Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 73



Jo merasa aneh karena tubuh bagian pinggangnya ditindih.


"Apa ini...?".


Jo langsung berbalik dan melihat ternyata istrinya yang memeluknya. Tersenyum.


"Hahahaha.. Lucunya kamu... Tadi mode galak, sekarang mode manja...", gumam Jo.


Claudya mengeratkan pelukannya dan kepala wanita itu bertumpu di dada sang suami.


Pagi tiba.


Nyaman? Oh tentu. Tidur saling memeluk meski di lantai yang beralaskan bad cover tebal tidak membuat pasangan itu merasa tidak nyaman.


Matahari mulai meninggi, Claudya belum mau beranjak dari sisi sang suami.


"Pindah ke ranjang yuk?", ajak Jo berbisik lembut ke telinga sang istri.


Claudya hanya mengangguk.


Keduanya sudah berada di atas ranjang hotel.


"Belum mau bangun, Cla?", tanya Jo.


Claudya sebenarnya sudah sadar, namun ia masih mau berlama-lama memeluk suaminya.


"Sedikit lagi, boleh?", Claudya balik bertanya.


"Hmmm.. Baiklah..", jawab Jo pasrah.


.


.


.


.


Di tempat lain.


"Terus, baby..", kedua orang yang baru bertemu semalam akibat sebuah insiden ternyata melanjutkan aktivitas panasnya..


Tidak bosan-bosan Cantika memuji kelihaian Allan dalam memanjakannya sejak semalam.


"Jangan di luar....... Lepaskan di dalam saja.....", rancau Cantika yang membelakangi Allan.


"Kamu yakin.?", tanya Allan memastikan. Tidak mengenakan pengaman membuatnya harus waspada.


"Aku aman hari ini.... ahhhhhhh....", jawab Cantika diiringi *******..


"Kau luar biasa.....", puji Allan setelah mereka selesai aktivitas.


Cantika hanya mengangguk.


"Lapar..?", tanya Allan. Tidak biasanya ia bertanya pada perempuan yang ia pernah tiduri dulu mengenai perut mereka.


"Iyaahh... Kamu menguras banyak tenagaku.... Tapi aku suka....", jawab Cantika absurd.


Allan terkekeh.


"Baiklah, tunggu sebentar. Aku pesan dulu...", balas Allan lalu mengorder sarapan yang akan mereka berdua makan.


.


.


.


.


Bryand uring-uringan. Jeny tidak membiarkannya bangun dari tempat tidur karena wanita itu sekarang dalam mode manja. Alasannya ngidam.


"Aku harus ke kantor, sayang.... Ada meeting bersama klien penting....", Bryand membujuk Jeny.


"Aku atau klien yang lebih penting?", tanya Jenny.


Ohhh God.... Pertanyaan seperti itu adalah pertanyaan paling dihindari oleh kaum Adam. Meskipun jawabannya beragam, si betina tidak akan mau memahami. 89% pertengkaran di dalam suatu hubungan karena pertanyaan seperti itu.


"Babby.... Kalau aku tidak kerja, bagaimana bisa menghidupi kamu dan anak kita nanti?", tanya Bryand.


Jeny tetap menggeleng. Bau tubuh suaminya membuatnya tenang dari morning sicknes.


"Mau ikut ke kantor?", kini jalan satu-satunya adalah Bryand mengajak istrinya ke kantor.


"Boleh?", Jeny menengadah menghadap wajah Bryand.


Bryand mengangguk.


"Ayooo....", wanita itu bangun dari tempat tidurnya dan mengajak suaminya.


"Mandi bareng?".


"Iya.. Biar cepat... Hari ini nyonya Claudya memberiku izin untuk istirahat.", sahut Jeny.


Bryand tersenyum menyeringai. Tubuh istrinya yang berbalut hanya dengan segitiga bermuda membuat junior berdiri tegak.


"Habis kau....", batin Bryand.


Terjadilah pertempuran di dalam kamar mandi yang membuat Jeny tidak jadi ikut ke kantor.


.


.


.


Di sisi Alvaro.


Akibat mobilnya yang terpaksa tinggal di garasi rumah Bryand, ia menjemput Verena dengan mobilnya yang lain.


"Mana mobilmu yang biasa kamu pakai, Mas?", tanya Verena.


"Loh, kenapa memangnya?", Verena penasaran.


Alvaro hanya diam melajukan mobilnya ke arah JF Group.


"Mas, aku tanya loh ini...?", Verena masih kekeh ingin mengetahui mobil kesayangan kekasihnya itu.


"Udah jadi milik asisten menyebalkan itu...!", gerutu Alvaro.


Mereka berdua kini berada di dalam lift menuju lantai di mana ruangan mereka berdua.


"Tunggu.....!", teriak seorang pria yang berlari kecil ketika pintu lift khusus itu mau tertutup.


"Tuan Bryand....", sapa Verena mengangguk kecil.


Alvaro jangan ditanya, wajahnya ditekuk kesal.


Bryand tersenyum saja. Toh mobil kesayangan Alvaro ia tahan dan akan menjadi miliknya.


"Sudah, jangan ditekuk seperti itu. Jelek tau...", Bryand mengganggu Alvaro.


"Aishhh.... Ini lift lama sekali...", bukannya menjawab, Alvaro menggerutu.


Verena yang tadi ingin menyela jawaban Alvaro hanya diam memperhatikan kedua makhluk batang di depannya itu.


Ting...


"Aku tunggu ya di ruangan ku...", ucap Bryand lalu keluar dari lift.


"Maksudnya apa sih, Mas...?", tanya Verena yang tidak mengerti.


"Ayoo ke ruangan ku... Aku butuh energi...", ajak Alvaro.


"Tapi,.. Aku masih ada kerjaan, Mas... Takut nanti Tuan Jo datang dan aku tidak ada, beliau akan marah.. Apa lagi tuan Bryand sudah datang...", elak Verena.


"Tuan Jo akan datang ketika hampir jam makan siang... Jadi kamu tenang saja.. Aku akan membantu pekerjaanmu.. Oke? Ayo....", ajak Alvaro yang kekeh meminta Verena ke ruangannya.


Verena mengangguk saja. Ia ikut kemana tunangannya itu membawanya.


cup......


Kecupan tiba-tiba mendarat di bibir Verena ketika pasangan itu masuk ke dalam ruangan.


"Mas.....", kaget Verena.


Alvaro menyeringai.


"Beri aku vitamin, sayang.. Semalam aku tidak ke apartemenmu kan? Jadi beri aku semangat pagi ini...", pinta Alvaro yang kini mendudukan Verena di pangkuannya.


Verena tersenyum lalu mereka berdua berperang lidah. Bunyi kecapan terdengar di ruangan itu.


"Mas...", jemari tangan Alvaro bergerlya di area bawah sang kekasih karena mudah untuk diakses. Angkat sedikit, colok.


"Akhhh....", lama bermain di area Verena membuat wanita itu pelepasan.


"Giliranku, baby....", ucap Alvaro berat.


Verena paham.


Tiang tegak berdiri.


Verena memainkan perannya dengan baik.


Pagi-pagi di kantor dengan sesuatu yang panas-panaskan asyik.


Sekitar satu jam mereka berdua berada di dalam ruangan itu.


Alvaro keluar dengan wajah segar, juga kekasihnya. Mereka berdua melanjutkan perangnya di kamar mandi sekalian mandi ulang.


"Mana surat-suratnya...", tanya Bryand berhadapan dengan Alvaro di ruangannya.


"Ini... Jaga baik-baik kesayanganku itu...!", Alvaro memperingati Bryand.


"Terima kasih.....", ucap Bryand sumringah karena mobil Alvaro menjadi penghuni di garasi rumahnya.


"Ckkkk....", Alvaro berdecak. "Aku ke markas The Shadow sebentar...", pamit Alvaro pada Bryand.


Jangan tanya Jo kemana.


Drama istri yang enggan bangun, akhirnya ia harus membujuk istrinya berbagai cara. Cara terlahir adalah membuat wanita itu lelah. Dan seperti yang diketahui. Claudya lanjut lagi tertidur karena pertempuran. Perut besar wanita itu tidak menghalangi Jo untuk selalu berkunjung kapanpun.


.


.


.


"Aku yakin, Mr Rick akan menjaga istrinya dengan baik ketika melahirkan nanti. Kita tidak bisa menganggapnya sepele meski ia bukan lagi pemimpin Black Hunter...", ucap seorang pria yang berada di ruang kerja tuannya.


"Hmmm... Cari celah agar kita bisa mwnyerangnya ketika ia lengah saat menjaga istrinya nanti...", perintah sang tuan.


"Bagaimana dengan anak buahnya, Tuan?", tanya asisten tuannya itu.


"Buat mereka sibuk... Bryand dan Alvaro membuat kita terjepit saat ini... Ganggu konsentrasi kedua orang itu.. Aku yakin, Rick tidak akan bisa apa-apa tanpa kedua asisten kepercayaannya...", jawab sang tuan.


"Kita belum tau seberapa banyak anak buahnya saat ia meninggalkan Black Hunter, Tuan.. Dan pastinya, pengganti pemimpin Balck Hunter sekarang akan ikut membantu melindungi Mr Rick dan keluarganya...".


"Biarkan itu menjadi urusan teman kita.... Tetap paksa Aleksander Wijaya untuk mendukung kita dengan uangnya... Kita butuh banyak amunisi juga biaya operasional yang kian membengkak akibat kedua asisten Mr Rick yang menghancurkan beberapa perusahaan cabang milik kita...".


"Sudah kau selidiki seluruh keluarga Mr Rick maupun keluarga istrinya? Jika rencana A kita gagal, maka ada pilihan lain untuk menyerangnya...", tanya sang Tuan.


"Sudah, Tuan.. Ini.... Aku rasa kita bisa menyerang dan memanfaatkan adiknya...", saran sang asisten.


"Hahahahaha.. Masih sangat muda... Baiklah.. Jadikan dia rencana B saat rencana awal kita gagal...!".


Asisten mengangguk paham.


"Cari perempuan itu.. Semalam aku melihatnya ada di acara perilisan produk baru JS Group... Bawa ke tempat biasa.. Aku butuh tubuhnya untuk melepaskan penatku...", perintah sang tuan lanjut.


"Siap, Tuan.. Aku permisi....", pamit asisten segera mengerjakan apa yang diperintahkan.