
Jo menggusar rambutnya frustrasi.
"Bagaimana lagi...? Ahhh, sial... Seharusnya si Frank itu jangan ku bunuh lebih dulu.... Brengsek.....", umpat Jo lalu keluar dari kendaraan mengikuti istrinya menuju kamar mereka.
tok.. tok... tok..
"Claudya... Buka...", Jo menggedor pintu kamar yang dikunci istrinya dari dalam.
"Jangan menggangguku, Tuan Jo....", balas Claudya berteriak dari dalam kamar.
"Aku mau ganti baju...", teriak Jo dari luar.
"Ganti di kamar lainnya.. Jangan menggangguku....!!", lagi Claudya membalas dengan berteriak.
Adegan itu disaksikan oleh pelayan yang masih berada di rumah besar itu.
Jo kikuk karena tingkahnya dan Claudya diperhatikan.
Kini pelan-pelan Jo mengetuk lagi. Namun di dalam tidak memberi tanggapan.
Emosi? Tentu.. Jo sangat-sangat emosi. Hanya ia lebih memilih memendamnya lalu berusaha membujuk Claudya dengan kalimat-kalimat lembut seolah mereka sedang bertengkar biasa.
Para pelayan yang menyaksikan hal tersebutpun tersenyum. Namun, tiba-tiba.
bughhgh....
Sebuah koper kecil terbang mengenai wajah Jo. Seketika Jo sedikit melangkah mundur akibat serangan itu.
"Kamu jangan tidur denganku.. Pergi.. Tidur di kamar lainnya..!!.", ucap Claudya kemudian menutup pintu kamar lagi.
Jo menatap sengit Claudya. Lalu menoleh ke arah para pelayan yang masih menjadi penonton pertarungan tuannya itu.
"Apa...? Sana... Kembali ke paviliun...", usir Jo karena malu bercampur marah.
Mereka semua tiba-tiba langsung cepat membubarkan diri karena takut tuannya mengamuk lebih dari itu.
.
.
.
.
Di sisi lain, pemilik Club sudah ditahan oleh Alvaro dan Bryand di markas Black Hunter.
Mereka berdua bekerjasama menginterogasi pemilik Club tersebut meskipun sedari tadi masih diam seribu kata.
"Katakan....! Kau bekerja untuk siapa?", tanya Alvaro dengan geram karena mereka tidak mendapatkan jawaban apa-apa sebelumnya.
Laki-laki itu diam.
"Sial... Dia akan terus bungkam..", ucap Bryand.
"Hubungi Tuan Jo...", Alvaro memberi saran.
Akhirnya Bryand menghubungi tuannya untuk segera ke markas. Biar Jo yang menyiksanya.
"Bagaimana?", tanya Jo santai meski di dalam hatinya tersimpan rasa kesal pada istrinya namun dia sangat pintar menyembunyikan perasaanya.
"Dia tidak mau berbicara, Tuan...", jawab Alvaro.
"Wahhhh, sepertinya kalian berdua sudah tua.. Skill menginterogasi lawan kalian melemah, ya..??".
"Eemmmm, tentu tidak, Tuan...", jawab Bryand kikuk.
"Lalu? Aku harus turun tangan untuk mendapatkan jawaban dari si lelaki gemulai ini?", tanya Jo marah.
Alvaro dan Bryand saling menatap lalu mengedikan bahu mereka berdua.
Pria yang katanya gemulai itu mengernyit heran. Ia melirik Jo.
"Apa kau lihat-lihat? Mau ku congkel matamu?", tanya Jo ketika menyadari pria yang terikat di kursi penghakiman meliriknya.
Pria yang diketahui bernama Max itu pun tersenyum penuh arti.
"Baiklah, mari kita bermain... Ambilkan pencabut kuku itu... Sepertinya kuku cantiknya ini perlu sedikit perubahan..", perintah Jo pada Alvaro.
Jo menyeringai ketika melihat raut wajah ketakutan.
"Tadi kau tersenyum, sekarang kau takut... Pilih mana, berbicara atau kuku cantikmu jadi sasaran..?", tanya Jo.
Max diam dengan keringat yang sudah berucucuran.
"Kau tidak tahu berurusan dengan siapa?", lelaki yang jadi hakim itu bertanya.
"Baiklah, kalau kau tidak mau berbicara, maka jangan salahkan aku...!", ucap Jo lalu dengan cepat mencabut kuku dari salah satu jari telunjuk milik Max.
"Aaaaaa.........Siallll, brengsek.......!", maki Max pada Jo.
"Sekarang berbicara...", perintah Jo dengan menekan setiap kalimatnya.
Namun lagi-lagi Max diam dengan ringisan.
Jo menjadi sangat marah..
Pria itu dengan cepat mencabut semua kuku pada jemari tangan Max tanpa membiarkannya untuk berteriak sedetikpun.
"Gantung dia dengan kepala terbalik...!", lagi Jo memerintah pada anak buahnya yang ada di situ.
Mereka bergegas menggantung Max, dengan tangan terikat ke belakang.
"Tutup kepalanya dengan kain basah...", lagi Jo memerintah.
Mereka melakukan seperti apa yang di perintahkan Jo.
"Kau diam aku anggap siap mati untuk tuanmu...", ucap Jo.
Lalu Jo pergi dari tempat itu menuju ruangannya yang lain.
"Biarkan ia tergantung sampai mati...!", geram Jo sebelum melangkah lebih jauh meninggalkan ruangan penyiksaan.
Kedua asisten tuannya itu mengikuti dari belakang.
"Dalam sebulan kalau kalian belum menemukan dalang dari penyerangan anak buah kita yang mengawal istriku, maka kalian yang aku tempatkan di ruang penyiksaan...", ancam Jo pada Alvaro dan Bryand.
Mereka berdua mengangguk lalu pergi dengan ketakutan, karena Jo lebih kuat sekalipun mereka berdua menyerangnya bersamaan, tetapi tentu tidak mungkin. Mereka berdua tidak akan berani melakukan hal bodoh itu terhadap tuannya.
"Kita selidiki ini... Retas handphone milik Lusia, segala media sosialnya, soal Jeny, aku sendiri yang akan menyelidikinya...", perintah Bryan pada Alvaro.
"Apa yang kau pikirkan sama seperti yang aku pikirkan?", tanya Alvaro, karena ia sudah mencurigai kedua anak buah nyonya mudanya, namun urung dilakukan penyelidikan.
Mereka bekerja sesuai dengan rencana.
Alvaro kembali ke ruangannya yang di dalnya berjejer alat-alat teknologi canggih milik Black Hunter, sedangkan Bryand menuju apartemen Jeny untuk mencari tahu hal yang disembunyikan kekasihnya.
.
.
.
Lucius menetao di rumah sakit.
Batangnya harus dirawat untuk beberapa hari.
"Siapkan sepuluh anak buah kita yang terlatih. Tangkap wanita itu saat lengah... Ingat, jangan sampai Richard Jo tahu bahwa kita menyerang istrinya", perintah Lucius pada asisten kepercayaannya.
"Wanita sialan.. Ia akan bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya padaku...!", gumam Lucius kesal.
Asistennya melakukan apa yang diperintahkan.
Mendapat informasi detail soal Claudya tidaklah sulit, karena bukan hanya Black Hunter yang punya teknologi canggih, tetapi Centinental juga punya.
"Bagaimana kalau kita menyerang perusahaan cabang JS GROUP di Samarinda, Tuan?", saran asisten kepercayaan Lucius setelah memberikan perintah kepada anak buah terlatihnya untuk mengintai Claudya di kediaman Jo.
Lucius menaikan kedua alis matanya.
"Cabang perusahaan itu cukup besar, lalu kita meminta perusahaan kita yang ada di Singapura untuk mengajukan kerjasama dengan JS Group...", lanjut asisten kepercayaan Lucius.
"Maksudmu, wanita itu akan ke Samarinda, sedangkan Lee El yang akan mengurusi kerjasama perusahaan kita di Singapura?", tanya Lucius menebak maksud asistennya.
"Tentu... Aku akan mengaturnya agar nona Claudya yang akan mengurusi cabang JS Group di Samarinda...", sahut sang asisten.
Lucius menyeringai.
Sarang sang asisten sangat pintar, namun mereka tidak berpikir bahwa masih ada Jo yang akan melindungi istrinya dari jauh.
"Bagaimana dengan Richard Jo?", tanya Lucius lanjut.
"Kita bayar beberapa organisasi bawah tanah untuk menyerang markas mereka, sehingga pikiran Tuan Jo terbagi...", saran asistennya itu lagi.
"Bagus.. Laksanakan selama sebulan ini.. Persiapkan dengan matang agar rencana kita berhasil...!", perintah Lucius.
Asisten itupun mengangguk dan memohon izin melakukan seperti apa yang telah direncanakan.
"Lee Claudya Gitta... Tunggu pembalasanku. Kau akan merintih di bawahku nanti....", batin Lucius dalam ketidakberdayaannya di rumah sakit.
#
#
#
Rencana yang disusun oleh Bryand dan Alvaro dilaksakan malam itu juga.
Alvaro yang berkutat dengan teknologi retas, Bryand yang berkutat dengan peluh bersama Jeny hanya untuk mendapat jawaban dari kekasihnya.
Mereka bekerja sangat giat, sehingga Alvaro kemudian menyeringai setelah mendapatkan apa yang ia cari.
"Hallo, Tuan Bry, silahkan kembali ke markas, saya sudah menemukan dalangnya..", lapor Alvaro.
"Baiklah, akhhhh.. Sebar, saya akan selesai sebentar lagi...", jawab Bryand dari seberang karena ia masih berbagi peluh.
"Cepatlah. Jangan terlalu menanam, nanti berbuah...", kelakar Alvaro.
"Berbuahpun tidak apa-apa.. Aku siap menuai...", jawab Bryand yang kemudian mematikan panggilan dan terus memompa maju mundur bersama kekasihnya Jeny.
"Cepat, Bry... Lebih cepat sayang......", suara Jeny terasa berat.
"Seperti permintaan anda, tuan putri....", Bryand menyeringai di belakang Jeny karena posisinya dari belakang menyodok.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...