
"Please have a seat, Mr. Bram..", ucap Jo ketika Bram sudah berada di depannya. "Sorry to disturb your time".
"No problem Mr. Richard. I happen to be not busy (Tidak masalah, Tuan Richard. Kebetulan saya tidak sedang sibuk)", balas Bram.
"You may ask why I asked you to meet tonight..? And my answer is Mr. Seong Da Min (Anda mungkin bertanya mengapa saya mengajak anda bertemu malam ini..? Dan jawaban saya adalah Tuan Seong Da Min)", Jo langsung mengungkapkan maksudnya.
Bram mengerti arah pembicaraan Jo. Tidak sulit untuk mengetahui hal itu.
"As people say. You are very fast moving. I warned him, but he was very stubborn (Seperti yang dikatakan orang-orang. Anda sangat cepat bergerak. Saya sudah memperingatinya, tetapi ia sangat keras kepala)", keluh Bram.
"You know what I can do if you hear about me? (Kau tahu kan apa yang bisa aku lakukan jika kau sudah mendengar tentangku?)", tanya Jo mengintimidasi.
"Yes, Mr Richard. I will try to keep her out of your wife's life.. But I can't promise, sir. He's the type of person who always gets something if he wants it (Sudah, Tuan Richard. Saya akan usahakan menjauhkan dia dari kehidupan istri anda.. Tetapi saya tidak bisa berjanji, Tuan. Dia tipe orang yang selalu mendapatkan sesuatu jika dia menginginkannya)..", jawab Bram.
"I understand. Thank you" ucap Jo. "Please enjoy the existing dishes (Saya mengerti. Terima kasih. Silahkan nikmati hidangan yang ada)..".
Mereka berdua pun mulai menikmati jamuan yang ada, sebagai bentuk awal perkenalan dengan Bram yang terlihat sangat kaku.
"I want to invest in your company (Saya mau berinvestasi di perusahaannya)", ucap Jo di sela-sela santapannya membuat Bram tersedak.
"Are you serious, Mr Richard? It's an honor for me (Anda serius, Tuan Richard? Suatu kehormatan untuk saya)...", Bram berujar setelah selesai tersedak.
"Yes.. My assistant will take care of it (Ya.. Asisten saya yang akan mengurusnya..", lanjut Jo.
Setelah makan malam selesai, kedua pengusaha itupun pulang dengan tujuan masing-masing.
.
.
.
"Naneun dangsin-ege maeu gwansim-i issseubnida, aleumdaun.. Uli chingu hal su issseubnikka? (Saya sangat tertarik dengan anda, cantik.. Bolehkan kita berteman?)..", ucap Seo yang kini berada di depan pintu apartemen Claudya.
Pria itu mengikuti Claudya sejak dari minimarket yang ada di bawah apartemen.
"Neo gwimeogeolini? Naneun gyeolhonhaessda. Chwihan geos gat-a (Anda tuli? Saya sudah bersuami. Sepertinya anda sedang mabuk..)..", kesal Claudya langsung masuk ke dalam apartemennya.
Seo langsung geram dan mengetuk, menekan bel apartemen milik wanita bersuami itu.
Claudya kesal lalu menelpon Jack yang kini berada di bawah.
"Jack, urusi pria yang ada di depan pintu apartemenku", lalu mematikan teleponnya.
Jack yang mendengar itu langsung bergerak cepat, karena anak buahnya beberapa orang mengikuti Jo.
Seo yang sempoyongan itu melirik ke arah pria berjas tegas.
" You are disturbing my master's wife.. Please get out of here (Anda mengganggu istri tuan saya.. Silahkan pergi dari sini)..", tegas Jack langsung menarik pergelangan tangan pria mabuk itu.
"Let go of the *******.. (Lepaskan brengsek)", rancau Seo.
Jack seakan menjadi tuli tetap menyeret pria itu pergi.
Waktu yang tepat.
Jo sampai di basment apartemen. Melihat anak buahnya menyeret seorang pria yang dikenalnya, Jo geram. Pasti ada sesuatu.
"Ada apa?", tanya Jo ketika berada di hadapan kedua pria itu.
"Dia mengganggu ketenang nyonya muda, Tuan..", jawab Jack.
"Bawa ke Markas.. Aku akan menyusul...", perintah Jo.
Jack melakukan sesuai perintah.
Baru saja dibahas, pria itu sudah berulah. Entah apa yang terjadi nanti.
Jo berjalan menuju ke apartemen Claudya.
"Kamu baik-baik saja?", tanya Jo ketika berada di dalam apartemen.
"Hmm, aku baik-baik saja. Sudah selesai pertemuannya?", Claudya bertanya.
"Sudah.. Maaf, aku tidak ada saat dia berulah..", ucap Jo.
Jo memeluk istrinya.
"Sudah makan?", tanya Jo.
"Sudah.. Aku membeli cemilan tadi di minimarket..", jawab Claudya.
Claudya membawa barang belanjaannya untuk disimpan ke kulkas. Sebentar baru dia ngemil.
Jo mengikuti langkah istrinya ke dapur.
"Jangan terlalu ngemil sudah malam. Gigimu bisa rusak...".
"Kamu manis jika tersenyum...", rayu Jo.
"Kamu pasti ada maunya,...", balas Claudya.
"Heheheheheh.. Tidak... Hanya mengatakan kebenaran...", kekeh Jo.
"Pembual...".
Jo langsung mendekap istrinya dari belakang kemudian menggelitiknya.
"Gellliiii, Richhhh.. Hahahahahaha", Claudya tertawa.
Mereka berdua bercanda dan tertawa. Hingga berakhir di ranjang. Saling bergelut menembus kenikmatan. Peluh membasuh.
"Lebihhh cepatttt, Richhhh..".
"Sesuai permintaan...", Jo tersenyum menatap istrinya yang berada di bawah kukungannya.
Jo mempermainkan istrinya. Kadang cepat, kadang pelan. Wanita itu menggeliat.
"Aku yang memimpin....", ucap Claudya.
Jo berbalik, membiarkan istrinya memimpin.
Semangka matang bergerak ria. Istrinya sudah pandai bertarung .
Mendesah, juga saling meneriaki nama.
Jo belum mau selesai. Kendali kembali dipegang oleh laki-laki itu.
"Aku mau kelluaaarrr.....", Claudya mengerang.
"Sabarhhhh.. Sama-samaaa...", Jo semakin cepat bergerak. Hingga akhirnya suara panjang menggema di ruangan itu.
"Terima kasih.....", lembut Jo sambil mengecup kening istrinya.
"Apa yang akan kamu lakukan terhadap pria itu..?", tanya Claudya setelah selesai bercinta.
"Sedikit retak di tulang kering sepertinya bagus.. Bagaimana menurutmu?", Jo balik bertanya.
"Rich, apa kamu tidak mau berhenti?".
Jo tahu arah pembicaraan itu.
"Aku sudah memikirkannya. Menunggu waktu yang tepat..", jawab Jo.
"Kapan??", tiba-tiba ada rasa kesal yang timbul di hati Cla.
"Akan ada waktunya... Emmm, kamu sudah memikirkan tentang anak?", Jo lanjut bertanya.
"Anak??", tanya Claudya.
"Iya...".
"Kamu memikirkannya, Rich?", Claudya balik bertanya.
"Tentu .. Apa lagi punya Momy yang cantik sepertimu...", jawab Jo yang membuat Claudya bersemu merah.
"Aku juga memikirkannya, hanya saja apa kita sudah siap?", tanya Claudya lagi.
"Menurutmu?".
"Rich, memiliki baby bukan tentang sebanyak apa harta kita yang akan menghidupinya nanti, tetapi bagaimana kita berdua punya waktu dan perhatian saat tumbuh kembangnya nanti. Kita sudah sama-sama sibuk sekarang..", jawab Claudya panjang lebar.
"Kita bicarakan lagi nanti... Sekarang.....", jeda Jo.
"Apa?".
"Lanjut ronde kedua...", ucap Jo menyeringai.
"Husffff... Kamu sepertinya tidak lelah...", keluh Cla.
"Tentu tidak.. Kita harus melaksanakan kewajiban Tuhan..", Jo berucap sambil tangannya bergerilya.
"Ahghhhhhhh. ..", Claudya bersuara yang menambah gairah.
"Sebut namaku, dan memohonlah.....", perintah Jo setelah melihat istrinya seperti cacing kepanasan.
"Richhh.... Terussssshhhh...", racau Cla.
"Pelan-pelan, baby....", bisik Jo di samping kiri telinga istrinya...
"Richhhh... Pleaseeehhhhh....."