Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 75



Beberapa Minggu berlalu.


Kelahiran anak pertama Richard Jo dan Lee Claudya Gitta tinggal menunggu waktu.


"Bagaimana sayang?", tanya Momy Re ketika berkunjung ke rumah sang anak pertama.


"Tinggal menunggu waktunya, Mom...", jawab Jo santai.


"Cla tidur?".


"Iya, Dad...", jawab Jo.


"Persiapannya? Sudah dipastikan anak buahmu melakukannya dengan baik?", lagi Dady Don bertanya.


"Alvaro sudah mengurusnya, Dad.. Tenang saja.. Orang-orang yang akan menangani Cla dipilih langsung oleh Al..".


"Baiklah...", Dady Don menganggukkan kepalanya.


"Boleh Momy melihat Claudya?".


"Boleh, Mom... Tetapi jangan mengganggunya jika ia masih tidur...", sahut Jo.


"Mertuamu belum datang?", tanya Dady Don ketika sang ibu negara sudah ke kamar menengok menantunya.


"Belum.. Sebentar lagi mungkin...".


Ayah dan anak itu terdiam. Masing-masing dengan pikirannya.


"RICHARD........", teriakan terdengar dari kamar utama.


Richard Jo yang mendengar namanya dipanggil serta ayahnya langsung dengan cepat ke arah suara teriakan.


"Cla....", dengan cepat Jo mendekat ke arah Claudya yang terduduk di lantai kamar dengan cairan putih mengalir di paha sang istri.


"Bawa ke rumah sakit....", perintah Dady Don tanggap.


Jo langsung menggendong Claudya dan berjalan cepat ke arah lift yang ada di rumah itu.


"Bawa keperluan menantuku yang sudah disiapkan... Susul secepatnya ya, Mbok...?", perintah Momy Regina setelah melihat sang asisten rumah tangga yang ia percaya ada di ruang tamu.


"Jack... Cepat....".


Pengawal pribadi Claudya itu pun sigap membuka pintu mobil untuk majikannya.


"Cepat, Jack... Istriku sudah kesakitan....", teriak Jo karena melihat Claudya yang berkeringat serta ringisan kecil keluar dari bibirnya.


"Teriak saja, Baby... Jangan ditahan...", usul Jo melihat Claudya yang mencoba menahan sakit yang teramat di perutnya.


"Sa....kit.....", desis Claudya yang terdengar oleh Jo.


"Cepat, Jack.... Terobos lampu merah itu.....", Jo sudah gusar karena merasakan kuku di jari tangan Claudya sudah menancap dipergelangan tangannya.


Mobil yang dikendarai Jack berlalu begitu cepat.


Di rumah Jo.


Dady Don yang tidak ikut mobil Jo langsung masuk setelah melihat kendaraan besannya parkir tepat di depannya.


"Jalan....", perintah Dady Don membuat pasangan suami istri yang ada di kursi belakang bingung termasuk sopir yang ada di sampingnya.


"Kemana?", tanya Supir itu bodoh.


"Keluar kau...", usir Dady Don.


Supir itu segera turun karena melihat tatapan Dady Don yang sangat tidak bersahabat. Pria paruh baya itu berpindah ke tempat duduk sopir.


"Heiiii....", teriak Albert ketika kendaraan yang dikendarai Dady Don langsung tancap gas.


"Kau diamlah.....".


Pasangan sudah berumur setengah abad di balakang itu langsung saling berpegangan tangan.


"Don, kau mau mati, ha...?", bentak Albert pada besannya.


Dady Don tidak peduli teriakan besannya di balakang sana. Pikirannya adalah arah rumah sakit milik keluarganya.


"Sial, macet....!", geram Dady Don yang melihat banyak kendaraan berjejer di depannya.


"Keluar... Tinggalkan mobil.. Ikuti aku...!", perintah Dady Don tidak terbantahkan.


Pria tua itu langsung menghentikan kendaraan roda dua sembarangan.


"Lakukan yang sama...", teriak Dady Don setelah mendapatkan kendaraan yang dimaksud.


Ayah Albert melakukan hal yang sama.


Ia dan istrinya terpaksa harus menukar mobilnya dengan kendaraan roda dua yang harganya berkali-kali lipat itu.


"Ini kartu namaku... Bawa mobil ini dan hubungi aku nanti... Jangan kabur, aku akan menemukanmu dan membuatmu remuk sampai tulang-tulang...", ancam Albert pada pria muda yang kendaraanya dibajak sebelum pergi dari tempat itu.


Istrinya hanya menggeleng melihat tingkah suaminya lalu mengungkapkan maaf tanpa berbicara.


Dua kendaraan roda dua memasuki pelataran parkir rumah sakit milik keluarga Fernand.


Dengan langkah cepat, mereka menyusuri lorong rumah sakit.


Dady Don tahu tempatnya karena sebelumnya sudah dihubungi melalui pesan oleh anak buahnya yang mengikuti kendaraan Jo.


"Don, untuk apa kita ke sini..?", Albert bertanya dengan ketus karena melihat mereka berempat plus Jack berada di depan ruangan bersalin.


"Jeng....", panggil Ellena melihat Regina duduk di kursi tunggu depan ruangan itu.


"Halo, jeng... Sini...", biasa cipiki-cipika apa wanita-wanita sosialita.


"Hei, kau tuli, yaaa?", teriak Albert karena tidak mendapat jawaban dari pertanyaan yang diajukan.


"Apa sih? Ingat umur kalau mau teriak... Sakit telingaku... Anakmu di dalam...", jawab ketus Don.


Kedua istri dari pria-pria yang ada di depan mereka hanya menggeleng heran.


"Oh, anakku....?", jawab Albert santai kemudian terbelak.


"Anak... Anakku?? Cla akan melahirkan?", tanya Albert yang kini jadi antusias.


"Hm...", hanya deheman yang dikeluarkan oleh Dady Don.


"Sayang... Kau dengar...? Cucuku akan lahir.. Yes... Yes... Akan kuajari dia bisnis ala Albert Lee..", antusias Albert berujar.


"Ehhh.. Enak saja.. Dia cucu pertamaku.. Jadi harus aku yang mengajarinya berbisnis ala keluarga Fernand...", Don tidak mau kalah.


"Ohhh tidak bisa... Dia cucuku... Harus aku...", bantah Albert.


"Aku... Kau lupa kau sudah punya dua cucu dari El? Ajari saja anak-anak El...".


Kedu pria tua itu terus berdebat.


"Sudah, Dad.. Sebaiknya kita berdoa agar kelahirannya lancar..", Regina menjadi penengah.


"Iya... Dua kakek ini aneh... Anak belum keluar sudah berdebat soal bisnis...", lanjut Ellena.


Kedu orang tua itu diam.


Di dalam ruang bersalin.


"Wahhh.. Tidak harus menunggu lama, yaaa? Ternyata dede bayinya mau segera bertemu dengan papa dan mamanya...", Dokter Yuliana berucap dengan senyum. "Ikuti aba-aba saya ya, nyonya Cla..?".


Jangan ditanya bagiamana Jo? Sejak di dalam mobil lengannya sudah terluka. Rambutnya juga sudah acak-acakan juga pakaian casual yang dipakai sudah tidak berbentuk. Kusut.


Dua kali dorongan, terdengar tangisan kencang dari bawah Claudya.


"oekkkk...oekkkk....oekkk..", tangisan pertama yang terdengar.


"Selamat nyonya Claudya... Putra anda sangat tampan... ", ucap dokter Yuliana yang menyerahkan baby mungil di dada Claudya.


Sang pria yang ada di sebelahnya tak berhenti menitipkan airmatanya. Sakit yang ia rasa akibat cakaran sang istri tidak dirasakannya.


Jari tangannya yang besar mengusap pipi mungil yang sedang terbaring menyusu di dada wanitanya.


"Hallo, baby Boy....", sapanya pelan di telinga sang bayi.


Claudya tersenyum melihat putra pertamanya yang sedang menyusu.


"Terima kasih.. Aku mencintaimu...", ucapan cinta pertama kali yang diucapkan oleh pria gengsi diikuti dengan kecupan mesra di kening dan bibir sang istri. Tidak peduli ada perawat serta dokter di sana.


"Aku juga mencintaimu...", jawaban yang sama dan ungkapan cinta serta senyuman manis dibalas sang istri.


"Babbynya dibersihkan dulu, Tuan...", ucap sang dokter.


"Namanya Don Adriand Albert Lee Fernand...", ucap Jo pasti sebelum dokter bertanya namanya.


Claudya menengadah. Ia terkejut karena nama sang anak mewarisi nama kedua kakeknya.


"Terima kasih...", tulus Claudya berucap.


"Dijahit sebentar ya, nyonya...", Dokter Yulia berujar.


Claudya memerah. Ia sangat malu pertanyaan Jo.


Dokter dan beberapa perawat menyunggingkan senyumnya.


"Tenang saja Tuan Jo.. Akan rapat seperti pertama kali...", jawab Yuliana.


Jo hanya mengangguk.


Setelah segala urusan selesai Claudya dipindahkan.


ckelk..


Pintu ruangan bersalin terbuka.


Kedua pasangan paruh baya yang ada di depan pintu ruangan itu menyambut antusias. Mereka mendengar tangisan bayi tadi.


Jo mendorong kursi roda istrinya sedangkan sang istri memanggil sang bayi di dalam gendongannya.


"Tampan sekali....", Regina dan Ellena bersama memuji bayi yang ada di dalam dekapan Claudya.


"Bibirku sangat unggulkan?", Dady Don bangga.


Ayah Albert mendengus.


"Bibitku juga.. Kau jangan lupa ia lahir dari anakku....", jawab Albert ketus.


Di ruangan VIP bak hotel mewah Claudya tempati.


Penjagaan sangat ketat karena tentu pihak rumah sakit tahu bahwa yang sedang melahirkan adalah istri dari pewaris rumah sakit itu.


"Namanya...?", tanya Dady Don antusias.


"Tuh lihat di boksnya sana....", ucap Jo.


Albert tertawa melihat mendengar menantunya menjawab ketus sang besan.


"Dasar kulkas....", kesal Dady Don tetapi tetap membaca nama yang tertera di boks bayi.


"Kenapa harus ada namanya?", tanya Dady Don sambil dagunya mengarah ke Albert.


"Kenapa?", Ayah Albert bertanya sambil berjalan mendekati boks bayi tersebut.


"Jo, kenapa namanya yang duluan...?", kini Albert balik menanyakan pada Jo.


Jo hanya mengedikan bahunya.


.


.


.


.


Waktu hampir siang.


Alvaro dan Bryand serta Jeny datang bersamaan.


"Sudah datang?", Jo menyambut dengan pertanyaan.


Bryand dan Jeny mendekat ke arah Claudya, tidak lupa Alvaro.


"Selamat Nyonya muda.. Baby-nya tampan sekali...", ucap Jeny ketika melihat anak majikannya.


"Terima kasih Onty Jeny...", jawab Claudya seperti suara anak kecil.


Mereka berdua terkekah.


Para orang tua sedang duduk di sofa ruangan itu.


Alvaro dan Bryand mendekat ke arah Jo.


"Selamat, Tuan...", ujar Bryand dan Alvaro bersamaan.


"Hadiah untuk anakku mana?", bukannya mengucapkan terima kasih, tetapi Jo menanyakan hadiah.


Alvaro dan Bryand menggaruk tengkuknya.


"Ckkk.. Kalian.. Bryand, penthousemu dan Alvaro, mensionmu... Titik... Itu untuk putraku...", ucap Jo tak terbantahkan.


Kedua asisten itu melongo tetapi mengangguk juga.


"Good....", senyum Jo terukir.


Mension dan penthouse..? Luar biasakan? Baru lahir saja Baby AD sudah punya dua properti mewah itu.


"Ada berita, Tuan..", bisik Alvaro.


Jo mengangguk lalu izin keluar mencari alasan membeli kopi. Kedua asistennya mengikuti.


"Ada apa?", tanya Jo.


"Ini, Tuan...", Alvaro menunjukan iPad ditangganya.


Rahang Jo mengeras.


"Sial... Brengsek... Anjing....", maki Jo ketika melihat foto yang ada di dalam iPad Alvaro.


"Antarkan aku ke ruangannya...", perintah Jo.


Sampai di sebuah ruangan, masih berada di rumah sakit yang sama.


Para dokter menunduk hormat.


"Jangan katakan pada ayahku...", perintah Jo pada dokter yang menangani seorang pria muda di dalam sana.


tring... tring.. tring...


"Hallo...", jawab Jo sambil menatap adiknya dari luar kaca ruangan ICU.


"Bagaimana hadiah kelahiran yang aku kirim, Rick?", tanya pria dari seberang.


"Aku akan membunuhmu.. Ingat itu...!", ancam Jo langsung mematikan panggilannya.


"Di mana pengawal yang bertugas menjaganya?", tanya Jo dingin.


"Mereka tewas, Tuan...", jawab Alvaro.


Jo diam.


Adiknya di dalam sana terbaring dengan alat medis menancap pada tubuh pria muda yang beranjak dua puluh tahun itu.


"David sudah sampai di sini kan?", tanya Jo lagi dengan matanya masih menatap ke dalam.


"Sudah, Tuan..", Bryand yang menjawab.


"Kumpulkan anak buah kita sebanyak mungkin.. Aku yang akan pimpin nanti...", perintah Jo diangguki oleh Bryand serta Alvaro.


"Rahasiakan sampai keadaanya membaik baru katakan pada keluargaku.. Jangan menunjukan wajah tegangmu di dalam ruang rawat istriku..", lanjut Jo.


Entah sudah berapa jam adiknya terkapar di ruangan itu. Ia sedikit lengah karena konsentrasinya ada pada sang istri.


"Hancurkan Aleksander Wijaya serta seluruh keluarganya...", Bryand mengangguk.


Mereka bertiga kembali ke ruangan Claudya dengan tenang tanpa membuat orang-orang yang berada di dalam ruangan itu curiga.


"Hubungi putra bandelmu.. Katakan padanya kalau kakak ipar sudah melahirkan...", ucap Dady Don pada istrinya.


"Aku sudah menghubunginya, Dad.. Katanya bisnisnya yang ada di Sumatra bermasalah, jadi ia masih di sana sejak kemarin...", Jo menjawab guna mencegah Momy Re untuk menghubungi adiknya.


"Anak itu... Tapi kenapa anak buah Dady tidak melaporkannya?", tanya Don heran.


"Mungkin perjalanan mendadak, jadi tidak melaporkannya pada Dady.. Tahu sendirikan anak itu tidak suka dikawal?", Jo masih menyahuti ayahnya.


Dady Don hanya mengangguk saja.


"Bryand, perusahaan ku serahkan padamu untuk beberapa Minggu ke depan....", ujar Jo menatap Bryand yang mengguk tanda mengiyakan.


Beberapa saat mereka semua pamit karena hari sudah sore.


"Nanti kami datang lagi besok... Okey?", pamit sang ibu Ellena pada putrinya.


"Iya, Ibu... Sampai ketemu besok, Oma...", Claudya meniru suara anak kecil.


Kekehan terdengar dari keempat orang tua paruh baya.


Mereka semua keluar meninggalkan ruangan itu.


"Bunuh semua musuh yang dirasa akan menggangu kita kedepannya.. Sekecil apapun ancaman itu...!", bisik Jo sebelum Alvaro meninggalkan ruangan.


"Lakasankan, Tuan...", jawab Alvaro.