Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 68



"Aku harus bertemu klien di restaurant xxx... Hanya sebentar saja... Oke?", izin Claudya yang masih dalam belitan tubuh Jo.


"Kamu sudah masuk masa cuti, Cla... Biarkan saja Jeny yang pergi atau sekretarismu itu... Kamu di rumah saja.. Aku kuatir terjadi apa-apa..", balas Jo lembut.


"Tenang saja.. Ada pengawalmu yang selalu berada di dekatku... Aku akan baik-baik saja, hm.....", Claudya meyakinkan Jo agar mengizinkannya pergi.


"Biar aku antar, yaaa?", pinta Jo.


"Tidak usah.. Kamu sibuk di kantor kan?".


"Tapi...", Jo belum selesai melanjutkan kalimatnya.


"Aku akan baik-baik saja.. Percaya padaku..!", rayu Claudya dengan mengecup bibir prianya.


Jo tersenyum seraya menganggukkan kepalanya seolah kecupan tadi adalah bujuk seorang ibu kepada anaknya.


"Kita mandi?", ajak Jo.


Kini giliran Claudya yang mengangguk.


Pria dan wanita, pasangan suami istri itu pun beranjak dari tidurnya dengan tubuh polos mereka menuju kamar mandi.


Malu?


Tidak ada lagi istilah malu dalam hal telanjang dan menelanjangi.


Pasangan halal yang hampir setiap hari saling menikmati tubuh masing-masing. Melihat, menyentuh, mengecup, dan sebagainya sudah dilalui. Saling memuja yang ada.


"Kamu mulai buncit, Rich....", goda Claudya ketika mereka berada di dalam bathtub yang sama di mana Cla duduk di atas pangkuan suaminya menghadap pria itu.


"Aku sudah jarang olahraga. Pekerjaan lagi banyak-banyaknya...", Jo menjawab.


Claudya terkekeh.


"Bukannya kamu berolahraga hampir setiap hari bersamaku?", rayu Claudya.


"Jangan merayuku, Cla.. Kau tidak rasakan kah kalau di bawah ini sudah berdiri tegak?", tanya Jo yang suaranya mulai berat.


"Hahahahahahahhaah..", tawa Claudya pecah.


Suaminya itu tidak bisa sedikit digoda. Napsunya terlalu tinggi. Kadang Claudya kewalahan, namun lebih banyak kesenangan.


Tongkat sakti laki-laki itu digenggam sang istri dan dituntun untuk menerobos liang yang hangat di bawah sana.


jlebbbb.


Jo membola. Ia yang tak berencana menusuk sang istri dengan tongkatnya dibuat menggeliat.


"Harus ditidurkan, bukan?", tanya Claudya. Lebih tepatnya menawarkan.


Jo seperti balita yang menganggukkan kepalanya. Presdir JF Group seakan hilang di depan mata Claudya diganti pria hangat yang bertingkah seperti bocah.


Hamil besar tidak menyurutkan semangat wanita itu. Ia sadar, jika Jo adalah pria yang diincar banyak kaum hawa. Bukan hanya rakyat biasa, tetapi artis, model, pebisnis juga sangat menginginkan Jo. Wanita itu tidak rela jika apa yang ia punya harus dimiliki bersama, sehingga sebisa mungkin membuat Jo tetap nyaman ketika berada di dekatnya.


Air di dalam bathtub itu bergelombang ria hingga tumpah ke luar.


"Terushhhhh... Begituuuu..", racau Jo yang berposisi di bawah.


Pamanasan? Hah... Tak perlu.. Jika sudah berdiri, segera dituntaskan. Sakit kepala nanti jika tidak.


"Richhhh...", Claudya bersuara mendayu.


"Pelan-pelan, Sayang.... Ada baby kita...", ujar Jo memperingati Claudya. Semangat boleh, cuma yaa jangan terlalu. Ada kehidupan yang harus dilindungi di sana.


"Gantian?", tawar Jo.


Claudya mengangguk.


Posisi berpindah ke pinggiran kolam mini kamar mandi itu.


Membelakangi Jo dengan kedua tangan bertumpu di pinggiran bathtub, wanita itu siap diserang dari belakang.


"Akhhhhhhh....", teriakan Claudya menggema di dalam kamar mandi.


"Yaaaa, begituuuuhhhhh... Shhhhhhh...", desis Cla.


Semangat empat lima, namun ya tidak kuat-kuat amat hentakan dari Jo.


Pagi yang panas di ruangan yang dingin banyak air.


Cepat saja. Tidak lama seperti biasa. Karena waktu sedang memburu.


Di atas nakas telepon Jo sudah beberapa kali berdering. Orang yang menelpon siapa lagi kalau bukan Bryand.


"Cihhhh... Lama sekali mereka bangun tidurnya? Ini hampir jam tujuh... Wahhhh.. Benar-benar menguji kesabaran majikan satu ini...", gerutu Bryand yang terdengar oleh mbok Minah.


"Sabar atuh, Den Bryand..", asisten rumah tangga yang sudah seperti ibu kedua bagi Richard Jo Fernand itu memberi pengertian.


"Ada pertemuan penting soalnya, Mbok....", jawab Bryand yang tersenyum kepada Mbok Minah.


"Palingan nyonya muda yang bantuin itu es batu buat keluarin sesuatu....", ujar Bryand yang membuat mbok Minah tertawa. Wanita tua itu paham apa yang disampaikan Bryand. Meski ia tidak menikah, tapi ia tahulah urusan biologi yang tipis-tipis.


"Aku mau keluar, babyhhhhh...", ucap Jo berat.


Claudya dengan cepat berbalik langsung duduk di hadapan Jo. Lebih tepatnya berjongkok lah.


Tongkat sakti dipegang, dilumat lalu kembali di pegang dengan gerakan maju mundur.


"Akhhhhhhhh.......", air mancur keluar mengenai wajah sang istri.


Mereka berdua lalu tersenyum.


"Terima kasih, baby...", tulus Jo berucap sambil membantu Claudya berdiri.


Mandi pagi yang terasa cukup lama.


"Pagi-pagi kok muka ditekuk. Tidak dapat jatah pagi ya dari istri?", tanya Jo yang juga melirik Jeny.


Ada Bryand, pasti ada Jeny. Suami istri yang berprofesi sebagai asisten pribadi itu tentu harus datang bersamaan, karena tuan dan nyonya akan berangkat ke tempat masing-masing.


"Huffffftttt...", napas Bryand terdengar.


"Apa? Mau marah? Kasihannnn...", Jo menggoda Bryand.


"Jangan menggodanya, Rich.. Mukanya memerah itu... Ayo Jen....!", ajak Claudya meninggalkan kedua pria berstatus suami itu.


"Kita ada pertemuan penting, Tuan... Bisa-bisanya anda kesiangan...", gerutu Bryand.


"Ehhhh... Bukan kesiangan, tapi keasikan...", jawab Jo yang langsung masuk ke dalam kendaraan pribadinya disupiri oleh Bryand.


"Berapa bulan istrimu?", tanya Jo.


"Empat jalan lima bulan, Tuan...", jawab Bryand yang fokus menyetir.


"Ohhhh.. Mau hadiah apa nanti lahiran?", tawar Jo.


"Apa saja yang dikasih saya pasti terima, Tuan...", sahut Bryand.


"Baiklah...", seraya diikuti oleh anggukan Jo. "Ada berita apa?", tanya Jo lanjut.


"Alvaro sudah menemukan dalang kerusuhan pembangunan kita di Bali, Tuan...", lapor Bryand.


"Suda diurus?".


"Alvaro menunggu perintah dari Tuan..", jawab Bryand.


"Selidiki dalang sesungguhnya... Jika ia masih diam, hilangkan jejaknya.. Kita masih punya banyak cara menemukan dalangnya...", perintah Jo diangguki oleh Bryand.


Bukan tidak mau lagi berurusan membunuh tetapi berbahaya jika para hama dibiarkan tumbuh subur. Begitu pikirnya.


.


.


.


.


Di restaurant XXX.


"Maaf, jika sudah lama menunggu...", ucap Claudya ketika mereka sudah berada di private room restaurant.


"Saya juga baru sampai, nyonya Claudya...", jawab wanita yang ditemui Claudya sambil menyunggingkan senyuman.


"Kita bisa mulai sekarang?", tanya Claudya.


Wanita yang berhadapan dengan Claudya mengangguk.


Segala macam bahan untuk meeting di keluarkan oleh kedua asisten dari dua wanita elegan itu.


Pertemuan berlangsung sekitar satu jam lebih karena banyaknya rencana, perdebatan, juga masukan dari keempat orang yang berpartisipasi dalam meeting tersebut.


"Anda sudah mau melahirkan, tetapi masih sangat niat bekerja? Apa lagi suami anda kan kaya raya?", tanya Cantika. Ya. Wanita yang berada di hadapan Claudya sekarang adalah Cantika Swarani Wijaya.


"Suami saya tidak keberatan dan anak saya tidak rewel di dalam perut mamanya, ya jadi beginilah...", jawab Claudya sambil tersenyum.


"Saya baca dibeberapa artikel bahwa ketika istri sedang hamil, kemungkinan akan mencari pelampiasan ke lain wanita soalnya dalam hubungan ranjang tidak lagi seperti biasanya ketika tidak sedang mengandung..", pancing Cantika.


"Hahahahhahah.. Anda terlalu termakan dengan sebuah artikel murahan. Itu tergantung sang istri yang sedang mengandung bagaimana membuat suami kita tetap nyaman dalam berhubungan...", jawab Claudya.


"Hahhahahahhaha... Mungkin anda benar... Namun anda tidak kuatir jika artikel tersebut benar adanya?", semakin Cantika memancing wanita elegan di depannya.


"Kepercyaan. Kuncinya cuma itu.. Sepertinya anda tertarik dengan kehamilan?", tanya Claudya.


Wajah Cantika seketika berubah tegang.


"Emmmmm.. Saya juga mau menikah, ada baiknya bertanya pada yang sudah berpengalaman kan?", jawab Cantika beralasan. "Menikah dengan suamimu nanti.. hahahhaahah", batin Cantika menyeringai.