Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 26



Setelah berkata demikian, Jo pergi dengan membanting keras pintu ruangan istrinya itu.


Bryand yang baru sampai di situ pun dibuat kaget akan tingkah Jo. Tidak seperti biasanya. Richard Jo yang terlihat selalu tenang, namun hari itu tidak ada namanya ketenangan.


Yah, Bryand harus menyusul Jo karena informasi dari Verena bahwa pria itu langsung keluar dengan tergesa-gesa setelah mendapat kabar bahwa salah satu klien besar berpindah haluan ke perusahaan yang tidak lain tidak bukan adalah perusahaan sang nyonya mudanya.


Jo melirik sekilas Bryand tetapi tidak menghentikan langkahnya menuju lift. Jeny yang sangaja keluar dengan maksud untuk menjelaskan kepada suami majikannya pun tidak lagi mendapati sosok yang dimaksud, hanya bertemu dengan kekasihnya di depan pintu ruangan wakil CEO itu.


"Ada apa?", tanya Bryand pada Jeny.


"Kamu tentu sudah tahu, makanya ke sini kan? Jangan bertanya dulu, aku harus menemui tuan muda...", jawab Jeny.


"Jangan...! Aku baru melihatnya mengumbar kemarahan seperti itu. Biasanya ia sangat tenang. Nanti aku yang akan bicarakan padanya...!", jelas Bryand, tidak mau kekasihnya ikut merasakan kemarahan Richard Jo meski pada dasarnya itu termasuk kesalahan Jeny.


"Kamu yakin?", tanya Jeny memastikan.


"Iya.. Sebenarnya ada apa sampai Tuan seperti itu?". Bryand penasaran dengan apa yang terjadi saat itu.


Jeny pun menceritakan kronologi yang terjadi di dalam ruangan nyonya mudanya. Bryand paham dan segera mengejar tuannya.


Richard tidak lagi kembali ke kantor, melainkan ke apartemen pribadi miliknya (yang pernah dipakai bersama Claudya sebelum mereka menikah).


Bryand tidak sulit mendapatkan informasi tentang Jo, karena biar bagaimana pun, ada anak buahnya yang mengelilingi ke mana Jo pergi.


Asisten satu itu menyusul tuannya.


Sampai di apartemen milik Jo, Bryand tentu tahu paswordnya, sehingga dengan mudah masuk ke sana. Ia melihat tuannya sedang merokok di balkon yang terhubung dengan ruang nonton di apartemen itu. Maklum, apartemen konglomerat, jadi ya begitulah.


"Tuan...", sapa Bryand.


"Hm", Jo hanya menyahut singkat, karena ia tahu, siapa saja yang mengetahui password apartemen miliknya selain Momy Regina.


"Begini, Tuan. Sebenarnya nyonya muda tidak mengetahui detail klien itu, Tuan...", Bryand memberikan penjelasan dengan pelan.


"Kerja kekasihmu itu apa, Bryand? Sebenarnya ia profesional atau tidak?", tanya Jo dengan tekanan, sehingga membuat Bryand bungkam sesaat.


"Maaf, Tuan...!", Bryand hanya mampu mengucapkan maaf.


"Saya tidak mau kalau orang-orang di sekitar Claudya kecolongan. Kau tahu kan musuh kita ada di mana-mana? Seharusnya kau ajari wanita itu dengan baik, Bryand...", Jo mengutarakan kekesalannya.


"Baik, Tuan. Aku akan mengajarinya lagi dengan benar kali ini...!", sahut Bryand menunduk.


Jo diam. Ia kecewa pada istrinya yang berniat menentang dan menantangnya. Dalam hidupnya, hanya orang tuanya yang boleh menentangnya. Ditambah lagi ketika asisten kepercayaan istrinya kecolongan tentang hal sepenting itu. Soal uang dan sebagainya, Jo tidak terlalu memikirkannya, toh masih bisa dicari lagi.


Pria itu ingin mengumpat, tetapi pada siapa? Claudya? Atau Jeny? Sudah dipastikan istrinya itu akan banyak bicara, juga asisten istrinya tidak akan mau bertemu dengannya empat mata.


.


.


.


.


.


.


Di tempat lain, tepatnya di Royal Hotel, Frank Cole beserta asisten kepercayaannya dibuat ketar-ketir, karena pada dasarnya, perusahaan yang ia bangun di negara itu menjadi terancam bangkrut, karena orang-orang Jo bertindak.


"Sial. Kevin, siapa yang berani mencuri para klien kita?", kesal Frank.


"Sebuah perusahaan kecil, Tuan..", jawab Kevin.


"Perusahaan kecil? Maksudnya? Berani sekali perusahan kecil bermain-main denganku?", umpat Frank lagi.


"Sepertinya ada yang memback up perusahaan itu, Tuan...".


"Tetapi siapa? Tentu tidak mungkinkan perusahaan kecil mampu bersaing dengan MN Group?".


"Itu, saya belum mendapatkan laporannya, Tuan. Orang-orang kita sedang mencari dalangnya, Tuan...", Kevin memberikan penjelasan.


"Terus data perusahaan?", tanya Frank lagi.


"Sebagian data perusahaan diambil alih oleh mereka juga, Tuan.. Para staf IT kita sedang berusaha mengunci data perusahaan yang masih bisa diselamatkan...".


"Sebagian? Selamatkan semuanya, bodoh.....", umpat Frank pada Kevin..


.


.


.


.


Frank terus mengumpat, sedangkan di sebelah sana, Alvaro tertawa terbahak-bahak. Tugasnya mengacaukan perusahaan Frank Cole di Negera itu membuahkan hasil.


"Baiklah, pekerjaan kalian sangat baik.. Usahakan untuk mendapatkan semua data perusahaan itu. Bila perlu, teruskan sampai mengusik kelompoknya The Blood itu...", perintah Alvaro pada beberapa orang ahli IT yang merupakan anak buah Black Hunter.


"Baik, Tuan Al...", jawab mereka serempak dan kembali bekerja di depan perangkatnya masing-masing.


.


.


.


"Saya jahat, Jen?", tanya Claudya pada asistennya setelah kepergian Jo.


"Saya tidak berani menilainya, nyonya muda...", jawab Jeny seadanya. Meski ayahnya adalah orang kepercayaan dari ayah Albert (ayahnya Claudya), namun tidak membuatnya berkepala besar. Ia tetap pada porosnya, meski sesekali mereka berdua layaknya saudari dan sahabat karib.


"Jangan memanggilku seperti itu. Aku butuh saranmu sebagai sahabatku, Jen...", Claudya berucap informal.


"Setahuku, sebagai istri, tidak patut menentang suami, Nona...", Jeny berpendapat.


"Aku tahu, hanya saja aku menyukai tantangan...", jelas Claudya.


"Tetapi tidak harus menantang suami sendiri, nona. Aku baru tahu marahnya seorang Tuan Jo seperti tadi...".


"Ya ya ya... Nanti aku akan bicarakan dengannya di rumah.... Sudahlah, kembali bekerja...!!".


...****************...