
"Ini? Apaan?", jawab Jo yang sudah memasang wajah waspada.
"Bisa bacakan, Tuan Richard Jo yang terhormat?", Claudya balik bertanya.
Bryand yang sudah melihat gelagat tanduk merah muncul di kepala istri tuannya pelan-pelan berjalan mundur mendekat ke arah pintu keluar.
"Sekali lagi kau melangkah, tamat riwayatmu, Bryand...!!!", ancam Jo.
Meski ia harus membuat alasan yang masuk akal, namun lirikan matanya masih sempat melihat asistennya itu untuk segera kabur.
Asisten satu itu pun berhenti di dekat pintu keluar. Claudya menatapnya tajam.
"Kau juga jawab pertanyaanku, Tuan Bryand... Jangan sampai aku menyuruh Jeny datang untuk ikut menginterogasi kalian berdua..".
Bryand menelan ludahnya kasar. Jeny kalau sudah marah, wah.. Posisi Bryand tidak akan berada di dalam apartemen, melainkan di luar. Meskipun bisa saja ia kembali ke rumah Jo, atau nginap di hotel satu malam pun jadi, namun ia dilarang untuk melangkahkan kaki menjauh dari apartemen tersebut. Itu kalau Jeny marah.
"Katakan... Aku beri waktu lima menit untuk menjelaskannya...", perintah Claudya.
Jo menggaruk tengkuknya yang gatal. Di foto itu terlihat waktu dan tanggal serta tempat di mana ia berada ketika masih di Spanyol bebepa hari yang lalu.
"Eemmmm, itu... Memang aku berada di restaurant hotel tempat kami menginap...", Jo menjeda.
"Saya tidak ada, nyonya muda saat kejadian di foto itu...", lanjut Bryand. Membela diri itu pasti agar ia juga jangan terseret lebih jauh.
"Aku memintamu untuk tetap berada di sisinya selama ia di luar kamar hotel maupun apartemen, asisten Bryand. Dan jawabanmu tadi itu membuatku kecewa....", Claudya berucap.
"Maaf, nyonya.. Tapi saya waktu itu sedang ke toilet karena perut saya tidak bisa diajak kompromi...", Bryand mwnjawab dengan muka memelas.
"Baiklah... Aku terima alasanmu..!!", angguk Claudya. "Siapa dia?", kini mata elangnya mengalihkan tatapan pada suaminya.
"Cantika Wijaya...", jawab Jo.
"Anak bungsu dari Tuan Wijaya pemilik Wijaya Group?", lagi Claudya bertanya.
"He'em... Aku tidak tahu maksudnya apa, namun katanya waktu itu ia memintaku sedikit membimbingnya tentang proyek kerjasama antara JF dan Wijaya Group yang ditanganinya...", Jo mencoba memberi penjelasan.
"Minta Alvaro selidiki nama pengirim ini.. Sore nanti sudah aku dapatkan alamat, nama dan nomor kontaknya.. Sekalipun ia tinggal di luar negeri...", perintah Claudya yang diikuti anggukan oleh Bryand.
Bryandpun pamit mengerjakan perintah istri atasannya itu.
"Aku bersumpah tidak melakukan apapun, Cla... Aku benar-benar bekerja di sana...", bujuk Jo dengan suara lembut agar amarah sang istri mereda.
"Jadi yang mau kamu bilang adalah ada yang sengaja membuat kita bertengkar?", tanya Claudya menyelidik.
"Kemungkinan iya, Cla...", jawab Jo yang kini mulai mendekati istrinya.
"Kau tahu kan? Bukan sekali aku dilarang menyentuhmu.. Bahkan berkali-kali, sampai berbulan-bulan aku tidak diizinkan menyentuhmu? Tapi aku tidak bermain wanita di luar sana kan? Kau tahu aku bagaimana, Cla...".
Claudya mengangguk. Jo memang bukan tipe pemain wanita. Memang ia adalah bisnis man yang sering keluar masuk bertemu klien di Club malam, juga sesekali menyesap minuman alkohol, tetapi untuk melakukan one night stand, tidak.. Pertama dan sepertinya terkahir, wanita yang ia sentuh adalah istrinya sendiri.
"Kita bisa tahu dari Alvaro sore ini... Oke? Jangan marah-marah lagi, hmmm?", Jo memeluk istrinya meredakan kemarahan.
Wanita itu kembali mengangguk lalu menarik tangan Jo menuju ke kamar mandi di kamar mereka.
"Buka seluruh pakaianmu...!!", pinta Claudya.
Jo heran namun tetap melakukan hal yang diminta istrinya.
Claudya melakukan hal yang sama. Ia pun membuka pakaian yang ia kenakan.
"Bersihkan tubuhmu.. Kemungkinan bakteri dari wanita pengganggu itu sudah menempel padamu, apalagi tadi pagi kamu juga menyentuhku.. Itu artinya kita harus mandi lagi, dan menggosok sabun sebanyak tujuh kali untuk menghilangkan noda membandel bekas dari perempuan penggoda itu ..!", ujar Claudya yang membuat Jo melongo.
Tidak mau istrinya kembali bertanduk setan, Jo mandi begitu juga istrinya. Mereka berdua mandi bersama di bawah guyuran shower air hangat itu.
Selesai mandi dan berpakaian, mereka berdua ke ruang makan. Jam sarapan telah lewat dan berganti siang.
"Sebentar lagi kamu akan melahirkan. Apa tidak mau mengambil cuti lebih cepat?", tanya Jo.
Claudya menggeleng. Mau menjawab, ia masih mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.
"Kenapa?", Jo lanjut bertanya melihat istrinya tadi menggeleng.
"Biarkan El atau Jeny yang menangani itu dulu kan bisa? Kenapa harus kamu? Aku takut kamu kelelahan nanti...", kuatir Jo.
"Kak El sedang banyak pekerjaan.. Apa lagi kamu pasti sudah tahu bahwa perusahaan cabang di Singapura sedang kacau.. Ia harus pergi-pulang beberapa kali dalam seminggu. Jeny masih hamil muda.. Takutnya ia juga kelelahan sama seperti kak El jika aku memaksakan ia bekerja terlalu keras.
"Kan ada skretarismu?".
"Aku senang dia bekerja cepat dan baik sama seperti Lusiana, namun aku tidak bisa terlalu memberikan tanggung jawab besar seperti ini... Kamu tenang saja, jika aku sudah tidak sanggup sebelum itu, akan aku katakan padamu...", jawab Claudya santai.
Jo hanya menghela napasnya berat. Kini tekat pria itu semakin kuat untuk membuat istrinya harus cuti lebih cepat.
.
.
.
.
Sore hari.
Alvaro datang dengan sebuah amplop cokelat.
"Mana?", bukan Jo yang memintanya namun Claudya.
"Hahahaha.. Ternyata si kutu busuk ingin bermain denganku...", sarkas Claudya di balik tawanya.
"Jadi benar?", Jo menduga dan diangguki oleh Alvaro.
"Ia ternyata meminta bantuan orang asing dari negara itu untuk mengirim foto tersebut kepada nyonya Claudya...", Alvaro menjelaskan.
"Baiklah, mari kita sedikit bermain dengannya.. Aku mau melihat, sejauh mana kuasa Wijaya Group untuk melindungi wanita itu...", Claudya menyambung lagi.
Jo mengedikan bahunya ketika Alvaro menatapnya meminta jawaban.
"Ini urusan perempuan. Kalian laki-laki diam saja...", seakan mengerti arti tatapan kedua pria di depannya, Claudya berujar.
"Kamu yakin?", tanya Jo.
Claudya mengangguk semangat. Ia mau melihat sejauh mana wanita ulat bulu itu bertindak.
"Jeny, ajukan proposal baru untuk Wijaya Group mengenai kerjasama kita dengan mereka. Usahakan agar Cantika Wijaya yang menangani proyek itu...", perintah Claudya melalui telepon.
Jo menatap Alvaro. Kini Alvaro yang mengedikan bahunya.
"Kamu ingin bertemu dengannya secara langsung karena itu mengajukan proposal baru pada Wijaya Group?", tanya Jo menduga.
"He'em... Aku ingin melihat wanita itu secantik apa? Apa dia lebih cantik, tinggi dan seksi dariku?", tanya Claudya yang tidak mengharapkan jawaban.
"Kamu lebih segalanya, baby...", rayu Jo meski ia tahu bahwa ucapan Claudya barusan tidak butuh ia jawab.
"Jangan merayuku... Kamu tidur di luar jika menggombal ala-ala anak labil... Ingat umur...!", sahut Claudya langsung disambut tawa oleh Alvaro.
"Al.. Jika kau masih tertawa, besok ku pastikan kau tidak bisa lagi mengeluarkan suara...!", Jo mengancam dan Alvaro langsung kicep.
"Baiklah, asisten Al.. Terima kasih atas respon cepatnya... Tidak sia-sia suamiku membayarmu sangat tinggi...", ucapan terima kasih terdengar tulus dari Claudya.
"Ini bukan hanya karena bayaran, nyonya... Saya melakukannya karena hutang nyawa pada tuan Bryand...", jawab Alvaro menunduk.
"Pokoknya terima kasih, Al... Kamu sudah membantuku... Apa yang kau inginkan?", kini Jo yang berucap.
"Kalau boleh Tuan, belikan saya penthouse mewah di kawasan elit untuk dijadikan mahar saat menikah dengan Verena...", sedikit ngelunjak, namun ia tak mau kalah. Bryand menikah waktu itupun mendapatkan hak yang sama seperti apa yang Alvaro minta.
"Bagus, Al... Uang tuanmu itu tak akan habis jika hanya membeli penthouse seperti milik Bryand...", tawa Claudya pecah.
Jo hanya mendengus. Asistennya itu ketularan serakah seperti Bryand.
"Nanti aku pikirkan...", jawab Jo santai.