Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 77



Dady Don keluar dari ruang kerja Jo dan melesat cepat ke arah pintu utama diikuti oleh Ayah Albert.


"Mas, kemana?", teriak Momy Re melihat suaminya berjalan tanpa pamit padanya.


"Kami ada urusan sebentar, kalian di sini saja dulu, ya?", bukan Dady Don yang menjawab, melainkan ayah Albert.


Momy Re mengernyit heran. Tidak biasanya suami slengeannya itu pergi tanpa mengecup bibirnya. Membuatnya lebih heran adalah bukan laki-laki yang menemaninya hampir tiga puluh tahun itu menjawab malinkan besannya.


"Ada apa?", tanya Momy Re penasaran ketika melihat El keluar dari ruang kerja Jo.


Wanita paruh baya itu tidak bisa mengejar suaminya karena ia sedang menggendong cucu tampannya.


"Emmmm... Biar nanti Jo yang jelaskan, Mom....", jawab El. Ia diminta ikut memanggil orang tua Jo dengan panggilan Dady dan Momy.


"Ada apa sih? Kok begini?", ia mulai gelisah kemudian menyerahkan baby AD ke dalam gendongan besan perempuannya yang berada di sebelah.


"Rich..... Rich......", Momy Re sembari berjalan sembari memanggil nama putranya.


Wanita tua yang sedang merasa tak tenang itu membuka kasar ruang kerja anaknya.


"Rich... Katakan pada Momy, ada apa? Kenapa Dadymu keluar dengan tergesa-gesa, hm?", tanya Momy Regina.


"Isss... Dady.. Sudah ku bilang jangan bertindak gegabah kan? Jadinya si tua ini akan membuatku berbohong padanya lagi...", batin Jo. "Tidak apa-apa, Mom.. Hanya saja ada bengkel yang baru dibuka Dady bulan lalu terjadi pencurian, sehingga banyak berang yang raib.. Mungkin itu...", Jo membuat alasan yang tidak masuk akal.


"Kau kira bisa berbohong padaku anak nakal, ha?", bentak sang ibu negara. "Tidak ada yang Dady sembunyikan dari Momy hampir tiga puluh tahun hidup bersamanya... Kau anak kemarin sore mau menipuku?".


Bryand menganga.


"Anak yang dikatakan kemarin sore sudah punya anak.. Mungkin nyonya besar lupa...", Bryand bermonolog dalam hatinya.


"Mom... Aku sudah punya anak, yaa... Jangan lupa....", elak Jo.


"Ehhh, anak kutu, kalau kau tidak meminta bantuan Dady waktu itu, mungkin sekarang benihmu itu tidak masuk-masuk ke tempatnya... Ingat, yaa... Baby AD akan ada dalam asuhanku kalau kau lupa...", galaknya Momy Regina.


"Mom, kalau aku anak kutu, berarti Momy adalah ibunya kutu dong?", Jo membalas ucapan ibunya.


Momy Re menatap nyalang anak laki-laki pertamanya itu.


"Kita bahas apa sih sebenarnya? Momy tanya sekali lagi, kemana Dady pergi sampai lupa kalau ada Momy?".


"Aku tidak tahu, Mom... Dady hanya bilang buru-buru ke bengkelnya... Ayah Albert juga ikut, soalnya salah satu mobil ayah diservis di bengkel Dady...", jawab Jo yang masih mati-matian menutup kebenarannya.


Dari tadi sebenarnya ia mau mengalihkan pembicaraan agar sang ibu tidak terus bertanya, namun maklumlah perempuan kan? Tidak mendapat jawaban yang diinginkan maka akan terus menuntut.


Ibu negara kini beralih menatap Bryand yang sengaja tidak melihat tatapan sang nyonya besar padanya.


"Bry.....", hanya sekedar panggilan biasa, namun bagi Bryand terdengar seperti sebuah ancaman.


"I...iiiiiiaaa, Nyonya besar?", jawab Bryand gugup.


"Kau mau bicara, atau.....", tatapan mata sang singa beralih ke area pangkal paha Bryand.


"Aduhhhh...", baru ditatap saja Bryand sudah ngilu.


"Jangan sampai Jeny tidak akan mendapatkan kepuasaan lagi kalau kau tidak menjawab dengan tepat apa yang saya mau...", ancam Momy Regina.


"Tuuu...Tu...Tuannnn", panggil Bryand pelan memohon agar Jo melepaskan dia dari cengkraman sang ibu negara yang kini mendekat ke arahnya.


"Mom... Sudahlah... Dady akan baik-baik saja....", cegah Jo yang berada di depan asistennya kini.


"Minggir... Kau akan terus menyembunyikan sesuatu dari Momy, Rich.. Jadi lebih baik asisten setiamu ini yang menjawabnya, kan?", mata Momy Re menatap nyalang ke arah Bryand.


"Pergilah... Kau tahu apa yang harus kau lakukan...", perintah Jo.


Bryand mengangguk mengerti.


"Saya permisi, nyonya...", pamit Bryand tanpa menunggu jawaban sang nyonya besar, ia berlari keluar.


"Rich... Pelasee....", puppy eyes dikeluarkan. Cara terbaik yang tidak mungkin ditolak oleh Jo.


"Mom... Please.. Nanti, yaaa? Sekarang biar aku mengurusnya dulu....", jawab Jo membujuk ibunya.


"Rich... Momy tidak akan tenang kalau begini...", Momy Regina memaksa.


"Mom... Tolong yaaa?", Jo masih membatu untuk sebuah jawaban. Ia tidak mau jantung sang ibu kembali drop jika mendengar apa yang terjadi pada putra manjanya itu.


"Momy sebaiknya istirahat.. Kan ada ibu Ellena juga di sini? Momy tenang saja, ya? Semua akan baik-baik saja...", bujuk Jo.


Momy Regina menatap dalam putra pertamanya itu.


"Ada hubungan dengan adikmu, Rich? Apa itu? Momy gelisah beberapa hari ini karena tidak biasanya ia absen mengabari Momy kalau lagi di luar rumah...".


Jo terdiam sejenak. "Momy tenang, ya? Anak nakal itu baik-baik saja... Nanti ku suruh dia pulang dan ku jewer telinganya menggantikan Momy biar Momy tidak lelah menyiksa anak itu...", Jo terkekeh.


Momy Regina memaksakan senyumnya dan mengikuti Jo yang memegang bahunya keluar dari ruang kerja Jo menuju tempat di mana keluarga Claudya berkumpul di rumah besar itu.


.


.


.


.


Di tempat lain, tepatnya di markas Black Hunter.


"Katakan di mana ayahmu dan juga pria yang menjadi dalang penyerangan putraku?", bentak Dady Don sambil mencekram kuat dagu Cantika.


"Saaaaa....kiitttt", desis Cantika.


"Don... Tahan emosimu...", ayah Albert memperingati. "Dia tidak akan menjawab jika kau bertanya seperti itu...".


Dady Don menoleh ke arah Ayah Albert, sedangkan Alvaro yang bertugas meringkus Cantika hanya menontonnya ditemani David ketua organisasi Black Hunter yang baru.


Di mana Aleksander Wijaya? Setelah mendengar bahwa orang-orang yang bekerjasama dengannya menyerang putra kedua dari keluarga Fernand, ia melarikan diri mengikuti orang-oramg itu, sehingga Cantika yang menjadi sasarannya.


Wanita itu diringkus di apartemen milik dokter Allan ketika mereka sedang bercinta dengan liar di ruang tamu apartemen.


"Biar aku yang berbicara dengannya...", ucap Albert.


Dady Don melihat wanita itu dengan tatapan bengis seolah menelanjangi, menguliti, bahkan ingin memotong tulang-tulang wanita itu.


"Stttttt.. Tatap mataku...", pinta ayah Albert yang kini berganti posisi dengan Dady Don.


Cantika menatap pria paruh baya yang terlihat masih sangat tampan itu dengan menelan ludahnya kasar. Tatapan ayah Albert seolah membunuhnya secara perlahan.


"Kau lihat kan di atas meja itu? Ada pemukul baseball, ada tongkat besi yang cukup panjang, ada juga beberapa alat pencabut kuku yang begitu bagus... Tunggu, saya akan mengambilnya dan membuatnya lebih jelas terlihat oleh matamu...", ucap Ayah Albert dan melakukan seperti apa yang dikatakan.


Pria itu mengumpulkan beberapa benda Daan meletakkannya di lantai tepat di depan Cantika.


"Kau pilih yang mana untuk masuk ke dalam goa lembabmu? Saya rasa ukuran goamu itu sudah seperti tongkat baseball ini...", ucap Ayah Albert memainkan benda itu.


Cantika menelan ludahnya kasar.


"Katakan, dimana ayahmu dan sekutu-sekutunya bersembunyi? Hm..?", tekan ayah Albert.


Cantika menggeleng. Lalu ia berpikir. "Mungkin aku bisa mengajukan syarat...?", batin Cantika tersenyum.


"Aku akan mengatakannya tetapi dengan satu syarat....", jawab Cantika mencoba bernegosiasi.


"Apa?", tanya Dady Don geram.


Ayah Albert langsung memberi isyarat pada Dady Don untuk diam.


"Sepertinya kau lupa jika kau berhadapan dengan siapa sekarang? Oh... Kita belum kenalan kan? Kenalkan, saya Lee Albert... Kau tentu tau siapa aku setelah mendengar namaku..?", pancing ayah Albert.


Cantika menganga.


"Kau tidak berhak mengajukan syarat... Jawab pertanyaanku, atau tongkat baseball ini bersarang tepat di antara pahamu yang putih itu...", ancam ayah Albert yang membuat Cantika berpikir dua kali.


"Aku tidak tahu, Tuan....", jawab Cantika tegas.


"Ternyata kau pandai berbohong dan cepat lupa yaaa?", kekeh ayah Albert.


"Alvaro, minta anak buahmu untuk menelanjanginya dan mengisi goa lembabnya itu dengan tongkat baseball ini.. harus masuk... Jangan berhenti jika belum bisa masuk...", perintah ayah Albert diangguki oleh Alvaro diikuti David di belakangnya.


"Tolonggg... Jangannnn... Tuannn.. Ku mohon........", teriakan Cantika seolah tidak berarti apa-apa.


Perempuan itu dibaringkan di atas meja dan kaki serta tangannya diikat sehingga posisi goanya terlihat jelas.


"Akkkkkjhhhhhb... Sakkkittttt....", teriak Cantika. Ia hanya bisa bergerak seperti lintah kena air panas.


"Tongkat itu akan semakin mengoyakmu jika kau tidak menjawab pertanyaanku....", ucap ayah Albert yang juga menyaksikan hal itu.


"Ternyata kau gilaaa juga....", ucap pelan Dady Don.


"Hahahahaha..", ayah Albert tertawa. Mereka berdua menatap ke arah meja di mana Cantika diletakan tanpa busana sedikitpun.


"Kau tidak bergairah?", tanya Ayah Albert.


"Bahkan seribu wanita yang bertelanjang di depanku, aku akan tetap memilih istriku.. Kau lihat kedua semangkanya? Sepertinya bekas operasi penambah implan itu..", ucap Dady Don.


Mereka berdua terkiki geli.


"Tuuuuuuaaannnnnn... Ku mohonnnn.....", dengan napas tersengal Cantika memohon.


"Aku hanya mendengar kau mengatakan yang ingin aku tahu, jika tidak, mungkin besi yang akan menggantikan tongkat baseball itu di dalam....", ancam ayah Albert menyeringai.


"Jooogggggjjjahhhhh... MEREKA DI JAWA TENGAH.....", teriak Cantika karena goanya diobok-obok oleh tongkat baseball.


"Sudah.. Ayo....", ajak Dady Don meninggalkan area penyiksaan Cantika.


"Terserah kalian mau apakan wanita itu....", ucap Dady Don lagi kemudian keluar dan disusul oleh Ayah Albert, Alvaro, juga David.


"Katakan pada Jo untuk menyusul ke Jogja...", perintah Dady Don. "Kau pulanglah.. Terima kasih atas bantuannya...", ujar Dady Don ketika mereka berada di luar markas Black Hunter.


"Maaf, Tuan Besar... Tuan Muda mengatakan anda harus kembali ke rumah...", jawab Alvaro.


"Jangan memerintahku, Al...", bantah Dady Don.


"Ini, Tuan Besar.. Tuan Muda ingin bicara...", Alvaro menyerahkan handphonenya.


"Apa?", bentak Dady Don.


"Pulang, Dad... Bujuk istrimu yang ngambek dari tadi, kalau tidak Claudya akan menyiksaku untuk tidur di luar....", jawab Jo dari seberang.


"Itu deritamu.... Sana... Jangan ganggu... Mereka semua harus mati di tanganku sendri...", geram Dady Don.


"Dad... Pleasee.. Pulanglah... Nanti Momy kepikiran dan akan sakit, Dad... Pulang dan jelaskan pelan-pelan ke Momy.. Beliau sudah curiga sedari tadi saat Dady pergi...", bujuk Jo.


"Hm.....", hanya deheman lalu Dady Don mematikan teleponnya.


"Kita pulang....", ajak Dady Don yang sudah beralih tujuan.


"Baik, Tuan...", jawab Alvaro.


Mereka berempat pun pergi dari tempat itu menuju rumah utama Jo.