Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 17



"Jooooooooo", Cla bergumam pelan kemudian tidak sadarkan diri karena benturan.


Sedangkan Jen dan Pengawal anak buah Bryand masih setengah sadar. Lalu Jen dengan sisa tenaganya, mencoba melepas seat belt yang melingkar di tubuhnya juga tubuh majikannya.


Pengawal yang menjadi supir tersebut juga berusaha melepaskan diri dari sabuk pengaman, kemudian berpindah ke kursi belakang guna membantu Jen mengeluarkan majikan mereka.


"Cepat, bawa Nyonya muda pergi...!", perintah pengawal tersebut.


"Bagaimana dengamu...?", sahut Jen.


"Jangan banyak bicara....!", tegas sang pengawal kemudian bersiap dengan pistolnya karena ia sempat melirik ke arah depan ada beberapa orang yang sedang menuju kendaraan mereka dengan memegang pistol di tangannya.


Jen berusaha sekuat tenaga menyerat Cla mengindar dari kendaraan.


Beruntung di saat itu sedang ramai, sehingga ia dapat mengelabuhi beberapa orang yang menuju ke arah mereka sambil meminta bantuan pada orang-orang yang berada di sekitar situ.


"Tolong bantu temanku...!", pintanya.


dor-dor-dor...


Tiga kali suara tembakan menggema. Tetapi sebelum itu juga, pengawal yang diperintahkan menjaga sang majikan terus membabi buta menembak ke arah komplotan penyerangan.


"Sial. Segera bawa temanku pergi...!", perintah Jen, kemudian mengandalkan sisa tenaganya menghalangi komplotan penjahat.


Cla dibawa orang asing dengan kecepatan penuh menggunakan mobilnya ke arah rumah sakit. Sedangkan Jen, bertarung melawan beberapa orang yang ingin mengejar mobil itu.


Asisten kepunyaan Cla tersebut berusaha mengulur waktu, agar mobil yang membawa temannya semakin menjauh, hingga pukulan mendarat telak di wajahnya. Seketika dia pingsan.


Sementara Jev, pengawal Cla sudah kehabisan peluru dan mendapat tembakan tepat di dada dan seketika merenggang nyawa.


"Lapor, Tuan. Istrinya telah di bawa oleh warga...!", lapor salah satu anak buah pada orang yang menyuruhnya.


"Sial... Cari sampai dapat...!", perintah tegas di balik telepon.


"Baik. Tetapi apa yang kami lakukan dengan perempuan yang bersama wanita tuan Rich ini, tuan?", tanya sang pelapor lagi.


"Sandera dia...! Kemudian lakukan apa saja sesuka kalian pada wanita itu...! Tapi jangan membunuhnya...!", ucap sang majikan.


"Baik, Tuan...!", jawab anak buahnya lalu pergi dari TKP membawa Jeny yang sedang tidak sadarkan diri.


********


Di sisi Jo.


"Lapor Tuan, mobil Nona Cla kecelakaan di jalan...!", ucap Bryand ketakutan.


"Apa? Bagaimana keadaannya sekarang?", tanya Jo panik sambil berjalan ke luar kamarnya diikuti Bryand.


"Nona tidak ada di tempat saat anak buah kita sampai... Begitu pun asistennya, Tuan...!", lapor Bryand.


"Pengawalmu?".


"Tewas dengan luka tembak di dada...!", ucap Bryand.


"Sial.... Akhhhh..", teriak Jo menggema di lorong hotel. "Temukan Cla, sebelum laki-laki itu menemukannya...!..", perintah Jo.


"Baik, Tuan...!", sahut Bryand kemudian berjalan menuju lobi hotel dan pergi meninggalkan hotel bersama bosnya ke TKP.


Telepon Jo berdering....


kring,kring,kring..


Jo mengernyit, karena id pemanggil diprivasi.


"Hm..?", ucap Jo ketika menerima telepon itu.


"Halo, Mr. Rick....", ucap pria di seberang telepon.


"Siapa?", tanya Jo heran.


"Akh, lupa, aku belum memperkenalkan diri. Itu tidak baik untuk menjalin sebuah bisniskan?".


"Katakan. Aku tidak punya waktu bermain-main..!", katus Jo.


"Santai, Mr. Rick... Aku hanya mau mengambil sesuatu darimu....!".


"Aku tidak pernah mengambil apapun yang bukan milikku jika tidak diganggu...!".


"Baiklah. Hmmmm, Stev.... Ku rasa, kau kenal...", ucap pria di seberang dengan santai.


"Stev? Aku mengenal banyak Stev..", sahut Jo.


"Stev Gomez...".


Jo kemudian mulai paham apa yang disampaikan oleh pria di seberang sana.


"Rupanya kau...? Paul da Gomez?", ucap Jo menyeringai.


"Ternyata kau mengingatnya, kawan...!"


"Bagaimana aku tidak mengingatnya? Aku yang mencungkil sendiri jantungnya lalu menjualnya dengan harga murah...".


"Sial kau. Brengsek...!", teriak orang di seberang telepon.


"Jadi kau yang menyerang wanitaku hari ini?", tanya Jo santai. Padahal hatinya sedang tidak baik-baik saja.


"Itu baru permulaan... Bersyukur wanita itu sudah dibawa pergi sebelum anak buahku mendapatkannya...!", jawab Paul.


"Anak buahmu tidak ada apa-apanya...!", remeh Jo semakin memancing kemarahan Paul.


Jo kemudian mematikan telepon sebelah pihak, karena tidak ingin konsentrasi mencari istrinya dibuyarkan.


"Lapor, Tuan. Anak buahku sudah menemukan Nona Cla...!", ucap Bryand.


"Kita ke sana... Bersihkan TKP itu...!", perintah Jo.


Rumah sakit St. Thomas Aquinas.


"Di IGD, Tuan....!", jawab Bryand.


Jo tidak menyahut, tetapi dia terus menyusuri lorong rumah sakit hingga sampai di IGD.


"Mr. Rick...!", sapa tiga orang anak buah Bryand.


"Hm. Bagaimana?".


"Istri anda masih di urus oleh dokter, Mr.", sahut salah satu anak buah.


"Orang yang membawanya ke sini?", tanya Jo lagi.


"Itu dia, Tuan...!", jawab anak buah yang lain sambil menunjuk sebuah bangku.


Jo berjalan mendekat ke pria tersebut.


"Halo.. Terima kasih sudah membawa istriku ke sini....!", ucap Jo. (Anggap saja berbicara menggunakan bahasa Inggris ya Gaessss...)


"Oh iya Tuan, sama-sama...", sahut orang tersebut. "Tetapi, teman perempuannya tadi.. Apakah baik-baik saja?", tanya orang itu.


Jo yang seakan paham arah pembicaraan langsung mengernyit heran.


"Dia tidak datang bersamamu?", tanya Jo.


"Tidak, Tuan. Dia hanya menyuruhku membawa istri anda ke sini...!", jawab sang penolong.


"Oh baiklah, terima kasih sekali lagi. Aku yakin dia baik-baik saja...!", ucap Jo kemudian memberi kode kepada Bryand untuk mendekat.


"Sisir area kecelakaan. Cari Jeny...!", perintah Jo sambil berbisik pelan kepada Bryand.


"Permisi, aku tinggal sebentar,...", ucap Jo meninggalkan orang itu, karena dokter yang menangani istrinya keluar dari ruangan IGD.


"Bagaimana keadaan istri saya?", tanya Jo to the point.


"Hanya memar di keningnya karena benturan, tulang di tangan kirinya retak, serta ada pembengkakan di area paha kanannya", jawab dokter soal kondisi Cla.


"Tetapi dia akan baik-baik saja kan", kuatir Jo.


"Dia akan pulih beberapa pekan. Untuk satu Minggu ini, biarkan dia menginap di rumah sakit ini", ucap sang dokter.


"Baiklah. Terima kasih...".


Pintu ruangan IGD kembali terbuka, ranjang pasien yang didorong oleh beberapa perawat keluar untuk memindahkan Cla ke ruang rawat.


Jo mengikuti mereka hingga masuk ke ruangan VVIP bougenvile 09 rumah sakit.


Setelah perawat dan dokter ke luar dari kamar itu, Jo menatap Cla dengan miris. Maaf, kau begini karena aku..!", sesal Jo dalam hati.


Jo tidak beranjak dari situ.


Beberapa jam pingsan, Cla akhirnya sadar.


"Kau sudah sadar?", tanya Jo pelan.


"Hmmmm. Di mana?", Cla balik bertanya.


"Di rumah sakit.. Kau kecelakaan tadi..", ucap Jo.


"Hhhmmmmm? Jeny?", Cla kembali menelisik di ruangan itu tidak menemukan orang yang dicarinya.


"Dia sedang mengurus sesuatu. Kau istirahatlah lagi. Aku akan panggilkan dokter..", kemudian Bryand memperbaiki selimut Cla, mengecup keningnya lalu berjalan ke luar kamar untuk menghubungi Bryand.


"Aneh. Padahal kalau mau panggil dokter, tinggal tekan tombol ini.. Dasar... Mungkin dia pikun", batin Cla sambil terus mencoba mengingat kejadian yang baru saja di alami.


Beberapa saat di luar, Richard Jo masuk kembali diikuti oleh dokter yang menangani Cla.


"Apa yang nona rasakan?", tanya sang dokter ketika memeriksa tubuh Cla.


"Hanya pusing, dokter. Tetapi tangan kiri dan kaki kanan saya agak tidak nyaman...", adu Cla pada dokter.


"Pusing karena efek obat, Nona.. Terus, tangan kiri anda di gips, karena terdapat retakan di tulang, kaki kanan anda terbentur dengan kursi mobil hingga menyebabkan memar dan bengkak", ucap Dokter. "Tetapi anda akan pulih beberapa Minggu ke depan...", dokter tersenyum kemudian pamit untuk memeriksa pasien lainnya.


"Jangan katakan pada ayah dan ibu ku... Mereka pasti akan sangat sedih...!", larang Claudya.


"Tidak... Tetapi Dady ku tahu soal ini...!".


"Ha? Bagaima....na?", Cla terbata.


"Anak buah dadyku menyusup di antara anak buahku, jadi informasi apapun mengenai aku atau kamu, pasti akan sampai ke telinga pria tua itu...!", sungut Jo karena merasa jengkel, setiap tindakannya diketahui oleh Dady, kecuali saat dia dan Cla menghabiskan malam di hotel dan apartemennya.


"Jen?", tanya Claudya, karena penasaran asisten, teman, sahabatnya itu belum menunjukan batang hidungnya.


"Sudah ku bilang, dia mengurus sesuatu.. Aku yang menyuruhnya...", jawab Jo karena belum mau memberitahukan yang sebenarnya.


"Baiklah. Berapa hari aku di sini?".


"Kata dokter seminggu...! Aku akan mengurus sesuatu dulu. Di luar ada lima orang anak buahku... Asisten keduaku juga akan sampai, jadi kamu istirahat dulu. Butuh sesuatu panggil mereka..", ucap Jo.


"Baiklah, tetapi handphoneku?".


"Rusak karena kecelakaan. Aku akan beli untuk mu setelah urusanku selesai", jawab Jo lalu mengecup kening serta bibir sang istri. "Aku pergi..", pamit Jo.


"Hm..", Cla hanya berdehem lalu menutup matanya karena efek obat yang ia minum.


"Bagaimana?", tanya Jo langsung ketika sudah berhadapan dengan Bryand di depan pintu kamar.


"Jeny disekap Paul dan anak buahnya. Tetapi aku sudah menyuruh anak buahku untuk mengawasi markas mereka...", lapor Bryand.


"Kita pergi. Aku ingin mencungkil bola matanya, serta ginjalnya untuk di jual...", seringa Jo.


Mendengar ucapa Jo, para pengawal bergidik ngeri.


Tuan Rick sangat kejam.....