
Setelah aktivitas kedua insan itu selesai, akhirnya mereka bubar, mengurusi kegiatan masing-masing. Yang satu tidur karena kelelahan, yang satu lagi membayangkan jika hal yang mereka berdua lakukan tadi itu tidak melalui video call melainkan sentuhan langsung. Pasti jam begini belum selesai.
.
.
.
.
Keesokan harinya. Rombongan Claudya keluar dari hotel tempat mereka menginap. Tanpa sengaja bertemu dengan musuh suaminya. Frank Cole.
Anak buah yang ditugaskan oleh Alvaro untuk mengawasi dan mengawal istri dari bos besar menjadi waspada.
"Haiii, Nona Claudya?", sapa Frank.
"Ahh, hai Tuan Frank..", jawab Cla.
"Anda menginap di sini? Bulan madu?", Frank bertanya.
"Iya, Tuan Frank. Tetapi saya tidak berbulan madu, hanya mengurusi beberapa pekerjaan di sini..", sahut Claudya.
Frank menyeringai kecil yang tidak diketahui oleh Claudya.
"Baiklah, kapan-kapan bolehkah saya mengajak istri teman saya ini untuk makan siang bersama?", tanya Frank.
"Tidak baik jika tanpa suami saya, Tuan. Anda tentu paham itu..", ucap Claudya dengan senyum.
Frank melihat senyuman Claudya seketika tercengang. "Sungguh sangat cantik", batin Frank.
"Saya paham, Nona Cla.. Maaf jika membuat anda tidak nyaman.. Tetapi bagaimana jika karena anda sudah di sini, kita lanjutkan pembahasan kerja sama kita, ya meski anda sendiri tahu, bahwa perusahaan saya yang berada di negara anda tidak lagi beroperasi. Semuanya berpindah ke perusahaan pusat saya di sini...", jelas Frank panjang lebar.
"Soal itu, jika saya tidak sibuk, maka asisten saya akan menghubungi anda...", jawab Claudya.
"Maaf, Nyonya muda, klien sudah menunggu anda di restaurant tempat pertemuan..", lapor Lusia menyela pembicaraan Frank dan Claudya.
"Baiklah. Nanti saya hubungi asisten anda membuat janji. Maaf, mengganggu waktu anda...", ucap Frank lembut.
"Saya permisi, Tuan Frank...", sahut Claudya lalu pergi meninggalkan Frank di lobi hotel tersebut.
Pertemuan tak terduga. Frank tersenyum. "Kali ini kau kecolongan, Tuan Rick..", gumam Frank.
Mendengar ucapan sang bos, asistennya mulai mengerti.
"Haruslah saya memerintahkan anak buah untuk mengawasi gerak-gerik wanita itu, Tuan?", tanya asisten itu.
"Ide bagus...! Awasi dia, Rick tidak akan membiarkan wanita itu pergi sendirian tanpa pengawalan. Kita harus menguasai kelemahan pria itu, agar kelompoknya jatuh ke tangan kita, bila perlu seluruh perusahaannya juga menjadi milik kita...", ucap Frank sekaligus memberi perintah pada asistennya.
"Ingat... Jangan sampai anak buah Rick tahu bahwa kita mengawasi istri bos mereka...!", lagi Frank melanjutkan perintahnya dan diangguki oleh anak buahnya itu.
Di tempat lain, Alvaro mendapat laporan dari anak buah yang diperintahnya untuk mengawal istri bosnya itu.
"Sial....!", umpat Al lalu menuju ruangan kerja bosnya.
tok-tok-tok
Alvaro masuk, ke ruangan bosnya setelah dipersilahkan. Di situ juga ada Bryand sang asisten yang menemani bosnya.
"Lapor, Tuan.. Frank Cole tanpa sengaja bertemu dengan nyonya muda di lobi hotel tempat mereka menginap..", lapor Alvaro.
Mendengar hal itu, Jo yang sedang berkutat dengan pekerjaannya pun mengangkat kepalanya.
"Jangan awasi istriku dari jarak jauh. Beri pengawalan ketat selama pekerjaannya di sana....!", perintah Jo tegas.
Alvaro mengangguk lalu menghubungi anak buahnya. Bryand pun mendengar itu langsung menghubungi Jeny via pesan.
"Akan ada anak buahku yang mengawal kalian selama di situ. Tidak bisa dilakukan dari jauh, jadi usahakan nyonya muda untuk tidak menolak pengawalannya..", tulis Bryand lewat pesan untuk Jeny.
"Siapkan pesawat kita yang lain.. Kita ke sana...!", perintah Jo.
Bryand mendengar itu langsung menghubungi anak buahnya untuk menyiapkan pesawat.
"Sudah, Tuan...", lapor Bryand.
"Kamu tetap di sini, Bryand. Pekerjaan kantor, ku serahkan padamu... Alvaro yang akan mendampingiku ke sana...!", ucap Jo lalu bangun dari kursi kerjanya dan pergi.
Bryand mengangguk mengerti.
.
.
.
.
.
Beberapa saat kemudian, pesawat yang ditumpangi Jo lepas landas dari bandara pribadi milik Jo.
"Perjalanan akan sangat jauh, sebaiknya istirahat Al. Kita akan bekerja ekstra ketika sampai...", saran Jo di atas pesawat.
Alvaro mengangguk. Ia paham yang dimaksud Jo. Harus siap dengan segala konsekuensi ketika sampai di Spanyol.
Tembakan, serangan, dan sebagainya pasti terjadi. Juga akuisisi perusahaan. Jo tidak mau bertele-tele mengurusi seorang Frank, karena musuh yang mengharapkan kematian Jo masih banyak selain pria Spanyol itu.
.
.
.
Sedangkan Claudya di Madrid sudah menyelesaikan segala urusannya dengan klien tersebut.
"Siapa dia?", tanya Claudya ketika melihat seorang laki-laki yang mengendarai mobil mereka.
"Pengawal yang dikirim Tuan Jo, nyonya muda..", jawab Jeny.
"Aku tidak membutuhkan pengawal... Atau kau lelah menyetir, Jen? Kan ada Lusia yang bisa menggantikanmu..!", gerutu Claudya.
"Tidak ada penolakan, nyonya muda...", sahut Jeny seadanya.
"Jen, kau menyebalkan...!", ucap Claudya lalu bersandar di sandaran kursi mobil.
Sedangkan Lusia yang berada di samping supir itu dibuat kagum akan ketampanan wajah pria itu.
Melihat hal itu, Jeny langsung menendang belakang kursi yang diduduki oleh Lusia.
"Eh, awas lalat masuk ke mulutmu...", ucap Jeny.
"Tidak akan, toh mobil kita bersih loh nona Jeny..", sahut Lusia yang tidak balik menatap Jeny, namun tetap menatap pemuda itu.
"Air liurmu menetes tuh...", lagi Jeny mengganggu.
"Jangan mengganggu, nona Jeny. Saya masih mau mengagumi karya Tuhan yang ada di samping saya ini...", ucap Lusia.
"Dia sudah ada yang punya...", lanjut Jeny menggoda Lusia.
Lusia akhirnya melirik ke arah Jeny dengan tatapan sinis.
"Saya hanya mengangguminya saja.. Aisss... Anda tidak asik, Nona Jeny...!", kesal Lusia lalu berbalik menatap jalanan kota.
Jeny tertawa melihat tingkah Lusia yang seperti anak kecil ketika merajuk.
"Ulu-ulu-ulu... Kasihan....", Jeny menggoda Lusia yang membuat Lusia mendengus kesal.
Claudya tersenyum akan tingkah asisten dan sekretarisnya itu.
"Namamu siapa?", tanya Cla pada pengawal yang merangkap supir itu.
"Jack, Nyonya muda...", jawab Jack tanpa menoleh.
"Sudah berapa lama bekerja dengan suami saya?", lagi Claudya bertanya.
"Sekitar empat tahun, nyonya..", sahut Jack yang tetap memperhatikan jalanan.
"Sudah punya kekasih atau istri?", lagi Claudya penasaran.
"Saya belum punya kekasih atau istri, nyonya..", lagi Jack menjawab.
Mendengar hal itu Lusia menoleh ke arah Jeny lalu menjulurkan lidahnya.. "Terima kasih nona Claudya atas pertanyaannya", ucap Lusia.
Jack menoleh ke arah wanita yang berada di sebelahnya. Sedangkan Jeny yang kini merasa jengkel.
"Kau mau menjadi kekasih sekretaris saya?", goda Claudya pada Jack.
"Saya belum mau menjalin suatu hubungan yang rumit...", jawab Jack seadanya.
Lusia kemudian menatap Jack dengan bingung.
"Kenapa?", kini Lusia yang bertanya.
"Tidak apa-apa..! Hanya belum ingin saja...", Jack menjawab sambil tersenyum pada Lusia.
"Tapi kan.....", Lusia belum menyelesaikan perkataannya, Jack sudah memotong.
"Kita sudah sampai, nyonya muda...", ucap Jack kemudian turun dan membukakan pintu untuk nyonya mudanya.
"Terima kasih, Jack. Kamu bisa kembali ke tempatmu berada. Jika aku ingin pergi, ku hubungi nanti melalui sekretarisku..", Claudya berkata memberikan angin segar untuk Lusia.
"Saya akan tetap berada di hotel ini, nyonya. Sesuai perintah tuan Alvaro...", jawab Jack. "Kamar saya satu lantai di bawah lantai kamar anda berada...".
Claudya mengangguk, Jeny tertawa, dan Lusia menjadi murung.
"Tenang, kau bisa mengganggunya di kamar hotelnya nanti...", ucap Claudya berbisik ketika melihat sekretarisnya itu tak bersemangat.
Mendapat angin segar, Lusia tersenyum menyeringai. "Akan ku buat kau bertekuk lutut di bawahku..!", batin Lusia.
Mereka berempat pun masuk menuju kamarnya masing-masing.
.
.
.
Frank mendapat laporan bahwa Claudya sudah kembali ke hotelnya.
"Hubungi asisten wanita itu untuk membuat janji pembahasan kerjasama kita..!", perintah Frank pada asistennya.
"Baik, Tuan..", jawab asisten itu.
"Ricky Reztath atau Richard Jo Fernand... Tunggu saatnya nanti...", gumam Frank lirih.
...****************...
*Hallo everybody.
Di sini Author menjelaskan ya..
Pada awalnya Richard Jo dan para asistennya menggunakan topeng apabila melakukan pertemuan atau bertemu dengan anggota di kelompok bawahnya, namun karena pengkhianat, penyamaran Richard Jo yang notebene menggunakan nama Ricky Reztath terbongkar, dan itu membuat para musuhnya tahu bahwa Richard Jo adalah seorang pengusaha terkenal yang kita tahu nama perusahannya JF Group.
jadi kira-kira begitu..
Terus bagaimana orang itu bisa tahu, kan Jo selalu menggunakan topeng?
jawabannya adalah karena orang itu adalah salah seorang anak buah kepercayaannya dan karena informasi mengenai Jo merupakan informasi yang mahal.
Pada dasarnya, semua karena uang makanya pengkhiatan itu terjadi...
Okey?
.
.
.
.
Lanjut lagi yaaa?
Ingat, like, share, juga votenya, biar author bersemangat melanjutkan cerita ini...
Terima kasih, guys*..😉😉😉