Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 51



Pembicaraan Bryand dan Jeny diakhiri dengan pertempuran ranjang.


Cara paling efektif ketika pasangan memiliki masalah (Tetapi bukan contoh yaaa gaesss... Tunggu nikah dulu baru boleh ehem-ehem.. Masih pacaran, ya DP nya atas saja.. Jangan sampai kebablasan, bila perlu gak usah DP sekalian... Kalau pengen cepat, ya kawin.. Ehh ralat, nikah dulu yaaa gaes.. Mau jungkir balik depan-belakang, atas-bawah pun gak ada larangan.. Halal kok...).


Di pulau Jeju.


Jo dan Claudya lebih sering menghabiskan waktu di dalam kamar daripada keluar jalan-jalan.


Toh, Claudya selalu digempur suaminya jika ada kesempatan.


Hari terkahir di Pulau Jeju, Jo menyewa satu restaurant hanya untuk makan malamnya dengan Claudya.


Jack bekerja sama dengan pegawai restaurant hanya untuk jaga-jaga agar tidak ada yang merusak suasana juga sekalian menonaktifkan CCTV agar kegiatan yang dilakukan oleh Jo tidak ditonton.


Romantis.


Pria itu diam-diam menyediakan makan malam romantis dan untuk pertama kali setelah sekian bulan menyandang status suami.


Claudya tidak menyangka, jika suaminya, Richard Jo Fernand, laki-laki minim senyum dan terlihat kaku bisa berlaku romantis.


"Cla...", panggil Jo pelan.


Claudya sedang menatap keluar arah jendela karena posisi restaurant tersebut di atas ketinggian sehingga memperlihatkan seluruh kota yang ada di bawahnya. Perempuan itu menoleh karena dipanggil.


"Hmm? Apa? Baguskan, Rich?", tanya Claudya meminta suaminya ikut melihat hamparan kelap-kelip di bawahnya.


"Bagusss... Tetapi ada yang lebih bagus.. Bahkan sangat cantik terlihat apa lagi dengan lampu temaram ini..", Jo mulai menggombal ala-ala anak alay.


Claudya menaikan kedua alis matanya.


"Apa?", penasaran.


"Kamu cantik...", dua kata yang membuat Claudya memerah menahan senyumnya.


"Kamu sepertinya menyimpan bakat alami, Rich...".


"Hm? Bakat apa?".


"Membual dan menggombal..", Claudya terkekeh.


Jo pun ikut terkekeh.


Sebuah perubahan yang ia lihat. Nampak binar bahagia dari Claudya yang hilang sejak beberapa bulan terakhir.


Richard Jo lalu berdiri. Ia pun mengajak istrinya berdiri. Diiringi alunan musik klasik yang digunakan untuk berdansa, mereka berdua menari. Kaku. Pastinya.


Claudya adalah tipe wanita yang senang menari di lantai Club dengan musik yang berdendang keras. Jo adalah tipe pria yang tidak bisa menggoyangkan pantatnya kecuali di atas ranjang bersama Claudya.


"Kamu terlalu kaku, Rich... Hahahahah".


"Aku hanya mengikuti alur. Seperti di novel-novel.. Musik klasik, dan partner dansa yang tepat..", Jo tersenyum.


Ia merogoh saku celana bahannya, lalu mengambil sebuah kotak beludru warna biru tua.


Claudya melihatnya.


"Untukku?", tanya Claudya.


"Untuk istriku..", Jo melepaskan sebelah tangannya dari pinggang Claudya dan mengikis jarak agar bisa membuka kotak kecil itu.


"Kamu suka??", tanya Jo setelah membuka kotak itu. Sebuah kalung berliontin berlian yang kecil. Simple tapi elegan. Mewah pasti.


Claudya mengangguk.


"Pakaikan padaku..", pinta Claudya.


Claudya memutar tubuhnya membelakangi Jo sehingga mudah untuk pria itu mengenakan kalung itu di leher istrinya, lalu memeluk wanitanya dari belakang.


cup.


Bibir Jo mengecup pipi Claudya.


Wanita itu tersenyum. Kepalanya bersandar di dada Jo. Tangan wanita itu bertumpu di atas tangan Jo yang melingkar di perutnya. Mereka berdua menatap hamparan lampu kelap kelip kota yang sangat indah di bawah sana.


Berat.


Napas Jo kini berat.


Ia menopang dagu istrinya menatap ke arahnya dengan posisi masih di belakang wanita itu.


Perlahan mengecup bibir perempuannya. Di balas.


Mereka berdua semakin intens berciuman, hingga tangan Jo bergerak bebas di area depan atas wanitanya.


Ia menurunkan sebelah gaun 👗 yang dipakai Claudya, hingga terlihat bahu putih mulus bersih. Mengecup pelan, lalu membuat tanda di antara bahu dan leher wanita itu.


"Tidak akan ada yang berani masuk ke sini.. Percaya padaku...".


Claudya mengangguk.


Kini tubuh wanita itu digiring ke arah kaca jendela besar yang menampakan keindahan kota.


Gaun yang dikenakan Cla luruh. Tinggal kain segitiga Bermuda. Soal Penutup semangka, jangan ditanya, hilang entah kemana..


Tangan Jo berhenti sejenak. Ia membuka jas juga kemeja yang dipakainya dan membuangnya sembarangan. Nanti selesai baru di cari.


Claudya berbalik menghadap sang suami. Perlahan ia berlutut kemudian membantu suaminya membuka kain penutup bagian bawah. Taulah selanjutnya apa kan?


Setelah puas bermain dengan milik suami, Jo berganti posisi. Diletakan tubuh wanitanya di atas meja kosong yang ada di situ. Membuka kaki lebar, lalu bermain lidah di bawahnya.


"Richhhh.. Aku keluarrhhhhhh", panjang Claudya berteriak.


"Kita ke intinya...".


Claudya mengangguk.


Pertempuran di restaurant itu pun terjadi selamat satu jam lebih. Mulai dari pemanasan hingga penutup.


"Kamu gila, Richhhh...", ucap Claudya dengan napas yang masih kelelahan.


"Tidak ada yang normal jika bersamamu, Cla...", Jo tersenyum kemudian bangkit dari tubuh wanitanya yang masih tergeletak di atas meja lalu mencari pakaiannya dan pakaian istrinya untuk dikenakan kembali.


"Kita lanjutkan di vila nanti...", seringai Jo melihat Claudya yang sudah rapih dengan gaunnya tadi.


.


.


.


.


Di apartemen Bram.


Setelah satu Minggu menghilang, Seo datang dengan keadaan pincang.


"What's wrong with you? (Kamu kenapa?)", tanya Bram heran.


"The woman's husband. I will reply. (Suami dari wanita itu. Aku akan membalasnya)..", sungut Seo.


"Don't bother them anymore Mr. Seo. Looks like this is not much..? (Jangan lagi mengusik mereka Tuan Seo. Sepertinya ini belum seberapa..?)..", saran Bram.


"I've gathered my men, as well as my father's men.. You'll see. I'll make the man regret dealing with me. And the woman, I'll turn her into a whore in my nightclub (Aku sudah mengumpulkan anak buahku, juga anak buah ayaku.. Lihat saja. Akan ku buat pria itu menyesal telah berurusan denganku.. Dan wanitanya, akan ku jadikan ia pelacur di club malam milikku)", Seo geram.


"Your men alone cannot protect you from them. If they could, couldn't you end up limping like this? (Anak buah mu saja tidak bisa melindungimu dari mereka. Kalau mereka bisa, anda tidak mungkinkan berakhir dengan pincang seperti ini?)...", usaha Bram untuk mencegah Seo.


"My men were not there at that time (Anak buahku tidak ada waktu itu)..", kesal Seo.


"Look? As far as I know, Mr. Richard's men are everywhere.. So you will find it difficult to approach him or his wife. Before you do that, maybe your hand is injured next time (Lihat? Yang aku tahu, anak buah Tuan Richard ada dimana-mana.. Jadi anda akan sulit untuk mendekatinya ataupun istrinya. Sebelum anda lakukan itu, mungkin tangan anda yang cedera kali berikut)..".


"I don't care.. He's a nobody. This is my country, this is my city. I'm in charge here. I will destroy him and his company (Aku tidak peduli.. Ia bukan siapa-siapa. Ini negaraku, ini kotaku.. Aku yang berkuasa di sini. Akan ku hancurkan ia beserta perusahaanya)...", Seo semakin ingin berurusan dengan Jo.


"I've given up on advising you Mr Seo. Feel free to do what you want, but don't involve me if something happens. And one more. The man you call a nobody has made you limp.. Remember that..! (Aku sudah menyerah untuk menasehatimu Tuan Seo. Silahkan berbuat apa yang anda inginkan, tetapi jangan libatkan aku jika terjadi sesuatu. Dan satu lagi. Pria yang anda sebut bukan siapa-siapa itu telah membuatmu pincang.. Ingat itu..!)", ucap Bram lalu kembali ke meja kerjanya.


"You don't support me. It means you are no longer my friend.. I will make you the same as that man later. Just wait for the time.. (Kamu tidak mendukungku. Artinya kamu bukan lagi temanku.. Akan ku buat kamu sama seperti pria itu nanti. Tunggu saja waktunya..)..", balas Seo lalu melangkah keluar ruangan Bram dengan marah.


Sedangkan Bram, acuh. Ia tidak peduli. Toh lebih baik ia menjalin hubungan dengan Richard Jo Fernand yang lebih baik daripada si mata sipit itu.


"Hello Mr. Bryand... I'm Bram.. I have something to say directly to Mr. Richard. Can we meet tomorrow afternoon at the same restaurant? (Halo Tuan Bryand... Saya Bram.. Ada yang ingin saya sampaikan langsung pada Tuan Richard.. Bisakah kami bertemu besok siang di restaurant yang sama?)..", tanya Bram setelah panggilan terhubung ke asisten Bryand.


"Wait for my confirmation to Mr. Richard .. I will contact you again later (Tunggu saya konfirmasi ke Tuan Richard.. Akan saya hubungi anda lagi nanti)", jawab Bryand dari seberang.


"Okay, Mr. Bryand. I'm waiting soon... Thank you... (Oke, Tuan Bryand. Saya tunggu secepatnya... Terima kasih...)", balas Bram lalu keduanya mematikan panggilan ketika sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


***Hallo readers..


Mungkin anda yang berpikir bahwa, ngapain harus pakai bahasa luar, kalau bisa langsung menggunakan bahasa Indonesia.? Ngerti kok maksudnya dalam percakapan dengan orang luar negeri menggunakan bahasa Inggris ataupun bahasa dari negara yang ada.??


Gini yaa teman-teman...


Bukan maksud sombong atau apapun. Toh belum tentu bahasa yang author gunakan sudah sesuai kaidah bahasa negara yang dimaksud. Namun, dari sekian banyak salah, pasti ada benarnya juga dong?


Maksud author adalah, bacaan itu bukan hanya sekedar hiburan, tetapi juga bisa jadikan pelajaran toh? misalnya bahasa Inggris. Tidak semua readers yang baca novel ini orang yang paham bahasa Inggris, jadi ya author mau sekalian pembaca bisa sedikit-sedikit memahami bahasa Inggris. Gitu..


Cuma kalau ada yang tidak setuju, boleh deh komentar, atau kritik apa saja.. intinya tetap pada kaidah norma kesopanan yaa***..