
"Aku akan ke Spanyol seminggu kira-kira...", ucap Jo ketika berada bersama istrinya di atas ranjang malam itu.
"Seminggu? Aku sedang hamil besar, Rich.. Masa seminggu?", Claudya bertanya dengan mata yang mengembun.
"Perusahaan di sana sedang kacau, Cla.. Harus aku yang turun langsung...", jawab Jo memberi pengertian.
Claudya menatap Jo dengan airmata yang sudah merembes.
"Sudah, jangan menangis.. Nanti bayi kita juga ikut menangis... Aku usahakan cepat agar tidak sampai seminggu...", bujuk Jo memeluk sang istri.
"Janji?".
"Iya... Tidur yuk.. Kamu harus banyak istirahat...", ajak Jo.
.
.
.
"Bry, usahakan jangan sampai seminggu di sini..", kata Jo setelah mereka mendarat di Spanyol.
"Baik, Tuan... Saya juga berpikir demikian...", jawab Bryand.
Mereka berdua berangkat dua hari setelah Jo izin kepada Claudya.
Jangan lupakan si paha berlemak, Cantika yang sudah tiba lebih dulu di Spanyol untuk mencoba mendekati Jo.
Jo dan Bryand langsung menuju ke perusahaan. Tampak lelah, namun demi istri tercinta yang sedang hamil besar, ia hrus bekerja lebih cepat.
"Siapa yang sedang bermain-main di perusahaanku?", tanya Jo pada asistennya.
"Sepertinya ada orang yang ingin kita hajar, Tuan..", jawab Bryand.
Perusahaan cabang mereka yang ada di Spanyol dituntut karena mengedarkan barang-barang KW.. Padahal sebelumnya, perusahaan itu menjual barang dengan kualitas terbaik.
Jo beserta kedua asistennya, juga satu orang sekretarisnya setiap bulan melakukan pengecekan terhadap cabang-cabang perusahaan yang dimiliki di berbagai negara.
Sehingga hal sekecil apapun yang menjanggal akan diketahui oleh mereka berempat.
Perusahaan di Spanyol inilah yang masalahnya lebih pelik. Selain mengedarkan barang KW, ada juga investor yang merasa ditipu setelah menanamkan modal di perusahaan cabang tersebut. Income tidak dapat, modal hilang seluruhnya.
"Al.. Cek seluruh rekening kepala devisi di perusahaan cabang ini termasuk direktur?", Bryand meminta Alvaro yang berada di Indonesia mengecek langsung rekening orang-orang pilihan Jo untuk mengelolah perusahaan yang ada di Spanyol tersebut.
Al melakukan perintah.
Satu hari terlewati. Jo bertemu satu-persatu klien yang memiliki masalah dengan perusahaannya, juga klien yang mengancam akan menarik investasi di perusahaan tersebut.
Memang benar pria itu banyak uang, kaya raya. Kehilangan satu perusahaan cabang tidak membuatnya rugi, namun hal yang ia tanamkan adalah kepercayaan. Bukan tidak mungkin jika klien yang merasa ditipu akan berkoar-koar tentang perusahaannya di berbagai media atau di klien-klien lainnya, juga jangan lupa karyawan yang bekerja di perusahaannya akan kehilangan pekerjaan untuk menopang hidup mereka.
Lelah, itu pasti. Baru satu hari, namun terlalu kesana-kemari. Bahkan harus bertemu orang-orang di Club Malam.
Rasanya Jo ingin memukul kepala kliennya dengan sapu lidi, namun yaa harus menjaga nama baik.
Direktur perusahaan cabang itu orang Spanyol bernama Silva da Gomez. Pria itulah yang melaporkan kejanggalan di perusahaannya. Memang ia sudah bertemu pera kliennya sebelum Jo, namun mereka mati-matian meminta Presdir JF Group di kantor pusat yang harus menemui mereka dan menyelesaikan semuanya.
Pagi tiba. Baru pukul tujuh pagi.
"Halo, Al?".
",Hallo, Tuan Bryand, saya sudah selidiki rekening direktur juga semua kepala devisi yang ada, sepertinya ada beberapa kepala devisi yang bekerjasama untuk meraup keuntungan pribadi di perusahaan itu..", lapor Al melalui telepon.
"Kirimkan melalui email, Al", jawab Bryand lalu mematikan teleponnya.
Kamar Bryand dan Tuannya terpisah di hotel mewah, jadi Bryand harus mengetuk dulu pintu kamar Jo.
tok-tok-tok
"Lapor, Tuan.. Al sudah mengerjakan apa yang diperintahkan kemarin. Silahkan..", ucap Bryand setelah dipersilahkan masuk oleh Jo yang masih mengenakan pakaian santai.
Jo mengambil iPad yang disodorkan Bryand lalu membacanya.
"Kumpulkan semua petinggi perusahaan kita di ruang meeting jam sembilan. Jika ada yang tidak datang, katakan pada David, aku pinjam anak buah Black Hunter yang ada di Spanyol untuk mengurus para cecunguk itu..!", perintah Jo diangguki oleh Bryand dan dilakukan sesuai instruksi.
Pukul sembilan pagi, direktur juga kepala devisi perusahaan cabang milik Jo dikumpulkan di ruang meeting.
"Dime ¿por qué todos los bienes que circulan en el mercado son bienes que no son de buena calidad? (Katakan pada saya kenapa semua barang yang diedarkan dipasaran adalah barang yang tidak berkualitas?)", tanya Jo langsung to the point. Ia tak mau basa-basi.
Para orang itu hanya tunduk dan diam.
Jo melihat ada beberapa kursi yang kosong.
"Director... ¿Dónde están estas personas? (Direktur.. Kemana orang-orang ini?)", tanya Jo lagi sambil dagunya menunjuk kursi kosong yang ada di situ.
"No sé, Sr. Jo. Tal vez aún no han venido...(Saya tidak tahu, Tuan Jo. Mungkin mereka belum datang...)", jawab Silva.
Jo mengangguk. Ia melirikan matanya ke arah Bryand. Kode.
Bryand paham dan langsung mengurusnya.
Kepala devisi keuangan, devisi produksi, dan devisi pemasaran. Ketiga orang itu tidak ada saat Jo meminta untuk melakukan pertemuan.
Anak buah Black Hunter yang mendapat notif perintah langsung bergerak cepat melakukan penangkapan. Ia tidak mau menggunakan polis. Alasannya urusannya terlalu berbelit.
"Te han destituido del cargo de director, Silva... (Kau dicopot dari jabatan direktur, Silva)..", Jo berujar.
Silva hanya mengangguk. Ia paham ia tidak bisa menjaga apa yang dipercayakan oleh Jo. Bersyukur hanya diturunkan jabatannya. Kalau dipecat, selesai sudahlah.
Mereka semua yang ada di dalam ruangan tercengang. Silva adalah direktur yang baik, namun kebaikannya disalahgunakan oleh beberapa oknum untuk kepentingan pribadi.
Pertemuan berjalan tiga jam. Mereka semua berkeringat meski ruangan meeting sangat dingin.
Selesai pertemuan, Jo langsung menuju markas Black Hunter bersama Bryand.
"Para orang yang mau dihajar sudah ditemukan, Tuan...", lapor Braynd di dalam perjalanan menuju markas Black Hunter.
"Miskinkan mereka, tanpa sepeser uangpun.. Katakan pada Alvaro, black list nama mereka agar tidak bisa mendapatkan pekerjaan apapun...", perintah Jo.
Bryand mengangguk dan melakukan semuanya.
.
.
.
.
Dua hari yang melelahkan.
Jo sedang makan malam sendirian di restaurant hotel tempat ia dan Bryand menginap setelah tadi mengurus para pria bodoh di markas Black Hunter.
"Haiii, Tuan Jo...", sapa seorang wanita.
Jo menengadah melihat siapa yang memanggil namanya.
Pria itu sedikit menyipitkan matanya.
Jo mengangguk lalu melanjutkan makanannya.
"Kebetulan kita bertemu di sini, Tuan Jo.. Boleh saya bergabung?", tawar wanita itu.
"Ada yang penting?", tanya Jo langsung.
Beberapa saat Cantika gugup namun segera ia netralkan suasana hatinya.
"Boleh saya duduk di sini?", tanya Cantika lagi.
Jo hanya menganggukkan kepala tanpa melihat Cantika.
Wanita itu geram, ingin sekali ia memukul kepala pria di depannya.
"Anda sendirian?".
"Tidak.. Saya bersama setan...", jawab Jo acuh.
"Setan?", Cantika heran.
"Iya.. Tadi saya sendiri, sekarang ada setannya...".
Kena telak. Jo menyindir. Cantika langsung geram namun ia tahan. Rencananya harus berhasil malam ini. Ia sudah berpakaian hampir memperlihatkan seluruh asetnya.
"Hahahahaha... Anda sangat pintar bercanda, Tuan Jo... Emmmm, bagaimana kalau kita membicarakan kerjasama kita. Ada hal yang tidak saya mengerti. Saya sudah meminta sekretaris anda agar kita dapat melakuka pertemuan, namun katanya anda sibuk.. Jadi sepertinya Minggu depan.. Tetapi karena kebetulan kita bertemu di sini, bagaimana kalau setelah anda makan malam, kita ke ruangan lain untuk membahas kerjasama kita..?", panjang lebar Cantika berucap, namun seperti angin lalu.
"Saya datang karena ada urusan.. Tetapi bukan denganmu.. Jadi sebaiknya jika ingin berbicara mengenai kerjasama kita, lakukan di kantorku nanti.. Jangan mencoba menggodaku dengan pakaian kurang bahan itu.. Lihatlah lengan dan paha Anda. Putih tapi berkerut juga berlemak.. Seperti ibu-ibu yang sudah memiliki anak... ", ucap Jo.
Tembus jantung.. Itu Pasti.. Muka Cantika sudah memerah. Malu dan dan marah.
"Tuan Jo....", Cantika sedikit meninggikan suara.
"Jangan menaikan suramu di depanku.. Saya tidak akan rugi jika perusahaan saya tidak bekerjasama dengan perusahaan yang berkelas ikan tongkol seperti perusahaanmu itu... Paham? Peringatan terkahir untukmu, nona Cantika Wijaya...", ancam Jo langsung berdiri meninggalkan Cantika yang kini sudah terlihat kepulan asap keluar dari telinga dan kepalanya sudah bertanduk merah.
"Tuan Jo...", Cantika ikut berdiri dan langsung menggenggam tangan Jo.
Ada sedikit jeda pada genggaman tangan itu. Jo milihatnya sepintas dan langsung menepisnya.
"Jangan lancang, nona... Kita bertemu nanti di depan Tuan Wijaya saat aku kembali ke Indonesia...", ujar Jo langsung pergi begitu saja.
Cantika langsung memukul-mukul udara setelah Jo pergi namun tiba-tiba juga tersenyum.
"Dapat potretku saat memegang tangan Jo?", tanya Cantika pada Sonya yang sedari tadi memotret interaksi majikannya dengan Tuan Jo.
Sonya mengangguk lalu memperlihatkan foto-foto yang ia ambil tadi.
"Bagus.. Kirimkan foto ini kepada wanita itu... Gunakan pengiriman luar negeri, agar wanita itu tahu bahwa Jo datang bukan untuk perjalanan bisnis namun datang bertemu denganku.!!", perintah Cantika.
Sonya segera melakukan hal yang dikatakan Cantika.
"Semoga tidak terjadi apa-apa...", gumam Sonya pelan.
.
.
.
.
Waktu yang diperkirakan Jo seminggu, ternyata lebih cepat.
Sore hari mereka berdua (Jo dan Bryand), menggunakan pesawat pribadi meninggalkan Madrid-Spanyol menuju Indonesia.
Selama di Spanyol, Jo selalu mengabari istrinya, menemani wanita itu untuk tidur, meski ada perbedaan waktu, namun tidak menyurut perhatian ketika LDR.
"Aku pulang, baby... Uhhhh, kamu menggemaskan sekali ketika tanpa busana seperti ini....", gumam Jo di dalam kamar pesawat pribadinya.
Claudya sempat mengirimkan beberapa video dan foto yang hanya bisa dikonsumsi oleh prianya.
"Akan ku buat kau meminta cuti dari pekerjaanmu sebelum waktunya melahirkan... hahahahha", lanjut Jo bergumam.
Tahu kan apa yang dilakukan pria itu? Coba tebak.....