
Markas Black Hunter.
"Tell our men who come from outside this country, the Black Hunter headquarters will be moved to Sweden according to the instructions from Mr. Jo, then we will bring foreign nationals there, the rest of the local residents will stay here guarding this base (Katakan pada anak buah kita yang berasal dari luar negara ini, markas besar Black Hunter akan dipindahkan ke Swedia sesuai instruksi dari Tuan Jo, maka warga negara asing akan kita boyong ke sana, sisanya warga lokal akan tetap tinggal di sini menjaga markas ini)..!", perintah David pada asistennya Lucky San.
Sesuai permintaan Jo, markas besar akan dipindahkan ke Swedia karena David orang Swedia juga sekaligus membuat pengalihan bahwa Jo tidak lagi menjabat sebagai ketua organisasi tersebut, sekalipun musuh masih tetap memburu, namun tidak lagi seperti dulu. Hanya beberapa yang masih kepala batu.
"Yes, Sir...", jawab Lucky San langsung bertindak sesuai perintah.
Semua barang-barang yang ada di markas itu diangkut pindah ke Swedia. Bukannya tidak bisa membeli barang baru, hanya saja David lebih tertarik dengan barang-barang yang dulu milik Jo tersebut kecuali teknologi canggih masih akan tetap berada di markas itu.
Tentu tidak bisa harus cepat, karena Jo tidak mau jika langsung sekaligus pindah dalam satu hari itu. Begitu juga David.. Ia memang sudah terjun ke dalam dunia bawah sejak usia tiga belas tahun, namun harus beradaptasi dengan posisinya yang baru.
Anggota Black Hunter pun tidak protes soal penunjukkan David sebagai ketua baru meski usianya baru memasuki sembilan belas tahun jalan dua puluh. Jo akan tetap mengawasi perkembangan organisasi dari jauh, sekaligus Jack yang akan mendampingi David di Swedia dan akan ditarik kembali setelah usia David dua puluh lima tahun.
The Shadow akan dipimpin sementara oleh Bryand. Seluruh aktivitas legal yang dilakukan The Shadow diurus oleh Bryand sebagai ketua. Untuk diingat kembali, The Shadow yang dulunya bernama Centinental adalah organisasi yang menyiapkan pengawal pribadi. Organisasi tersebut sudah diakui pemerintah dan surat menyurat segala sesuatunya legal sehingga bertindak hanya untuk mengawal pebisnis yang perlu pengawalan.
.
.
.
.
Lima bulan usia kehamilan Claudya.
Perut Claudya semakin membesar sesuai dengan usia kandungannya. Jo sebagai suami siaga. Kini bergantian ngidamnya.
Claudya yang sekarang sangat repot ketika mengidam. Pria dingin itu dibuat pusing. Pernah satu kali Jo diminta untuk membeli kelapa muda lima buah dan harus dia yang memetiknya sendiri, namun naas, belum sampai di atas ujung pohon kelapa, Jo sudah jatuh duluan karena tiba-tiba saja, seekor cicak menempel pada tangannya.
Dua Minggu dirawat di rumah sakit, brsyukur pohonnya tidak sampai tiga meter tingginya, namun yaa namanya orang kaya, sakitnya sedikit, rawatnya lama.
"Rich, bisa datang ke kantorku? Bawakan aku kimchi yang ada di restaurant dekat kantorku, yaaa?", pinta Claudya lewat telepon suatu ketika, setelah kejadian pohon kelapa itu.
"Bisa tunggu sebentar? Aku selesaikan pekerjaanku ini dulu, ya?", Jo balik meminta waktu.
"Sekarang atau dua Minggu tidak dikasih jatah?", ancam Claudya.
"Segera aku ke sana, kamu tunggu ya... Mau apa lagi?", jawab Jo yang bergegas keluar dari kantornya.
"Ehhhmmm, es krim rasa coklat sama rasa strawberry. Masing-masing tiga yaa..?", lanjut Claudya dengan suara manjanya.
Jo segera bergegas keluar mengendarai mobilnya sendiri tanpa Bryand yang setia menemani.
Sesampai di kantor Claudya dengan menenteng pesanan sang istri.
"Ini pesanannya, Cla...", ujar Jo ketika berada di depan istrinya.
"Letakan di meja itu...", Claudya menyahut sambil menunjuk sebuah meja di depan sofa yang ada dalam ruangan kerjanya.
"Makan sekarang?", tanya Jo diangguki oleh Claudya.
"Akkkkk,", Jo menyuapi istrinya kimchi terlebih dahulu.
"Sudah, aku cuma mau sedikit saja...", ucap Claudya santai.
"Lalu sisanya?", tanya Jo lagi.
Claudya menunjukan wajahnya penuh godaan. Jo tahu maksud tatapan itu.
"Baiklah, aku akan memakannya. Ini sudah yang kesekian kalinya makanan yang kamu minta, aku yang makan sampai habis... Perutku oh perutku...", gerutu Jo namun tetap saja ia melahap kimchi di depan istrinya.
"Good Husband..", goda Claudya lalu membuka es krim rasa coklat yang tadi juga dipesannya.
"Habis ini jatah, yaaa?", pancing Jo.
Selama kehamilan, Claudya yang selalu meminta Jo untuk menuntaskan hasratnya, meski tidak harus dimasuki.
Entah mengapa, ia lebih senang Jo membuatnya keluar berkali-kali menggunakan jari atau lidah pria itu, dibandingkan dengan tingkat sakti milik suaminya. Tetapi ya tentu tidak setiap kali lah, pasti ada juga sesekali Jo memasukan tongkatnya ke liang lembab nan lembut.
Perempuan itu pun sangat senang memainkan milik Jo melalui mulut, atau jarinya membatu suaminya keluar. Kadang keluarnya ketika menggunakan tangan, kadang keluar menggunakan mulutnya. Yah, aneh memang.
"Jatah? Di sini?", tanya Claudya.
"Di lantai paling atas gedung ini.. Ya di sini lah, Cla...", jawab Jo.
Claudya mengangguk saja. Jo semangat empat lima, meski waktu masih menunjukan pukul 11 lewat namun ya namanya jatah, tak mengenal waktu.
"Sudah habis makannya?", Claudya melihat Kimchi yang tadi sudah selesai dilahap.
Jo memberikan bukti boks kosong yang sudah habis isinya.
"Makan dulu es krimnya...", Claudya menyodorkan es krim pada Jo langsung disambut Jo antusias.
Belum sempat es krim itu masuk ke mulut pria di depannya, Claudya langsung menyambar hingga bertemulah kedua bibir lembab.
Saling memberi dan menerima. Jo semakin semangat. Persetan dengan es krim yang tumpah di atas bajunya, toh bisa beli ganti nanti intinya selesaikan dulu masalah gairah.
Tidak perlu melakukan pemanasan lama-lama. Suasana sudah panas. Tanpa perlu bertelanjang, Jo sudah memasukan miliknya ke milik istrinya di bawah sana. Toh posisi sang istri berada di atas pangkuannya, jadi dengan mudah bersarang.
Aktivitas keduanya berjalan lambat, pelan dan sesekali meneriakan namanya masing-masing.
Jeny yang berada di luar ingin masuk, namun baru saja sedikit membuka pintu ruangan Claudya, ia sudah mendengar suara-suara gaib, sehingga mengintip ke dalam.
Matanya membola sempurna.
"Kok tidak dikunci sih? Tuan dan nyonya muda terlalu bar-bar ku rasa. Kan.. Kan.. Kan... Aku jadi pengen juga, mana kalau Tuan di sini, pasti suamiku yang mengerjakan pekerjaan tuannya itu...", gumam Jeny pelan lalu menutup pintu ruangan Claudya.
DI LARANG MASUK.. LAGI MODE GALAK...
Tulis Jeny dengan selembar kertas HVS di pintu masuk ruangan Claudya.
Sekretaris Claudya yang yang baru juga mendengar desis-desis suara laknat dari dalam ruangan wakil CEO nya pun tidak bisa berbuat banyak. Asistennya saja tidak bisa mengganggu, apalagi dirinya yang baru bekerja beberapa bulan ini menggantikan Lusia..?
By The Way, Lusia sekretaris lama Claudya, dipindahkan ke kantor cabang milik JS Group yang ada di samarinda menjadi kepala devisi keuangan.
Bukan Jo namanya mengampuni keteledoran orang-orang di sekitarnya, apalagi hanya sekretaris istrinya. Kuasa yang ia punya bisa membuat El yang sebagai CEO JS Group tidak bisa berbuat banyak. Otak Jo terlalu cerdas untuk itu, namun dia tipe pria yang sepertinya takut istri.