Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 72



"Ahhhhhhh...", suara erangan keluar dari mulut seorang wanita yang matanya masih tertutup rapat.


Bergerak gelisah bagaikan cacing kesemprot air panas.


"Uhhhh... Shhhhhhh....", terus saja desis menggoda keluar dari bibir seksi.


"Kamu suka...?", tanya seorang pria yang sedang memainkan jarinya di area terlarang milik wanita.


Cantika Wijaya. Yah.. Perempuan itu yang kini sudah terbaring tanpa sehelai benang pun namun tertutup selimut tebal barwarna abu-abu.


Perempuan itu mengangguk setelah mendengar nada menggoda dari sang pria.


Katakanlah Jo sangat keterlaluan. Ia menyerahkan perempuan itu pada pria yang menjadi dokter pribadinya tadi saat di acara peresmian produk baru milik JS Group.


"Kau sangat seksi, honey....", ucapan lembut dari pria yang bekerja sebagai dokter di salah satu rumah sakit terbesar milik JF Group.


"Terushhhhh.....", gumam lirih sang wanita.


Semakin terpacu gairah sang dokter. Ia adalah cassonova yang terkenal di kalangan wanita. Entah model, artis, anak pengusaha, atau bisniswoman pun pernah singgah ke kasurnya. Pemain lama. Bahkan mungkin sudah jadi pelatih.


Membuat wanita bergairah tanpa harus ada paksaan dan cinta sangat mudah untuk pria yang berusia sama dengan Jo itu.


Allan de Rose. Nama pria keturunan Portugal yang besarnya di Indonesia mengikuti ibunya.


Berteman dengan Jo ketika mereka berdua sama-sama kuliah di London. Meski beda jurusan, namun pertemuan mereka terbilang unik karena Jo membantu pria itu untuk mencuri kartu mahasiswanya dari seorang wanita yang bermasalah dengan Allan. Lebih tepatnya Allan yang bermasalah dengan wanita itu.


Kembali ke laptop.


"Jangan berhenti.....", Cantika menahan pergelangan tangan Allan di area bawah sana.


"Kamu suka...?", lagi Allan bertanya.


Cantika mengangguk. Meski matanya tertutup namun tidak membuat wanita itu kehilangan sensasi.


"Bagaimana kalau tanganmu bekerja sepertiku?", tawar Allan.


Cantika membuka matanya.


"Kau...?", kaget Cantika.


Allan tersenyum menyeringai.


"Jangan kaget.. Kita selesaikan ini dulu baru berbicara....", Allan langsung membungkam bibir seksi yang sedari tadi mengundangnya untuk dicicipi.


Gayung bersambut. Wanita yang sudah terbakar gairah, dan pria pemain lama dalam bidang wanita, jelas berimbang. Lawan sepadan.


Jo tentu tidak memberikan wanita yang belum ditembus oleh laki-laki alias polos.


"Kau yang memimpin.. Aku ingin tahu sehebat apa dirimu...", pinta Allan.


Cantika pun pemain lama. Kehidupan bebas, dan akibatnya adalah video asusilanya ada berarti ia sangat profesional dalam hal ranjang.


Mulutnya mengulum lolipop Allan dengan lembut. Dua buah kecil di bawah lolipop itupun tidak luput dari permainan lidah Cantika.


"Gilllaaa.... Terussss, baby....", rancau Allan yang telentang.


"Pengaman?", kini Cantika bertanya.


"No..", jawab singkat Allan yang terus menekan Cantika untuk menikmati di bawah sana.


Beberapa menit di bawah, kini posisi di balik.


Area bawah Cantika berhadapan langsung dengan wajah Allan, begitupun Cantika.


Saling menikmati milik lawan mereka berdua. Tahu kan siapa yang lebih dulu? Tentu Cantika.


Getar tubuhnya di atas Allan menandakan bahwa pria itu sudah mengalahkannya untuk pertama kali.


"Langsung ke menu utama...", ucap Allan.


Lagi pria itu meminta Cantika di atasnya.


Gerakan maju mundur cantik juga naik turun asik diperagakan.


"Gilllaaa... Kita belum mengenal tapi sudah seperti ini....", ujar Cantika terengah.


"Aku tahu kau sering begini... Jangan menipuku...", balas Allan yang diangguki oleh Cantika.


Setelah lelah namun Allan belum terkalahkan. Ganti posisi. Allan memimpin.


Cepat, lambat, maju, mundur, berbagai gaya dicoba. Dari kamar, mereka berdua menyusuri area apartemen Allan dengan segala macam jenis yang mereka tahu. Hingga akhirnya mereka berdua terdampar di sofa ruang nonton milik Allan.


Cantika membersihkan wajahnya hingga mulutnya karena Allan menyemprotkan benih nakal ke area itu.


"Kau hebat... Lain kali kita bertarung lagi...", puji Allan.


Cantika tersenyum.


"Kau sangat kuat dan membuatku puas... Hubungi saja aku nanti...", balas Cantika.


Mereka berdua berbicara di sofa ruangan itu tanpa mengenakan apapun. Pembicaraan mereka seputar pekerjaan, juga pertama kali melakukan hubungan seperti yang mereka lakukan tadi.


Adegan berulang? Tentu. Singa mana rela melepas mangsa yang dengan sukarela menyerahkan diri?


.


.


.


.


Alvaro.


"Aku akan tanyakan pada Tuan Bryand terlebih dahulu, namun kau tetap bersiap jika ada perintah apapun besok pagi...", jawab Bryand.


"Baiklah, tetapi saya rasa, kita harus membuat penjagaan yang ketat karena sebentar lagi nyonya muda akan melahirkan. Saya takutnya mereka akan memanfaatkan keadaan itu ketika kita sedang bersiap-siap menyambut pewaris JF Group..", Alvaro melanjutkannya lagi.


Bukan tanpa sebab Alvaro menemui Bryand di rumahnya. Malam ini ia melihat anak buah kelompok yang ingin menyerang Jo berseliweran di area acara tadi namun mereka (kelompok musuh) tidak bisa melakukan apa-apa karena Alvaro sudah mengatasinya, namun untuk jaga-jaga sebaiknya seperti itu. Memperketat penjagaan.


Bryand mengangguk setuju.


"Aku akan bicarakan pada Tuan. Soal rumah sakit di mana Nyonya muda melahirkan nanti, tolong kau urus segala sesuatunya. Istriku sedang rewel-rewelnya sekarang. Takutnya aku lalai nanti..", Bryand meminta Alvaro menghandle yang seharusnya dikerjakan oleh Bryand.


Jeny seperti penguntit atau ekor bagi Bryand. Di mana Bryand, Jeny ada sekalipun mereka berdua pisah kantor. Seringnya Bryand mengunjungi Jeny di JS Group membuat beberapa pekerjaannya harus dilakukan oleh Verena.


Gantian Alvaro yang mengangguk.


"Sudahlah. Kau pulang sana... Aku mau setor dulu...", usir Bryand.


"Ehhhh? Apaan? Memangnya anda punya hutang ya, makanya harus disetor malam ini?", tanya Alvaro pura-pura polos.


"Aisshhh.. Sana... Ku pecahkan kepalamu nanti...", kesal Bryand karena Alvaro tidak beranjak dari situ.


"Asisten Alvaro... Dalam hitungan kelima kau tidak beranjak dari rumahku, ku pastikan besok Verena hanya dapat puntung milikmu...", ancam Bryand jengkel.


"Asisten Bryand, kalau kau mengusirku, ku pastikan, malam ini tidak ada jatah dari istrimu....", Alvaro balas mengancam.


Bryand yang mendengar itu geram kemudian mendekat ke Alvaro namun secepat kilat Alvaro langsung berlari dari ruang tengah menuju pintu depan.


"Ehhh sialll tunggu kau....!", Bryand mengejar Alvaro sampai depan rumah.


Bukkkkk....


Alvaro menoleh.


Bryand tersungkur karena pijakannya tidak kuat saat menuruni anak tangga terakhir.


"Hahahahahahhahaa...", tawa Alvaro pecah.


Kesal? Pasti.


Muka Bryand menahan amarah.


"Habislah sudah aku... Kaburrrr....", teriak Alvaro yang berlari cepat menuju gerbang keluar rumah Bryand. Meski tidak jauh namun ia lupa satu hal.


"Mati aku... Mobilku... Aishhhhh....", kesal Alvaro karena Bryand tidak lagi mengejarnya namun ia meninggalkan mobil kesayangannya terpakir di garasi Bryand.


Ting....


"Mobilmu milikku.. Besok antarkan surat-suratnya di kantor... Jika tidak, jangan salahkan aku untuk mengirim benda ini ke apartemenmu dalam bentuk rongsokan...!", ancam Bryand.


"Ishhhhh.......", seperti anak kecil Alvaro mengumpat..


.


.


.


.


Di sisi Jo.


Seharusnya malam ini jadi panas meski ada AC yang menyala. Namun apalah daya? Dengan alasan Bayinya tidak mau dijenguk ayahnya, juga Claudya yang tidak mau dipeluk katanya bau parfum Cantika masih menempel akhirnya ia tidur memeluk guling dengan gelisah.


"Claa... Aku sudah mandi bahkan sabun di hotel ini sampai habis aku gunakan... Masa aku tidak boleh memelukmu?", tanya Jo memelas.


"Tidak... Kau bau perempuan itu... Sana... Tidur di lantai....", ketus Claudya yang membelakangi Jo.


"Tapi, Claa.....", masih menego.


"Tidur di bawah, atau di luar? Sana.....!", Claudya berbalik lalu mendorong tubuh Jo.


"Setega itukah kau padaku?", Jo mengiba.


"Setega itu kah kau berdekatan dengannya?", balas Claudya.


Jo diam tak berkutik.


"Baiklah.....", Jo mengalah. Palingan setelah wanitanya tidur, ia bisa naik ke atas ranjang dan memeluk perempuannya seperti biasa mereka tidur selama ini.


Ide Jo cemerlang.


"Jangan pikir aku tidak tahu otakmu, Tuan Richard Jo Fernand. Tunggu aku nyenyak lalu kau naik ke ranjang dan menggeser guling pembatas ini kan? Itu yang ada di otakmu...", Claudya menebak.


"Kok tahu? Ehhhh, maksudnya gak kok....", gugup Jo membantah.


"Kau selalu punya cara licik... Tak salah kau jadi pemimpin organisasi bawah.. Awas saja kau berani memelukku? Ku potong lontongmu...!", Claudya mengancam.


Jo langsung ngilu.


"Sabar ya Boss... Maklum, istri lagi mode galak....", Jo membatin.


Karena lelah juga pekerjaan, Jo yang tertidur duluan, sedang Claudya tidak bisa tidur nyenyak.


Bergerak kesana kemari seperti sedang gelisah.


"Aishhhh....", gerutu Claudya.


Ia perlahan turun dan tidur di lantai sebelah Jo yang beralasan kan badcover tebal milik hotel. Nyenyak dan sampai pagi....


"Apa ini....", Jo mengernyit.