Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 8



Pukul 09.17


Tok-tok-tok.....


Suara ketukan terdengar dari luar pintu kamar hotel tempat pasangan aneh itu tempati.


Jo menggeliat dan mengucek matanya karena merasa terganggu dengan hal itu. "Siapa yang berani mengganggu tidur nyenyakku?", jengkel Jo dalam hati.


Laki-laki itu melangkah menuju pintu kamar hotel kemudian membukanya.


"Ada apa?", tanya Jo melihat asisten satu berada tepat di depannya.


"Pagi ini jam 10.00 kita ada meeting bersama klien dari Jerman, Tuan", jawab Jo.


"Terus?", lagi Jo bertanya.


"Terus? Pertanyaan macam apa itu? Untung Bos... Kalau tidak, sudah ku getok kepalanya pakai kunci mobil", umpat Bryand dalam hati.


"Jangan mengumpat...!!!", dengus Jo. "Atau saya kirim kamu ke Nigeria, Bryand? Cepat katakan...!!"


"Meeting kali ini tidak bisa diwakilkan, Tuan. Maaf...", sahut Bryand.


"Ya sudah... Saya bangunkan wanita itu dulu.. Tunggu sebentar...", ucap Jo kembali menutup pintu kamar sebelum Bryand menjawabnya lagi.


Jo berlalu dari pintu kamar kemudian menuju ranjang king zise dan beberapa detik menatap Claudya yang masih terlelap dengan damainya.


"Bangun, Cla....", panggil Jo pelan dengan mengecup dan mengelus pipi mulus Claudya.


"Eughhhhhh... Sudah jam berapa?", tanya Claudya yang masih memejamkan matanya.


"Jam 09. 20..", jawab Jo santai.


"What???", Claudya kaget kemudian dengan cepat bangun dan duduk di ranjang itu tanpa berpikir bahwa bagian atasnya masih polos tanpa berbenang. "Akhhhhhh", teriak Claudya ketika melihat tatapan Jo ke arah atasannya.


"Hahahaha... Kamu lucu, sayang....", tawa Jo. "Ayo bersiap...", ajak Jo tanpa aba-aba langsung menggendong Claudya seperti sedang memikul karung beras.


Claudya berontak dan memukul punggung Richard Jo.


"Turunkan aku, brengsek....", Claudya terus berontak. "Aku bisa mandi sendiri...".


"Tidak efektif, sayang. Aku juga harus cepat bersiap karena meeting penting pagi ini", ucap Jo kemudian menurunkan tubuh Claudya di bawah shower dan mengguyurnya dengan air dingin.


"Jangan banyak bergerak kalau kamu tidak ingin terlambat lebih lama", ancam Jo.


Claudya seketika diam. Wanita itu tidak lagi memberontak.


Jo tersenyum senang melihat Claudya yang sangat penurut saat diancam. "Hahahaha, aku akan terus mengancammu jika kau berani bertingkah menyebalkan", Jo berkata dalam hati.


"Akhhhh,,.. Ja.....ngannnnhhhhh", rancau Claudya saat jemari Jo dengan cepat sudah mengoyak miliknya.


"Jangan menyuruhku berhenti, baby...!!", ucap Jo dengan suara beratnya.


Sedangkan di depan pintu kamar kedua manusia itu, ada asisten yang sudah menunggu seperti setrikaan.


"Di mana Nona Claudya, asisten Bryand?", tanya Jeny yang sedang kebingungan karena majikannya terlambat untuk datang ke pertemuan penting dengan petinggi perusahaan JS Group.


"Masih di dalam bersama Tuan Jo, asisten Jeny", sungut Bryand jengkel. "Apa sih yang mereka lakukan? Saya sudah menunggu di sini sedari tadi".


"Apa lagi kalau bukan sedang ehem, asisten Bryand? Masa begitu saja tidak paham?", jawab Jeny dengan gelisah.


Kedua asisten itu terus saja berdiri, kadang berjalan mondar-mandir.


"Iya", jawab singkat Jeny. "Ketuklah pintu itu..!!. Atau kita akan terlambat dengan urusan kita masing-masing, Bryand", saran Jeny yang sudah tidak memanggil dengan sapaan asisten karena saking gelisahnya.


"Tuan akan marah besar...!!", sahut Bryand.


"Kita terlambat bodoh....", umpat Jeny kemudian dengan berani mengetuk pintu kamar yang ditempati kedua bos menyebalkan itu.


Di dalam kamar.


"Aku kan sudah bilang, kita terlambat...!", umpat Claudya. "Aku ada pertemuan penting hari ini".


"Jangan bersungut, sayang. Kau menikmatinya tadi", ucap Jo sambil mengenakan pakaian kerjanya yang sudah tersedia di kamar hotel itu. Maklumlah, kamar miliknya, hotel juga miliknya.


"Aku mengenakan apa? Pakaianku semalam sudah tidak layak pakai, dan juga pakaian dalamku tidak ada", ketus Claudya yang sedang mengeringkan rambutnya.


"Aku akan mengisinya nanti jika kita datang lagi", jawab Jo yang tidak sesuai dengan pertanyaan.


Claudya menghentakan kakinya di lantai kamar.


tok-tok-tok-tok-tok....


Jo dan Claudya mendengar ketukan pintu yang tidak berhenti itu seketika saling bertatap dan mengerutkan kening masing-masing.


"Siapa?", tanya Jo lupa bahwa di luar asisten Bryand sedang menunggunya dari tadi.


"Kamu yang buka. Aku hanya menggunakan bathrobe", suruh Claudya.


Jo membuka pintu itu kemudian kaget karena keningnya juga diketuk dengan tidak sengaja oleh asisten Jeny.


"Aduh.... Kau mau mati?", kesal Jo.


"Maaf, Tuan. Saya sengaja...", Jeny kemudian dengan tidak sopan berlalu masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh majikannya.


"Jeny? Ada apa?", tanya Claudya heran ketika melihat asistennya itu berjalan cepat menuju ke arahnya.


"Ini pakaian anda, Nona", sahut Jeny. "Cepatlah. Tuan Besar sudah memberondongku dengan banyak pesan juga telepon sedari tadi".


"Oh.. Oke", Claudya berkata dengan santai lalu mengambil pakaian yang dibawakan Jeny dan menggantinya di situ pula tanpa malu.


"Sayang, aku berangkat. Jangan nakal", Jo berpamitan dengan berjalan menuju ke arah Claudya yang sedang mengenakan pakaiannya.


Mata Jo membulat, karena dengan tidak tahu malunya Claudya berganti pakaian di situ dengan disaksikan oleh Jeny.


cupsss..


"Jangan menggodaku...", Jo mencium singkat bibir Claudya sambil melingkarkan tanganya di pinggang rambil milik Claudya.


"Minggirlah. Aku sudah terlambat", sambil melepaskan belitan tangan Jo dan tetap mengenakan pakaian itu dengan sempurna.


"Aku akan memintanya lagi di akhir pekan.. Karena kau sudah menggodaku", seringai Jo kemudian lagi mengecup bibir Claudya dan ********** sedikit.


Jeny yang hanya jadi penonton adegan itu terbingung-bingung. "Apa yang terjadi? sayang?", tanya Jeny seolah jadi wanita paling polos yang baru pertama melihat adegan live tersebut.


"Tidak Lagi.....!!!!", sahut Claudya. Lalu berlalu pergi dengan meraih tangan Jeny dan menggandengnya ke luar kamar hotel.


Jo hanya menggelengkan kepala melihat wanita itu berjalan tergesa-gesa. "Sangat imut. Tapi menyebalkan", ucap Jo kemudian pergi dari kamar itu.


"Ayo berangkat, kita sudah terlambat", ucap Jo tanpa tahu malu sebab dialah yang menyebabkan.