Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 19



"Siapa Mr. Rick?.."


"Sepertinya aku tidak bisa berbohong, ya?", tanya balik Bryan.


"Kau tau itu...!", jawab Jeny. "Aku akan mendengarnya dan diam...!", lanjut wanita itu lagi.


"Mr. Rick... Panggilan untuk Tuan Richard Jo di kalangan bawah...".Bryand berucap dengan singkat.


"Kalangan bawah?", Jeny penasaran. Lalu wanita itu menatap Bryand dengan kening mengkerut menunggu penjelasan lanjut dari Asisten pertama Richard Jo tersebut.


"Yah.. Bisa disebut Mafia...!".


"Penjahat?".


"Menurutmu?".


"Aku tak mengerti dengan pekerjaan seperti itu...!", jawab Jeny.


"Kumpulan kami dinamakan Black Hunter...", ucap Bryand lalu bangkit dari sisi ranjang menuju balkon kamar hotel.


"Di mana JF Group berpijak, maka di situ markas kami ada...", lanjut Bryand.


"Kami sering menggagalkan penyeludupan narkoba, penjualan organ manusia maupun manusia itu sendiri..".


"Maksudnya..?", tanya Jeny tidak mengerti.


"Kau pernah mendengar berita tentang sebuah kontainer besar di pelabuhan kota C negara kita, ditemukan puluhan gadis belia yang siap dikirimkan ke luar negeri untuk dijual?", tanya Bryand balik.


"Iya. Sekitar tiga bulan atau empat bulan lalu...", sahut Jeny kemudian bangkit dari ranjangnya lalu menyusul Bryand berdiri di balkon kamar hotel.


"Kumpulan kami yang menggagalkannya..", ucap Bryand lagi lalu tersenyum ke arah Jeny.


"Pria ini tersenyum? Sungguhhhh sangat manisss...", batin Jeny.


"Pekerjaan kami memperjual belikan senjata juga barang-barang antik yang beredar di pasar gelap. Juga menjadi pengawal sekaligus menyelesaikan masalah interen, atau ekstern perusahaan", jelas Bryand lagi.


"Bukankah itu bahaya?".


"Bahaya? Kami dilatih dengan keras.. Bahaya bagi kami hanyalah mainan anak-anak...!", jawab Bryand kemudian mengambil sebatang rokok ingin mengisapnya.


Jeny yang melihat Bryand ingin menyulut api rokoknya langsung mengambil batang rokok itu.


"Kenapa?", tanya Bryand heran.


"Merokok membunuhmu...!", ucap Jeny lalu tersenyum.


"Aku hanya merasa gagal melindungi Tuan serta Nyonya Muda Claudya... Jugaa... Juga dirimu ...".


"Bukan salahmu jika ini terjadi....", ucap Jeny sekaligus mengusap punggung Bryand.


Bryand yang mendapat perlakuan seperti itu menoleh, menatap dalam Jeny merasakan dadanya berdetak hebat.


Mereka berdua terdiam sesaat saling menatap, merapatkan tubuh. Pria dan wanita itu terbawa suasana, hingga akhirnya bibir mereka bertemu bukan hanya sekedar ciuman.


Jeny melingkarkan kedua tangannya di pinggang Bryand, sedangkan kedua telapak tangan laki-laki itu berada di pipi Jeny.


Beberapa menit berciuman, Jeny menyudahi kegiatan itu.


"Maaf...!", sesal Bryand.


"Kita terbawa suasana", ucap Jeny yang tiba-tiba saja gugup.


********Di Rumah sakit...


"Tidurlah... Kau harus cepat pulih...", saran Jo pada istrinya.


"Kau di sini temani aku...", ajak Claudya sambil menepuk sisi ranjang yang lebar itu.


"Baiklah...", sahut Jo kemudian beranjak naik ke atas ranjang.


Mereka berdua terlelap bersama setelah kejadian yang terjadi.


Pukul 03.25 am.


Jo bangun dari sisi Cla, menatap wajah istrinya sebentar, kemudian beranjak dari ranjang itu lalu membuka pintu kamar inap.


"Tuan...", sapa Alvaro yang sudah tiba dari negara I.


"Hm.. Aku ingin ke markas berusaha dengan pria brengsek itu..", perintah Jo.


"Baik, Tuan...".


"Tetap di sini, jangan sesekali meninggalkan pintu ini..!", lanjut Bryand pada anak buahnya yang lain.


"Siap Mr...", sahut lima orang anak buah tersebut bersamaan.


Jo dan Alvaro pun berangkat menuju markas mereka yang ada di Swedia. Sekitar 300 orang anak buah berada di markas itu.


"Bagaimana?", tanya Jo langsung setelah turun dan di sambut oleh anak buah kepercayaannya di negara itu.


"Dia tidak mau berbicara sebelum Mr datang. .!", jawab Ferland sang anak buah kepercayaan.


"Baiklah. Mari kita bermain-main dengan pria lemah itu..!", ucap Jo langsung menuju ruang penyekapan.


"Aku tidak punya banyak waktu.. Katakan di mana Paul Da Gomez berada?", tanya Jo setelah mereka sampai di ruang penyekapan.


"Hahahahahha... Kau sangat menjijikan...!", hina Willy.


"Oke... Ku rasa tidak mendapatkan jawaban darimu...!", sahut Jo lalu mengedipkan mata pada Ferland.


Anak buah itu paham apa yang dimaksud Jo, sehingga langsung menyiksa dengan mencabut kuku pada jari tangan pria itu.


"Aaaaahhhhhhhhh....", teriak Willy.


"Masih belum mau bicara?", tanya Jo.


"Matipun aku tidak akan berbicara....!".


"Itu permintaanmu...", sahut Jo kemudian langsung memberi kode pada Ferland. "Kita pergi.. Percuma di sini...!", perintah Jo kemudian pergi dari ruangan itu menuju ruangannya.


"Perintahkan Si Kelinci untuk menyusuri area kota ini.. Pastikan Paul berada di sana. Bunuh langsung di tempat...!".


"Siap Mr. Rick...!", sahut Alvaro kemudian langsung memberikan perintah melalui handphonenya.


"Kita ke rumah sakit...!".


"Perusahaan bagaimana?", tanya Jo pada Al.


"Baik, Tuan... Tuan Besar yang menghandel untuk sementara sampai Tuan kembali..." sahut Al.


"Ikuti terus pengkhianat dalam kumpulan kita...", perintah Jo.


"Siap Tuan.. Si Rusa tetap pada kita....!".


Jo kemudian turun di parkiran rumah sakit setelah kendaraan mereka sampai.


"Hubungi Bryand. Tanya keadaan Jeny. Jika sudah mendingan, suruh Pria menyebalkan itu bawa pulang asisten Cla ke negara kita. Cari alasan masuk akal agar Cla tidak curiga...!", perintah Jo lagi lalu masuk menuju ke kamar inap istrinya.


Melihat istrinya masih terlelap, Jo ke kamar mandi, membersihkan dirinya, kemudian setelah selesai, ia lalu naik ke ranjang sang istri dan memeluknya sambil memejamkan mata.


Willy jangan tanya lagi bagaimana keadaan pria itu. Tinggal tunggu malaikat maut mendaftarkan namanya untuk ikut ke alam lain.


Sekitar 2 jam Jo tertidur di samping istrinya, menyadari pergerakan di sampingnya, dengan cepat membuka mata.


"Kau bermimpi buruk?", tanya Cla yang kaget karena Jo membuka matanya tiba-tiba.


"Tidak... Aku merasakan gerakan, jadi aku bangun...!", ucap Jo.


"Bangunlah, sudah pagi... Bersihkan tubuhmu...!", saran Cla.


"Bagaimana keadaanmu?", tanya Jo.


"Sudah lebih baik.. Hanya kau tahu, kondisi tangan dan kakiku.. Masih belum bisa digerakkan...!", ucap Cla sambil menunjuk tangan dan kakinya yang cedera.


"Akan pulih beberapa Minggu lagi... Aku mandi dulu..", Jo berkata lalu bangun dan menuju kamar mandi membersihkan dirinya.


"Untung dia tidak banyak bertanya. Ini tangan nakal sekali sih....!", batin Cla. Karena semenjak dia lebih dulu bangun dari Jo, sebelah tangan yang masih bisa digunakan mulai berkeliaran dari wajah prianya sampai pada tingkat sakti milik pria itu.


"Jangan kira aku tidak tahu tingkamu, sayang... Akan ku buat kau tak bisa berjalan setelah kau sembuh... hahahha", gumam Jo di dalam kamar mandi.


Sedangkan di kamar hotel.


Bryand bangun dari tidurnya. Ia melirik ke samping kirinya, melihat Jeny yang tak terbungkus pakaian hanya selimut masih terlelap melingkarkan tangannya di pinggang Bryand.


Laki-laki itu tersenyum membayangkan kejadian semalam setelah mereka berciuman.


Ciuman itu hanya jeda, kemudian dilanjutkan hingga kejadian saling menggali terjadi.


"Kau sudah bangun?", tanya Jeny membuka sedikit matanya yang masih mengantuk.


"Hm.. Sudah...", sahut Bryand tersenyum.


"Jangan tersenyum, aku malu....!", ucap Jeny lalu menutupi wajahnya dengan bantal.


"Kenapa malu?", tanya Bryand.


"Aku seperti wanita murahan... Baru putus dengan kekasihku, langsung tidur dengan pria lain...!".


"Kau berhak bahagia kan? Apa yang salah?", tanya Bryand.


"Kau tahu kan? Aku sudah tidak gadis lagi? Bahkan bagaimana hidupku?", tanya Jeny.


"Tidak masalah... Aku hanya pria biasa, tak pantas menuntut kesempurnaan seorang wanita....", ucap Bryand sambil terus menatap Jeny.


"Ha...?".


"Jika aku ingin wanita sempurna, maka aku pun harus sempurna...", Bryand menggombal.


Jeny yang mendengar tuturan Bryand langsung menatap wajah pria itu. Ia tersenyum sambil menitikan air mata. Terharu.


"Jangan menangis. Kau dengan mantan kekasihmu adalah kisah lalu. Kau denganku adalah kisah baru...", lagi Bryand berucap.


Jeny masih menitikan air mata. Bryand menghapusnya, kemudian mendaratkan kecupan di bibir wanita itu. Jeny menyambut.


Semakin dalam, kecupan itu berubah menjadi sebuah cumbuan. Menuntut hal lebih, hingga akhirnya diganggu...


kring-kring-kring....


"Ah sial....!", umpat Bryand yang tiba-tiba kesal karena kegiatan paginya tertunda.


Jeny tertawa melihat tingkah pria itu. Pria dingin yang menyebalkan ketika awal bertemu.


"Hm, apa? Mengganggu saja...", ucap Bryand setelah menjawab panggilan tersebut.


"Bagaimana asisten Jeny? Sudah baikkan? Kalau sudah, Tuan menyuruhmu untuk membawanya pulang ke negara kita. Biar di sini aku yang urus sementara...!", sahut pria dari seberang sana kemudian mematikan panggilannya sepihak.


"Haissss......", lagi-lagi Bryand mengumpat.


"Kenapa?", tanya Jeny.


"Kita pulang ke Indonesia hari ini....!", ucap Bryand.


"Pulang..?", tanya Jeny lagi heran.


"Hm.. Aku yang akan mengantarmu pulang. Cari alasan yang terbaik untuk nyonya muda. Jangan biarkan dia curiga...", ucap Bryand kembali ke mode menyebalkan.


"Ishhhhhh... Iya ..", Jenya menjawab. Wanita itu tahu, perintah tidak boleh dibantah.


"Jangan katakan apapun mengenai yang ku bicarakan semalam...!".


"Hmmm, baiklah...", sahut Jeny malas lalu beranjak dari ranjangnya, membungkus tubuh polosnya dengan selimut.


"Mau ke mana?", tanya Bryand.


"Mandi...", sahut Jeny ketus.


"Aku ikut .....", ucap Bryand cepat lalu mengikuti wanita itu ke dalam kamar mandi.


kalian tahulah kejadian selanjutnya apa.... hehehehe....


#####Infromasi...


Untuk Cerita Jeny dan Bryand, nanti di up yah.....


Sekaligus Al dan Verena..........


okey....?????