonya hanya menunduk.


Ia bangun pagi dalam keadaan masih utuh (artinya tubuhnya tidak polos masih mengenakan pakaian kerjanya lengkap).


"Keluar...", usir Cantika.


.


.


.


Di JS Group.


Claudya dan Jeny tertawa senang. Rencana mereka berhasil.


"Ini baru permulaan.. Perempuan itu harus tahu dengan siapa ia berhadapan..", ucap Claudya.


Jeny mengangguk setuju.


#flash back


"Cla....", sapa El yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan Claudya.


"Ada apa, kak?", tanya Claudya.


"Ada yang mau Kakak bicarakan.. Bisa bicara berdua?", jawab El.


Jeny yang paham langsung melesat keluar ruangan Claudya.


"Kehamilanmu sudah setua ini, apa tidak mau cuti lebih awal?", tanya El.


"Setelah produk kita yang baru dirilis Senin dua Minggu lagi baru aku cuti, kak..", jawab Claudya santai.


"Biar itu kakak yang urus... Suamimu itu uring-uringam karena kuatir. Pria dingin itu sekarang lebih bawel kalau mengenai dirimu..", El terkekeh.


Suami adiknya itu sering sekali meminta El untuk memaksa Claudya cuti lebih cepat. Takut inilah, takut itulah.


"Nanti Cla akan bicara lagi dengannya, Kak...".


"Sebenarnya kakak setuju dengan, Jo... Lebih cepat kamu cuti, istirahatmu lebih banyak sebelum si baby keluar dari perut ibunya.. Kakak takut kamu kelelahan dan bisa membahayakan baby...", ucap El.


"Aku bisa menjaga diri kok, kakak tenang saja..", kekeh Claudya.


"Begini saja, kamu cuit dulu, baru dua Minggu lagi saat produk kita dirilis, kamu boleh ikut satu hari itu, dan kembali istirahat lagi di rumah...", saran El.


Claudya hanya menyimak.


"Ini produk aku yang rancang dan juga di bawah kendaliku loh, kak.. Masa aku tidak ikut prosesnya langsung? Aku hanya ingin segala sesuatu yang sempurna sampai rilis, kak...", Claudya masih keras kepala. "Dua Minggu itu tidak akan lama..".


"Terserah padamu, Cla... Kakak hanya memberi saran.. Kakak juga kuatir sama seperti suamimu... Ia sering menghubungi Kakak sejak usia kandunganku masuk bulan ke delapan.. Harusnya kamu sudah istirahat...", aku El.


Claudya mendesah panjang.


"Nanti aku akan bicarakan dengan Rich, Kak... Terima kasih..".


El mengangguk lalu meninggalkan adiknya itu.


Wanita itu memutuskan untuk datang ke kantor suaminya.


"Jen, aku akan ke kantor suamiku, handle pekerjaanku di sini.. Tolong, ya...", ucap Claudya lalu pergi ke lift yang akan membawanya ke lobi perusahaan.


Jack tentu siap sedia untuk mengawal istri tuannya itu.


.


.


.


.


Di JF Group.


tok-tok-tok.


Verena membuka pintu lalu diikuti Claudya di belakangnya.


"Cla...?", Jo terkejut, karena istrinya yang datang.


Kehamilan sang istri yang begitu besar membuat pria itu kuatir. Kelelahan naik lift berulang kali. Apa lagi bertemu klien di luar yang mana akan menguras tenaganya.


"Ada yang mau aku bicarakan, Rich..", langsung Claudya berucap setelah duduk di sofa.


"Hmm, apa?".


"Jangan meminta kakakku untuk memberiku waktu cuti lebih cepat... Proyekku sedikit lagi selesai.. Aku ingin terlibat di dalamnya.. Ini proyek besar, Rich...", keluh Claudya.


"Aku paham, hanya saja sekarang kamu hamil besar... Aku lebih kuatir dengan dirimu juga anak kita.. Soal proyek itu, Jeny juga sekretarismu akan melaporkan segala sesuatunya... Jangan keras kepala kali ini, Cla.. Tolong....!", Jo memberi pengertian.


Claudya terdiam. Ia juga berpikir demikian, namun ambisinya tetap saja tinggi. Ia tidak mau bahwa kesuksesannya kali ini karena adanya nepotisme dari dalam, meskipun pasti ada karena perusahan keluarganya ini.


"Aku akan meminta Bryand membantu Jeny nanti.. Urusanku tidak banyak dalam dua Minggu ini.. Alvaro yang akan menghandle juga ada Verena.. Kamu di rumah saja dulu ya?", pinta Jo.


"Tapi, Rich....", Claudya menjeda.


Jo menggeleng.


"Jangan membantahku, Claudya.. Tinggal di rumah untuk beristirahat beberapa bulan ke depan, atau kamu sudah tidak bisa lagi bekerja setelah melahirkan? Pilihan hanya itu...", kini Jo mengeluarkan jurus ancaman.


"Kamu mengancamku, Rich?", Claudya mendelik.


"Aku hanya ingin yang terbaik untukmu juga anak kita... Jangan keras kepala.. Kamu boleh datang diacara perilisan produkmu... Dua Minggu lagi kan?", tanya Jo kini.


Claudya mengangguk.


"Keputusanku tidak diubah, Claudya. Tunggu aku selesaikan pekerjaan ini dan kita pulang, ya...", kini Jo melembut dan membelai rambut istrinya.


Claudya hanya bisa mengangguk.


"Mbok Minah, tolong kamar bawah di bersihkan ya? Aku dan Claudya sementara akan menginap di kamar bawah...", perintah Jo setelah sambungan teleponnya terhubung ke asisten rumah tangganya.


Jo melanjutkan pekerjaan. Tidak lupa juga ia meminta Verena untuk membeli cemilan sehat ibu hamil, juga makanan untuk mereka makan siang.


Waktu makan siang belum tiba, tetapi Claudya sudah dengan lahapnya mengunyah cemilan yang dibeli oleh Verena hingga wanita itupun mengantuk.


"Mau tidur dulu sambil menunggu makan siang?", tanya Jo.


Claudya mengangguk.


Jo bergerak memapah istrinya menuju kamar istirahat dan membaringkan tubuh istrinya di ranjang.


"Temani aku di sini, ya?", pinta Claudya.


Jo mengangguk.


Namun tangan istrinya tidak tinggal diam. Ia membuka kancing kemeja yang Jo kenakan.


"Cla, jangan mwnggodaku...", Jo maradang.


Usapan lembut jemari Claudya membangkitkan sesuatu yang tertidur.


"Polos?", tanya Jo yang kini sudah gelisah.


Claudya cekikikan tetapi mengangguk.


Jo melakukan apa yang ia katakan. Tubuh mereka sudah polos di balik selimut.


"Masuk atau?", Jo bertanya lagi.


Claudya menggeleng.


"Begini saja...", jawab Claudya sambil mengarahkan tangan Jo menuju area terlarang. Goa lembab di bawah.


Jo mengerti. Claudya hanya ingin diusap, bukan lebih. Pria itu melakukan sesuai permintaan.


Wanita yang kini membelakangi Jo bergerak.


"Terussshhhhh...", pinta Claudya sambil sebelah tangannya memegang rambut Jo yang kini wajah pria itu sudah menciumi leher istrinya.


Jo membalikan tubuh istrinya menghadapnya.


Tangan Claudya pun tidak tinggal diam.


Memegang tongkat ajaib. Naik turun.


Mereka berdua sama-sama bermain di area terlarang.


Kadang cepat, kadang lambat.


Tubuh Claudya dibuat telentang. Lututnya ditekuk.


Lidah pria itu menyusuri setiap jengkal wanitanya sampai area bawah.


Disesap, membuat perempuan itu menggeliat kepanasan.


Sekitar tujuh menit dengan posisi tersebut, kini berbalik.


Seperti angka enam sembilan. Menyamping. Sama-sama menghadap inti tubuh.


Goa bergerigi lah yang bergerak.


Lanjutannya kalian sendiri yaa gaes....🤣🤣