
Alvaro berada di sekitar kantor milik keluarga Lee. Ia melihat gelagat beberapa orang yang sedang berdiskusi menggunakan earphone.
"Rupanya mereka yang menyingkirkan anak buahku?", batin Alvaro.
Dengan menggunakan alat komunikasi yang sama dengan milik musuh, Alvaro segera memerintahkan anak buahnya untuk bergerak sesuai rencana.
Memiliki pengawal bayangan berlapis, membuat musuh menjadi kelimpungan.
Seusai rencana, Alvaro membagi timnya menjadi dua. Satu sebagai umpan, satu sebagai penyergap.
Berhasil.
Sekitar tujuh orang pengawal yang di sewa Claudya berhasil di tekuk saat itu juga.
"Bawa mereka ke markas. Kita bermain di sana...", perintah Alvaro.
Bryand mendapat notifikasi dari asisten dua, segera menyampaikan informasi penting itu.
"Kita ke markas setelah meeting bersama dewan direksi...", ucap Jo.
Alvaro adalah asisten yang berspesialis sebagai pengintai juga penyergap. Aura membunuh pun ada di dalam dirinya. Tidak diragukan lagi kinerjanya sehingga Jo sangat mempercayai pekerjaan di luar kantor pada asisten dua itu.
Anak buah Centinental yang menjadi tawanan di ikat dengan kaki di atas dan kepala ke bawah.
"Katakan, di mana anak buahku yang kalian singkirkan...!", geram Alvaro karena beberapa waktu ini dia sudah kehilangan beberapa orang anak buahnya.
Mereka diam. Tentu. Terlatih. Bahkan atribut yang mereka kenakan tidak menunjukkan mereka bekerja untuk siapa.
Alvaro sampai meradang, karena tidak mendapat jawaban dari pertanyaan yang sama ia lontarkan..
.
.
.
.
Di sisi Lucius.
"Di mana anak buah kita yang mengawal nona Claudya?", tanya Lucius kuatir.
"Mereka semua tidak dapat dihubungi, Tuan.", jawab asistennya.
"Sudah kau cek lokasi terkahir yang mereka laporkan?", lagi Lucius bertanya.
Ia setiap hari mendapatkan laporan mengenai kegiatan yang dilakukan oleh Claudya dari orang suruhannya. Bukan sekedar pengawalan, melainkan ada maksud tertentu bagi Lucius.
"Terakhir pagi ini, mereka ada di sekitar JS Group, setelah itu sampai jam begini pun mereka masih belum memberikan laporan lagi, Tuan...".
"Utus beberapa orang kita untuk mencari mereka...!", kesal Lucius.
"Satu lagi, jika sampai malam mereka tidak ditemukan, atur pertemuan secara pribadi dengan nona Claudya...!", perintah Lucius lagi dan diangguki oleh asistennya.
Setelah melakukan pertemuan penting bersama dengan jajaran dewan direksi, Jo dan Bryand pun meluncur ke arah markas mereka.
"Bagaimana, Al?", tanya Jo ketika melihat sekitar tujuh orang digantung dengan kepala ke bawah.
"Ini data yang kami dapatkan, Tuan...", jawab Alvaro sambil memberikan salinan data yang ia dapat dari sistem digital.
"Mereka semua sudah di anggap tewas?", tanya Jo heran.
Bryand pun memeriksa data yang kini sudah berada di dalam genggamannya.
"Sepertinya mereka adalah orang yang dicari oleh interpol negara kita, Tuan...", duga Bryand.
"Ada yang memalsukan kematian mereka... Berarti lawan kita bukan orang biasa...", ucap Jo.
"Benar, Tuan... Dan mereka sungguh sangat terlatih dalam melakukan penyamaran. Tidak ada atribut atau apapun yang membuktikan mereka bekerja untuk seseorang...", sanggah Alvaro.
"Hmmm... Menarik...", ucap Jo.
"Selidiki kembali pemilik restaurant itu... Bila perlu perintahkan si kancil mengintainya. Laporkan padaku secara berkala...", Jo memberi perintah.
Alvaro mengangguk.
"Satu lagi. Perintahkan Jack untuk ke sini... Markas di sana biarkan orang kepercyaan kita yang lain mengurusnya...", sambung Jo lagi.
Bryand tentu bergerak cepat. yang terhubung dengan Alvaro, pasti terhubung dengan Bryand. Begitupun sebaliknya.
Kini giliran Jo yang ingin bermain dengan tawanannya.
"Kalian tidak menjawab pertanyaan orang-orangku.. Baiklah.. Bagaimana kalau kita bermain sebentar?", ajak Jo.
"Tuan, anda masih belum boleh bertarung. Ingat luka anda....!" Bryand mengingatkan.
"Kata siapa aku yang akan bertarung? Lihat perutmu sedikit buncit karena sering mencangkul kekasihmu, jadi kau yang akan bertarung dengan ketujuh orang itu...", ucap Jo santai.
Bryand hanya melongo.
"Jangan bengong. Apa yang dibicarakan Tuan itu benar. Anda butuh bekeringat mengeluarkan racun di dalam tubuh anda...", sambung Alvaro mengompori.
Bryand mendelik kesal ketika menatap Alvaro.
"Siapa bilang dia sendirian, Al? Sana.. Aku ingin menyaksikan kalian berdua bertarung dengan mereka bertujuh. Sepertinya lawan yang sepadan...", seringa Jo ketika melihat Alvaro mati kutu akan perintah itu.
Jo memberi perintah untuk melepaskan mereka bertujuh.
"Kalian mau minum dulu?", tanya Jo yang melihat musuhnya itu menggelengkan kepala karena pusing diikat kepala kebawah selama berjam-jam.
"Berika mereka minum...", perintah Jo pada anak buahnya.
Ketujuh orang itu dengan rakus mengambil botol minuman yang dilempar anak buah Jo kemudian meminumnya sampai tandas.
"Sudahkan? Atau kalian mau istirahat sebentar mengumpulkan tenaga?", tanya Jo lagi.
Bryand dan Alvaro menoleh ke arah Jo.
"Tuan, kapan kami akan bertarung? Jeny sudah menunggu di apartemen...", ucap Bryand memelas.
Alvaro pun tidak mau ketinggalan. "Iya benar, Tuan. Saya sudah merindukan Ve,...".
"Baiklah, silahkan bertarung...".
Alvaro pun ikut menyeringai.
Pertarungan terjadi. Lawan yang mereka hadapi sungguh sangat terlatih, namun bukan Bryand dan Alvaro namanya jika tidak mampu mengatasi mereka.
Saling berbalas serangan pun terjadi.
Karena merasa serangan mereka tidak berefek pada Alvaro dan Bryand, ketujuh orang itupun maju menyerang bersama.
Alvaro dan Bryand bahu membahu melawan mereka yang akhirnya beberapa orang lawan sudah terpental jatuh dan tidak lagi berdiri.
Melihat temannya berkurang, mereka semakin gencar melancarkan pukulan serta tendangan.
Bryand yang sempat lengah karena sedikit tidak fokus pada lawannya pun terkena bogeman di pipi tampannya.
"Sial....", maki Bryand.
Alvaro ingin tertawa melihat asisten satu itu terkenal bogeman.
Yang mereka lawan adalah penjahat yang kini beralih profesi bekerja di bawah Centinental. Tentu, jika menjadi buronan yang dicari, kekuatan mereka tidak main-main.
Kedua asisten Jo itu sudah bernapas satu-satu karena kelelahan, sedangkan empat orang yang tertinggal pun masih terlihat kuat.
Kini mereka mulai atur strategi melumpuhkan lawannya.
"Kita serang bersama seperti tadi...", saran Bryand.
Alvaro setuju. Dengan sisa tenaga, mereka berdua maju menyerang.
Lihai. Menguasai ilmu bela diri dari beberapa cabang, membuat Alvaro dan Bryand semakin memojokkan keempat orang musuh itu hingga akhirnya mereka pun diam tak bergerak di bawah lantai kasar tempat pertarungan.
"Gooddddd....", puji Jo terhadap para asistennya.
"Cuma tujuh orang, Tuan.. Dua puluh orang pun saya tak mungkin kalah...", sombong Bryand.
"Sepertinya anda lupa ingatan karena kena bogeman mentah tadi...", sarkas Alvaro.
Bryand pun melirik jengkel.
"Sudah, jangan berdebat.. Lepaskan mereka di pinggir jalan...!", perintah Jo kemudian pergi dari tempat itu.
Hal seperti itu sudah mereka rencanakan, dibuat pingsan, lalu dikembalikan. Seperti itu, namun mereka menyimpan sebuah alat penyadap di tubuh musuhnya.
Malam itu pekerjaan beres.
Mereka bertiga pulang ke rumah masing-masing. Meski Bryand dan Alvaro memilik kamar pribadi di istina Jo, namun mereka lebih memilih menuju apartemen, karena di sana sudah ada bidadari yang siap membawa mereka mengarungi lautan keringat menuju surga dunia.
Jo masuk ke kamar utama, melihat seisi kamarnya yang masih tertata rapih.
"Dia belum pulang jam begini...", gumam Jo lalu membersihkan dirinya.
Selesai dari ritual kamar mandi, pintu di buka. Meunculah wanita yang selalu membuatnya kuatir.
"Darimana, Claudya?", tanya Jo masih dengan tenang.
"Bertemu klien, lalu sedikit besenang-senang dengan teman-temanku...", jawab Claudya acuh.
Saat tubuh mereka berpapasan, Jo kembali mencium aroma alkohol dari Claudya.
"Kamu minum-minum lagi?", masih Jo bertanya dalam keadaan tenang.
"Apa urusanmu? Kamu mau mengekang hidupku, Tuan Jo?", Claudya balik bertanya.
"Tidak apa-apa... Terserah kamu mau melakukan apapun... Hanya saja aku sarankan berhentilah menikmati alkohol, Claudya...", saran Jo.
"Bagaimana jika aku memintamu untuk berhenti menjual perempuan dan narkoba serta barang ilegal lainnya? Atau berhenti menjadi ketua organisasi bawah tanahmu itu?", tantang Claudya.
Jo diam. Dia ingin berhenti, hanya saja Sea masih belum setuju jika anaknya dijadikan pemimpin meski putranya itu menjadi laki-laki dingin dan menyeramkan sepertinya ayahnya.
"Kamu tidak bisakah, Tuan Jo?", seringai Claudya. "Aku pun tidak bisa....!",.
"Tetapi aku ingin memiliki anak darimu, Claudya... Kita menikah hampir setahun...", ucap Jo yang kini menaikan nadanya satu oktaf.
"Tujuanmu menikahi ku hanya karena menginginkan anak? Pergi dan buatlah dengan para wanita yang ada disekitarmu. Jangan denganku...", balas Claudya yang juga menaikan satu oktaf nada.
"Kamu pikir aku siapa? Penjahat kelamin? Ha? Sekarang apa maumu? Berpisah? Atau apa? Katakan dengan jelas. Aku ingin menjelaskan yang sebenarnya, tetapi kamu tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan setiap data yang kau dapat dari Frank si brengsek itu...!", kini Jo terlihat geram.
"Apa yang perlu kau jelaskan..? Ha? Bahwa kau mau menyangkal setiap data yang diberikan oleh Frank?", balas Claudya.
"Harus berapa kali aku katakan? Setiap data yang kau dapatkan dari Frank tidak semuanya benar...", bantah Jo.
"Percuma. Penipu kalau mengaku penjara penuh, Tuan Jo.. Sudahlah. Aku tidak ingin mendengar ocehanmu malam ini...", Claudya berlalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Jo menyibakan rambut frustrasi.
Claudya sudah termakan entah apa yang dibicarakannya dengan Frank yang kini sudah menjadi almahrum itu. Hanya dia yang tahu.
Laki-laki itu memilih untuk ke luar kamar dan berjalan menuju taman di samping rumah mewahnya. Ia duduk sambil merenung. Menikah karena perjodohan, tiba-tiba semua masalah kini perlahan muncul.
Jati dirinya yang ia sembunyika beberapa tahun ini semakin menyebar luas, namun dengan garakan Bryand dan Alvaro, banyak orang yang dapat dibungkam, juga tidak lupa beberapa organisasi musuh yang dapat diberantas sehingga tidak berpotensi menimbulkan kericuhan.
Ia tahu, dengan kehidupan sebagai ketua organisasi yang paling disegani, ada banyak nyawa terancam. Istrinya, orang tuanya, mertuanya, adiknya, iparnya, juga anak buahnya, mereka semua menjadi tanggung jawab Jo.
Tingkah Claudya semakin membuatnya jatuh. Namun ia bersembunyi di balik sikap arogan dan dingin, serta tersenyum hanya untuk orang-orang yang mengenal dekat dirinya.
Kawan? Sahabat? Jangan bertanya.
Ia punya lebih banyak anak buah dibandingkan teman. Yaahhh, kedua asistennya adalah sahabat sekaligus orang yang menemaninya.
Laki-laki itu kemudian menyalahkan rokoknya. Ia menatap langit yang mendung.
"Hahhhhhh", menghembuskan napasnya berat.
Ia paham. Resiko ini pasti terjadi. Namun terlalu cepat sebelum ia dapat menjadi pemenang dalam pertarungannya dengan wanitanya.
Yah, mereka berdua sedang berperang, siapa yang akan menundukan siapa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mau tau kelanjutannya? ikuti terus yaaa? tetap stay...