
"Akhhhhh..".
Sesuatu menembus inti dan merobeknya. Seprei yang bertaburan mawar sudah tak lagi rapih karena ulang dua orang manusia.
Napas Jo memburu. Setelah menetralkan dan menyesuaikan sesuatu yang menjepit di bawah sana, ia mulai memompa.
Pelan, hingga suara rintihan Cla masih halus. Jo bermain irama. Kadang cepat, hingga membuat Cla menggeleng tak karuan, kadang pelan yang menuntut Cla memintanya.
Sakit pada bagian inti yang beberapa saat lalu menghilang diganti kenikmatan yang belum pernah dirasakan.
Wanita itu semakin tak tahan hingga ia harus mende****ah keras merasakan sesuatu mengalir di bawah sana.
Jo tidak berhenti bergerak. Ini adalah permainan pertamanya bersama lawan jenis selama 28 tahun ia hidup. Dia akan memberikan kesan meski wanita yang berada di bawah kukungannya belum mencintainya. Karena ia tahu, wanita ini adalah wanita yang penuh dengan ambisi. Ia akan membuktikan bahwa kodrat seorang perempuan tidak hanya melayani lelakinya di kasur, dapur, maupun sumur.
Beberapa saat mereka berdua menikmati hingga Jo mengerang menembakkan calon penerus keluarga Fernand.
"Kau buktikan ucapanmu...", senyum Jo lalu mencium kening sang istri dan memeluknya.
"Hmmm", Claudya hanya bergumam. Wanita itu kemudian diam dalam dekapan Jo di balik selimut yang membungkus tubuh polos mereka.
Mereka melakukannya berulang-ulang hingga dini hari. Jo seakan tidak puas jika harus beristirahat.
*******
Pagi tiba...
Cla mengerjapkan matanya ketika sinar matahari samar menerpa wajahnya dari sela-sela tirai.
"Accchhhhh.. Badanku pegal semua....", keluh Cla yang merasakan badannya serasa mau patah akibat gempuran semalam.
Masih dalam keadaan berbaring, pria di sampingnya masih terlelap dengan nyenyak, tetapi tidak melepaskan belitan tangannya di pinggang sang istri yang polos.
"Dia tampan. Sangat tampan...! Bibirnya,... Otot-otot perutnya... Satu, dua, tiga, empat, lima, enam.... Terus..... Itu.....", Cla memperhatikan suaminya yang terlelap, tetapi tangannya membingkai wajah, menyentuh bibir Jo dengan jarinya pelan, mengusap dada, hingga terus turun ke perut sang suami, mengitung, kemudian turun lagi, menyentuh sedikit dengan jarinya pada naga Bonar suami.
"Dia berdiri.....", gumam Cla pelan, merasakan usapan di tiang sang suami bereaksi.
"Tentu dia berdiri, baby. Mau lagi...??", ucap Jo yang sebenarnya telah sadar dari sentuhan jari Cla pada perut kotak-kotaknya.
"Ha...?? Apa...? Kau sudah bangun?", tanya Cla berentet.
"Kita lakukan sekali lagi...", mau Jo.
"Tidak, badanku sangat-sangat pagal, belum lagi merasa bagian bawahku sedikit tidak nyaman", tolak Cla, lalu mencoba menjauh dari gapai Jo di atas ranjang besar itu.
"Mulutmu tidak kan?", sinis Jo berucap.
"Apa?", tanya Cla heran, namun gerakannya untuk kabur dari ranjang itu sangat lambat karena area intinya merasa perih.
"Mulutmu belum ku gunakan...!", ucap Jo tegas kemudian menggerayangi tubuh Cla.
Ucapan, dan gerak tubuh Cla bertolak belakang. Hingga akhirnya, mulut Cla pagi itu yang bekerja. Bahkan Jo menyburkan di dalam kerongkongan Cla.
Cla membola, tetapi mulutnya penuh. Tentu jalan terakhir adalah pasrah.
Setelah pelepasan, Jo menarik tiang panjang itu dari mulut Cla. Wanita itu mendengus. Jengkel dan kesal, karena itu adalah pengalaman pertama yang dilakukan secara tiba-tiba tanpa persiapan.
Jo menyengir, memberikan air minum untuk Cla yang ada di atas nakas sebelah ranjang, lalu membopong tubuh istrinya ke kamar mandi, meski masih melihat tatapan tak ramah istrinya.
"Sudah sana ke luar...!", usir Cla, setelah Jo meletakan wanita itu di dalam bathtub.
"Aku juga mau mandi. Biar efektif...", acuh Jo kemudian ikut masuk duduk di dalam bathtub bersama sang istri.
Claudya mendesah, lebih tepatnya mendengus, tetapi tidak lagi mau bicara, karena ia merasa sangat lelah, sekaligus sangat nyaman berada dalam bathtub air hangat itu.
Beberapa saat setelah melakukan aktivitas keduanya keluar dari kamar mandi, mengenakan bathrobe dengan handuk melingkar di kepala Cla.
"Kita akan bulan madu ke Swedia....", ucap Jo ketika sudah mengganti pakaiannya.
"Swedia? Kapan?", tanya Cla antusias, karena ia sangat ingin mengunjungi negara tersebut.
"Nanti malam.. Kita makan dulu, lalu ke rumah ku...", ajak Jo yang kemudian berada di depan pintu kamar menunggu sang istri berganti pakaian.
"Rumah mana? Rumah utama Jo Fernand?", tanya Cla sambil berjalan beriringan keluar dari kamar hotel.
"Bukan.. Rumahku. Yang akan kita tinggali...", sahut Jo menarik rapat pinggang istrinya lebih dekat tanpa celah padanya.
Pengantin baru itu terus berjalan ke restaurant hotel, mengenakan warna senada pada pakaiannya. Biru muda (bayangin sendiri ya seperti apa? hehehehe)
"Mom?", sapa Jo dengan malas.
"Kenapa? Enggak masuk ya?", goda sang ibu lagi.
"Momy, di sini ada anak kecil", Jo berucap dengan dagunya menunjuk ke arah adiknya.
"Apaaan?", tanya sang adik. Alves Jo Fernand.
"Oh iya, Momy lupa... Cla sayang, kenalkan, ini adiknya Rich namanya Alves", Momy Regina memperkenalkan anak bungsunya.
"Halo ....", Cla dan Alves berjabat tangan saling berkenalan.
"Kak, kok mau sih sama si kulkas? Nggak dingin?", tanya Alves melirik kakaknya yang sedang sarapan.
"Tidak kan? Malahan hangat... Benarkan sayang?", bukan Cla yang menjawab, tetapi saumi menyebalkan menjawabnya bahkan dengan sengaja merapikan rambut Cla yang sengaja digerai menutupi bekas di leher Cla.
"Sayang? Jo nakal?", tanya Ibu Ellena (Mama dari Cla) karena tidak sengaja melihat bekas merah kebiruan yang ada di sekitar leher Cla.
"Emmm?", Cla yang bingung dengan pertanyaan ibunya seketika sadar akan tingkah Jo.
Wanita itu mendengus kesal karena ulah jahil Jo membuatnya malu.
"Kak, apa yang merah-merah di leher Kaka?", tanya Alves bingung. Maklum, masih polos.
"Ehhh, itu... apa ya..?? serangga...! iya, ulah serangga tak tahu diri...!", elak Cla mencari jawaban.
uhukkkk
Jo yang mendengar kata Cla tersedak makanannya lalu melirik melihat Cla.
"Makan dulu. Nanti keburu luch", sela Dady Don.
Akhirnya sarapan selesai. Dan dilanjutkan dengan aktivitas masing-masing.
#Flash Back On
"Oma dengar kau akan menikah dengan Richard Jo anak Don Adriand Jo Fernand?", tanya Oma.
"*Iya, Oma", jawab Cla.
"Berarti kau akan berhenti bekerja di perusahaan Ayahmu?", lagi Oma bertanya.
"Tidak juga. Memangnya kenapa?", Cla balik bertanya.
"Kau sudah jadi istri, mending di rumah, diam ngurus rumah, suami, sama anak", saran Oma.
"Kenapa harus begitu? Percuma dong kuliah tinggi-tinggi, ujungnya cuma di rumah?".
"Kodrat wanita kan itu? Tidak di kasur, ya di sumur atau dapur..", sahut Oma.
"Memangnya sudah menikah tidak boleh bekerja?", tanya Cla.
"Di rumah juga kan bekerja?", sanggah Oma.
"Tidak ahhh, Cla maunya tetap bekerja...!", pendirian Cla.
"Kau lihat Oma? Atau ibumu? Padahal kariernya bagus, tetapi memilih untuk mengurus ayahmu, El dan kamu kan?".
"Itu pilihan ibu. Sedangkan Cla tetap mau bekerja".
"Percuma saja kau bekerja, toh kau itu perempuan. Ngurus suami dan anak lebih baik".
"Aku bisa melakukannya setelah menikah", bantah Cla.
Kemudian berlalu pergi dari hadapan sang Omo yang kebetulan pada hari itu datang berkunjung ke rumahnya.
"Kau tidak akan lebih baik dari El. Karena El itu anak laki-laki...!", ucap Oma sedikit berteriak karena Cla sudah menjauh darinya.
Sejak dari hari itu, Cla semakin berambisi membuktikan ucapan sang Oma tentang kodrat permpuan itu salah.
"Untuk apa ada emansipasi kalau ujung-unjungnya kau perempuan hanya dianggap wanita lemah yang berada di bawah laki-laki", gumam Cla dalam hati setelah berada di balik pintu kamarnya*.
#Flash Back Off