Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 22



Yang terjadi, ya terjadilah.... (ngayal sendiri yokkk?)


Korea Selatan.


"Lelahnya....", ucap Jo yang berbaring di sebelah Cla dengan tangan menumpu belakang kepala di atas ranjang.


"Tidur....!", balas Cla kemudian menutup mata.


"Hm... Besok kita akan ke rumah sakit...!".


"Bisa lusa?", tawar Cla.


"Kenapa?", Jo balik bertanya.


"Aku lelah. Kau menggempurku di ranjang rumah sakit kemarin sangat lama bahkan tadi di pesawat juga...", keluh Cla.


"Maaf. ..... Tapi Aku suka...", aku Jo seraya menyengir kuda.


"Iya, kamu enak, lah aku? Menang nadah doang ..!!!!!", gerutu Cla.


Jo tertawa dengan ucapan sang istri yang cemberut, hingga membuatnya berinisiatif untuk membungkam bibir wanita itu dengan bibirnya.


Semakin lama, semakin menuntut. Yang katanya tadi lelah, kini berganti gairah.


Pria dan wanita itu semakin hanyut dalam buaian peluh hingga beberapa kali mereka sudah tak menghitung telah melakukannya.


Keesokan harinya, di rumah sakit ternama Soul.


"Bagaimana, Ran?", tanya Jo ketika istrinya telah selesai diperiksa.


"Seminggu paling lama.. Tidak terlalu parah retakan tulangnya...", jawab Rany, dokter sekaligus teman dan saudari sepupu Richard Jo.


"Baiklah.... Lakukan apapun. Agar nanti pulang tidak ketahuan oleh Momy. Kau tahu kan bagaimana Momy?".


"Hmmmm....", jawab Rany dengan gumaman.


"Cla, manusia batu itu tidak menyusahkanmu?", tanya Rany yang lebih memilih berbicara dengan Claudya.


"Tidak sih, hanya ya begitulah... Menuntut...!", ucap Cla.


"Jangan bilang kau digempurnya habis-habisan?", selidik Rany.


"Ya, tidak pernah mau kalau hanya sekali... Bersyukur aku bisa beristirahat karena keadaan ini...!".


Jo yang mendengar jawaban Cla menjadi ingin kabur, karena Rany Wijaya adalah wanita yang tidak segan untuk menggurui Jo selain sang Momy Regina.


"Wahhh, sepertinya kau maniak Jo...!", tuduh Rany.


"Apaan? Jangan sembarangan... Kau mau aku kirim ke Kongo? Ha?", ancam Jo.


"Ehhh, apa? Berani kau bertindak sedikit saja dengan kekuasaanmu itu, maka jangan salahkan aku kalau Momy Re akan tahu keadaan Cla hari ini juga...!", ancam balik Rany.


"Kalian seperti kucing dan kerbau...!", ketus Cla melihat suami dan sahabat serta saudari sepupunya berdebat.


"Kucing dan anjing, Cla....", sanggah Ran.


"Ahhh, sudahlah, ayo pulang....", ajak Jo yang siap menarik Cla dari duduknya di ranjang pasien.


Seketika itu juga bagian belakang kepala Jo kena tepukkan yang cukup keras..


"Aisshhhh", ringis Jo menggaruk-garuk kepalanya.


"Kau lupa istrimu itu tidak bisa berjalan? Wahhh, Cla, dia ingin jadi duda secepatnya mungkin, makanya tak sadar kalau kamu sedang tidak bisa berjalan dengan baik...?", ucap Rany.


Cla menatap jengkel Jo yang cengengesan karena ulah bodohnya.


"Bisa ya orang seperti ini dijadikan Presdir...? Wah, setelah selesai bulan madu, akan ku minta Dady Don untuk memikirkan ulang menjadikanmu sebagai Presdir JF Group...!", ucap Cla ketus.


"Maaf, Cla... Hehehehe", nyengir Jo berusaha tenang.


Rany hanya tersenyum melihat tingkah pasangan baru itu.


Pengantin absurd itupun meninggalkan rumah sakit tersebut kemudian kembali ke apartemen mereka.


Sedangkan, mereka tak sadar jika ada yang mengintai sejak pasangan itu turun dari mobil di area basment apartemen.


Jo merasakan ada yang sedang mengintai, sehingga ia dengan langkah cepat memasuki lift dan menuju lantai apartemennya.


"Al, minta CCTV area basment apartemen ini.. Dan pindahkan kami ke apartemen baru yang hanya diketahui olehmu...!", perintah Jo setelah memastikan istrinya sudah tertidur lelap.


"Baik, Tuan...!", sahut Alvaro.


"Dave, sepertinya Sea tak akan setuju kalau Daniel menjadi ketua menggantikan ku....!", gumam Jo dalam hati.


Dering handphone berbunyi.


"Lapor, Tuan... Sepertinya anak buah The Blood yang mengintai Tuan dan Nyonya muda...", lapor Alvaro ketika mendapatkan rekaman CCTV apartemen.


"Kau yakin?", tanya Jo memastikan.


"Yakin, Tuan... Tanda di tengkuk pria itu sama dengan tanda dari The Blood...".


"Baiklah, awasi pria itu... Bagaimana apartemennya?", tanya Jo lagi.


Alvaro kemudian mematikan sambungan teleponnya sepihak, lalu kembali menelpon dengan nomor berbeda.


"Saluran aman, Tuan...!", ucapnya. "Aku akan memindahkan tempat tinggal Tuan, kapanpun Tuan siap...".


"Hm... Akan ku katakan ketika Cla sudah bangun...".


Pembicaraan merekapun selesai. Jo semakin duduk merenung. Kadang ia berdiri, berjalan mondar-mandir di area balkon. Berpikir.


"Sudah tiga kumpulan yang mengintaiku....", batin Jo.


"Bryand... Aku lupa jika si tengil itu sedang tidak banyak pekerjaan...", seringai Jo.


"Haaaaaccciiiiiihhhh". Orang yang sedang dipikirkan bersin.


"Siapa sih beraninya berbicara jelek tentangku? Awas kalau ketahuan.. Ku jadikan jangkar kapal nanti..."!, gerutu Bryand yang tengah sibuk mengerjakan pekerjaan Presdirnya.


Tiba-tiba handphonenya berdering.


tring-tring-tring.. Tuan Bos memanggil.


Dengan segera Bryand mengangkat panggilan tersebut.


"Halo, Tuan...", sapa Bryand.


"Hmmm.. Kau sibuk?", tanya Jo.


"Tidak banyak pekerjaan, Tuan", jawab Bryand sambil melirik setumpuk map yang masih di atas meja kerjanya.


"Baiklah kalau tidak sibuk... Cepat kerahkan Si Beruang dan Si Tembok untuk mengintai The Blood... Laporkan detailnya. ..!", perintah Jo.


"Baik, Tuan...!", ucap sang asisten satu.


"Satu lagi. Lindungi keluargaku dengan ketat, juga dirimu, dan seluruh keluarga anak buah kita. Wajibkan mereka untuk pulang setiap hari ke rumahnya kecuali sedang bertugas...! Dan yang tidak punya pasangan, Carikan untuk mereka...!"


"Tuan menyuruh saya untuk mencarikan mereka kekasih?", tanya Bryand tidak percaya.


"Ya terserah kamu. Saya akan mendengar kabar baiknya Minggu depan setelah sampai di mension nanti...", ucap Jo dengan seringai bermaksud mengerjai Bryand karena dia tahu apa yang terjadi setelah penyelamatan Jeny.


"Baik, Tuan...!", sahut Bryand dengan lesu.


"Untuk proyek di Kota M, pergilah dengan asisten Jeny, karena kita bekerja sama dengan JS Group untuk pembangunan rumah sakit itu...!", ucap Jo lagi.


"Kenapa harus dengan Jeny, Tuan? Kan ada Tuan Lee El? Kakaknya nyonya muda Cla...".


"Proyek itu akan jatuh ke tangan Cla nantinya, sehingga asisten Jeny harus mengetahui detail proyeknya di lapangan nanti...", jelas Jo. "Lagi pula kan kamu bisa cuci busi tiap harikan?", ganggu Jo.


"A.....aaa..paaa maksud Tuan?", tanya Bryand terbata.


"Jangan kira saya tidak mengetahui hubunganmu dengan Jeny sejauh mana, Bryand... Saya bosmu, temanmu, sahabatmu, saudaramu dari kita masih bermain tanah....".


"Hehehehhee.... Baik, Tuan...!".


Jo mendengus kemudian mematikan panggilan sebelah pihak.


"Frank Cole,... Akan ku buat kau menyesali perbuatanmu jika bermain menyentuh sehelai rambut wanitaku...!", gumam Jo berjanji.



*Ini visualnya Bryand ya... Asisten Pertama sang Presdir JF Group.


...----------------...


......................


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...