
Setelah beberapa hari di rumah sakit, Claudya dan baby AD diperbolehkan pulang ke rumah.
"Selamat datang, jagoan Papa...", ucap Jo ketika kedua orang tua baru itu memasuki mension mewah mereka.
Claudya tersenyum.
Sambutan ramah dan suka cita dari para pekerja di rumah itu pun tidak ketinggalan beserta keempat orang tua paruh baya juga El dan istrinya serta anak-anaknya.
Rasanya sungguh tidak pantas jika mereka lakukan penyambutan meriah seperti itu mengingat masih ada pria muda yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"Selamat datang, baby AD (dieja ei di)..", sapa para penghuni mension besar itu.
Lama berbincang juga makan siang bersama, Jo beserta kedua asistennya, El, Dady Don serta Ayah Albert kini berada di ruang kerja milik Jo. Tidak lupa David ketua organisasi Black Hunter pun ada di situ.
"Dady,.. Ada yang harus aku sampaikan..", ucap Jo pelan.
Dady Don mendongak menatap Jo yang duduk di depannya.
"Apa? Tampangmu mengatakan terjadi sesuatu... Adikmu?", tebak langsung Dady Don.
Wajar, karena anak buahnya yang biasa mengikuti kemana putra keduanya itu pergi sampai sekarang menghilang, juga nomor handphone putra nakalnya itu tidak aktif beberapa hari ini.
"Dia di serang saat akan ke kampusnya, Dad... Anak buah Dady juga anak buahku tewas di tempat kejadian...", jawab Jo terlihat tenang namun tangannya terkepal kuat.
Tatapan nyalang langsung menghunus ke arah Jo.
Ayah Albert dan El pun dibuat kaget karena pernyataan Jo.
"Maksudmu, Jo.?", tanya Ayah Albert penasaran.
Jo hanya diam melirik sang Dady yang menutup matanya.
"Jo...?", panggil Ayah Albert karena tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.
"Tuan Muda kedua di rawat di rumah sakit yang sama dengan nyonya Claudya, Tuan..", Bryand yang menjawab seadanya.
"Dady pergi dulu...", pamit Dady Don yang langsung berdiri melangkah ke arah pintu keluar ruang kerja Jo.
Jo hanya mengangguk.
"Jangan dulu katakan pada Momy, Dad... Aku takut jantungnya kambuh...", Jo memperingati Dadynya dijawab anggukan.
"Minta anak buahmu mengawal, Dady....", perintah Jo.
"Aku ikut ayahmu...", Albert pun bergegas pergi menyusul besannya.
"Untuk sementara sampai keadaan kembali normal, kakak dan kakak ipar serta anak-anak akan menginap di sini.... Ini bukan permintaan tetapi ini perintah yang tidak bisa kakak bantah... Anak buahku yang akan menemani Kakak serta keluarga apabila mau melakukan sesuatu di luar sana.... Selebihnya jika tidak penting, tetaplah di mension ini...", panjang lebar Jo berujar pada El.
"Baiklah...", jawab El tanpa penolakan.
.
.
.
Cukup lama mereka berada di dalam ruang kerja Jo karena membahas rencana penyerangan kepada kelompok musuh yang membuat adiknya terbaring lemah di rumah sakit.
#FlashBack On
"Bagaimana?", tanya Pria umur empat puluh tahunan.
"Penjagaan mereka diperketat, Tuan.. Sepertinya kita harus menggunakan rencana B.. Mr Rick sangat sulit didekati. Wanita anda itu juga tidak bisa diharapkan... Ia kini lebih sering menghabiskan waktu di apartemen dokter Allan...", jawab sang Asisten.
"Baiklah.... Lakukan...", perintah sang bos. "jika aku tidak bisa menghabisimu, maka keluargamu yang akan ku jadikan sasaran...", batin pria itu.
Konsentrasi pada sang istri membuat Jo sedikit lengah pada keamanan keluarganya, meskipun sang Dady juga memiliki anak buah sendiri, namun masih di bawah anak buah yang dimiliki Jo. Sedangkan The Shadow, organisasi legal yang dimiliki Jo sedang ada perombakan kepemimpinan karena ditemukan kejanggalan pada keuangan serta tindakan beberapa anak buah yang menyimpang sehingga Bryand melakukan perubahan serta pemecatan dan sebagainya.
Alvaro pun dibuat sibuk mengawasi perusahaan mereka serta ikut membantu Bryand dalam menyeleksi anggota The Shadow.
Dewi Fortuna ternyata berpihak pada para musuh Jo.
Di hari yang sama, informasi mengenai kelahiran sang pangeran di keluarga Jo Fernand terdengar oleh para bedebah itu juga mata-mata yang ditugaskan untuk mengawasi gerak-gerik keluarga Jo melaporkan tentang aktivitas sang tuan muda kedua di keluarga Jo Fernand.
"Serang adiknya... Kirimkan anak bau kencur itu di rumah sakit milik Fernand. Aku yakin, istri dari pria brengsek itu akan dibawa ke sana...", perintah atasan.
Jadilah serang itu.
ckitttt...
Bunyi rem terdengar menggema di jalanan sepi. Tuan Muda kedua dari keluarga Jo adalah tipe periang, namun kadang ia sangat suka suasana sepi, kadang ia suka suasana ramai. Ia biasa keluar beraktivitas menggunakan kendaraan roda dua kesayangannya kalau tidak hujan, dan jalan yang biasa dilewati adalah jalan yang cukup sepi, tetapi lebih cepat sampai ke kampusnya. Menghindari macet jika pagi hari.
Pucuk dicinta ulampun tiba.
Matanya menyipit.
"Sial....", geramnya karena hampir saja ia menabrak kendaraan yang berhenti tiba-tiba di depannya.
Pintu mobil terbuka.
Keluarlah empat orang berbadan besar.
"Kalian mau apa?", tanya pria muda itu masih di atas kendaraan roda duanya.
"Turun atau kami paksa?", bukannya menjawab, salah seorang dari keempat pria di depannya bersuara.
"Kalau saya tak mau, bagaimana?", jawab pria muda itu.
"Maka kami paksa... Serang dia...!", perintah orang yang sama.
Dengan cepat ketiga orang itu menyerang bersamaan.
Ia melompat dari kendaraan besarnya lalu mengarahkan tendangan berputar mengenai salah seorang pria.
Bugh... Telak. Telapak kaki bersepatu mahal menghantam tepat di rahang salah satu orang musuh. Langsung terkapar dan pingsan.
Melihat temannya terkapar, mereka samakin geram.
"Cuma segitu? Hahahaha.. Bayi pun bisa mengalahkan kalian...", ejek sang tuan muda kedua.
"Brengsek....", maki kedua orang msuuh bersamaan.
Perkelahian terjadi begitu sengit.
Tiga melawan satu orang.
Di tempat tidak jauh dari situ, anak buah bayangan Jo yang ditugaskan untuk mengawal sang tuan muda kedua dibuat kewalahan, karena banyaknya musuh yang mereka hadapi, begitu juga anak buah Dady Don yang sedang berkelahi dengan banyaknya musuh. Mereka dihadang di jalan ketika sedang mengikuti tuan muda kedua mereka.
Pria muda itu kelelahan. Ia menarik napasnya panjang.
"Mereka tidak mudah dikalahkan.. Aishh....", gerutu sang tuan muda kedua.
"Hahahha.. Tamat riwayatmu hari ini...!", teriak salah seorang musuh yang melihat sang tuan muda sudah kelelahan.
Belum sempat pria tampan itu beristirahat dengan baik, ia sudah diserang tiba-tiba secara bersamaan.
Bugh....
Pukulan telak tidak bisa ia hindari sehingga mengenaik ulu hatinya.
uhuk..
Rasanya yaaaaa bisa kalian bayangkan.
Ia harus bertahan. Tidak mau mati konyol di sini.
"Bangsat....", maki pria muda itu.
Ia membabi buta menyerang ketiga orang di depannya hingga salah satu langsung terkapar karena pelipisnya dihadiahi kepalan tangan kanan.
Melihat temannya sudah tertidur di jalan, dan tinggal mereka berdua, akhirnya mereka mengeluarkan senjata. Satu senjata api, satu senjata tajam berupa pisau sangkur.
"Sial... Aku tidak membawa senjataku.. Aishhhh.. Di mana anak buah Dady....", gerutunya.
"Hahahaha.. Habislah kau anak tampan...", salah seorang menodongkan senjata api tepat di wajahnya.
Pelatuk belum ditarik, tapi tuan muda kedua itu sudah langsung segera menghindar cepat dan menyerang satu orang yang lainnya.
srekkk...
Leher sang musuh langsung mengeluarkan darah segar dari senjata yang ada di tangannya sendiri karena ulah tuan muda.
"Bajingan.....", maki pria pemilik senjata api melihat temannya sudah terkapar.
Kini tinggal mereka berdua.
Seringai di bibir sang tuan muda terlihat.
dor...
"Akh....", rintihan terdengar dari pria muda itu.
Tembakan yang dilesatkan tiba-tiba mengenai perutnya.
"Hahahahha.. Kau mati hari ini....!", teriak pria kekar di depannya.
Tembakan tidak berasal dari pria itu, namun dari seseorang yang bersembunyi di semak-semak.
Anak kedua di keluarga Fernand itu merintih. Pandangannya berkunang namun ia tetap memaksakan diri berlari ke arah mobil yang mengahalangi jalannya.
Tembakan ulang dilesatkan namun berhasil dihindari.
Pria di belakangnya mencoba mengejar, namun kalah cepat karena pisau yang ada di tangan tuan muda kedua tertancap telak di dadanya.
Tewas.
Keempat orang yang menghalanginya sudah tewas namun ia juga kehilangan darah.
Tembakan terus terdengar mengenai badan mobil.
Pria muda itu berusaha mengendarai kendaraan musuh, tetapi karena sudah hampir kehilangan konsentrasi dan posisi kendaraan roda empat melaju kencang, akhirnya ia kecelakaan. Menabrak pagar pembatas jalan dan kendaraan yang ia kendarai terguling menghantam beberapa kendaraan lain yang melintas di situ.
Darah segar mengucur dari kepalanya.
Musuh yang mengejarnya melihat itu langsung bergegas ke arah mobil.
"Keluarkan dia...", perintah salah seorang musuh yang merupakan kepala kelompok penyerangan.
Mereka mengeluarkan pria muda yang kehilangan kesadaran dari dalam mobil lalu segera menusuk perutnya di sisi yang lain.
Dua kali tusukan.
"Buang tubuhnya di rumah sakit milik keluarga Fernand itu...!", perintahnya lagi.
Anak buahnya melakukan apa yang disuruh.
Dan begitulah..
#FalshBackOff