
Perang ranjang pun terjadi.
Ranjang king zise milik suami istri itu ikut terhanyut akan untaian rindu menciptakan keringat di malam yang dingin.
Mereka saling berlomba untuk menjatuhkan lawan. Jo tidak mau kalah, begitupun istrinya. Saling berpacu menghasilkan peluh, mereka berdua akhirnya tepar dalam keadaan berkeringat dingin.
Nafas memburu. Lelah itu pasti. Richard Jo seakan tidak puas jika hanya sekali. Begitupun Claudya. Saling memberi dan menerima sentuhan, mereka.
"Terima kasih", ucap Jo yang kini berada di bawah kukungan istrinya.
"Hm", Claudya kembali dengan mode dinginnya.
"Kamu masih marah padaku, Cla?", tanya Jo ketika mendapat jawaban Cla yang cuek.
"Menurutmu?", Claudya balik bertanya.
"Aku tidak tahu. Tetapi setelah kita melakukan ini, kesimpulannya adalah kamu tidak lagi marah padaku..", jawab Jo.
"Kamu salah. Jangan kira bisa menyentuhku membuat kemarahan ku berkurang.. Aku hanya tidak mau melakukannya dengan pria lain...", Claudya menjelaskan.
Jo tiba-tiba menatap heran akan jawaban istrinya. Jika masih mrah, kenapa mereka melakukannya? Apa hanya karena sebuah kewajiban? Atau hanya karena tidak ingin terjerumus ke jalan yang salah?
"Jangan menatapku begitu...", elak Claudya yang kini menjauh dari tubuh suaminya juga menjangkau selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Aku bisa menjelaskannya, Claudya...".
"Aku sedang tidak ingin mendengarkan penjelasan apapun. Tetapi terima kasih atas malam ini... Kamu seperti biasa, membuatku puas...", ucap Claudya yang kini mulai memejamkan matanya.
Richard Jo menarik nafasnya kasar. Laki-laki itu tahu, bahwa menguasai tubuh istrinya bukan berarti ia bisa menjangkau wanita itu. Bukan tidak bisa, hanya belum saatnya.
Pria itu bangkit berdiri mengenakan pakaiannya dan menuju ke ruang kerjanya.
Tentu, asisten satu Bryand sudah berada di situ dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan laporan perusahaan, laporan organisasi, juga laporan mengenai pertemuan nyonya mudanya yang masih menjadi tanda tanya.
"Bagaimana?", tanya Jo.
"Nona baru selesai bertemu dengan kliennya di sebuah Bar, Tuan..".
"Apa lagi?", tanya Jo lagi.
"Ini laporan perusahaan, ini laporan organisasi, hanya saja beberapa hari terkahir ini kita banyak kehilangan anak buah bayangan yang menjaga nyonya muda, Tuan...", lapor Alvaro.
Jo menaikan kedua alisnya.
"Siapa yang berani berurusan dengan organisasi kita?", Jo berucap heran.
"Kami juga masih mencari tahu, Tuan. Hanya saja, mereka sangat terlatih....", lagi Bryand memberi laporan dengan menunduk.
"Sial...!", umpat Jo.
Mereka berdua akhirnya berdiskusi dan membuat sebuah rencana untuk mencari tahu dengan siapa Claudya bekerjasama.
.
.
.
.
Pagi tiba.
Jo masih terlelap dengan nyenyak, karena kelelahan dengan perjalanan jauh, juga kelelahan bermain dengan istrinya.
Claudya menyingkap selimut yang menutupi tubuh polosnya, dilihatnya tubuh laki-laki disebelahnya dibalut kasa luka.
Ia mengernyit heran. Dia tidak memperhatikan tubuh suaminya semalam karena sudah terlanjur tersulut gairah.
"Sejak kapan ia punya luka?", tanya Claudya dalam hati.
Segera ia sadar dari tatapan matanya pada tubuh suaminya, lalu pergi ke kamar mandi dan bersiap-siap menuju kantornya.
"Saya tidak tahu, nyonya. Nanti saya tanyakan pada asisten Bryand...", jawab Jeny.
"Hm...", sahut Claudya.
Jeny heran dengan perubahan sifat Claudya yang kini semakin dingin dan gila kerja. Pergi pagi, pulang malam. Bahkan kadang pulang dalam keadaan mabuk.
Menjadi seorang istri dari seorang terkenal seperti Richard Jo Fernand, membuat Claudya sedikit tidak memiliki gerak bebas.
Ia akan diperhatikan di manapun ia berada. Stres? Tentu. Stres dengan pekerjaan yang menumpuk, juga stres dengan posisinya sebagai istri orang terkenal, sekaligus stres memikirkan suaminya yang dikenal dengan sebutan Mr Rick. Laki-laki paling berbahaya di komplotan bawah tanah.
Seakan ia mau gila, hanya saja, anggapan remeh sang Oma membuatnya menjadi wanita berambisi dan ingin mengejar karier dan dikenal banyak orang sebagai dirinya, bukan sebagai istri dari seorang yang terkenal.
.
.
.
Di rumah besar keluarga Lee.
"Ibu, Cla jarang ke rumah sekarang?", tanya El sang kakak, ketika berkunjung ke rumah keluarga Lee.
"Iya, sejak menikah dengan Jo, dia jarang ke sini...", ucap sang ibu menarik napas panjang.
"Ia bekerja keras sekarang, mom. Kemungkinan sibuk...", bela El pada sang adik.
"Jangan memberinya kerjaan yang terlalu banyak El.. Adikmu itu perempuan. Ibu juga ingin memiliki anak dari pernikahannya dengan Jo..", sang ibu negara memberi saran, sekaligus perintah pada lalakinya.
"Cla itu cerdas, mom. Banyak ide yang ia punya membangun perusahaan lebih berkembang pesat. Buktinya sekarang. Kita semakin punya banyak aset di berbagai negara..", jawab sang putra.
"Ibu tahu, El. Tetapi tidak salahnyakan? Anak buahmu juga banyak yang cerdas.. Beri mereka tanggung jawab juga untuk mengerjakan sebagian pekerjaan adikmu, itu...", sanggah sang ibu.
"Ya, ya, ya... Baiklah.. Akan aku pikirkan, Bu..".
Ellena hanya mengangguk mengiyakan ucapan sang anak.
Rindu itu pasti.
Hampir setahun pernikahan Claudya dengan Jo, tetapi jarang sekali anak perempuannya itu bertamu atau berkunjung ke rumah besar.
.
.
.
Sedangkan di kediam Jo.
Rencana yang disusun rapih oleh Jo dan Bryand segera dilaksanakan.
Melapisi anak buah bayangannya dengan anak buah yang lain guna menyergap musuh.
Alvaro ikut andil.
Jo dan Bryand ke perusahaan seperti biasa. Mereka tahu, bahwa ada beberapa orang sedang mengintai pegerakan.
"Mereka masuk perangkap", gumam Jo menyeringai.
Bryand tersenyum.
"Claudya di kantor kan?", tanya Jo.
"Iya, Tuan. Nyonya muda di ruangannya sekarang...", Bryand menjawab.
"Bagus... Perintahkan Alvaro menyergap musuh.!", perintah Jo sambil berjalan ke ruangan kerjanya.
Jo menyeringai.