
Pagi yang cerah di musim dingin Korea.
Jo sudah bersiap dengan pakaian santai. Sedikit lagi akan berangkat menuju bandara, sesuai rencana.
Jack melonggarkan penjagaan ketat untuk nyonya mudanya. Pengawal bayangan tentu selalu ikut. Bryand pun sudah tahu rencana tuannya serta kekasihnya pun akan turut andil dalam penyergapan itu.
Sedangkan di Indonesia, Alvaro bersiap karena sedikit lagi perusahaan milik si sipit akan berpindah tangan pada tuannya. Itu urusannya.
Seo, si plastik bermata mengantuk itu pun telah siap dengan anak buahnya serta anak buah ayahnya.
Pengintai di sekitar bandara akan memberikan informasi jika Jo sudah berada di dalam pesawat dan istrinya pulang ke apartemen. Sergap di jalan, sekap di apartemen berbeda milik Seo, nikmati, lalu buang seperti sampah. Yang awalnya tujuan untuk memanfaatkan Cla agar dua perusahaan bergabung, kini rencana berpindah haluan.
Jangan lupa si Kancil pencuri ketimun. Selalu ada dalam tugasnya sebagai mata-mata. Jack yang memanggilnya atas perintah Bryand.
Mobil mewah beriringan memasuki bandara.
Maklum, apa sih yang tidak bisa dilakukan uang? Toh pesawat yang digunakan pun milik pribadi.
"Hati-hati.. Jeny yang akan menemanimu pulang nanti.. Jack akan mengikutimu dari belakang... Ikuti saja kemana arahnya membawamu. Kalung ini sudah ku pasang GPS sehingga di manapun berada, posisimu pasti di ketahui olehku dan anak buahku..", pesan Jo lalu mencium kening istrinya dan melangkah menuju pesawat pribadi.
Setalah suaminya tak terlihat, Claudya mengajak Jeny untuk pulang, begitupun Jack.
Earphone selalu terhubung. Pewarta bergerak.
Anak buah Seo melaporkan lalu meninggalkan area bandara. Diikuti si Kancil yang berada tidak jauh dari situ.
Jangan heran jika Si Kancil tau siapa mata-mata, juga siapa yang tidak. Mantan pasukan khusus SEAL itu sudah sangat terlatih. Memilih meninggalkan satuannya karena teman-temannya terbunuh.
Kembali ke Seo.
Seringai di wajahnya tidak luntur. Ia pasti akan menang. Padahal, anak buahnya yang bertugas meretas data perusahaan milik Jo sudah di ringkus dan di sekap. Tidak ada laporan kelanjutannya.
Anak buahnya sudah bersiap di jalanan yang akan dilewati oleh Claudya dan rombongan.
Dor....Dor... Dor...
Tcittt....
Bunyi rem yang tiba-tiba menghentikan kendaraan milik Claudya.
Jeny tenang. Claudya pun sangat tenang.
Bersiap dengan senjata yang diberikan Bryand, Jeny mulai memberondong tembakan ke arah lawan yang terlihat.
Jack berada di belakang kendaraan yang lain melindungi.
Anak buah Seo lebih banyak dari jumlah yang dimiliki oleh Jo.
Tembakan berterbangan di jalan.. Kaca mobil milik Cla sudah pecah, apa lagi bentuk bodi kendaraan. Sudah banyak bekas-bekas peluru yang menghantam.
Claudya sengaja keluar dan berlari meninggalkan kendaraan itu diikuti oleh Jeny.
Jack masih melawan bersama anak buahnya yang lain.
Dua perempuan itu diikuti oleh anak buah Seo dan ditangkap.
Maksud sudah terpenuhi, akhirnya mereka meninggalkan area pertempuran.
Jack melaporkan.
"Perangkap sudah dilepaskan, Tuan...".
Jo menyeringai.
"Ikuti arah GPS itu, Bry.. Cepat.. Juga katakan pada si Kancil dan anak buah kita yang lain untuk tidak bertindak lebih dulu sebelum kita spai tujuan...", perintah Jo diikuti oleh anggukan Bryand.
Apartemen mewah lainnya milik Seo.
"Hwan-yeonghabnida, Miseu Keullaudia.. (Selamat datang, nona Claudya..)", sapa Seo dengan seringai di bibirnya.
Claudya tenang, begitupun Jeny. Mereka berdua sangat santai.
"Geulaeseo malhaneun i yeojaneun? (Jadi wanita ini yang kamu ceritakan?)..", tanya ayah dari pria kurang tidur tersebut (mata mengantuk).
"Geulae appa.. yeppeuda? naega i salam.. appaneun josuleul jeulgil su issseubnida (Iya, ayah. Cantik? Aku yang ini.. Ayah boleh menikmati asistennya)..", jawab Seo.
Claudya berdecak. Begitupun Jeny. Mereka tertawa..
"Hahahahaha.. Lihatlah, Jen.. Kedua orang bodoh ini pikir mereka sudah menang...", ujar Claudya pada Jeny yang berada di sebelahnya.
"Keserakahan akan membawa mereka ke arah kematian, Nona... Saya yakin, mereka berdua akan diasingkan di pulau terpencil dengan banyaknya binatang buas di dalamnya..", jawab Jeny.
"Uliga al-adeudji moshaneun eon-eoleul sseuneunguna.. Najung-e jeulgeoul ttae sseuneun hansum eon-eoleul galeuchyeojulge (Kalian menggunakan bahasa yang tidak kami mengerti.. Akan kami ajari bahasa mendesah yang kalian gunakan nanti saat kami nikmati)...", tawa Seo dan Ayahnya.
Seo berjalan mendekat ke arah Claudya. Sebelah tangannya bermaksud memegang pipi wanita itu namun belum sampai di bagian yang dimaksud,....
Cahssss.....
Sebuah peluru lebih dulu menembus kaca dan telapak tangan milik Seo.
"Aaaaahhhhhhh...", Seo berdesis.
Claudya dan Jeny ikut menunduk dan mencari persembunyian. Seperti yang direncakan.
"Jeo sasuleul chaj-ala... Jenjang..!! (Cari penembak itu... Sial...!!)..", perintah ayah Seo yang melihat putranya sudah meringis menahan sakit.
Brakkkk..
Sebelum anak buahnya bergerak, mereka lebih dulu dikagetkan oleh pintu yang didobrak paksa.
Kaget..
Ayah dan anak itu tersentak kaget. Mereka tidak menyangka, orang yang berada di depannya ini seharusnya sudah terbang ke Indonesia satu jam yang lalu.
Pengawal Jo langsung melumpuhkan anak buah Seo yang ada di dalam apartemen tersebut.
Dua pria beda generasi bermata sipit itu gemetar setelah melihat semua anak buahnya dilumpuhkan.
"Look, Bryand... They're both like mice caught between a mousetrap and mouse glue.. (Lihat, Bryand... Mereka berdua seperti tikus yang terjebak di antara perangkap tikus dan lem tikus..)..", Jo berucap.
"Shall we make them rat food, sir? (Bagaimana kalau kita jadikan mereka makanan tikus, Tuan?)..", tanya Bryand.
"Good idea..", sahut Jo.
Claudya dan Jeny langsung keluar menuju ke arah Jo dan Bryand dari tempat persembunyian.
"Maaf, Cla... Kamu jadi korban lagi untuk kali ini...", ujar Jo.
"Dia pengganggu... Jadi tidak apa-apa...", jawab Claudya diiringi dengan kecupan di pipi Jo.
"You will not be able to replace me to be in my wife's position, Mr. Seo.. (Kamu tidak akan bisa menggantikanku untuk berada di posisi istriku, Tuan Seo..)..".
"What do you want? (Apa maumu?)..", Seo berani bertanya.
"My men have told you to stay away from my wife, but you are still stubborn.. This is the result.. So don't blame me for taking further action on you and your father (Anak buahku sudah mengatakan padamu untuk menjauhi istriku, namun kamu masih keras kepala.. Inilah akibatnya.. Jadi jangan salahkan aku untuk bertindak lebih jauh padamu dan juga ayahmu)..", jawab Jo.
"You can't act to threaten me in my own country... (Kamu tidak bisa bertindak mengancamku di negaraku sendiri...)..", balas Seo.
Jo menyeringai. Ia sebenarnya ingin memukul pria itu, namun karena di sana masih ada Claudya maka ia urungkan.
"You are no longer a nobody in this country.. Look at this... (Kamu bukan lagi siapa-siapa di negara ini.. Lihatlah ini...)...", sanggah Jo lalu memperlihatkan sebuah file pada Seo melalui tab yang tadi dipegang Bryand.
Mata Seo yang sipit itu tiba-tiba terbuka lebar begitupun ayahnya yang berada di samping anaknya.
"This is impossible... You bastard... (Ini tidak mungkin.. Bajingan kau..)..", maki Seo.
"You can't fight me.. You should have followed Mr. Bram's advice.. But yeah.. This is what you received in the end.. Please have fun later during your exile.. (Kamu tidak bisa melawanku.. Seharusnya kamu ikuti saran Tuan Bram.. Tetapi yaaa.. Ini yang kamu terima akhirnya.. Silahkan bersenang-senang nanti saat pengasingan kalian berdua..)..", ucap Jo lalu pergi meninggalkan apartemen tersebut bersama istrinya serta Bryand dan Jeny.
Bryand mengangguk pada Jack yang tentu tahu arti anggukan tersebut.
Jack menyeringai.
Seo dan Ayahnya semakin ketakutan.
"Buat tulang kering mereka berdua retak, dan buang ke salah satu pulau terpencil di Asia.. Tersrah kalian mau di mana.. Asalkan ada binatang buasnya di dalam.. Lakukan sesegera mungkin...", perintah Jo pada anak buahnya lalu pergi menyusul tuannya.
Mereka bekerja sesuai instruksi.
Anak buah Seo mendapat hukuman di markas, sedangkan hari itu juga ayah dan anak itu di asingkan di sebuah pulau yang tidak masuk dalam zona wilayah Korea.
.
.
.
.
Apartemen Claudya.
"Kamu tetap akan pulang, Rich?", tanya Claudya yang kini kepalanya bersandar di dada bidang milik suaminya.
"Iyaa.. Perusahaan sudah lama aku tinggal.. Kasihan Alvaro dan anak buahnya mengurusi perusahaan sendiri.. Kamu baik-baik di sini.. Beberapa bulan lagi kita akan bertemu...", jawab Jo lalu mengecup ubun-ubung sang istri.
"Hmmm.. Baiklah.. Aku pasti merindukanmu..", sambung Cla.
"Aku juga akan merindukanmu... Berikan aku energi untuk beberapa bulan ke depan...", seringai Jo.
Claudya paham, namun masih palang merah hingga sorot matanya tertangkap Jo.
"Aku paham.. Lakukan seperti kemarin...", pinta Jo.
Dan Claudya pun mengikuti apa yang dikehendaki oleh suaminya.
Apa yang terjadi, ya terjadilah.. Sekalipun hanya goa bergerigi yang jadi pemuas...
Tidak apa-apa.. Toh intinya masih bisa dapat dilakukan sekalipun bukan inti yang bersatu...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...