Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 59



Kehidupan berjalan seperti biasa. Sepertinya anak di dalam perut istrinya membawa rezeki. Kuasa JF Group semakin luas. Apa lagi dengan kerjasama antara JF Group dan JS Group yang semakin erat. Kedua perusahaan besar ini melebarkan sayapnya diberbagai bidang bisnis.


Dan tentunya semakin tinggi pohon, semakin pula angin berhembus kencang. Peribahasa paling masuk akal ketika seseorang berada di atas puncak kejayaan.


"Tuan, utusan dari Wijaya Group sudah datang..", ucap Bryand.


"Oh, iya.. Kita temui mereka...", sahut Jo dan berdiri dari meja kerjanya melangkah menuju ruang meeting.


"Selamat datang di JF Group, dengan nona...", sapa Jo menjeda.


"Cantika Wijaya, Tuan Jo...", balas wanita itu menatap wajah Jo.


Seketika tatapan matanya tidak mau terlepas dari wajah Jo.


"Sangat tampan dan berwibawa. Bersyukur sekali, nona Claudya yang menjadi istrinya sekarang...", gumam Cantika dalam hati.


"Nona.. Nona...", panggil Bryand ulang-ulang karena Cantika masih menatap Jo tanpa berkedip.


"Nona...", kini asistennya yang menyapanya pelan.


"Ah, iya.. Maaf...", ucap Cantika malu-malu.


"Apa ada yang aneh dengan wajah saya?", tanya Jo dingin.


Cantika terlihat gugup karena pertanyaan Jo.


"Maafkan saya, Tuan Jo..", jawab Cantika sambil mengurai kegugupannya dengan tersenyum.


"Jadi anda yang akan menangani proyek ini nanti?", Jo memulai pertemuannya.


"Iya, Tuan..", Cantika menjawab sekenanya.


"Baiklah. Ku harap Tuan Wijaya tidak salah dalam memilih anda...", to the point.


Bukan barang baru. Sebagai orang lama yang berkecimpung di dunia bisnis, apa lagi proyek besar, Jo selalu mengutamakan penyelidikan terhadap orang-orang yang akan bekerjasama dengannya, sehingga tidak sulit seorang seperti Cantika Wijaya ia selidiki.


"Anda jangan kuatir, saya akan menangani proyek kita dengan baik...".


"Aku tidak menerima janji, tetapi bukti, nona Cantika.. Silahkan anda buktikan. Resikonya adalah kerjasama ini.. Anda paham?", ucapan Jo seperti ancaman untuk Cantika.


Wanita itu menelan ludahnya dengan kasar. Gugup pasti. Asistennya pun bekeringat dingin. Aura Jo terlalu kuat untuk orang baru seperti mereka.


Pembahasan tentang proyek pembangun hotel megah di Bali berjalan selama dua jam lebih.


"Terima kasih atas waktunya, Tuan Jo...", diangguki oleh Jo, namun sayang, jabatan tangan Cantika tidak turut disambut oleh Pria itu. Malahan Bryand yang menyambutnya.


"Auaranya sangat kuat, nona...", ucap asisten Cantika yang bernama Sonya ketika mereka berada di lift perusahaan Jo untuk turun ke lobi.


"Kau benar, namun itu sangat membuatku ingin mendekatinya. Meskipun tadi aku sempat gugup berhadapan dengannya. Dia sungguh sangat tampan dan berkharisma...", Cantika tersenyum.


"Lebih baik anda urungkan niat anda mendekati beliau. Saya takut kita yang akan kena masalah nanti jika Tuan Wijaya tahu alasan sebenarnya anda untuk mengambil proyek ini...", Sonya memberi saran sekaligus peringatan.


"Heiii, santai... Kita akan bermain cantik. Apa lagi sekarang yang ku dengar istrinya si Claudya itu sedang hamil. Artinya kepuasaan di atas ranjang pun berkurang. Aku akan mengisinya. Laki-laki mana yang tidak akan tunduk pada pesonaku?", sombong Cantika.


"Laki-laki itu adalah Tuan Jo, nona Cantika...", jawab Sonya yang membuat cekikikan Cantika berhenti dan menatapnya dengan kesal.


"Heheheheheh..", Sonya hanya menyengir kuda karena melihat tatapan majikannya itu.


"Ku harap tidak akan ada masalah nantinya...", batin Sonya.


.


.


.


.


Di sisi Jo.


"Bryand, perketat pengawalan istriku.. Minta Si Kelinci yang mengawalnya nanti. Selidiki lagi perempuan penggoda itu...!", perintah Jo yang membuat Bryand mengernyit.


"Perempuan penggoda?", Bryand balik bertanya.


"Kau tidak lihat tadi anak dari Tuan Soni Wijaya itu? Pakaiannya seperti karung yang robek. Apa lagi lengan dan pahanya tadi? Lemak semua isinya...", jawab Jo.


"Anda memperhatikan sedetail itu, Tuan? Jangan sampai anda tertarik dengannya?", Bryand mulai mode bergurau.


"Hahahahah.. Matamu katarak? Dia ada di depanku tadi, makanya aku lihat... Asal kau tahu, istriku lebih dari segalanya...", ungkap Jo bangga.


"Yayaya, nanti akan saya katakan pada nyonya muda kalau anda melirik paha dan lengan wanita lain tadi..", ancam Bryand dengan tersenyum.


Pria itu tahu, bahwa sang atasan akan kicep ketika membawa nama istrinya.


"Tahu apa?", seseorang masuk ke dalam ruangan Jo secara tiba-tiba.


Gugup dan gemetar pasti. Sang Singa betina sudah berada di depannya dengan siap memangsa dirinya.


"Saya permisi dulu, Tuan..", Bryand coba menghindar.


"Ehhh, diam di tempatmu...!", perintah Claudya. Di belakang wanita itu pasti ada Jeny, istri dari Bryand yang juga sudah melotot pada suaminya.


"Aduh, perang.....", gumam Bryand pelan.


"Tahu apa, Rich?", Claudya mengulang pertanyaannya dengan nada bagi yang mendengar pun itu berisi ancaman.


"Ehh,.. Kejutan. Jika aku kasih tahu sekarang, atau si mulut ember itu kasih tahu, tidak akan jadi kejutan dong...", jawab Jo alibi. Ia sudah tidak tahu alasan apa lagi yang harus dijawab sehingga yang ada dipikirannya itu, ya itu.


"Yakin, Rich?", Claudya semakin berjalan mendekat dan sengaja merapikan kemeja dan dasi yang dipakai suaminya.


Jo hanya mengangguk menelan ludah karena melihat tatapan istrinya.


Claudya menoleh pada Bryand. Laki-laki itu sengaja mengalihkan wajahnya ke arah lain.


"Benar, Bry?", penuh tekanan pertanyaan Claudya.


Bryand kini melamun. Padahal sengaja mengalihkan pandangannya.


"Bry....", panggil Jeny sambil menepuk bahunya.


"Eee Paha berlemak...", kaget Bryand.


Jeny yang mendengar itu pun mendelik.


"Apa paha berlemak?", kini Jeny yang bertanya pada suaminya dengan tatapan selidik.


"Itu, anu, itu.. Emmmm, aku ingin makan paha ayam yang berlemak...", jawab Bryand gugup.


"Benar itu, sayang?", Jeny pun merapat ke arah suaminya. "Jika kau berbohong, tamat riwayat otongmu, Bryand...", bisik Jeny pelan yang membuat Bryand langsung merasa ngilu pada tongkat ajaibnya.


Kedua pria kaku itu dibuat semakin kaku oleh istri mereka.


"Aku menyiapkan kejutan, jadi tidak bisa memberitahumu, Cla...", ucap Jo lembut.


Claudya menatap mata sang suami.


"Baiklah, kali ini aku percaya... Tapi kejutan apa?", Claudya bertanya.


"Jika aku beri tahu, maka itu bukan lagi kejutan...", jawab Jo lembut. "Kau mau makan paha ayam berlemak kan? Sana ajak istrimu.. Aku ingin berdua dengan istriku...", perintah Jo langsung diangguki oleh Bryand. Pria itu membawa istrinya keluar dari ruangan Presdir JF Group.


"Memangnya paha ayam ada yang berlemak?", heran Claudya.


"Mungkin ada... Biarkan asisten menyebalkan itu mencarinya.." jawab Jo. "Kenapa kamu datang? Kan Aku bisa ke kantormu ketika makan siang..? Nanti kamu lelah...", lanjut Jo memapah istrinya duduk di sofa.


"Aku hanya ingin berkunjung. Jarang aku makan siang di kantor suamiku.. Kamu yang lebih sering makan siang juga memakanku di kantorku.. hehehehe", jawab Claudya seadanya.


Memang tidak setiap hari Jo ke JS Group bertemu atau makan siang bersama istrinya semenjak hamil, namun sering. Dan sering sekali pula memakan istrinya (memakan dalam tanda kutip yaaa.. Bagi yang udah halal pasti tahu lah...).


"Baiklah.. Aku terima alasanmu kali ini.. Tapi kamu jangan sampai lelah.. Ada anak kita di dalam sini..", ujar Jo sambil mengusap perut besar istrinya.


"Anak kita laki-laki atau perempuan, ya? Mengapa kamu tidak mau tahu jenis kelamin anak kita pada saat USG di dokter Yuliana?", tanya Claudya.


"Biar menjadi kejutan.. Laki-laki ataupun perempuan sama saja, intinya dia sehat dan baik-baik saja di dalam sini..".


"He'em..", Claudya hanya berdehem.


"Mau makan apa? Biar Verena yang membelinya...", tanya Jo.


"Ehmmm, lalapan sepertinya enak... Aku mau di restaurant tempat kita pertama kali bertemu waktu itu...", jawab Claudya.


"Okelah.. Tunggu, ya...".


Beberapa saat kemudian, Verena sudah melaksanakan perintah Jo untuk empat porsi lalapan. Satu untuk sekretarisnya itu.


"Terima kasih, Ve... Selamat menikmati..", ucap Claudya sesaat sebelum Verena meninggalkan ruangan bosnya.


"Sama-sama, nyonya muda.. Kalau begitu saya permisi, Tuan-Nyonya...", sahut Verena dan keluar dari ruangan Presdir.


"Mau makan lalapan dulu, atau aku dulu?", tawar Claudya.


Jo menyeringai.


"Yaaa kamu dulu lah...."...