Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 70



"Maafkan saya, Nona...", Sonya berucap tulus sambil menundukan kepalanya.


"Hufsss... Pergi sana...!! Aku mau sendiri..", usir Cantika yang sedang menangis di ruangan keluarga rumahnya.


Sonya pergi dari rumah itu dengan menarik napasnya berat.


Belum jauh mengendarai mobilnya keluar dari rumah besar milik majikannya, tiba-tiba saja sebuah kendaraan mewah berjenis Lamborghini Aventador menghalangi jalannya.


Pria campuran Indonesia Spanyol keluar dari mobil mewah itu.


tok-tok-tok.


Kaca mobil Sonya diketuk dari luar.


Gemetaran, pasti. Wanita dalam keadaan begitu. Jalanan sepi perumahan elit membuat perempuan muda yang tampilan biasa saja itu semakin berkeringat dingin.


"Permpok? Akkkhhh, tidak mungkin.. Tampan sekali....", meski dalam keadaan gemetar, wanita itu bisa-bisanya memuji pria yang ada di luar sana.


Ketukan kaca berulang-ulang.


"Masa mau merampok mobilku yang harganya di bawah tiga kali lipat dari mobilnya....", gumam Sonya.


Akhirnya, sekuat hati meneguhkan iman, Sonya menurunkan sedikit kaca mobilnya.


"Bisa bicara sebentar?", pria itu langsung to the point.


"Maaaa....maaammammaauu apppaa?", jawab Sonya gagap.


"Bisa keluar dari mobilnya, nona Sonya..? Tenang saja, saya bukan penjahat..", pria itu meyakinkan wanita yang ada di dalam mobil.


Lama Sonya berpikir akhirnya ia memberanikan diri untuk keluar dari kendaraannya.


"Terima kasih... Saya Jack...", sapa pria itu sambil mengulurkan tangannya.


Sonya menyambut.


"Sonya.... Ehhh.. Anda tahu nama saya? Tadi anda....", ucapan Sonya terjeda.


"Iya.. Saya tahu nama anda, tempat tinggal, keluarga, tempat kerja, juga hal yang baru terjadi dengan hubungan Anda dan kekasih anda...", lengkap Jack berucap membuat wanita di depannya ternganga.


"Awasss.. Lalat masuk...", goda Jack yang seakan lupa tujuannya.


Sonya dengan cepat menutup mulutnya.


"Bisa ikuti saya sebentar? Ada yang perlu saya bicarakan, lebih tepatnya tuan saya yang mau berbicara dengan Anda...", ajak Jack.


Sonya menyelidik. Ia berpikir tidak harus ikut dengan pria di depannya.


"Tenang saja, Tuan saya baik.. Anda tidak akan dimakan...", lanjut Jack melihat tingkah Sonya yang diam.


Sepersekian detik Sonya mengangguk.


"Kita pakai mobilku..".


"Terus mobilku? Ditinggal?", tanya Sonya.


"Anak buahku yang akan membawa mobilmu.. Mari...", Jack berjalan ke mobilnya diikuti oleh Sonya.


Mereka berdua berkendara menuju sebuah restaurant mewah di hotel yang Sonya ketahui milik keluarga Jo Fernand.


Ia mengernyit.


Private room dan makanan mewah menjamunya saat tiba di sana.


"Silahkan.. Saya akan tunggu di luar ruangan ini...", Jack mempersilahkan Sonya untuk menyantap hidangan yang sudah disediakan.


"Kamu tidak ikut? Emmm... Maksudku siapa tuanmu?", gugup Sonya bertanya karna seakan terhipnotis oleh bola mata yang sedang menatapnya.


"Ini urusan bos saya dan anda, nona.. Setelah itu baru urusan anda dengan saya...", Jack berlalu membuat Sonya semakin bingung.


Beberapa menit berlalu. Sonya masih enggan menikmati hidangan mewah yang ada di depannya.


Ckleekk..


Pintu dibuka.


Pria peranakan Mesir masuk ke dalam dan duduk di depannya.


"Sonya Desmond, putri tertua dari keluarga Desmond.. Saya benarkan?", langsung Alvaro sedikit membuka data diri perempuan yang ada di depannya.


Kaget. Tentu saja. Wanita itu menutup rapat identitas aslinya beberapa tahun ini karena ia kabur dari rumah keluarga besarnya karena menolak perjodohan.


"Anda mengenal saya?", heran Sonya.


"Tidak sulit untuk mendapatkan semua data tentang anda, nona Desmond. Kita langsung saja.. Silahkan baca perjanjian ini...", Alvaro menyerahkan sebuah map.


Sonya membaca sebuah perjanjian yang tertulis di dalamnya dengan teliti.


"Maksudnya apa, ya?", tanya Sonya.


"Seperti yang anda baca di situ... Segala informasi mengenai keluarga Aleksander Wijaya harus saya terima setiap hari.. Sebagai balasannya, saya tidak akan mengembalikan anda kepada keluarga anda terlebih pada Michael ayah tiri anda yang sangat gila harta itu.. Saya juga akan membantu menutupi jati diri anda atau membuat anda tidak tersentuh siapapun termasuk keluarga anda jika anda menginginkannya...", Alvaro berujar dengan tegas.


"Saya jadi mata-mata di keluarga Aleksander? Anda gila... Bagaimana mungkin? Saya akan dibunuh Tuan Aleksander jika beliau mengetahuinya nanti...", Sonya mengelak. Ia tidak mau terjadi sesuatu dengannya.


"Jadi mata-mata untuk saya, atau dalam satu panggilan melalui telepon ini maka anda akan menjadi pengantin sesuai dengan keinginan Michael..?", tegas Alvaro.


Sonya semakin bingung, takut, gelisah jadi satu.


"Bagaimana anda bisa menjamin hidup saya nanti?", tanya Sonya memberanikan diri.


"Pria yang tadi mengantarmu ke sini akan sigap dua puluh empat jam berada di sekitar anda... Tenang saja.. Saya pastikan itu..", Alvaro mencoba meyakinkan Sonya.


Sejenak berpikir, akhirnya Sonya mengiyakan.


"Deal...", tanda tangan di atas kertas putih dan berjabat tangan menjadi akhir dari percakapan singkat mereka.


Alvaro meninggalkan Sonya lalu Jack yang masuk ke dalam private room itu.


Sonya mengangguk.


"Jangan tegang begitu.. Aku tidak menggigit.. Palingan cuma sedikit menyesap...", canda Jack yang membuat bulu kuduk Sonya berdiri tegap.


Si manusia Kulkas turunan Jo, Alvaro dan Bryand itu sepertinya mencair. Ia suka menggoda gadis di depannya ini.


.


.


.


"Kita akan mendapatkan informasi mengenai keluarga Wijaya setiap hari, Tuan...", lapor Alvaro.


"Bagus.. Kerjamu cerdas...", puji Jo.


"Bagaimana kalau pujiannya diuangkan, Tuan?", kembali mode bercanda.


"Gila kau... Nikahi dulu Verena... Anak orang kau gempur setiap setiap hari belum kau nikahi...", Jo meradang.


"Rencana sebulan ke depan, Tuan...", cengir Alvaro.


"Hmmmm... Bagus.. Kasihankan dipake tapi tidak dinikahi..? Apa lagi kau yang buka segelnya kan?", tuduh Jo.


Bukan ia sok tahu, namun ia tahu, karena sebelum jadi sekretarisnya, Bryand sudah menyelidiki Verena sedatail mungkin.


Alvaro cengengesan.


"Sana.. Balik ke ruanganmu atau kemanapun kau mau.. Terserah.. Tetapi jangan bawa Verena.. Ini masih jam kerja...".


"Tuan tak asik ah....", Alvaro protes.


Jo melotot.


"Apa? Mau kau saat menikah nanti bibirmu jadi sumbing?", gertak Jo.


Alvaro cekikikan.


Ia langsung menunduk hormat lalu keluar ruangan Jo.


.


.


.


Jam menunjukkan pulang kerja.


Seorang wanita cantik masih terlelap indah di dalam ruangan suaminya.


Kecupan bertubi-tubi mengganggu.


"Apa...? Jangan ganggu ih...", suara Claudya membuat Jo mendidih. Manja.


"Pulang, Cla...", ucap Jo lembut.


"Sudah pulang?", tanya Claudya setelah beberapa detika menyesuaikan matanya dengan cahaya di dalam ruangan Jo.


"Ayoooo... Nanti dilanjutkan di rumah tidurnya...", ajak Jo yang membantu Claudya berdiri.


"Mau gendong?", tawar Jo.


"Memang bisa? Berat loh ini....".


"Heheheheheh..", Jo cuma terkekeh.


"Kita ke rumah ibu, yaaa? Aku kangen ibu...", ucap Claudya menja mengapiti lengan suaminya.


Jo mengangguk setuju.


"Nginap di sana?", tanya Jo.


"Boleh?", Claudya belik bertanya.


"Boleh....", jawab Jo lalu masuk ke mobilnya yang sudah diparkiran anak buahnya di lobi.


Claudya mengecup pipi kiri Jo.


"Ucaoan terima kasih...", nyengir Claudya yang mengerti arti tatapan suaminya.


Jo sumringah.


"Dilanjutkan yang lebih panas di rumah ibu yaaa?", senyum Jo menandakan sesuatu.


"Ihhh maunya.....", Claudya tertawa.


.


.


.


.


"Aku merindukan lelaki tampan itu...", Cantika berucap lirih di dalam kamarnya.


Terkurung di rumah membuatnya tidak bebas seperti biasa, meski diluar rumahpun sama.


"Tubuh itu.... Aahhhh, pastinya besar sekali kannn..?", kini kedua kakinya sudah mengangkan sempurna.


Jangan ditanya buat apa yaa?


Kalian pasti pahamkan?


"Uuhhhhh, JOOOOHHHHHH",....