
Dua hari berikutnya.
"Apa agendaku hari ini, Ve?", tanya Jo.
"Pertemuan dengan beberapa klien, Tuan.. Ini jadwalnya.. Terkahir sebentar malam jam tujuh...", jawab Verena sambil menyerahkan iPad berisi jadwal Jo.
Verena yang mengambil alih tugas Bryand jika pria itu tidak ada. Bryand bertugas mengatur jadwal, juga keperluan sehari-hari bosnya, sedangkan untuk administrasi bagian kantor, misalnya apa yang perlu ditandatangi Jo berkaitan dengan berkas, itu urusan Verena.
"Wijaya Group?", tanya Jo menyatukan kedua alis matanya.
"Iya, Tuan.. Katanya ada hal penting yang harus langsung disampaikan kepada anda, dan kebetulan restaurant hotel tempat pertemuan anda bersama klien dari Malaysia berdekatan dengan Club Malam yang dikatakan oleh sekretaris nona Cantika, makanya saya membuat pembagian waktu seperti itu agar tuan tidak bolak-balik.. Atau mungkin mau pindah? Biar saya sampaikan ke sekretaris Sonya...", panjang Ve menjelaskan. Memang seharusnya ia bertanya terlebih dahulu pada tuannya, namun ini sudah kesekian kali Verena ditelpon oleh Sonya dan sekretaris Cantika Wijaya itu sampai memohon padanya.
"Hmm, baiklah.. Kamu ikut bersamaku hari ini.. Bryand sedang aku tugaskan untuk hal lain..", putus Jo saat itu.
Verena tersenyum. Bukan saja hanya Sonya yang memohon makanya ia lakukan hal itu, melainkan ada Claudya di belakangnya sehingga sekretaris Jo itu mau membuat jadwal seperti itu.
Ting.
Bunyi pesan masuk di hp Claudya.
"Lapor, nyonya muda... Tuan Jo sudah bersedia sesuai yang anda instruksikan pada saya...", Verena mengirim pesan kepada Claudya saat setelah keluar dari ruangan Jo.
Claudya di seberang sana menyeringai.
"Jen, bubuk yang aku pesan sudah ada di tanganmu kan?", tanya Claudya pada asistennya itu.
"Sudah, nyonya muda.. Apa perlu kita turun tangan langsung?", Jeny balik bertanya.
"Serahkan pada pengawalku, ia yang akan melakukannya... Kita hanya menunggu di luar Club.. Ingat, kita berdua sedang hamil, tidak bagus bagi kesehatan kalau masuk ke Club malam...", Claudya memperingati.
Jeny tampak bersemangat, ia mau melihat wanita ulat bulu itu jatuh pada perangkap sendiri.
Claudya sudah menebak ini terjadi. Insting seorang perempuan, apa lagi sedang hamil. Wanita itu sudah menduga bahwa Cantika akan bertindak nekat. Kalau tidak malam ini, berarti hari-hari berikutnya pasti akan terjadi.
Memiliki suami tampan dengan daya pikat yang luar biasa harus membuat Claudya bertindak waspada. Sedang hamil pun tidak membuatnya sedikit lengah untuk menjaga apa yang ia punya. Kejadian-kejadian sebelumnya membuat ia lebih berani juga percaya diri. Meski Jo belum mengatakan cinta padanya, namun melihat keposesifan pria itu, kasih sayangnya yang dibuktikan dengan perbuatan, membuatnya yakin jika ia sudah berada di dalam hati pria itu. Bukan karena sedang mengandung benih sang pria, namun setiap kali bersentuhan, tatapan Jo seolah memuja dan tak pernah puas untuk menguasai dirinya.
"Aku sudah mengatakan apa yang perlu dilakukan pengawalku ketika berada di dalam nanti.. Verena akan menginformasikan segela sesuatunya ketika sudah berada di Club itu...", lanjut Claudya.
Jeny mengangguk mengerti.
.
.
.
Pukul 19.00 tepat.
Jo dan Verena menapaki kaki di lantai sebuah Club malam.
Bukan hal baru bagi tuan dan sekitarnya itu ketika masuk ke dalam Club malam disambut dengan dentuman musik yang keras.
"Jangan meminum apapun yang mengandung alkohol, Ve.. Kau harus bisa menjadi mata dan telingaku saat aku lengah ketika berada di dalam nanti..", Jo memberi peringatan.
Verena mengangguk.
Kaki keduanya melangkah menuju private room yang sudah disediakan oleh Cantika.
Wanita itu terlihat mengenakan pakaian minim. Verena sampai bergidik ngeri. Berbeda dengan asistennya Sonya.. Sangat sopan, bahkan sekretaris perempuan itu mengenakan celana panjang juga kemeja yang kerja wanita yang terlihat kebesaran.
"Selamat datang, Tuan Jo..", sapa Cantika sambil tersenyum.
Jo hanya berdehem lalu duduk di sebuah sofa yang berhadapan dengan Cantika.
Verena duduk sejajar dengan Jo, sehingga keempat orang yang berada di dalamnya berhadapan.
"Maaf jika anda kurang nyaman dengan pertemuan di tempat seperti ini...", lagi Cantika berucap dengan lembut.
Private room yang ada di ruangan itu kedap suara sehingga keadaan di luar ruangan tidak akan mengganggu aktivitas orang yang berada di dalam ruangan itu. Maklum, Club elit yang hanya bisa dimasuki oleh orang-orang berdompet tebal.
Jo hanya mengangguk.
"Apa yang ingin Anda sampaikan, nona Cantika?", kini Verena mewakili bosnya untuk bertanya karena Jo terlihat sedang asik dengan handphonenya. Kadang tersenyum, kadang berwajah kembali datar.
"Ehemmmm.. Tuan Jo, saya rasa proyek kita yang ada di Bali tidak bisa diselesaikan tepat waktu...", ucap Cantika. Ini bukan akal-akalan, namun memang ia memanfaatkan situasi untuk menggaet Jo.
Jo menatap Cantika.
"Maksudnya?", tanya Jo.
"Ada beberapa kendala di sana. Warga lokal yang awalanya sudah bersedia melepaskan hak tanahnya, tiba-tiba saja berbalik arah. Mereka akan menjual tanahnya dengan harga mahal, di luar kesepakatan kita sebelumnya..", Cantika menjelaskan.
"Apa tidak bisa anda lakukan sesuatu, nona Cantika?", tanya Jo lagi dengan menekan setiap katanya.
Cantika gugup. Sonya hanya tertunduk enggan menatap pria yang ada di depannya.
"Bisa saja, Tuan.. Saya sudah melakukan dialog secara langsung dengan tokoh masyarakat yang ada di situ, juga beberapa perwakilan masyarakat pemilik tanah, namun mereka kekeh untuk menjualnya dengan harga yang lebih mahal..", jawab Cantika.
"Lalu bagaimana? Apa masih ada lagi?", Jo masih menatap Cantika.
"Emmm, kontraktor yang sudah kita persiapkan menghilang begitu saja tanpa kabar.. Sepertinya dia membawa kabur uang yang baru seperempat kita keluarkan untuknya..", lagi Cantika menyampaikan masalah lain.
Terlalu banyak pekerjaan juga pikiran, membuat Jo membuka celah untuk orang lain masuk dan merusak rencananya.
Tangan Jo mengepal.
"Sudah hubungi pihak berwajib?".
Claudya mengangguk.
"Sudah, namun sampai hari ini belum ada tanggapan apapun, Tuan Jo..", jawab Cantika lesu namun bibirnya sedikit tersenyum.
Dengan adanya masalah ini, pasti Jo yang akan turun tangan langsung bersamanya membereskan masalah.
"Apa yang harus aku lakukan, Tuan Jo?", kini Cantika balik bertanya.
Cantika menyeringai namun itu hanya dilihat oleh Verena.
Di bawah map yang Verena pegang, terhubung panggilan ke Claudya yang kini sudah menyuruh Jack masuk ke dalam Club malam.
"Sebaiknya kita pesan sesuatu, mungkin sekedar minuman, Tuan Jo?", tawar Cantika.
Jo mengangguk saja.
Mendapat lampu hijau dari Jo, Cantika meminta Sonya meminta Sonya memesankan sesuatu. Yah, sesuatu yang sudah direncanakan.
Pintu terbuka, munculah seorang pelayan yang Jo sangat kenal, begitu juga Verena.
"Pelayannya diganti?", tanya Cantika berbisik pada Sonya.
"Katanya pelayan ini, pelayan yang sudah anda bayar memintanya mengantar minum ini.. Tadi aku sudah bertanya padanya langsung, dan dia mengakui kalo menyuruh kawannya yang mengantarkan minuman", Sonya memberi penjelasan.
Jack memberi kode.
Jo paham kode yang akan diberikan Jack.
Ia mengirim pesan kepada Verena seolah itu orang kepada istrinya.
Pura-pura tersenyum. Jo tahu bahwa Verena sedari tadi melakukan panggilan kepada istrinya. Tidak sengaja ia lihat karena map yang dipakai Verena untuk menutup benda komunikasi tersebut sedikit tersingkap.
"Anda sangat menyayangi istri anda sepertinya, Tuan Jo...", ujar Cantika.
"Yaa.. Aku harus selalu melaporkan apa yang aku lakukan hari ini agar ia tahu dan tidak curiga...", jawab Jo santai.
"Teguklah sedikit jusmu, lalu pura-pura pingsan. Buat senatural mungkin.. Sisanya biar aku yang bereskan..", isi pesan Jo pada Verena.
Membaca pesan tersebut membuat Verena kini paham.
Cantika tersenyum miris. Ia sangat tidak suka jika Jo membicarakan istrinya. Seharusnya pria itu tergoda dengan tubuhnya, apalagi pakaian yang ia kenakan malam ini.
"Berapa pulan kehamilan istri anda, Tuan Jo?", lagi Cantika bertanya, meski tidak suka.
"Jalan bulan kesembilan..", jawab Jo singkat.
"Silahkan dinikmati, Tuan dan nona...", ucap sang pelayan lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Mari, Tuan Jo.. Silahkan..", Cantika mempersilahkan.
Keempat orang itu pun meneguk minuman yang ada.
Awalnya biasa saja, namun Sonya pingsan lebih dulu diikuti oleh Verena. Tersisa Jo yang dan Cantika yang masih sadar.
Cantika terkejut. Tentu Jo tahu itu dibuat-buat, namun detik berikutnya, perempuan itupun tidak sadarkan diri.
Jo menyenggol kaki Verena dan sekretarisnya itupun bangun dari tidur pura-puranya.
"Ayo pulang...", ajak Jo lalu bangkit berdiri.
"Bagaimana dengan mereka, Tuan?", tanya Verena.
"Anak buahku yang mengurusnya... Nyonya ada di luar?", tanya Jo balik.
Verena mengangguk.
"Dasar istri posesif...", gumam Jo tersenyum.
.
.
.
Pagi tiba.
Seorang wanita mengerjakan matanya berulang kali menyesuaikan pencahayaan yang ada di ruangan itu.
"Ini di mana?", tanya wanita itu.
Seketika ia membola karena meraba tubuhnya yang sudah tidak berhelai benang.
"Apa yang terjadi?", gumamnya.
"Nya? Sonya...? Sonya...?", panggil Cantika namun tidak ada yang menjawabnya.
"Ini gila.. Ini gila... Aku tidak ingat apa-apa...", wanita itu menjadi kesal. Seharusnya ia bangun dan Jo yang berada di sampingnya, namun rencananya gagal.
"Sialll.. Aku harus menghubungi Sonya...".
Cantika mencari di mana letak ponselnya. Dapat.
Ia menghubungi Sonya, namun sekretarisnya itu tidak menjawab.
"Sial, sial, sial...!!!", wanita itu berteriak.
Ia segera berlalu ke kamar mandi. Namun berhenti di depan cermin wastafel.
"Banyak sekali kissmark ini...", ucap wanita itu.
Namun ia adalah wanita yang berpengalaman soal bekas percintaan. Bisa disembunyikan menggunakan make up apalah namanya itu.
Selesai membersihkan diri, ia memesan baju melalui aplikasi di handphonenya. Sambil menunggu, ia menelisik kamar itu.
Ditemukannya selembar kertas juga segapok uang di bawah bantal yang ia gunakan untuk tidur.
"Terima kasih babby untuk malam panasnya.. Aku suka tubuhmu.. Lain kali kita akan bercinta dalam keadaan sadar.. Ini bayaran untukmu.. Gunakan dengan baik ya? Rawat goamu untukku.. Kita akan bertemu lagi..".
Sebuah surat yang membuat harga diri seorang Cantika Wijaya terjun bebas.
"Brengsekkkk.......!", teriak Cantika sangat marah.