Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 30



Pagi tiba.


Karena kelelahan akibat pertempuran subuh tadi, Jo dan Claudya masih saling memeluk di balik selimut yang menutupi tubuh polos mereka.


Suara handphone Claudya berdering.


"Hmm", Claudya menjawab dengan berat. Matanya masih ingin terpejam, namun waktu sudah menunjukan pukul 09.13 pagi.


"Maaf, Nona... Saya mengganggu anda pagi ini..", ucap orang di seberang telepon.


Claudya kembali melihat siapa yang memanggilnya melalui telepon pagi ini.


"Ada apa, Sia?", tanya Claudya setelah melihat siapa yang menghubunginya. Sekretarisnya Lusia.


"Maaf, Nona.. Klien dari Spanyol itu tidak bisa menemui kita hari ini, karena anaknya sedang sakit dan masuk rumah sakit, sehingga beliau meminta kita untuk datang ke Spanyol agar pembahasan kerjasamanya tetap berjalan..", lapor Lusia.


"Memangnya kak El tidak bisa ke sana?", lagi Claudya bertanya. Setengah tubuhnya bersandar di kepala ranjang tanpa ditutupi selimut.


"CEO sedang ke LA untuk pembahasan proyek baru, nona..", jawab Lusia.


"Jadi, saya yang harus ke sana? Baiklah, siapkan perjalanan kita...", jawab Claudya seadanya.


"Baik, nona. Apa saya ikut..?", tanya Lusia.


"Kamu juga ikut, Sia...", ucap Claudya lalu mematikan teleponnya setelah mendapatkan jawaban balik dari Lusia sang sekretaris.


Jo yang merasa terganggu pun mendongakkan kepalanya menatap wajah sang istri.


"Ada apa?", tanya Jo dengan suara serak bangun tidurnya.


"Aku harus ke Spanyol hari ini menggantikan Kak El... Kemungkinan seminggu di sana...", jawab Claudya balas menatap Jo.


Jo hanya mengangguk lalu menarik Claudya ke dalam pelukannya.


"Lelah?", Jo bertanya.


"Kamu menggempurku beberapa kali, Rich... Tulangku sepertinya mau patah...", ucap Claudya lembut.


"Mau aku urut?", lagi Jo bertanya dengan mengedipkan matanya ketika melihat Claudya menatapnya.


"Jangan mengada-ada, Rich... Dasar modus....", umpat Claudya tersenyum.


Jo jarang melihat Claudya tersenyum, sehingga ketika sesekali saja melihat istrinya tersenyum, Jo salah tingkah.


"Tidak.. Hanya urut.... Agar kamu rileks nanti dalam perjalanan....", sahut Jo mengada-ada.


"Hmmm, boleh....", ucap Claudya setelah beberapa saat berpikir.


Claudya tengkurap. Jo menyibakan selimut yang menutupi tubuh mereka dan terpampang lah maha karya Tuhan di depannya.


"Ahhh, jangan sekarang, boy... Tunggu nanti setelah dia rileks...", batin Jo ketika mulai merasa ada yang aneh dengan peredaran darahnya.


Jo mengambil minyak zaitun di meja rias istrinya kemudian kembali mulai proses message.


Tangan Jo ternyata cukup lincah selain untuk menggarapi istrinya, ia juga lihai dalam urusan message.


Claudya menikmati pijatan Jo.


"Nah, di situ Rich... Iya... itu....", adu Cla ketika tangan Jo tepat di bagian yang dirasa lelah.


Jo semakin bergerak lincah memainkan jemarinya di belakang tubuh Claudya.


Semakin turun, turun, dan tepat berada di dua benda kenyal bagian belakang.


Adik kecil Jo tidak bisa diajak kompromi.


Jantungnya mulai bergerak cepat mengalirkan darah ke seluruh pembuluh, namun Jo masih mampu untuk menahannya.


Selesai bagian belakang, Jo meminta Claudya berbalik. Wanita itu menurut saja, karena merasa nikmat pijatan yang dilakukan suaminya.


Pertahanan sang suami semakin diuji. Dua semangka berhadapan tepat di depan matanya. Ia harus memijat bagian itu juga.


Claudya tetap memejamkan matanya.


Dan pada akhirnya, runtuh juga pertahan Jo..


Mereka berdua kembali beradu skill di atas ranjang. Saling menikmati sentuhan hingga membuat mata merem-melek.


Aktivitas itu dilakukan Jo berulang dengan alasan "Kita tidak akan bertemu seminggu". Begitulah akal bulus laki-laki.


Claudya pasrah. Toh dia juga sadar, bahwa beberapa bulan belakangan ini, dikarenakan kesibukkan, membuatnya jarang untuk memanjakan adik kecil Jo. Bersyukur Jo tidak menikmati jajanan di luar, meski setiap harinya ada saja yang menggodanya.


Mereka terhempas bersama karena kelehan. Namun saling memeluk dan tersenyum.


.


.


.


.


.


Claudya melakukan perjalanannya malam hari. Toh dia tidak harus membeli tiket pesawat dan sebagainya. Keluarga Lee tidak kalah dengan keluarga Jo Fernand, mereka juga memiliki jet pribadi yang dapat digunakan untuk waktu-waktu tertentu sesuai permintaan pemiliknya.


"Hati-hati... Hubungi aku ketika sampai di sana...", ucap Jo ketika Claudya berpamitan dengannya sebelum masuk ke pesawat.


"Hmmm, iya...", balas Claudya tersenyum.


Suami istri itu saling mengecap di depan anak buah mereka tanpa peduli tatapan para jomblowan dan jomblowati di sana.


Claudya pun pamit memasuki pesawatnya diikuti oleh Jeny dan juga Lusia.


Jo menatap kepergian pesawat itu setelah beberapa saat.


"Bagaimana?", tanya Jo pada Bryand.


"Pramugari dan pramugaranya orang-orang terlatih milik kita, Tuan...", jawab Bryand yang tahu arah pertanyaan Tuannya.


"Suruh Chris ikuti mereka kemanapun mereka pergi...", perintah Jo karena tahu bahwa anak buah kepercayaannya masih ada di Spanyol memegang pundak kekuasaan markas mereka di sana.


"Sudah saya laksanakan. Mereka akan menjemput nyonya muda di bandara nanti...", jawab Bryand.


"Good... Kamu tahu yang ku maksud, Bry...", puji Jo kepada Bryand yang telah kembali setelah menggagalkan pengiriman 85 anak gadis kemarin.


Bryand tersenyum senang mendapat pujian tersebut membuat Alvaro yang berada di sebelahnya bersungut.


"Kau juga, Al.. Pekerjaanmu bagus semalam. Hanya si Cupu Lincoln itu tidak kau temukan keberadaanya. Cepat cari dan beri pelajaran...!", perintah Jo dan diangguki oleh Alvaro.


"Kita pulang...!", ajak Jo lalu pergi dari tempat itu.


Di dalam perjalanan, Jo dan anak buahnya mendapat serangan tiba-tiba hingga membuat mobil mereka oleng.


"Akhhh, siallll.....", umpat Jo ketika kendaraannya menabrak pembatas jalan.


Jo keluar dari mobil itu, diikuti oleh Bryand dan Alvaro. Kedua asisten itu terluka di bagian kening akibat benturan yang terjadi.


Mereka bersembunyi menjadikan mobil sebagai pelindung.


"Siapa mereka...?", tanya Jo dengan nada kesal.


"Belum bisa dipastikan, Tuan....", jawab Alvaro.


Jo melihat salah satu mobil anak buahnya yang berisi empat orang terguling dan menewaskan mereka berempat sekaligus.


Bryand dan Alvaro mengintai sekeliling mereka. Menyipitkan mata, dan melihat bahwa ada pergerakan di balik semak di ujung sana.


"Bry, Utara..", Alvaro memberi kode.


Bryand paham dan langsung melihat tajam arah Utara mereka.


Dor...


Sekali saja Bryand mengeluarkan tembakan tepat sasaran.


"Kena...", ucap Bryand.


Jo menoleh ke arah Utara yang dimaksud. Melihat lagi dengan memicingkan matanya, akhirnya menemukan ada beberapa penembak yang bersembunyi di balik pohon di arah itu.


"Ambilkan senjata Laras panjang di kursi belakang...", perintah Jo.


Alvaro dengan cepat bergerak mengambil senjata yang selalu tersedia di dalam mobil.


Jo membidik. dor...


Tepat sasaran..


Kubu lawan yang melihat itu pun marah karena sudah dua kawannya mati di tempat.


Alvaro membabi buta menembak untuk memancing musuh. Ternyata berhasil. Perlahan musuh keluar dari persembunyiannya, karena menurut mereka toh yang mereka lawan hanya tiga orang dibanding kumpulan yang banyak itu.


Tembak-menembakpun terjadi..


Bryand kewalah, karena musuh berada di dua arah, Utara dan Selatan.


"Siallll....", Bryand mengumpat.


Mereka bertiga tetap berlindung di balik kendaraan itu sambil menyerang musuh. Bahu membahu melindungi satu dan yang lain.


Pada akhirnya, bantuan datang. Mereka adalah pengawal banyangan milik Jo yang sedikit terlambat karena terjebak macet di akibatkan serangan itu.


dor...dor...dor...


Anak buah Jo membantu menembak kumpulan lawan.


Merasa sudah di atas angin, Jo dan kedua asistennya keluar dari tempat perlindungan dan balik menyerang.


Sekalipun kumpulan itu terlatih, namun tetap saja kumpulan Jo memiliki kehebatan di atas kumpulan lawan.


Pertempuran dimenangkan Jo, dan selalu saja disisakan hanya satu orang. Alasannya sebagai makanan untuk Jacky.


"Kita ke markas....!!", perintah Jo setelah selesai. "Bersihkan tempat ini sebelum polisi datang...".


"Baik, Tuan....!", jawab Bryand dan Alvaro.


Mereka menaiki mobil yang berbeda dari sebelumnya yang sudah disiapkan anak buahnya, karena kendaraan yang itu sudah di isi oleh bekas-bekas peluru lawan.


Rencana awal pulang ke rumah, akhirnya berubah arah menuju markas.


"Selidiki serangan itu. Siapa, dan di mana markasnya. Ku hancurkan sampai tak tersisa satu pun....!", sungut Jo di dalam mobil.


"Siap, Tuan...", sahut Bryand, sedangkan Alvaro memimpin kelompok bayangan untuk membersihkan tempat pertempuran.


Sampai di markas, Jo membersihkan dirinya di ruangan miliknya, sedangkan Bryand di ruangannya yang lain.


.


.


.


.


.


Bryand keluar lebih dulu menuju ruang penyiksaan, karena salah seorang kumpulan lawan menjadi tawanan mereka.


"Siapa yang menyuruhmu?", tanya Bryand dengan tegas.


"Aku tidak akan mengatakannya sekalipun kau membunuhku....!", jawab orang itu acuh.


Bryand tertawa sesaat, lalu kembali menatap orang itu dengan tajam.


"Aku tidak bertanya dua kali.. Jadi baiklah....!", seringai Bryand. "Sesuai permintaanmu...".


Orang itu yang awalnya santai mulai berkeringat, karena merasakan aura membunuh Bryand.


Bryand mengambil pisau kecil yang ada di atas meja lain, meminta salah seorang anak buahnya mengangkat tangan orang itu, meletakan jemarinya di atas meja yang menjadi batas antara Bryand dan musuh.


Dengan santai Bryand mengiris satu jari telunjuk orang itu.


"Aaaaaaaaaahhhhhhhkkkkkkkkkkk, brengsek......!", teriak orang itu saat merasakan pisau sekecil itu mampu memotong salah satu jarinya.


Bryand menyeringai, lalu melakukan hal yang sama pada sembilan jari tersisa.


Orang itu merasakan sakit di sekujur tubuhnya, namun Bryand tidak menghentikan aktivitasnya.


Jo yang sudah selesai dari tadi hanya berdiri di pintu ruangan penyiksaan menyaksikan kekejaman Bryand menyiksa lawannya.


Salah seorang anak buah Jo kemudian menyerahkan sebuah hp yang berisi pesan perintah untuk membunuhnya.


"Sudah kau selidiki, Arman?", tanya Jo pada anak buah itu, yang diketahui sebagai salah seorang IT handal milik Alvaro.


"Sudah, Tuan.. Mereka adalah kelompok Devil yang dibayar oleh The Blood untuk membunuh Anda....", lapor Arman.


"The Blood?", tanya Jo memastikan.


"Pesan ini terenkripsi. Dari yang saya selidiki, pesan tersebut dikirim oleh seorang IT dari Spanyol.. Dan ini, Tuan...", jawab Arman sambil memberikan sebuah berkas.


"David Sun?", penasaran Jo.


"Benar, Tuan... Orang Cina yang bekerja untuk Frank Cole, handal dalam bidang teknologi. Meretas dan mencuri data perusahaan saingan Frank Cole...", lagi Arman melapor.


"Baiklah... Curi semua data perusahaan yang mereka curi. Marilah kita bermain menjadi pencuri yang mencuri dari tukang curi....", perintah Jo dengan santai dan diangguki oleh Arman.


"Bryand......", panggil Jo yang masih menyaksikan siksaan Bryand sambil mendengar laporan Arman.


Bryand menoleh...


"Tuan....", sahut Bryand lalu berdiri.


Jo mengangguk, yang artinya memberi kode. Bryand paham.


"Berikan setengah tubuhnya untuk Jacky, dan setengahnya lagi untuk Bulan...", perintah Bryand pada anak buahnya.


Mendengar itu, tahanan tersebut langsung berteriak berontak memohon ampun...


"Ini... Habisi mereka malam ini juga....!", ucap Jo tegas lalu pergi dari tempat itu.


...----------------...


*haiiiii...


yang belum tau Jacky dan Bulan, ini author kasih tau ya...


Jacky itu nama seekor singa jantan yang dipelihara terpisah dari Lion singa betina milik kelompok Black Hunter.


Sedangkan Bulan, adalah nama sebutan untuk serigala betina milik kelompok itu juga*.