Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 44



Jo dan anak buahnya tiba di Sumba. Jangan heran jika mereka tahu di mana letak tempat persembunyian Lucius. Dady Don tentunya. Menggerakan anak buahnya, juga relasi dengan beberapa ketua organisasi bawah tanah dengan mudah mendapatkan informasi mengenai keberadaan Lucius.


"Kita menuju ke vila si brengsek itu...!", perintah Jo langsung diikuti oleh anak buahnya.


Mereka tidak ingin beristirahat terlebih dahulu, toh perjalanan hanya beberapa jam saja dari Jakarta ke Sumba, meskipun seharian mereka tidak tidur dan waktu sudah menunjukan sebentar lagi matahari bersinar.


"Si Kancil bagaimana?", tanya Jo pada Alvaro.


"Dia sudah lebih dulu, Tuan. Kita akan mendapatkan informasi sebentar lagi...", jawab Alvaro.


Benar saja. Belum lama setalah jawaban itu, Alvaro mendapatkan informasi mengenai vila dan segala yang berkaitan.


"Ini, Tuan...", Alvaro menyerahkan handphonenya.


"Hm.... Sepertinya kita akan sedikit sibuk...", ucap Jo menyeringai.


Alvaro mengangguk.


Bryand jangan ditanya, kekasihnya juga berada bersama istri bosnya ikut disekap dan dia tidak tahu bagaimana keadaannya.


"Perintahkan si Kancil mengurus pengawal yang berada di sekitar Vila itu... Jangan terburu-buru menghadapi Lucius. Aku yang akan membunuhnya...", lagi Jo memerintah.


Alvaro melakukan apa yang disampaikan oleh Jo.


"Sisakan bagian tubuhnya untukku juga, Tuan..", pinta Bryand.


"Hmmm", Jo hanya berdehem menjawab permintaan Bryand. Ia sendiri tidak yakin, karena sudah dikuasai amarah dan sebagainya.


Beberapa saat mereka sampai di ujung jalan menuju Vila. Tentu harus diam-diam.


Si Kancil yang mengetahui kedatangan tuannya ikut bergabung.


"Lapor, Tuan.. Pengawal yang berjaga di sekitar Vila sudah dibereskan, tinggal yang ada di dalamnya...", Si Kancil melapor.


"Bagus... Kepung vila itu.. Bagi sebagian anak buahmu dari segala arah. Cegah mereka yang ingin kabur...!", ujar Jo.


Si Kancil mengangguk dan bergerak cepat sesuai permintaan Tuannya..


.


.


.


Di dalam kamar penyekapan, Jeny sadar.


Ia menelisik seluruh ruangan dan melihat majikannya terbaring dengan posisi tangan dan kaki terikat tanpa sehelai benangpun.


"Kau sudah bangun, cantik?", ucap Lucius ketika masuk ke dalam ruangan itu.


"Brengsek... Apa yang kau lakukan terhadap nyonya muda?", tanya Jeny dengan amarah yang membuncah.


"Hahahahaha, aku hanya ingin bermain, tetapi belum sempat ke menu utama, dia sudah pingsan duluan..", kekeh Lucius menjawab pertanyaan Jeny.


"Sial.... Beraninya kau... Lepaskan aku... Kita bertarung, bangsat...!!!", teriak Jeny.


"Uhhhh, tenanglah sweety, kita tentu akan bertarung, tetapi bertarung kenikmatan...", jawab Lucius menggoda Jeny dengan meraba-raba tubuhnya.


"Jangan berani kau menyentuhku, sialan...!".


"Hahahhahaha.. Mari kita bermain. Aku suka teriakanmu... Membuatku bergairah...".


"Brengsek kau....", geram Jeny karena penutup tubuh atasnya sudah dilepaskan oleh Lucius.


"Wouwwww.. Sangat padat dan luar biasa... Sungguh sesuai seleraku...", seringai Lucius yang terus meraba tubuh bagian depan Jeny.


Jeny berusaha mengelak, namun apalah daya, kaki dan tangannya diikat, ia tak dapat berbuat banyak.


Ia meludah wajah Lucius.


Lucius tak peduli. Kini jemarinya menyusuri perut rata Jeny, semakin ke bawah dan menyelinap masuk ke dalam area segitiga milik wanita itu.


"Sangat halus seperti milik nyonya mudamu..", ujar Lucius.. Bagaimana jika kita melepaskannya, honey?".


Jeny tidak bisa berbuat apa-apa. Sebisa mungkin erangannya ditahan. Biar bagaimanapun, ia adalah wanita normal yang ketika titik sensitifnya di sentuh akan menghadirkan gelagat aneh pada tubuhnya.


Lucius sudah melepaskan kain penutup itu. Ia menatap Jeny.


"Ternyata sudah ditembus...", kekeh Lucius ketika dia jarinya masuk ke dalam inti tubuh Jeny dan memainkannya.


"Bagaimana kalau aku menggunakan tiga jariku?", tanya Lucius dan tentu tidak akan mendapat jawaban.


Mendapatkan pelecehan seperti itu, Jeny kini diam. Matanya mengeluarkan aura kemarahan. Ia menatap Lucius seakan mau menelan pria itu.


"Jangan menatapku seperti itu, sayang... Mari kita bermain...", ucap Lucius.


Pria itu mulai menyusuri seluruh tubuh Jeny dengan lidahnya dan berhenti di bagian inti. Menyesap, lalu menggunakan lidahnya untuk bermain di dalam sana.


Jeny menggeliat.


"Kau pria brengsekkkk....", maki Jeny.


Airmatanya kini luruh. Sekuat apapun bertahan, dia adalah perempuan meski sudah sering dimasuki, namun bukan dengan cara yang begini.


"Kau mau bermain?", kini Jeny bertanya dengan suara lirih.


Lucius mendongak menatap Jeny lalu mengerutkan keningnya.


"Lepaskan ikatan tanganku dan sebelah kakiku.. Aku akan meladenimu bermain, tetapi jangan menyentuh nyoya mudaku...", lagi Jeny menawarkan.


Lucius yang sudah terbakar gairah mengangguk saja.


Ia melepaskan ikatan tangan dan sebelah kaki Jeny dengan gunting.


"Biarkan aku yang memberi pelumas pada tongkatmu...!", Jeny menawarkan diri.


Lucius terkekeh.


"Good Girl..".


Jeny bersiap memainkan tongkat milik pria biadab itu.


Dilihatnya tongkat itu sudah terulur tegak.


Ia menarik napas panjang lalu membuangnya. Membuka mulutnya dan perlahan menyesap batang itu.


Melihat itu Lucius menengadah, mulutnya mengeluarkan erangan.


Jeny berusaha untuk tidak muntah, karena itu adalah bagian dari rencananya untuk melawan.


Bagi sebagian orang, melawan dengan cara memberikan kenikmatan pada penyekap dan peleceh adalah kesalahan. Namun bagaimana ia memanfaatkan peluang yang ada untuk melawan dengan caranya sendiri.


Lucius yang tengah menikmati goa bergerigi milik Jeny seketika berteriak kencang. Miliknya digigit Jeny dengan kuat dan tentu kalian tahu akibatnya.


Dengan cepat Jeny bangkit berdiri dan kembali menendang keperkasaan Lucius hingga membuat laki-laki itu meradang.


Asisten Jeny sigap ingin mengambil gunting yang digunakan Lucius membuka ikatan talinya, namun karena tiang yang menjadi tumpu ikatan itu berdiri kokoh, ia tidak mampu.


Lucius menyadari itu. Dengan tertatih ia melangkah melan mengambil gunting tersebut dan siap menikam Jeny.


Brakkkkkkkkk...


Lucius kaget, begitupun Jeny langsung menutup tubuh polosnya dengan kedua tangannya yang tak terikat.


Jo berlari masuk dengan cepat disusul Bryand.


Jas yang dikenakan oleh Jo membungkus Jeny. Bryand berusaha menoleh ke arah ranjang, namun Jeny menahan wajahnya, menggelengkan kepalanya.


Lucius yang kaget, tiba-tiba bergidik ngeri melihat Jo dengan tatapan membunuh.


Richard Jo atau Rick itu menyisir seluruh area kamar dan matanya membola, melihat tubuh lelap yang terikat tanpa sehelai benang.


Jo melakukan hal yang sama, dengan cepat melepaskan jasnya dan menutupi tubuh Claudya. Tali yang mengikat tubuh Cla dibuka lalu selimut tebal yang ada di ranjang itu dijadikan pembungkus tubuh istrinya.


Jo marah. Sangat marah. Bahkan ia akan mencincang Lucius di situ juga apabila Alvaro tidak menahannya.


"Tuan, jika dia mati, ia akan tersenyum senang... Kita siksa dia hingga dia yang meminta kematian datang padanya...", bisik Alvaro.


Bryand yang ada di situ dengan segera menghampiri Lucius dan memberikan bogeman mentah ke wajah serta menginjak keperkasaan pria itu hingga ia pingsan.


"Urus Bajingan itu. Kita kembali ke Jakarta malam ini...!", perintah Jo langsung melangkah keluar dengan Claudya digendongannya.


Bryand melakukan hal yang sama, namun lebih dulu menutupi tubuh kekasihnya dengan seprei.


.


.


.


.


Jakarta, 09.15 Pagi.


Mereka tiba di markas.


Kedua wanita yang menjadi korban penyekapan dan pelecehan di istirahatkan di rumah utama milik Jo.


Tentu ia sudah sadar ketika mereka berada di pesawat. Namun ia hanya diam, otaknya masih dapat berpikir, namun bayangan pelecehannya membuatnya menjadi pendiam sejak beberapa jam itu.


di Markas....


Jo memasuki ruangan penyiksaan.


Ia melihat Lucius sudah bangun dari pingsannya sambil meringis.


"Aku ingin membunuhmu sejak tadi malam... Namun kalau kau mendapatkan kematian dengan mudah, maka kau akan senang.. Jadi aku akan membuatmu merasakan hal yang sama saat kau lecehkan istriku dan asistennya...", panjang lebar Jo berucap.


Kelehan kecil terdengar dari Lucius.


"Tubuh istrimu sangat mulus... Bahkan kedua gunungnya sangat menggoda...", Lucius terkekeh.


Mendengar itu Bryand geram. Ia maju ke hadapan Lucius dan memukul wajah pria itu hingga membuat bibirnnya pecah, juga hindung Lucius patah.


"Jangan membuatnya pingsan, Bryand...", ucap Jo penuh tekanan.


Alvaro menarik lengan Bryand menjauh dari Lucius. Bisa habis jika tidak ditahan.


"Lepaskan pakaiannya tanpa tersisa sedikitpun...!", lagi Jo memerintah pada anak buah yang ada di situ.


Mereka melakukan seperti yang diperintahkan.


Jo mengangguk memberi kode. Lalu masuklah dia orang wanita ke dalam ruangan itu.


"Buat dia keluar sampai berkali-kali, dan jangan berhenti sekalipun ia telah mengeluarkan air menjijikan dari tubuhnya... Pakai balsem sebagai pelumas di tangan kalian", kemudian Jo beranjak pergi.


"Kau sudah menghubungi dokter pribadiku?", tanya Jo setelah keluar dari ruangan penyekapan.


"Sudah, Tuan..", jawab Bryand.


"Kita ke rumah...!", ucap Jo lalu masuk ke mobilnya.


Sedangkan di dalam sana, meski Lucius sudah mengerang telah mengeluarkan cairan kentalnya, kedua perempuan itu terus melakukan seperti apa yang diperintahkan.


Kedua bola di bawah tongkat yang masih sakit akibat injakan Bryand pun diremas kuat membuat Lucius berteriak. Mereka tidak peduli. Toh mereka berdua perempuan malam yang dibayar dengan harga tinggi.


Bagi seorang laki-laki setelah mengeluarkan cairannya, tentu harus rehat sejenak menetralisir. Tetapi tidak untuk Lucius. Sepertinya itu akan menjadi siksaannya. Panas... dan Pedis.. Belsem sebagai pelumas. (Bayangkan sendiri ya...)


.


.


.


.


Di rumah.


"Bagaimana..?", tanya Jo.


"Istrimu trauma, Jo... Apa yang terjadi..? Aku melihat di sekitar leher sampai belahan dadanya memerah sampai kebiruan..!", jawab Dokter tersebut.


"Asistennya?", Jo bertanya lagi.


"Asistennya pun demikian...", jawab sang dokter. "Aku akan mendatangkan psikiater untuk mereka. Tenang saja, psikiaternya perempuan....", lanjut Dokter itu.


"Hmmm.. Terima kasih ... Bryand akan mengurus pembayarannya...", lanjut Bryand dan kemudian berdiri dan melangkah ke arah lantai dua menuju kamarnya dan Claudya.


"Apa yang terjadi???", Dokter yang diketahui bernama Shintia itu beralih tanya ke Bryand.


Bryand hanya diam mengotak-atik ponselnya.


"Saya sudah transfer, dok. Terima kasih... Jack akan mengantar anda pulang...", bukannya menjawab pertanyaan, Bryand malah melakuka pembayaran atas jasa dokter Shintia itu.


"Hussss... Percuma bertanya padamu, Bry...", dengus sang dokter lalu melangkah pergi diikuti oleh Jack.


Di dalam kamar.


"Bagaimana keadaanmu..?", tanya Jo ketika sudah duduk di sisi ranjang berhadap. dengan Claudya.


"Dia belum memasukiku, Jo...", gumam Claudya sambil meneteskan air mata.


"Aku tahu... Maaf, karena tidak menjagamu terlalu ketat...", ucap Jo mencoba memeluk Claudya namun ditepis.


"Jangan menyentuh tubuhku. Aku yang berhak menyentuhnya sendiri...!", Claudya lirih.


"Maaf... Kamu mau aku bagaimana sekarang?", lagi tanya Jo pelan.


Claudya diam tidak menjawab. Matanya menatap Jo dalam.


"Apa? Hmm?", tanya Jo dengan lembut.


"Bagaimana keadaan, Jeny?", Claudya balik bertanya.


"Shintia mengatakan Jeny baik-baik saja.. Asistenmu perempuan tangguh...", jawab Jo.


"Aku mau istirahat. Tolong tinggalkan aku..!", pinta Claudya lalu berbaring.


Jo mengangguk, lalu menutup tubuh Claudya dengan selimut dan pria itu berjalan keluar kamar mereka dengan menarik napas panjang.