
"Anda kemana semalam, Nona?", tanya Sonya.
Setelah ia membantu Cantika bisa keluar dari kurungan Aleksander Wijaya hingga bisa hadir di acara perilisan produk baru milik Claudya, Sonya tidak lagi menemukan keberadaan majikannya itu.
"Aku menginap di apartemen temanku..", jawab Cantika acuh menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Sonya hanya mengangguk. Ia paham arti kata teman yang diucapkan Cantika karena melihat beberapa simbol percintaan di sekitar leher wanita itu.
"Ada informasi apa? Hari ini mari kita bertamu ke JF Group...", ucap Cantika berlalu ke kamar mandi di dalam kamarnya.
"Untuk apa lagi, nona? Jangan bertindak gegabah. Tuan besar akan semakin marah jika ada masih kekeh mendekati Tuan Jo...", cegah Sonya memberi peringatan.
"Ini juga demi kebaikan ayahku, Sonya... Kau tahu kan keadaan keluargaku bagaimana? Melihat ada beberapa orang yang bekerjasama untuk menghancurkan Jo artinya pria itu memiliki kekuatan yang besar dan tidak kita ketahui...", jawab Cantika sambil berendam di bathtub.
"Maksudnya, nona akan berlindung di bawah tuan Jo?..", tanya Sonya penasaran.
"Yupts... Kau benar.. Aku ingin mengendalikannya agar ia mau melindungi keluargaku.. Syukur-syukur aku juga mendapatkan seluruh hartanya yang sangat banyak itu sehingga tidak perlu bekerja keras seperti sekarang ini...!", Cantika menjawab.
"Dan sejauh ini anda tidak mendapatkan apa-apakan?", Sonya masih bertahan dengan argumennya.
"Bukan tidak, Sonya.. Tetapi belum.. Kau harus paham laki-laki itu kelemahannya ada di ************. Puas dengan itu, maka sekalipun wanita meminta seluruh dunia pun akan dikabulkannya... ahahahahahah..", sahut Cantika diakhiri dengan tawa.
"Keluarlah... Atur pertemuanku dengan Jo apapun alasannya itu...", perintah Cantika menyuruh Sonya keluar dari kamar mandinya.
tring-tring-tring...
Sepeninggalan Sonya, handphone milik Cantika yang ada di sebelah bathub berdering.
"Sial.. Pria ini lagi....!", kesal Cantika namun tetap saja menerima panggilan masuk itu.
"Iya...".
"Kau dimana?", tanya pria yang menelpon.
"Di rumah.. Kenapa?", ketus Cantika.
"Ke apartemenku siang ini... Atau aku akan menyeret paksa?", perintah bernada ancaman dari seberang.
"Hm.. Setelah makan siang aku ke sana..", jawab Cantika lalu mematikan panggilannya.
"Brengsekkkk.... Kalau videoku tidak berada di tangan, tentu aku tak mau melakukan apapun untukmu...", geram Cantika.
.
.
.
.
Sonya melaporkan semuanya kepada Jack dan diserahkan pada Alvaro untuk diteruskan ke Bryand atau Jo sendiri.
Di sisi Jo yang sudah menerima laporan tersebut, langsung mengiyakan. Ia harus tegas agar orang seperti Cantika tidak berkeliaran di tengah-tengah hubungannya dengan Claudya.
"Selamat siang, Tuan Jo.. Maaf mengganggu waktu anda...", ucap Cantika yang kini duduk berhadapan dengan Jo.
"Saya rasa anda sudah tidak memiliki tanggung jawab pada pembangunan hotel di Bali... Ada perlu apa anda ke sini? Seharusnya CEO Wijaya Group yang berhadapan dengan saya sekarang?", skak Jo.
"Saya hanya mau meminta maaf atas kepercayaan anda yang saya sia-siakan.. Maksud kedatangan saya untuk minta maaf secara langsung, juga sekaligus mengajak anda untuk makan siang sebagai tanda permintaan maaf dari saya pribadi...", sahut Cantika yang gemetaran karena tatapan Jo menghunus tajam padanya.
"Maaf, saya akan makan siang dengan istri saya di rumah...", jawab Jo. "Jika tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, silahkan keluar...", ketus Jo.
"Tapi, Tuan Jo.. Saya benar-benar minta maaf atas kelalaian saya....", kekeh Cantika.
"Hm... Silahkan keluar.. Saya masih banyak pekerjaan..", sekali lagi Jo mengusir Cantika.
Wanita itu dengan berat hati keluar dari ruangan Jo. Ia mendengus kesal karena rencananya tidak berhasil untuk mengajak Jo sekedar makan siang.
.
.
.
Di apartemen seorang pria.
Cantika yang baru saja masuk ke dalam apartemen seperti janjinya saat ditelpon langsung diterkam.
Pakaian mewahnya dirobek paksa tiba-tiba.
"Jangan begini.....", elak Cantika yang mencoba melepaskan pelukan posesif pria itu.
tiba-tiba saja.
Bugh.....
Cantika terhempas langsung di sofa karena di dorong kasar oleh pria itu.
"Wanita brengsek... Cuih.. ******.... Kau habis bercinta dengan siapa, hah..?", maki pria itu setelah melihat bekas percintaan yang masih terekam di leher Cantika dan sekitar semangkanya.
"Ammm...pun...", Cantika langsung memohon.
Ia lupa untuk menutupi bekas percintaannya dengan Dokter Allan semalam.
"Katakan siapa pria itu, haaa?? Kau lupa bahwa hanya aku yang berhak pada tubuhmu, *****??", teriak pria itu di hadapan Cantika.
plak...
Tamparan langsung diterima wanita yang sudah setengah polos itu.
"Maa.....aaffff...", tangis Cantika.
"Hahahahha.. Maafff? Sial....!", barang-barang yang ada di sekitar dilempar sembarang arah oleh pria murka di depan Cantika.
Dengan paksa pipi wanita itu dicengkeram lalu pria itu memaksa Cantika untuk bertarung dengan tongkat sakti miliknya.
Sambil Cantika bermain, lebih tepatnya dipaksa untuk memainkan tongkat sakti, pria itu menelpon asistennya dan meminta membawa beberapa anak buahnya.
"Datang ke apartemenku dan bawa dua orang anak buah kita....", perintahnya langsung.
Beberapa saat sang asisten masuk dan membawa dua orang anak buah berwajah sangar, bertubuh kekar.
Pria itu tidak peduli. Terus memaksa Cantika untuk melayani tongkatnya.
" Teriakan keras menggema di ruangan itu setelah tongkat yang ada di dalam mulut Cantika mengeluarkan cairannya.
"Pakai dia.. Aku mau menontonnya...", perintah pria itu pada asistennya serta kedua orang anak buahnya.
"Jangan... Ku mohon... Aku salah...... Jangan....", permintaan Cantika tidak dipedulikan oleh pria yang kini duduk di sebuah sofa single.
Anggukan kepala tanda perintah langsung dikerjakan oleh ketiga orang yang ada di situ.
"Ku mohon... Jangan..... Ampuni aku....", teriakan Cantika semakin kencang ketika tubuhnya benar-benar dibuat polos.
Satu pria mempekerjakan mulut Cantika, satu pria bekerja di semangka matang miliknya, satu pria lagi sedang bermain di lembah basah..
"Nikmati itu seperti kau menikmati percintaanmu entah kapan itu.. Jika tidak, mereka akan terus memaksamu saat kau bergerak menolaknya...", ancam Pria yang sedang menonton adegan live di depannya.
"Buang benih kalian di dalamnya...", ketiganya mengangguk sesuai perintah.
Menikmati atau tidak itu urusan mereka.
.
.
.
.
"Al.. Apa yang kau dapat?", tanya Jo.
"Anak buahku mengatakan bahwa wanita itu masuk ke dalam sebuah apartemen yang diketahui sebagai salah satu properti milik Aleksander Wijaya...", jawab Alvaro.
"Tetap awasi pergerakan wanita itu.. Dia akan menuntun kita pada kedua bajingan yang memanfaatka keadaan Aleksander Wijaya...", perintah Jo diangguki oleh Alvaro.
"Bryand... Tarik investasi kita dari Wijaya Group... Aleksander akan datang dengan sendirinya serta mengatakan semuanya secara langsung. Kita balik memanfaatkan keadaanya...", Bryand menyanggupi.
"Perintahkan Jack untuk lebih ketet mengawasi istriku.. Akhir-akhir ini lebih banyak orang yang sekedar lewat di depan rumahku... Entah itu kebetulan atau sedang mengawasi pergerakanku atau istriku...", lagi Jo melanjutkan perintahnya.
Kedua asisten itu mulai bekerja sesuai dengan perintahnya.
Tidak butuh waktu yang lama, intercall berbunyi.
"Tuan, ada telepon dari Tuan Wijaya..", lapor Verena.
"Katakan padanya saya sibuk.. Jika ada yang perlu disampaikan, tinggalkan saja pesan padamu...", balas Jo.
"Aku mau pulang... Bryand handle kerjaan ku hari ini... Aku butuh tenaga....", ucap Jo kemudian berlalu dari ruangannya setelah segela urusannya selesai.
"Huft... Untung bos... Kalau bukan?", gerutu Bryand.