
Sejak kejadian itu, ranjang malam menjadi sangat dingin. Tak banyak percakapan sebelum tidur atau sentuhan meski sekedar mengecup kening atau mengucapkan selamat tidur.
Rumah besar yang sepi. Claudya jarang tertawa, bahkan tidak mau berhadapan dengan klien JS Group yang berjenis kelamin laki-laki. Begitu pula asistennya Jeny.
Mereka berdua menjadi perempuan paling dingin yang tidak disentuh. Apa lagi ditambah Jack sebagai pengawal pribadi istri bosnya.
Meski gerak-gerik terbatas, Claudya hanya pasrah, tidak banyak membantah atau beradu argumen dengan suaminya.
Sedangkan Jo jangan ditanya. Sejak kejadian itu, ia sangat tertutup. Menghabisi semua orang-orang yang berpotensi menjadi musuhnya dan mengetahui identitas aslinya.
Mr Rick adalah nama yang paling disegani di dunia bawah. Black Hunter tetap menjalankan bisnis ilegalnya yang tidak diganggu gugat oleh orang-orang bawah tanah. Semua bisnis Lucius diambil alih oleh Black Hunter. Termasuk organisasi Centinental yang resmi itu berubah nama menjadi The Shadow.
Semakin kaya rayalah Jo di usia muda seperti itu. Bahagia? Tentu tidak.
Ia merindukan menyentuh istrinya, namun jarak yang diberikan Claudya terlalu jauh. Terkadang Jo menghabiskan waktunya di Club malam sekedar minum menghilangkan stress, ketika lagi ingin, ya sabunlah menjadi temannya di kamar mandi. Miris kan? Atau aneh?
Jo adalah 1 dari 10 pria yang tidak ingin memuaskan dirinya memasuki goa milik wanita lain. Itu jika disurvei. Hehehhee..
.
.
.
.
"Tuan, Nyonya muda ingin bertemu...?", ucap Verena melalui telepon yang ada di meja kerjanya.
"Hm, baiklah...", sahut Jo.
Pintu ruangan CEO JF Group dibuka. Claudya masuk ke ruangan Jo bersama asistennya Jeny.
"Ada apa?", tanya Jo lembut.
"Aku hanya ingin berkunjung.... Juga mau menyampaikan sesuatu...", ujar Claudya.
"Katakanlah..".
"Bagaimana kalau kita berpisah?".
"Aku orang yang tidak taat beragama, namun kau ingat yang diucapkan oleh Pastor saat kita menikah?"
"Hmmm.. Apa yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia...", jawab Claudya.
"Kamu boleh meminta apa saja. Asalkan jangan perpisahan...".
"Tetapi aku sudah disentuh oleh orang lain...", sargah Cla.
"Kemauanmu?", Jo bertanya.
Claudya menggeleng.
Mereka berdua terdiam beberapa saat.
"Baiklah.. Aku sudah membuat keputusan untuk hubungan kita...", Claudya melanjutkan percakapan.
Jo mengernyit menarik tinggi kedua alisnya.
"Biarkan aku pergi ke Seoul..".
"Seoul? Buat apa?".
"Aku ingin menenangkan diri di sana.. Tentu dengan Jeny...", lanjut Claudya.
"Mengisi posisi direktur JS Group di sana?", tanya Jo.
"Iya... Bolehkan?".
"Jika itu baik menurutmu... Berapa lama?".
"Tergantung... Kau tentu tahu keadaan cabang perusahaan di sana... Jadi setelah itu membaik. Aku hanya ingin menyibukkan diri...".
"Kapan berangkat?".
"Secepatnya.. Kak El dan ayah Albert sudah setuju.. Aku hanya ingin mendapat izin dari Suamiku...".
"Jack akan mengawalmu di sana juga beberapa anak buahnya...".
"Jadi kamu mengizinkanku pergi?", tanya Claudya
"Kamu mengatakan ingin menyibukkan diri. Aku tidak melarangmu pergi, namun jaga dirimu sendiri saat di sana.. Aku akan sering-sering mengunjungimu nanti...", ucap Jo.
Claudya mengangguk.
Jeny hanya menyimak. Ia juga sama seperti Claudya, tidak mengizinkan Bryand menyentuhnya lagi atau mereka berdua harus berada di jarak aman jika bertemu. Trauma model apa itu?...
.
.
.
.
Setelah percakapan yang terjadi, suasana kembali dingin. Jo menyiapkan segalanya untuk kepergian istrinya dan asisten Jeny.
Anak buahnya sudah lebih dulu ke Korea Selatan, sedangkan Jack akan berangkat bersama istri majikannya.
Hannam The Hill. Tentu Para Army tau dong Hannam The Hill? Hahahaha.. Lanjut yaa..
Jo tidak tanggung-tanggung membeli sebuah apartemen mewah atas nama istrinya. Meski akomodasi di sana sudah disiapkan oleh JS Group, namun pria itu mau istrinya mendapat tempat yang membuatnya senyaman mungkin. Hal itu sudah dibicarakan dengan ayah Albert juga Lee Ell dan disetujui.
Dibeli dengan bandrol harga US$ 3,7 Juta atau sekitar 50,4 M kalau dirupiahkan. Gym, kolam renang, lapangan tenis, lapangan golf hingga taman menjadi fasilitas yang ada di apartemen tersebut.
Pengawalan di apartemen tersebut diperketat. Tentu Alvaro sebagai penyambung tangan Jo untuk kerjaan di luar kantor adalah komunikator terbaik dalam bernegosiasi.
Jeny tinggal bersebelahan dengan Claudya, karena jika sewaktu-waktu Bryand dan Jo berkunjung, tidak mengganggu aktivitas masing-masing yang harus jaim atau apalah namanya meski tidak harus bersentuhan.
Mewah. Tentu. Jarak dari perusahaan pun sekitar 30 menit berjalan kaki, 15 menit dengan menggunakan kendaraan. Yah, strategis dan tidak melelahkan.
Sebulan sudah Cla dan Jeny tinggal di sana. Komunikasi dengan pasangan masing-masing pun berjalan normal atau abnormal yahh disebutnya? Toh hanya sekedar bertanya apa kabar dan teman-temannya.
Soal sentuhan, Claudya merindukan sentuhan Jo, namun ia belum bisa melakukannya meski sangat ingin. Trauma. Yah.. Berlandaskan hal tersebut membuat Jo pun hanya pasrah saja.
Terpisah jarak, ruang dan waktu. Menguji kepercayaan tentu. Lee Claudya Gitta. Perempuan berdarah campuran Korea juga Indonesia memiliki daya pikat yang luar biasa. Banyak pengusaha tajir Korea Selatan ingin mendekati Claudya. Tatapan dingin akan menjadi penyambutnya jika berani mendekat hingga membuat beberapa orang mundur teratur.
"Naneun imi gyeolhonhaessda (Saya sudah bersuami)", selalu itu yang diucapkan Claudya jika ada pria yang mencoba mendekati.
Hari berganti. Perusahaan yang dikelola Claudya semakin membaik, namun tidak membuat wanita itu beranjak dari tempatnya. Ia belum siap harus kembali ke tanah air. Itu membuatnya samakin ingin berlama-lama.
Jo sudah uring-uringan di tanah air. Perbedaan waktu dua jam lebih cepat dari tanah air membuat ia harus mengatur waktunya dengan baik.
Jack selalu memberikan laporan mengenai kegiatan yang dilakukan istrinya. Sampai ada yang berniat mau menghancurkan perusahaan cabang itupun dilaporkan dan pastinya Jo sudah bertindak dibantu Alvaro.
Bryand lebih banyak diam. Ia tahu apa yang dirasakan kekasihnya. Maka ia tak terlalu menuntut sentuhan ataupun melakukan panggilan video meski mereka masih berkomunikasi dengan baik.
Pukul 19.30 waktu Jakarta, Indonesia.
"Hai, Cla...", sapa Jo ketika panggilan teleponnya tersambung.
"Hai... Apa kabar?", tanya Cla.
"Baik.. Kamu? Bagaimana di sana?".
"Seperti biasa. Kamu sudah makan malam?".
"Sudah. Kamu?", Jo balik bertanya.
"Sudah... Emmmmm, Rich...", panggil Cla.
"Ada apa? Hm?", lembut Jo.
"Aku belum siap kembali ke Jakarta....", ucap Claudya lirih.
"Aku mengerti. Kamu tetap jaga kesehatan dan harus baik-baik saja...".
"Jack mengawalku dengan baik...", ujar Claudya.
"Yaaaa..", sahut Jo singkat.
"Emmmm, Rich... A---ku merindukanmu.....", gagap Claudya.
"Aa--pa??".
"Maaf....", lirih Cla.
"Tidak apa-apa... Aku juga merindukanmu....", ucap Jo.
Mereka berdua terdiam.
Claudya sengaja menurunkan sebelah tali gaun tidurnya.
Jo membola.
"Cla..", panggil Jo.
Claudya hanya diam. Sebelah tali gaun tidurnya sudah berada di lengan dan sengaja membenarkannya.
"Jangannnnn... Biarkan aku melihatnya....", ucap Jo berat.
Claudya menurut. Ia tidak jadi menarik kembali sebelah tali gaunnya.
Kebiasaan tidur tanpa menggunakan bra membuat segala sesuatunya mudah.
"Claaaa, sebelah lagi, boleh?", tanya Jo dengan napas tertahan.
"Kamu mau?", balik Cla bertanya.
"Jika kamu tidak keberatan...", balas Jo.
Akhirnya terpampang sudah dua buah benda yang menjadi mainan Jo.
"Maaf, aku belum bisa mengizinkan kamu menyentuhnya. Tapi biarkan aku menyentuh diriku sendiri...".
Jo hanya mengangguk. Sebelah tangannya sudah ada di balik celana training miliknya.
Claudya berpindah posisi dari yang tadi duduk di meja kerjanya di dalam kamar, kini ia sudah berbaring telentang di ranjang. Ia sengaja membiarkan handphonenya di meja kerjanya menghadap ke arahnya yang tiduran di ranjang.
Jo pun tidak tinggal diam. Ia juga melakukan hal yang sama. Meletakan handphonenya di meja di bawah televisi dalam kamarnya.
"Akkkkuuu, keluaaarrrr", teriak Cla.
"Lagi, Claaa...", desak Jo.
Claudya mengangguk. Ia melakukannya lagi, hingga keluar beberapa kali, sedangkan Jo akhirnya tumbang juga.
"Terima kasih...", ucap Jo saat sudah kembali mengenakan pakaiannya.
"Biarkan aku melihatnya sampai tertidur sendiri...", begitu ucapan Jo.
Wanita itu menurut pada suaminya.
Kebebasan yang Claudya dapat adalah Jo tidak mengekangnya melakukan apapun. Toh paradigma yang mengatakan wanita hanya boleh di kasur, dapur dan sumur tidak berarti bagi seorang Claudya. Sudah sekolah tinggi-tinggi, malah berakhir di rumah saja. Rugi dong...
Mereka berdua pun akhirnya terlelap sampai pagi dengan anggilan video yang masih menyala.
.
.
.
.
Lucius? Bagaimana keadaannya.
Perempuan yang dibayar untuk mengeluarkan benih-benih Lucius terus datang bergantian.
Namun tidak dengan wajah yang cukup tampannya.
Matanya sudah dicungkil, jemari nakalnya sudah di potong.
Ia hanya berharap mati, namun Jo tidak mengizinkan itu.
"Kau harus membayarnya terlebih dahulu, baru aku izinkan kau pergi ke neraka", itulah ucapannya.
Berulang kali ia meronta dan memohon, namun Jo dan anak buahnya tetap bungkam.
Seluruh asetnya dimiliki oleh Jo dan dibagi-bagi kepada Bryand dan Alvaro.
Bryand setiap hari datang ke markas untuk menyiksanya lalu pulang.
Kemarahan tercetak jelas.
Pernikahannya harus ditunda atau kemungkinan batal karena Jeny hanya diam saja jika mengungkit hal itu.
Yahhh, trauma yang aneh. Di Saat banyak orang memulihkan trauma dengan bersenang-senang, tidak dengan Claudya serta asistennya. Mereka lebih memilih menyibukkan diri serta berkonsultasi dengan psikiater yang dikirim oleh Dokter Shintia.
Cara paling ampuh bagi wanita karier. Sibuk dan lupakan semuanya namun berlangsung lama.
Mau bagaimana? Toh setiap orang berbeda dalam mengatasi trauma, jadi Jo biarkan saja selama Claudya dalam pengawalan ketat.
.
.
.
.
"Rick......."