Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 62



Jo tiba di Jakarta sudah dini hari sekitar pukul 04.19.


Lelah tergambar jelas dari kusutnya wajah juga pakaian yang dikenakan.


Niat menaiki anak tangga menuju kamarnya, terdengar bunyi sutel yang beradu dengan wajan, sehingga menarik perhatian pria itu. Entah kenapa, sejak kehamilan Claudya, wanita itu senang sekali untuk makan pada waktu-waktu dini hari. Kadang Jo harus bangun dan masak untuk wanita itu sekitar jam ini.


Hal itu yang menarik pria itu untuk melangkah menuju dapur, karena kemungkinan istrinya yang masak di sana.


Selama ini, jika Jo atau Claudya memasak di dapur, para asisten rumah tangga dilarang mengganggu, ataupun berada di area dapur, sehingga pagi itu terasa sangat sepi.


Wajah kusam dan lelah seketika tersenyum cerah seolah mentari pagi sudah bersinar.


Pria itu bersandar di tembok menonton istrinya memasak. Perut besar yang seksi. Itu menurutnya. Mengenakan daster ibu hamil, rambutnya diikat memperlihatkan leher jenjang wanita itu. Pemandangan yang luar biasa.


Sudah Jo duga. Wanitanya akan seseksi ini. Belum ada pengakuan cinta, hanya sekedar memanggil sayang saat bercinta, meski begitu, Jo tidak mau kehilangan ataupun terjadi apa-apa dengan wanita yang kini sedang mengandung buah hatinya.


Berawal dari perjodohan, saling mengejar prestasi di dunia bisnis, menginginkan pengakuan dan sebagainya, kini semua itu seaka tertinggal di belakang, meskipun kesibukan selalu ada di kantor masing-masing.


(Kembali ke pemandangan pagi itu).


"Kamu sangat seksi ...", ucap Jo.


Claudya menoleh dan tersenyum. Ia sudah tahu bahwa suaminya pulang meski tidak diberitahu oleh pria yang kini sedang menatap damba dirinya.


"Sudah sampai?", tanya Claudya yang masih sibuk dengan pembuatan nasi goreng.


"Kamu tahu aku pulang?", Jo bukannya menjawab malahan balik bertanya sambil berjalan mendekat ke arah istrinya.


"Jeny memberi tahuku kemarin sore..", jawab singkat Claudya.


Wajar Jeny tahu, toh suami bucinnya yang setiap hari minta jatah malam, pagi, siang, sore dan kembali malam itu memberitahu.


"Bryand memang tidak bisa diajak kerjasama...", dengus Jo.


Maksud hati ingin membuat kejutan agar ketika Claudya terbangun, ia bisa terkejut menatap wajah tampan suaminya yang sudah berada di atas ranjang mereka.


"Jangan marah.. Aku bersyukur kamu sudah pulang...", ucap Claudya lalu mengecup pipi suaminya yang sedang memeluk dari belakang. "Kamu mau?".


"Tidak.. Aku lapar yang lain...", jawab Jo menolak tawaran Claudya untuk nasi goreng itu.


"Hahahahha.. Mesum.... Tapi aku suka...", tawa Claudya pecah di pagi buta itu.


Jo menemani istrinya makan. Mereka berdua bercerita apa saja yang dilakukan selama tidak berada di tempat yang sama.


Selesai menyantap makanan itu, Claudya membawa piringnya ke wastafel tempat cuci piring untuk mencucinya, namun Jo melarang.


"Biarkan aku yang mencucinya... Oke?", ujar Jo langsung mengambil alih pekerjaan Claudya.


Wanita itu menatap suaminya tanpa berkedip. Ia bangga. Jo seorang Presdir, kaya raya mau melakukan hal-hal kecil seperti itu.


Setelah semuanya beres, mereka berdua naik ke kamar.


"Lain kali jangan sendirian. Minta mbok Minah untuk menemanimu.. Kepercayaan ku padanya lebih besar dari para ART yang lain...", ucap Jo menasehati istrinya.


"Aku kasihan dengan mbok Minah. Ia sudah tua, biarka dia istirahat saja dulu... Aku tak mau mengganggunya..", jawab Claudya.


Mbok Minah adalah ART yang Jo bawa dari rumah utama keluarga Jo Fernand. Beliau adalah orang yang menemani dan membantu Momy Regina merawat Jo sewaktu kecil, sehingga bagi Jo, mbok Minah adalah ibu kedua. Pria itu belum menemukan orang yang cocok pengganti mbok Minah, makanya ia masih mau mempertahankan wanita tua itu.


Jo hanya mengangguk.


"Aku mandi dulu...".


"Mau aku temani?", tawar Claudya.


"Kamu tidak mengantuk lagi?", tanya Jo.


Claudya menggeleng lalu beranjak dari ranjang mereka.


Jo mengikuti istrinya menuju kamar mandi. Melepaskan apa yang melekat pada tubuhnya hingga polos.


"Langsung di bawah shower atau bathup dulu?", tanya Claudya.


Jo menyeringai. Ini yang ia senangi dari istrinya. Tak perlu menggoda lebih dulu. Tahu apa yang suaminya butuhkan. Meski hamil besar, Claudya tidak mau kegiatan saling menyentuh berkurang. Apa lagi libido ibu hamil untuk berhubungan sangat tinggi.


Shower menyala. Claudya mendekat dengan tubuh yang sudah tak tertutup apapun.


"Aku merindukanmu, baby...", suara berat Jo sudah mulai terdengar, karena wanitanya memegang tongkat ajaib miliknya.


Claudya hanya tersenyum lalu mulai berjongkok.


Tongkat itu basah karena air, juga karena pelumas goa bergerigi. Masuk dan keluar, berulang-ulang. Lalu menyesap dua pir kecil yang ada di bawahnya.


Pagi yang dingin untuk raga yang semakin panas.


Dirasa cukup, Claudya mengentikan aktivitasnya.


Keadaan berbalik. Kini Claudya yang berdiri, Jo yang berada di bawahnya. Menyesap surga dunia paling nikmat.


Erangan panjang plus getaran tubuh wanita yang mendapat pelepasan.


Cukup.


"Kita pindah...", suara Jo terdengar sayu di telinga.


Claudya menganggu lalu membelit tangannya di leher suaminya. Jo membopong Claudya ala bridal style menuju ke walk in close.


Di dalam ruangan ganti itu terdapat sebuah sofa kecil. Cukup untuk duduk dua orang. Pas..


Gila.. Sensasi yang indah. Seolah tak habis gaya bercerita tubuh. Seolah saling memahami kebutuhan.


"Akhhhhh....", deru Claudya berulang-ulang.


"Aku yang memimpin...", pinta Jo diangguki wanitanya.


Dari belakang. Tangan Caludya bertumpu di sandaran sofa kecil itu.


"Terus... Terusshhh... Terush.... Akhhh....", rancau wanita itu.


Hujaman lembut tapi menusuk sampai ke dalam.


Jo tidak mau terlalu keras menghantam, takut bayinya di dalam sana.


"Baby.... Akkkuuu maaaauuuu....", Jo tidak sempat habis berbicara, Claudya sudah menarik diri.


Tongkat ajaib keluar dari goa dengan cepat langsung berada di dalam bibir seksi milik wanitanya.


Tangan Jo menumpu pada kepala istrinya.


"Terusshhh...".


Jo menarik batang berurat itu dan menumpahkan isinya di wajah istrinya.


Claudya tersenyum. Kalau di dalam mulut, pasti ditelan. Kalau di wajah, pasti dibuat seperti masker.


Jijik? Tidak.. Ini adalah hasil kerjasama mereka berdu. Toh kalau di dalam mulut bisa minum banyak air putih, kalau di wajah, bisa dibilas dengan sabun. Gampang. Tidak susah. Ngapain jijik..? Kalau jijik, ya seharusnya dari awal ketika saling melihat inti tubuh. Nah, setelah kerja keras bersama, ada hasilnya, lalu tidak dinikmati tetapi dibiarkan saja? Aneh kan? (Pemikiran kedua orang itu, bukan author yaa...).


.


.


.


.


Aktivitas pagi yang melelahkan membuat kedua insan yang kini hanya dibalut selimut tebal masih terlelap sampai pukul sebelah siang.


Kamar Jo diketuk.


Jo yang tersadar lebih dulu membukanya.


"Ada apa?", tanya Jo pada seorang ART yang memanggilnya.


"Maaf, Tuan mengganggu, di bawah ada Tuan Bryand...", lapor ART itu.


"Bryand? Baiklah.. Katakan padanya tunggu sebentar...", balas Jo langsung diangguki oleh ART itu.


Bryand sudah tidak menginap di rumah itu, kamar yang ia punya sudah kosong. Toh sudah beristri, jadi ya tinggal sama istrilah.


"Ada apa?", tanya Jo langsung ketika sudah berada di depan Bryand.


"Saya mau menyampaikan informasi penting, Tuan...", jawab Bryand.


"Kita ke ruang kerjaku...", ajak Jo lalu beranjak dari ruang tamu menuju ke ruang kerjanya.


"Lapor, Tuan... Saya baru mendapat kabar dari Alvaro sesaat sampai rumah tadi pagi.. Ini...", Bryand memberikan iPad mahal itu kepada Jo untuk dilihat isi laporan Alvaro.


"Jadi, musuh-musuh lamaku sedang berkumpul untuk menyerang ku?", tanya Jo masih santai.


"Benar, Tuan.. Mereka tahu bahwa anda kini sudah tidak menjabat sebagai ketua organisasi, maka dari itu mereka menduga bahwa kekuatan yang anda miliki berkurang sehingga mereka menyerang Tuan. Untuk waktunya, Alvaro belum mengetahui kapan dan di mana...", Bryand memberikan penjelasan.


"Hufssss...", Jo menghembuskan napasnya kasar. "Suruh anak buah Alvaro terus melakukan pantuan dan tetap berada di dalam markas musuh sampai kita mendapatkan waktu dan tempat penyerangan yang mereka rencanakan.. Perketat penjagaan istriku, mensionku, serta keluargaku. Bawa beberapa tim dari The Shadow untuk melindungimu dan keluargamu. Katakan juga pada Alvaro..... Minta David untuk kirim Jack ke sini sementara sampai situasi kondusif...".


"Baik, Tuan.. Siap..", jawab Bryand.


"Kita akan sedikit bersenang-senang sebelum benar-benar pensiun, Bry...", ucap Jo menyeringai.


Di depan kamar Claudya.


Wanita itu baru mendapat sebuah amplop cokelat. Pengirimnya menggunakan nama yang asing, namun tujuannya adalah dirinya. Dan amplop cokelat itu berasal dari luar negeri, tepatnya Spanyol.


Ia penasaran.


Matanya membola ketika saat mengeluarkan isinya yang dilihat adalah gambar laki-laki dan perempuan sedang bergandeng tangan. Ia sangat kenal laki-laki itu. Baru tadi subuh mereka berdua menguras energi.


"Sepertinya suami anda sedang bermain di belakang anda.. Buktinya, ia ke Spanyol bertemu dengan wanita ini... Mereka terlihat sangat romantis bukan? Tatapan mata mereka mengisyaratkan rasa yang paling dalam...", isi sebuah kertas yang ada di dalam amplop tersebut.


Napas wanita itu memburu.


Ia keluar dari kamar dan membanting pintu dengan keras hingga menarik perhatian beberapa ART yang sedang bekerja di sekitar kamarnya.


"Di mana, Tuan?", tanya Claudya pada salah satu ART.


"Di ruang kerjanya, Nyonya..", jawab ART itu.


Claudya berjalan cepat menuruni anak tangga. Mbok Minah yang melihat itu langsung menegurnya.


"Nyonya, hati-hati..", teriak mbok Minah.


Claudya tidak memperdulikan itu.


Kakinya melangkah dengan lebar menuju ruang kerja suaminya.


Brakkkk...


Pintu ruangan kerja itu dibuka dan di tutup dengan kasar sehingga menimbulkan bunyi.


"Ada apa?", tanya Jo yang masih belum tahu apa-apa.


"Apa ini?"....