
Hari yang dilalui Claudya dan Richard Jo pun tidak lebih baik dari sebelumnya.
Setelah mendapat laporan dari Alvaro mengenai siapa yang dihubungi oleh Lusia, akhirnya Jo dan anak buahnya mulai menyusun rencana penyerangan.
Selama itu juga Jo jarang kembali ke rumahnya, sedangkan Claudya semakin cuek meski tidak mendapat kabar dari suaminya.
Intinya ia bekerja, juga menaikan kariernya. Begitulah kira-kira pikirnya.
"Serang perusahaan kecil yang mereka miliki, Al..!", perintah Jo memulai rencana penyerangan.
"Persempit gerekan mereka... Gagalkan bisnis ilegal milik Lucius...", lagi Jo memberikan ultimatum.
Alvaro hanya mengangguk mengerti lalu pergi mengerjakan tugasnya.
"Bryand, usahakan agar Jeny menjaga istriku dengan baik.... Jangan biarkan nyonya muda kalian untuk keluar kota selama sebulan ini...", perintah Jo pada Bryand dan diangguki sebagai jawab oleh Bryand. Ia tahu apa yang harus ia kerjakan.
"Suruh Jack siapkan mobil... Biar dia menjadi supirku sementara...", ucap Jo lalu pergi dari ruangannya di markas besar Black Hunter.
.
.
.
.
Kini rencana Lucius untuk menjebak Claudya dijalankan. Salah satu cabang JS Group yang termasuk besar di Samarinda digoyah.
Claudya berada di dalam ruangan kakaknya.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Siapa yang meretas data perusahaan cabang kita, Kak?", tanya Claudya.
"Kakak juga tidak tahu... Mungkin lawan bisnis kita... Akan kakak selidiki...!", jawab El yang langsung memerintahkan bawahannya bekerja keras mencari peretas data perusahaan cabang mereka.
"Lalu sekarang bagaimana? Apa Kakak akan ke Samarinda?", lagi Claudya bertanya.
"Sepertinya harus kamu yang ke sana, Cla... Soalnya baru saja ada klien baru yang mengajukan kerjasama dengan perusahaan kita...", jawab El.
"Klien baru? Biar aku yang menanganinya, Kak...", ucap Claudya memberi saran.
"Kakak harus bertemu langsung dengan klien tersebut...", sahut El. "Jadi kamu yang akan menangani masalah di Samarinda...", putus El.
"Kakak percaya padaku?", tanya Claudya yang tiba-tiba menjadi ragu akan kemampuannya.
"Kenapa kau terlihat ragu? Ada masalah, Cla? Selama ini kau sangat baik dalam menangani masalah perusahaan...", heran El menatap adiknya.
"Bukan begitu, Kak.. Aku cuma tidak yakin bisa menemukan pelakunya dengan cepat...", jawab Claudya.
"Tenang saja.. Kakak akan meminta bantuan suamimu jika ternyata masalahnya tidak segera diselesaikan...".
"Jo? Tidak-tidak... Aku akan pergi dan menyelesaikan dengan cepat...", sargah Claudya setelah mendengar nama suaminya yang mau dilibatkan.
"Kenapa? Tidak ada masalahkan kau dengan Jo?", tanya El penasaran.
"Tidak, Kak... Aku pikir, dia akan sangat sibuk dengan produk terbaru yang akan dikeluarkan oleh JF Group bulan ini...", Claudya mencari alasan.
"Baiklah.. Terserah padamu.. Pergilah besok bersama Jeny...", lagi El memutuskan.
Sedangkan di sisi Jo.
"Tuan, sepertinya perusahaan cabang JS Group di Samarinda bermasalah...", lapor Alvaro melalu telepon, karena Jo saat itu berada di kantornya.
"Masalah?", tanya Jo mengernyit heran.
"Data perusahaan cabang itu diretas dan sekarang dikunci...", lagi Alvaro melanjutkan penjelasan menjawab pertanyaan Jo.
"Selidiki siapa dalangnya. Aku akan ke perusahaan JS Group...!", perintah Jo langsung beranjak dari kursi kebesarannya dan keluar dari ruangan mewah miliknya di perusahaan.
Beberapa saat di dalam perjalanan, Jo tiba dengan Jack di JS Group.
Tentu tidak ada yang tidak mengenal pria itu. Menantu dari Presdir Lee Albert, ipar dari CEO Lee El, dan Suami dari wakil CEO Claudya Gitta.
Menuju resepsionis dengan gaya angkuhnya dan menyampaikan maksud dari kedatangannya lalu segera dipersilahkan naik ke rumahan CEO Lee El.
"Apa kabar?", tanya Jo basa-basi setelah dipersilahkan untuk duduk oleh pemilik ruangan.
"Baik.. Bagaimana denganmu?", balik El bertanya.
"Lumayan...", jawab Jo ambigu.
"Tumben mampir ke kantorku?", sarkas El.
Jangankan berkunjung ke kantor. Berkunjung ke rumah utama keluarga Lee pun Jo sangat jarang, bahkan terbilang beberapa bulan ini belum sama sekali berkunjung dengan istrinya ke rumah itu.
"Aku sudah mendengar beritanya...", langsung Jo.
"Kau tahu? Jadi bagaimana?", El bertanya dengan serius.
"Aku akan membantumu...!", jawab Jo santai.
"Mereka sudah mengunci data perusahaanku, sehingga orang-orangku tidak dapat mengakses untuk mengembalikan datanya..", lanjut El.
"Anak buahmu harus belajar banyak. Biarkan aku yang mengurus ini. Jangan libatkan Claudya ...", sarkas Jo.
"Maksudnya? Baru tadi aku sudah menyuruh Cla untuk terbang ke Samarinda besok mengatasi masalah itu...!", ucap El.
"Jadi? Claudya yang akan pergi besok? Batalkan rencana itu.. Beberapa Minggu ini, biarkan istriku yang mengurusi masalah interen perusahaan pusat JS Group...", sargah Jo untuk mencegah El melanjutkan perintahnya.
"Aku akan menghubunginya...", balas El cepat laku segera menghubungi Claudya.
"Kamu di mana, Cla? Ke ruangan Kakak sekarang...!", kata El setelah teleponnya terhubung dengan Claudya.
"Aku di bandara, Kak... Mau ke Samarinda.. Lebih cepat masalah ini kelar lebih baik kan?", jawab santai Claudya dari sana.
"Kakak bilang besok kan? Batalkan itu, segera kembali ke kantor...", El kesal dengan sifat Claudya yang bertindak tanpa memberi laporan terlebih dahulu.
"Aku akan baik-baik saja... Sudah ya, Kak.. Sampai di Samarinda baru aku kabari...", pamit Claudya yang mematikan teleponnya sebelah pihak.
"Akhhh, anak itu... Turunan siapa sih?", kesal El setelah teleponnya dimatikan sebelah pihak.
Jo yang menyimak pembicaraan kakak beradik itu langsung menghubungi Alvaro.
"Al, cegah pesawat yang akan ke Samarinda hari ini...!", perintah Jo pada Alvaro yang kemudian dijawab dan dikerjakan.
"Sepertinya kau bukan orang biasa, Jo?", selidik El.
"Aku biasa. Kita manusia sama.. Hanya bedanya, kau lambat belajar, Kakak ipar...", hina Jo yang kemudian tersenyum meledek kakak iparnya yang dilihat dari muka bertambah kesal.
"Kau menyebalkan, adik ipar... Pergi sana...!", geram El.
"Baiklah, akan ku urusi perusahaan cabangmu itu.. Sebagai gantinya aku minta sesuatu...!", Jo berdiri berniat pergi setelah mengungkapkan apa yang ia mau sampaikan.
"Tidak ada yang gratis di dunia ini, Kakak ipar...", ledek Jo yang kian dekat dengan pintu keluar.
"Kau mau meminta apa?", tanya El yang kini berada di belakang Jo.
"Gampang.. Jangan biarkan Claudya bekerja terlalu lelah.. Kau mau memiliki ponakan kan? Biarkan ia berkonsentrasi membuat adonan bersamaku...", senyum Jo yang terlihat sangat manis.
El mendengus.
"Iya, aku usahakan...", jawab El malas.
Namun sebelum melangkah keluar dari pintu, telepon Jo berdering dari Al.
"Apa...?", tanya Jo memastikan dengan sedikit berteriak.
"Maaf, Tuan... Sepertinya nyonya muda diculik....", lapor Alvaro yang kini semakin takut dengan hanya mendengar nafas berat dari seberang telepon.
"Kita bertemu di markas....", ucap Jo yang kemudian pergi tanpa pamit pada kakak iparnya.
El yang melihat itu menggeleng kemudian mengedikan bahunya. Ia tidak mendengar apa yang dikatakan Alvaro sehingga memilih untuk kembali ke duduk di kursi kebesarannya.
.
.
.
.
Jo sampai di markas bersamaan dengan Bryand yang juga baru tiba.
Tanpa ba bi bu dari Bryand, Jo langsung melayangkan bogeman mentah ke arah perut Bryand.
Anak buah yang berada di sekitar markas pun terdiam. Tidak ada yang berani menghalangi Jo ketika sedang marah.
Bryand hanya sanggup memegang perutnya yang terkena pukulan.
"Ku perintahkan kau menjaga istriku... Ke mana dia? Ha?", tanya Jo murka.
"Maaf, Tuan...", hanya itu yang dapat Bryand katakan ketika menatap tuannya.
"Sial.... Obati dia...", perintah Jo kepada bawahannya yang ada di situ.
"Dan kau.... Jangan datang di hadapanku sebelum istriku dan asistennya ditemukan...?", lagi Jo memerintah Bryand yang kini hanya menunduk lalu pergi ke dalam ruangan Alvaro.
Di dalam ruangan itu, Alvaro dan beberapa anggota yang lain dibidang IT pun terkena siraman ragawi.
Mereka diamuk Jo hingga ada beberapa yang pingsan dan langsung mendapatkan perawatan.
"Cari istriku sampai ketemu... Jangan informasikan hal yang tidak berguna selain keberadaan Claudya dan asistennya...", ucap Jo langsung pergi dari situ dengan amarah.
Anak buah yang ada di dalam markas semua terdiam.
"Cari informasi organisasi yang masih berkeliaran menentang kita... Hancurkan mereka, bawa pemimpinnya ke hadapanku... Satu Minggu waktu yang kalian punya...", ucap Jo dengan nada penuh tekanan kepada semua anak buahnya.
Mereka semua hanya tunduk.
Jo pergi dari markas menuju ke rumah utama keluarga Fernand.
Melihat putranya datang ke rumah yang merupakan suatu keajaiban, Dady Don langsung paham jika ada masalah dari raut muka Jo.
"Ada apa, boy?", tanya Dady Don santai.
"Cla diculik..", jawab Jo langsung.
"Siapa yang berani berurusan denganmu sampai hal paling berharga disentuh?", lagi Dady Don masih bertanya dengan wajah datar yang kini Jo paham dari mana datangnya raut wajahnya yang juga datar. Ya, Dady Don jawabannya.
"Bryand dan Alvaro pun belum bisa memastikan dari kelompok mana mereka....", lagi Jo masih datar menjawab.
"Baiklah, akan Dady hubungi jika teman-teman Dady tahu sesuatu...", balas sang ayah yang kini sudah memerintahkan sang asisten kepercayaannya bantu menyelidiki.
"Terima kasih, Dad.. Jo pergi..", pamit Jo langsung pergi.
.
.
.
.
.
Lucius kini tertawa terbahak-bahak karena Claudya sudah berada di dalam genggamannya. Ia ingin menghancurkan wanita itu, sekaligus menyerang Jo. Sekali dayung, dua tiga pulau disinggah... Begitulah kira-kira.
"Kita lihat bagaimana kau akan bertindak setelah ini, Jo Fernand,... Aku selangkah lebih dulu dari rencana....!", gumam Lucius yang terdengar oleh asistennya.
"Kirimkan foto itu ke pemiliknya (maksudnya Jo)...", perintah Lucius.
Claudya yang kini disekap di dalam sebuah ruangan bersama dengan Jeny. Pakaian yang dikenakan mereka berdua kini sudah tanggal tersisa dalaman yang masih melekat. Mereka dalam keadaan pingsan karena obat bius.
Mendengar perintah dari Lucius, sang asisten langsung bertindak mengirimkan pesan berisi foto Claudya yang hanya mengenakan ********** saja.
Ting... Ting....
Dua pesan masuk ke handphone Jo.
Langsung Jo buka dan matanya membola sempurna melihat kedua pesan itu. Amarahnya kian memuncak.. Panas.. Iya... Melihat istrinya diikat pada tiang merentang kiri kanan, kakinya juga diikat dengan posisi juga hampir sama.
"Tubuh istrimu sangat indah, Tuan Rick.. Begitu juga dengan asistennya... Sepertinya asik jika bermain sebentar dengan tubuh indah ini...", bunyi pesan yang ada.
Kini Jo merasakan sesak di dadanya. Resiko menjadi seorang paling berkuasa adalah kehilangan harta paling berharga yaitu orang yang disayangi.
Selama hidup, Jo hanya meneteskan air matanya ketika ia masih kecil. Kini harus terjadi lagi. Airmatanya tumpah.
"Cek lokasi nomor ini... Laporkan padaku segera...", Perintah Jo ketika menghubungi Alvaro meski matanya tidak dapat membendung buih yang jatuh dipipi.
"Siap, Tuan...!", jawab Alvaro dari seberang..
...****************...
...****************...
Haiiii...
Kita akan masuk pada konflik yaaa.. gak berat, gak ringan juga. Cukup menguras emosi jiwa.... hehehehe... dilebihkan sedikit yaaa?
Tetap semangat membaca... Anda semua hebat sampai episode ini... terima kasih yaaa...♥️