
Richard Jo menjadi gelisah, karena Bryand belum juga memberikan laporan mengenai pertemuan istrinya.
Melihat gelagat aneh dari tuannya, Alvaro berinisiatif bertanya.
"Ada apa, tuan?", tanya Alvaro.
"Si Bryand itu lama sekali memberiku informasi? Sepertinya usia sudah membuatnya menjadi lambat dalam bergerak....", umpat Jo.
"Akan ku hubungi asisten Bryand, tuan..", sahut Alvaro lalu menghubungi Bryand.
Jawaban yang diberikan Bryand pun masih sama. Belum mengetahui dengan siapa nyonya muda bertemu.
Kesal. Tentu. Asisten Bryand dan Alvaro adalah dua orang asisten yang bekerja sangat cepat selama menemani Jo, namun jika informasi kali ini sedikit lebih lama, berarti mereka berurusan bukan dengan orang sembarangan.
"Sudah bertanya dengan pemilik restaurantnya?", tanya Jo ketika handphone milik Alvaro kini berada di telinganya.
"Sudah, Tuan. Hanya saja pemiliknya mati-matian mengatakan bahwa itu adalah privasi pengunjung....", jawab Bryand dari seberang.
"Ancam dia, bila perlu bunuh dia...", geram Jo yang sudah sangat tidak sabaran.
Bukan apa-apa, hanya saja ia harus tahu dengan siapa sedang berurusan sehingga dapat dilakukan persiapan untuk menjegal atau menghambat gerakan musuhnya seperti biasa yang sudah dilakukan.
"Saya sudah mengancamnya, bahkan berniat meratakan restaurantnya...", sahut Bryand lagi. "Tapi....", jeda Bryand.
"Tapi apa?".
"Anak buah kita yang ada di sini sudah mencari data pemilik restaurant ini, namun ada yang aneh, Tuan Jo... Dia hanya pengusaha restaurant biasa...", jawab Bryand menjelaskan.
"Terus? Kemampuan mengancammu sudah menurun, Bryand? Mengapa pengusaha biasa saja tidak gentar menghadapi ancamanmu?", lagi Jo mengumpat.
"Sepertinya dia dilindungi oleh seseorang yang lebih berkuasa, Tuan.. Dan saya curiga, bahwa restaurant ini hanya kedok untuk menutupi sesuatu...!", ucap Bryand menduga.
"Hmmmm, baiklah... Selidiki terus dan tetap berhati-hati.. Kita tidak tahu siapa yang sedang kita hadapi...", Jo berpesan lalu mematikan panggilan telepon itu.
"Pantau terus pergerakan istriku, Al... Sepertinya ia merencanakan sesuatu setelah mengetahui identitas kita yang lain...!", perintah Jo pada Alvaro.
.
.
.
.
.
Malam semakin larut. Mata seorang wanita masih terjaga mengingat bagaimana keadaan pria yang kini sudah sedikit bermain dalam hatinya.
Dia merindukan laki-laki itu, sentuhannya, juga seluruh yang ada pada pria itu. Namun gengsinya sangat besar, juga kekecewaan serta semua data-data yang ia dapat mengenai pekerjaan lain pria itu.
"Aku merindukanmu... Namun aku masih kecewa padamu, Rich...", batinnya bergumam.
Beberapa hari telah berlalu kini.
Tak ada kabar, atau pesan yang dikirim oleh Jo membuat Claudya semakin kesal.
Anak buah bayarannya pun sudah menjalankan tugas sehari setelah pertemuan dengan Lucius.
Kerja, kerja dan kerja. Semboyan Claudya yang sekarang. Ia hanya mau fokus bekerja, manaikan kariernya yang kini semakin dikenal luas sebagai wakil CEO JS Goup.
Seminggu sudah Jo tinggal di rumah sakit Spanyol.
"Al, aku bisa pulang hari ini kan?", tanya Jo yang mulai merasa gerah berada di rumah sakit itu.
Ayah dan Ibunya pun masih tetap di Spanyol. Menggunakan waktu mereka untuk berlibur sehingga tidak ingin ikut pulang bersama putra pertama mereka.
"Sudah saya urus tanpa tuan perintah. Dokter mengatakan jangan terkena air dulu lukanya. Anda bisa pulang hari ini, Tuan...", jawab Alvaro.
"Bagus.... Kita langsung ke bandara...!", perintah Jo yang sudah dilepas infusnya oleh perawat kemudian bangun dari ranjang dan keluar dari kamar itu.
Alvaro pun mengejarnya.
"Tuan.....", panggil Alvaro sedikit berteriak karena Jo sudah berjalan cepat lebih dulu ke pintu lift.
"Hmmm? Apa?", sahut Jo.
"Anda mau mengenakan pakaian itu?", tanya Alvaro ketika sampai di hadapan Jo.
Jo mulai melirik sekilas dirinya. Ia merutuki kebodohannya karena terlalu terburu-buru sehingga masih mengenakan seragam pasien.
Tetapi karen tidak ingin malu, ia tetap bergaya cool, memperlihatkan wajah santainya.
"Iya.. Kelamaan, nanti kita ketinggalan pesawat. Ayo.....", ajaknya pada Alvaro.
Alvaro mengernyit bingung. "Bukannya kita menggunakan pesawat pribadi yaaa? Sepertinya otak bos sudah sedikit eror pengaruh usia...", batin Alvaro tersenyum mengejek.
Jo tidak peduli tatapan beberapa orang yang ditemuinya di lobi rumah sakit. Ia terus berjalan santai menuju parkiran yang ia ketahui, karena letaknya langsung berada di depan rumah sakit.
Singkat cerita, mereka tiba di Indonesia. Jangan tanya bagaimana. Toh orang kaya. Semuanya sudah disiapkan.
"Tuan, saya belum menghubungi Tuan besar dan nyonya besar jika anda sudah di Indonesia...", ucap Alvaro ketika teringat orang tua dari si bos.
Mereka sampai di Indonesia sudah pukul 10 malam, rumah tampak sepi, asisten rumah tangga yang bekerja di rumah itu pun sudah ke paviliun belakang untuk beristirahat.
"Claudya kemana?", tanya Jo ketika tidak melihat istrinya berada di kamar.
"Saya juga baru sampai sama seperti anda, Tuan, jadi saya tidak tahu....", jawab Alvaro seadanya.
"Ya, makanya cari tahu, Al...", geram Jo kemudian masuk ke kamarnya untuk bersih-bersih dan mengistirahatkan tubuhnya.
Alvaro mencari informasi mengenai istri tuannya, namun yang membuatnya tercengang adalah semua anak buah yang bertugas mengawal Claudya dari jauh tidak dapat dihubungi.
Ia langsung dengan cepat kembali masuk ke rumah utama dan langsung menuju ke kamar tuannya untuk memberikan laporan.
tok-tok-tok..
"Hm, bagaimana?", tanya Jo malas. Faktor obat yang tadi ia minum, juga kelelahan membuatnya mengantuk.
"Anak buah kita tidak ada yang bisa dihubungi untuk memberikan informasi, Tuan..", lapor Al dengan ketakutan. Ia tahu, sebentar lagi Jo pasti akan murka, dan yang ada di depannya lah menjadi sasaran empuk kemarah Jo.
"Apa???", kaget Jo langsung menatap sengit Alvaro. "Anak buahmu tidak berguna, Al...", Jo mulai berucap dengan nada tinggi.
Alvaro pasrah. Ia menutup matanya siap untuk mendapat tamparan atau bogeman mentah dari tuannya itu.
"Kenapa ribut-ribut?", tanya seorang wanita yang dicari.
Jo yang siap memberikan bogeman kepada Alvaro menarik tangannya ketika mendengar suara wanitanya.
"Kamu baru pulang, Cla?", tanya Jo dengan sengit menatap Claudya.
"Kamu sudah pulang, Tuan Jo?", Claudya bukannya menjawab, tetapi balik bertanya.
Ada aroma-aroma yang tercium di situ. Jo dan Alvaro saling menatap heran. Alvaro paham tatapan itu, lalu ia mengundurkan diri untuk keluar dari rumah utama karena tugasnya sudah selesai untuk hari itu.
Claudya berjalan dengan santai, sedikit menggeser tubuh Jo yang menghalangi pintu masuk ke kamar mereka.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Claudya...!", ucap Jo ketika menutup pintu kamar mereka setelah Claudya berada di dalamnya.
"Kamu lihat kan aku baru pulang? Masih bertanya?", sahut Claudya juga masih dengan santai.
"Kamu mabuk, Cla?", Jo menekan kalimatnya sembari memutar tubuh Claudya menghadapnya.
"Kamu mencium aroma mulutku kan? .... Aku tidak mabuk,Tuan Richard Jo... Aku hanya minum bersama klienku yang mengajak ketemuan di bar.. Puas?", tanya Claudya yang kini menaikan suaranya.
"Tetap saja, kamu minum minuman keras, Claudya....!", Jo terpancing emosi.
"Salahnya di mana? Kamu juga pasti seringkan? Apa lagi seorang ketua Mafia yang kejam.. Tidak akan jauh dari minuman keras dan juga belaian perempuan....", Claudya semakin kencang mengutarakan pendapatnya.
Jo mulai merenggangkan cengkeramannya di lengan Claudya.
Ia lalu membopong tubuh seksi wanitanya menuju ke kamar mandi.
Tentu Claudya berontak, akan tetapi Jo tidak peduli. Ia dan Claudya yang masih mengenakan pakaian kerja lengkap pun akhirnya mandi bersama malam itu. Hanya sekedar mandi.
Pria itu juga tidak lagi peduli jika luka diperutnya yang seharusnya tidak boleh terkena air, akhirnya basah juga.
Di bawah pancuran shower, Claudya menatap sengit Jo yang tersenyum tulus.
"Kau mafia brengsek, kau bajingan.. Kau penipu....", Claudya seperti orang kesetanan memukul dada bidang Jo yang juga dibalut dengan pakaian tidurnya.
"Claudya Gitta.... Hentikan....!", Jo mulai geram.
"Apa? Kau mau membunuhku? Atau kau mau menghukuku? Ha?", tanya Claudya yang masih denga teriak.
Jo tidak lagi berbicara. Ia membukam Claudya dengan tindakan.
Mencumbu kekasih halalnya meski mendapatkan pemberontakan, hanya saja akhirnya Claudya luluh dengan tindakan itu.
Mereka berdua mulai berpacu. Dari shower, berpindah ke bathup, berpindah lagi ke duduk Closet, berpindah lagi di wastavel...
Jo memainkan perannya dengan baik, begitu juga Claudya yang mengimbangi.
"Kamu yang pimpin sekarang, baby....", perintah Jo yang dituruti oleh Claudya.
Mulailah Claudya berperan penting, dari kening, mata, turun ke bibir, tangan kirinya menjalar ke arah dada bidang milik Jo yang kini sudah polos.
Claudya terus turun, sehingga sampailah di tongkat besi milik Jo.
Jemari lentiknya bermain pelan, tidak lupa, gua bergeriginya ikut mengunyah batang besi itu. Kadang pelan, kadang cepat membuat sang pemilik semakin menggeliat.
Ia lalu menarik tangan Jo dan mendudukkan pria itu di closet. Claudya berlutut, menundukkan wajahnya, dan memakan dua buah ceri milik Jo.
Laki-laki itu semakin tidak tahan. Sebelah tangan perempuannya di tongkat besi, menaik turunkan jemarinya, sedangkan bibirnya di buah ceri itu.
Menengadah.
Claudya tersenyum.
"Mari kita ke makanan utama, Tuan Jo..", ucap Claudya menyeringai sambil tersenyum menggoda suaminya itu.