Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 78



Jo sudah bersiap ke tempat di mana para musuhnya bersembunyi.


Ia mengenakan sebuah jaket hitam, topi dan juga segala sesuatu yang tersembunyi di balik lemari walk in closenya.


Tentu, semua itu dilakukannya pada saat Claudya dan Baby AD sudah terlelap.


Perlahan ia mendekat ke arah ranjang dengan mengenakan setelannya, lalu mencium singkat kening dan bibir sang istri serta putranya.


"Baik-baik di rumah, ya.. Jangan rewel sebelum Dady pulang.. Oke, boy?", gumam Jo pelan agar tidak mengganggu istrinya. Maklumlah, menghindari pertanyaan sang istri jika ketahuan berangkat malam-malam.


Di bawah sudah bersiap beberapa orang anak buah kepercayaannya termasuk kedua asistennya, Bryand dan Alvaro.


"Kamu ikut? Jeny bagaimana?", tanya Jo ketika turun lalu melihat adanya asisten Bryand.


"Tentu, Tuan... Tuan Muda kedua sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri, jadi urusannya tidak hanya dengan tuan muda dan tuan besar...", jawab Bryand diangguki oleh Alvaro.


"Lalu Jeny?", sekali lagi Jo bertanya soal Jeny.


"Saya sudah menceritakan kejadiannya, ia juga merasakan hal yang sama.. Jadi yaa saya di sini, Tuan..", jawab Bryand lagi.


Jo paham.


"Kita langsung ke bandara...", perintah Alvaro yang kini duduk di samping anak buah yang menjadi supir, sedangkan Jo dan Bryand ada di kursi belakang, diikuti oleh beberapa mobil pengawal.


Di dalam perjalanan mereka membahas rencana penyerangan terhadap musuhnya.


"Laporan dari Jogja bagaimana?", tanya Jo.


Bryand memberi sebuah iPad kepada Jo.


"Sepertinya mereka menyadari akan terjadi penyerangan, sehingga mereka bergerak cepat untuk berpindah ke daerah yang lebih sulit Qt gapai, Tuan..", jawab Bryand.


"Tetap jalankan rencananya..! Gunakan jalur udara dan darat...", perintah Jo disanggupi oleh Alvaro yang mendengarnya.


Orang kaya, jadi pahamlah...


Jo langsung diam dan menutup matanya. Sekilas terlihat santai, namun dalam hatinya sungguh tersiksa. Adik satu-satunya harus jadi korban karena kegiatan bawahnya dulu.


...****************...


Di kediaman Jo.


Baby AD tiba-tiba saja menangis kencang.


Claudya tersadar dari lelapnya.


Wanita itu menyisir pandangannya ke segala arah, namun tidak mendapati suaminya.


"Dad....", panggilnya sambil menggendong buah hatinya yang semakin menangis.


"Dady....", namun tidak mendapati jawaban.


Ia keluar kamar membawa baby-nya, bermaksud memeriksa ruang kerja sang suami. "Mungkin di ruangannya", batin Claudya.


Karena tangisan kencang Baby AD, para penghuni rumahpun terbangun.


"Kenapa?", tanya Momy Re menghampiri Claudya.


"A menangis, Mom... Dari tadi tidak mau diam... Aku lagi nyari Rich... Dia tidak ada di kamar...".


"Sudah periksa popoknya?", tanya Momy Re sekaligus meraba bagian letak popok pada bayi itu.


"Sudah, Mom... Kering.. Dikasih asi juga baby A tidak mau...", keluh sang mantu. Maklum, anak pertama.


"Kemana sih? Dady Don juga belum pulang sama Ayah Albert..", Momy Re berucap.


Claudya menoleh saat mau membuka ruang kerja Jo.


"Maksudnya, Mom? Dari tadi siang?", tanya Claudya.


"Iya..", jawab Momy Re murung.


"Mereka kemana?", gumam Claudya yang masih didengar oleh Momy Re.


"Ada apa, Cla?", tanya Ibu Ellena yang keluar dari kamarnya juga.


"A menangis, Bu... Tidak tahu kenapa, soalnya dikasih asi tidak mau, juga popoknya masih kering..".


Ibu Ellena menjadi heran.


"Ayahnya kemana?", tanya ibu Ellena lagi.


"Rich tidak ada di kamar dan ruang kerjanya...".


"Sudah ditelpon?".


"Belum, Bu...", jawab Claudya.


"Coba telepon, Jeng...", pinta ibu Ellena kepada besannya dan dituruti.


"Tidak aktif...", jawaban yang membuat Claudya semakin resah.


"Kamu tenang, sayang... Jangan gelisah... Nanti terbawa sama AD dan dia semakin menangis...", ucap Ibu Ellena.


Claudya menarik napasnya panjang menenangkan dirinya.


Baru beberapa hari menjadi ibu, artinya segala hal belum ia ketahui dalam mengurus si kecil.


Masih dalam keadaan cemas dan ketegangan di tengah malam, Dady Don dan Ayah Albert beserta asistennya masing-masing tiba di kediaman Jo.


"Ada apa?", tanya Dady Don tenang melihat istri, mantu juga besan berada di depan ruang kerja Jo.


"Dad... Ini baby A menangis...", jawab sang istri menyambut suaminya.


"Terus? Kenapa di luar bukannya di kamar?", Ayah Albert yang bertanya.


"Jo tidak ada di kamar, Ayah... Ini lagi nyari...", jawab Claudya.


"Oh, Richard? Sudahlah, dia ada pekerjaan mendadak di Jogja.. Jadi tadi langsung berangkat tiba-tiba...", jawab Dady Don santai.


"Jogja? Tidak pamit padaku, Dad?", heran Claudya.


"Katanya kamu nyenyak tidur, jadi tidak tega bangunkan kamu.. Ini Dady sudah sampaikan pesannya..", jawab Dady Don lagi.


"Nomornya tidak aktif, Dad dari tadi...", sanggah Claudya.


"Mungkin handphonenya lowbat.. Sudah, jangan dipikirkan.. Istirahatlah...", sambung Ayah Albert.


Meskipun tidak puas dengan jawaban Ayahnya, Claudya tetap menurut untuk masuk ke kamarnya dengan baby A sudah tertidur karena kelelahan menangis.


"Dady, apa yang Dady sembunyikan? Hm?", tanya Momy Re dengan tatapan mengintimidasi ketika mereka berdua di dalam kamar.


"Apa, Mom?", tanya Dady Don pura-pura tidak tahu.


"Kita hampir tiga puluh tahun bersama, Dad.. Jangan coba-coba membohongi Momy...".


"Ehmmm, besok baru Dady bicara ya, Mom? Janji... Besok deh...", Dady Don mengulur waktu.


"Tidak... Dari tadi siang Rich pun tidak mau mengatakan pada Momy... Kalau Dady tetap mau menyembunyikannya, silahkan tidur di luar..", ancam Momy Regina.


"Gawat.... Lagi capek gini enaknya ngadon, mah kalau tidur di luar, bisa gagal masuk sarang...", batin Dady Don.


"Baiklah.. Tapi janji, tenang ya... Ini sedikit mengejutkan...", jawab Dady Don.


Momy Regina hanya mengangguk masih dengan tatapan penasaran juga intimidasi.


"Ehhhmmm, putra kedua kita sekarang berada di rumah sakit...".


Duarrrrrr.......