Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 67



Setelah pertikaian ranjang, pasangan suami istri itu pulang ke rumah mereka.


"Kamu cuti mulai besok, ya? Aku akan katakan pada El nanti...", ucap Jo ketika mereka berada dalam mobil perjalanan pulang.


Hari masih siang, makan siang pun sudah di kantor tadi setelah urusan hasrat. Kini mereka hanya tinggal pulang dan lanjut istirahat.


"Iya... Terserah padamu..", jawab Claudya. Ia malas berdebat. Suaminya memang benar. Lihatlah kakinya sudah bengkak semua.


"Mau singgah ke suatu tempat?", tawar Jo.


"Tidak.. Berhnti di minimarket dekat rumah.. Aku mau es krim rasa strawberry. Boleh?".


"Boleh..", Jo mengangguk dan tersenyum.


.


.


.


.


tring-tring-tring.


"Hmm?", Jo berdehem karena deringan ponsel mengganggu istirahatnya.


"Maaf mengganggu, Tuan... Sepertinya masalah pembangunan di Bali lebih pelik daripada sekedar harga tanah warga yang tiba-tiba naik..", lapor Alvaro.


"Bisa kau urus? Atau aku yang harus turun tangan?", tanya Jo serius.


"Saya yang akan mengurusnya..", jawab Alvaro.


"Bagus.. Segera berangkat, saya tidak mau diganggu sampai Claudya melahirkan nanti...".


Jo kembali istirahat di sebelah istrinya yang sedikit menggeliat.


"Ada apa?", tanya Claudya berat.


"Tidak ada apa-apa.. Tidur lagi.. Kamu perlu banyak istirahat...", ucap Jo menenangkan.


Claudya mengangguk dan merapatkan pelukannya pada sang suami.


"Mau lagii?", Jo terkekah.


Claudya enggan menjawab, namun sebelah tangannya masuk ke dalam baju kaos rumahan milih suaminya dan bermain-main di perut kotak-kotak milik sang suami.


"Jangan menggoda, baby.. Kita baru selesai tadi di kantor...", darah panas Jo semakin berpacu.


Claudya tersenyum dalam dekapan di dada Jo.


"Aku mau begini...", suara lembut Claudya semakin membuat Jo frustrasi.


"Akhhhh.....", erangan tertahan, karena tiba-tiba saja, tangan Claudya merayap di dalam boxer milik Jo.


"Babyhhhhh...", gerakan naik-turun istrinya membuat tongkat yang semula tidur kini sudah berdiri tegak.


"Baby Made in Jeju Island sangat nakal...", Jo yang matanya putihnya mulai terlihat dominan bergumam.


"Karena Dadynya tidak pernah puas...", kekeh Claudya yang sedang bermain-main dengan tongkat sang suami.


Jo semakin kacau. Mau menyerang Claudya, namun ia sangat kasihan. Istrinya hamil besar tidak mau ia gauli terlalu berlebihan. Tetapi tingkah sang istri justru membuatnya harus bertarung dengan sabun jika berhenti di tengah jalan nanti.


"Mau aku bantu?", tanya Claudya dengan pelan.


Jo yang sudah tak tahu harus jawab apa hanya mengangguk.


Mulailah Claudya menelusup ke dalam selimut.


"Kamu sepertinya tidak pernah puas.... Akh....", Jo semakin meracau karena goa gerigi milik Claudya memberi pelumas pada tongkat ajaibnya.


Gerakan kepala naik turun sang istri menjadikan Jo tak terkendali.


"Langsung ke inti....", ucap Claudya menggoda.


Ia duduk di atas paha prianya. Menggeser sedikit segitiga Bermuda yang ia kenakan, lalu mengarahkan tongkat sang suami memasuki goa lembab paling nikmat di dunia miliknya.


"Shhhhhhh.....", Jo tersingkap. Ia tak menyangka istrinya yang hamil besar ini bergerak di atasnya.


"Pelan-pelan.. Shhhhhhhh... Babyhhhhhh...", Jo dalam kegamangannya masih memperingati istrinya.


Claudya hanya tersenyum, tetapi terus bergerak seperti bor... Hahahahhaa...


Jo ingin memimpin, namun istrinya menolak.


Daster ibu hamil hanya bertengger di sekitar pinggang wanita itu.


.


.


.


.


Di sebuah hotel mewah.


"Aku sudah berusaha membuat Jo untuk berangkat ke Bali seperti yang kamu perintahkan, baby ..", ucap Cantika yang kini dihukum oleh seorang pria untuk mengulum naga pria itu.


"terusshhh... terusshhh....", pria itu hanya menyuruh Cantika melanjutkan aktivitasnya.


"Aku minta maaf......", di sela-sela aktivitas itu Cantika masih mengungkapkan kata maaf. Yaa.. Kulumam itu seperti dipaksa oleh sang pria kepada wanita.


Ya, terkesan kasar sampai Cantika beberapa kali tersedak.


"Akhhhhhhhhhh...", pria itu mengerang panjang. Naga pria itu ditekan dalam goa bergerigi milik dan mengeluarkan air kotornya di dalam sana.


"Telan....", suara berat pria yang terlihat masih berumur sekitar 35-38 tahunan itu.


Cantika terpaksa menelan cairan tersebut.


"Maafkan aku....", ucap Cantika yang merapikan make up serta tatanan rambut dan bajunya yang entah seperti apa rusaknya.


"Kau sangat tidak becus... Ini peringatan terkahir, Cantik... Kalau masih sama, jangan salahkan aku jika tubuhmu sebagai santapan anak buahku...", ancam pria itu lalu pergi dari kamar hotel yang mereka tempati.


"Awas kamu... Akan aku beri pembalasan jika keinginanku sudah tercapai.. Brengsekkkk.... Mana airnya rasa rokok lagi....", batin Cantika geram.


"Sonya, jemput aku di hotel XXX sekarang..!", perintah Cantika lalu turun menunggu Sonya di lobi.


"Buat masalah yang lebih berat. Hasut orang-orang di sana untuk menentang pembangunan hotel...", Cantika memerintah ketika Sonya sudah menjemputnya.


"Tapi, Nona.. Itu juga akan membuat kita rugi, juga sebagian investor tidak akan lagi mempercayakan pembangunan hotel ke Wijaya Group. Akan berimbas pada kita juga, Nona..", Sonya memperingati.


"Usahakan orang-orang itu untuk menuntut bertemu dengan investor utama, sehingga Jo yang turun langsung ke sana meninggalkan istrinya di sini... Kita akan manfaatkan keadaan agar ia tidak bisa pulang dalam waktu dekat. Bila perlu sampai istrinya melahirkan...", geram Cantika.


Ia semakin menggebu untuk memiliki Jo. Wanita itu terobsesi. Melihat Jo dari layar kaca saja sudah membuat intinya cenat-cenut, apa lagi jika tubuh wibawa itu mengukungnya. Sungguh sangat-sangat nikmat nanti.


Sonya hanya menggeleng. Ia berdoa agar Nonanya tidak berhasil dengan rencana busuk yang sedang disusun. Bukan tidak mendukung, namun lebih baik ia menjaga diri agar tidak terjadi hal-hak yang tidak dinginkan.


"Akhhhhhh... Pria brengsekkkk.....!!!", tiba-tiba saja Sonya kaget karena majikannya berteriak di dalam mobil.


.


.


.


.


di Bali.


Alvaro kaget, karena lebih banyak orang yang datang untuk protes pembangunan hotel mereka. Bukan hanya para pemilik lahan yang menjual lahan mereka dengan harga lebih tinggi dari sebelumnya, namun juga para penduduk sekitar yang merasa terganggu dengan pembangunan tersebut.


"Kami mau bicara dengan penanggung jawab pembangunan hotel ini...", seru salah seorang warga.


"Nona Cantika? Beliau masih berada di Jakarta. Cuma ada apa ya? Sebelumnya tidak ada yang seperti ini..", jawab Alvaro.


"Bukan.. Investor utama dalam pembangunan hotel ini...", lanjut pria yang seumuran dengan Dady Don kalau tidak salah.


"Penanggung jawab pembangunan hotel ini ada di tangan nona cantika.. Kalau ada keluhan, silahkan berbicara langsung dengannya.. Saya hanya diutus membereskan masalah harga lahan dengan warga yang mau menjual lahannya...", jawab Alvaro tegas.


"Tidak bisa... Berarti anda perwakilan dari investor utama itu kan? Bagus... Ayo semua, kita protes saja pada orang ini.. Minta tuannya untuk datang sendiri dan menghadap kita...", hasutnya pada warga.


Alvaro menyeringai.


"Kena Kau...!", gumam pria itu dalam hati.


Desakan para warga yang berada di situ membuat Alvaro mencari jalan tengah.


"Begini saja, beri saya waktu dua hari.. Bos saya sedang sibuk sekarang, jadi saya akan hubungi perwakilan warga dan membuat jadwal pertemuan secara langsung dengan bos saya..", saran Alvaro.


Semua warga menganggu setuju lalu masing-masing bergerak meninggalkan lahan yang digadang-gadang membangun hotel paling besar di Bali.


"Ikuti pria tadi... Saya rasa dia bukan warga di sini.. Jika ada yang mencurigakan, sergap lalu bawa ke markas kita yang ada di sini...", perintah Alvaro pada pengawal yang ia bawa menemaninya.


Para pengawal mengangguk kemudian bertindak sesuai perintah.