Mr. Rick

Mr. Rick
Ba 69



"Begitu, ya? Saran saya, agar suami tidak jajan di luar berikan apa yang ia mau. Pria lebih suka jika wanitanya agresif..", umpan Claudya.


Cantika hanya menyengir.


"Sepertinya saya meminta saran dari orang yang tepat...", lanjut Cantika.


Claudya mengangguk.


"Semoga kerjasama kita berjalan dengan baik. Selebihnya asisten pribadi dan sekretaris saya yang akan menghandle pekerjaan ini untuk sementara...", ujar Claudya.


"Baiklah, Nona Claudya. Saya rasa tidak masalah.. Anda seharusnya cuti namun karena ada beberapa kendala, saya harus mengajak kita meeting di sini...", balas Cantika.


"Tidak apa-apa. Sudah menjadi resiko pekerjaan..".


"Oh ya, kapan kira-kira anda akan melahirkan? Jangan lupa katakan, agar saya bisa berkunjung nanti..".


"Kata dokter beberapa minggu lagi..", jawab Caludya.


"Suami anda sepertinya sudah harus puasa, ya?", pancing Cantika.


"Apaan ini orang? Balik lagi ke topik yang itu.. Dasar ulat kadut...", batin Claudya. "Hahahahaha.. Anda akan tahu jika sudah waktunya nanti...", elak Claudya yang tidak mau lagi membahas urusan suami istri.


.


.


.


.


Urusan dengan Cantika selesai, Claudya meminta Jack untuk mengantarnya ke kantor suaminya setelah itu baru mengantar Jeny ke perusahaannya sendiri.


tok-tok-tok


ckleekk...


Jo mendongak melihat siapa yang membuka pintu ruangannya.


"Kamu ke sini? Sudah selesai urusannya?", tanya Jo.


Claudya hanya mengangguk lalu melemparkan tubuh beratnya ke sofa empuk ruangan itu.


"Cape? Mau makan sesuatu?", tawar Jo.


"Boleh minta ice cream? Tadi lupa beli di jalan saat mau ke sini...", jawab Claudya sambil menatap dalam suaminya.


Jo segera meminta Verena melaksanakan permintaan istrinya juga sekaligus memesan minuman untuk mereka.


"Bagaimana keadaannya di dalam sini?", Jo mengusap perut istrinya yang dibalut gaun biru muda. Sangat kontras dan cocok dengan kulit wanitanya.


"Dia baik-baik saja. Lihat kakiku membengkak. Hehehhee..", Claudya cekikikan memperhatikan kakinya.


"Wahhhh, Momy udah lebar, dek....", goda Jo yang langsung membuat istrinya merengut.


"Dady yang membuat Momy jadi lebar, dek.. Nanti marahin, yaaa?", adu Claudya pada baby mereka yang masih di dalam perut besarnya.


"Biar lebar tapi tetap empuk nikmat....", Jo mengecup bibir Claudya yang mengerucut.


"Apaan sih? Anakmu mendengarnya... Mesummmm..", rengek manja Claudya yang bersandar di dada sang suami.


"Kamu suka kan intinya?", dua jari Jo mencupit gemas dagu istrinya.


Claudya mengangguk seperti bocah sambil menyengir.


"Kamu sibuk?", kini Claudya balik bertanya.


"Ada sedikit kendala pembangunan proyek di Bali, cuma Alvaro sudah mengurusnya kemarin. Sekarang aku sibuk kelonin istri...", kekeh Jo.


"Mau, ya?..", Claudya menggoda Jo.


"Baru tadi pagi loh, Claaa.. Jangan keseringan, nanti ada apa-apa sama baby..", balas Jo.


Claudya tersenyum. Jo jarang memaksa walau sekalipun lagi ingin, namun hampir dua tahun bersama Claudya sepertinya paham akan raut wajah Jo yang sedang ingin, jadi yaa sebisanya ia dan senyamannya juga untuk melakukan hubungan suami istri.


Pekerjaan yang sedang Jo lakukan tadi dialihkan ke Bryand dan Verena makanya Jo santai untuk berdua dengan istrinya sambil menikmati segala macam cemilan yang sudah Verena beli.


"Rencanamu apa lagi soal anak perempuan tuan Wijaya itu?", serius Jo bertanya karena sulit menebak apa yang istrinya rencanakan.


"Urusan perempuanlah.. Awas ya kalau dekat-dekat lagi dengan perempuan itu.. Aku disinfektan kamu nanti..!!.", ancam Claudya.


"Kalian berdua kan ada kerjasama? Awas yaa...", rengut Claudya.


Jo terkekeh. Cemburu mungkin? Namun kata cinta belum terucap. Atau lebih pada hati-hati karena perempuan yang ada di hadapannya ini sedang mengandung benihnya. Tak tahulah.


"Jangan merengut begitu. Bibir kerucutmu bisa saja aku lahap saat ini...!", ancam Jo.


"Apa? Mau? Sini...", Claudya menarik leher Jo yang sedang berada di depannya lalu menyatukan bibir mereka.


Pertempuran lidah terjadi cukup lama. Rasa sudah cukup, Jo menghentikan kegiatan mereka. Kalau lebih lama lagi, bisa-bisa terjadi perang di sofa empuk atau di atas meja kerja Jo atau bisa juga di kursi kebesaran milik pria itu.


"Nanti aku khilaf..", Jo menyatukan kening dan hidung mancung mereka berdua.


"Hahahaha... Tegang, yaaaa?", tangan Claudya sengaja menyentuh sesuatu di balik celana kain milik suaminya.


"Claaa....", panggil Jo berat.


"Aku mau istirahat sebentar.. Bangunkan aku ketika mau makan siang nanti.. Oke, suamiku?..", pesan Claudya lalu berdiri dan pergi ke ruangan istirahat milik Jo yang berada di dalam ruangan itu.


"Untung lagi hamil.. Kalau tidak.. Ku remukan tubuhmu yang seksi itu...", gumam Jo lirih melihat istrinya pergi.


.


.


.


Bryand masuk ke ruangan Jo beberapa menit setalah Claudya ke dalam kamar istirahat.


"Tuan.. Ini...", Bryand memberikan sebuah amplop cokelat.


Jika sudah begitu, Jo tahu, pasti ada sesuatu.


Pria itu membuka barang pemberian Bryand dan melihat file yang ada di dalamnya.


"Chris Yen, Arnold Brigar, Aleksander Wijaya? Maksudnya?", tanya Jo mengernyit heran.


"Kumpulan yang berniat menyingkirkan Tuan didanai oleh ketiga perusahaan besar itu. Saya juga cukup kaget melihat nama Aleksander Wijaya ada di situ, namun beberapa kali rekening tuan Wijaya mengalir ke kelompok itu. Begitu juga kedua musuh lama tuan yang ada...", Bryand memberi penjelasan.


"Minta Alvaro menyelidiki sedetail mungkin mengenai Wijaya Group jika ada sesuatu segera tangani tanpa haru menunggu persetujuanku..!", perintah Jo.


"Baik, Tuan...", balas Bryand dan meninggalkan ruangan milik Jo.


Jo mendesah panjang.


"Sebenarnya permainan apa yang sedang dimainkan oleh ayah dan anak itu?", batin Jo.


.


.


.


Di sisi Lain.


"Ayah menyuruhmu untuk bekerjasama dengan Richard Jo Fernand agar menambah pundi-pundi uang kita yang sekarang makin menipis, Cantika...!", bentak Aleksander Wijaya pada anaknya.


"Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui ayah...", balas santai Cantika.


"Kau bodoh? Richard Jo Fernand bukan orang yang mudah kau sentuh... Kau bodoh atau bagaimana? Ha? Ayah menyuruhmu sekolah agar kau cerdas.. Rupanya tingkahmu di sana menjadikanmu sangat liar..", Tuan Wijaya murka.


"Bagaimana kalau aku bisa jadi istrinya? Yang kedua pun tak masalah. Intinya ia bisa membantu kita juga melindungi kita...", elak Cantika membenarkan tindakannya.


"Kalau kau tidak bertindak bodoh maka kita tidak mungkin akan seperti ini.. Dasar sial....!", maki Tuan Wijaya pada putri bungsunya.


"Ayah....!", teriak Cantika karena tidak menyangka jika sang ayah bisa katakan hal seperti itu.


"Apa...? Benarkan? Kau berulah jadi ****** di UK dengan tiduri banyak pria sampai membuat video menjijikan itu dan kita semua terkena imbasnya. Kakakmu Sandra di jadikan jaminan, lalu kakak tertuanya bekerja mati-matian menghasilkan uang agar bisa mengirim ke kelompok sialan itu...!", teriak sang ayah balik membentak sang anak.


Airmata Cantika berlalu di pipinya. Sonya yang melihat itu hanya diam. Ia pun tercengang karena secepat itu Tuan Wijaya mengetahui niat Cantika untuk menggaet Jo menjadi miliknya.


"Kamu asisten anak saya kan, Sonya? Ini yang kau ajarkan, ha?", merembes sudah kemarahan Wijaya pada asisten anaknya.


"Maaf, Tuan...!", tunduk Sonya.


"Jangan pernah lagi berurusan dengan Jo. Tanggung jawabmu terhadap pembangunan hotel di Bali ayah cabut dan kau tidak boleh keluar sejengkalpun dari pagar rumah ini...!", titah sang ayah lalu pergi ke ruang kerjanya.


"Tapi Ayah........", cuma angin yang mendengar bantahan Cantika karena ayahnya sudah terlanjur kesal dan memilih menenangkan diri di ruangan yang lain.