Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 54



Jo tetap pulang ke Indonesia hari itu.


Rencana penjebakan berjalan lancar. Tidak sulit. Cecunguk itu berani mengganggu ketentraman maka ia akan diusik dengan binatang buas di pulau terpencil.


"Jaga dirimu baik-baik.. Aku akan menjemputmu setelah perusahaan yang kau pegang di sini sudah baik-baik saja...", ucap Jo lalu mencium kening istrinya. Mereka saat itu sudah berada di bandara. "Dan terima kasih untuk penyemangatnya tadi di apartemen..", Jo terkekah.


.


.


.


.


Perjalanan panjang menuju Indonesia.


Keadaan berlalu dengan tenang hingga sebulan. Memasuki bulan ke dua, kini Jo yang terlihat uring-uringan. Keluar masuk kamar kecil berulang-ulang hingga Bryand dan Alvaro pun dibuat pusing.


Ada-ada saja yang diminta oleh Jo.


"Belikan aku Kimchi di Restaurant Korea..", perintah Jo. Entah siapa yang pergi, namun Jo tidak peduli.


"Baik, Tuan...", sahut Bryand yang segera berlalu dari ruangan kerja Jo.


"Tuan anda baik-baik saja? Beberapa hari ini anda terlihat uring-uringan.. Wajah anda juga pucat...", ujar Alvaro.


"Gantikan saya hari ini.... Saya mau pulang..!", perintah Richard Jo lalu bangkit dengan terseok menuju pintu ruangan kerjanya.


"Sebaiknya Tuan istirahat di kamar yang ada di sini saja... Saya akan memanggil dokter Shintia untuk memeriksa anda...", saran Alvaro.


"Hueeekkkkk....", tiba-tiba Jo mual dan mau muntah. Bergegas menuju ke toilet yang ada di dalam ruangannya.


"Tuan.. Anda baik-baik saja?", tanya Alvaro kuatir.


"Rasanya kepalaku pusing... Tapi lapar.. Bryand belum datang?", tanya Jo.


"Sebentar lagi sampai, Tuan.. Sebaiknya anda istirahat lebih dulu.. Saya akan menghubungi dokter Shintia..", ucap Alvaro dan memapah Jo menuju ke tempat tidur yang ada di dalam ruang kerjanya.


Beberapa saat, Bryand sampai dan mengantarkan makanan yang ingin dipesan oleh Jo.


Seperti orang yang belum makan berhari-hari, dalam sekejab, Kimchi itu habis.


"Masih ada lagi?", tanya Jo menatap Bryand.


"Saya hanya membeli satu porsi, Tuan..", jawab Bryand.


"Belikan lagi.. Tapi dari Korea langsung...", perintah Jo.


Bryand dan Alvaro saling tatap. Mereka berdua menelan ludahnya.


"Saya langsung ke Korea, Tuan?", tanya Bryand memastikan.


"Terserah padamu.. Bagaimanapun makanan itu sudah harus ada besok..", lalu kembali ke tempat tidurnya dan memejamkan matanya.


Alvaro hanya menepuk bahu Bryand. Semangat... Begitulah kira-kira jika Alvaro berucap.


Bryand mendengus kesal. Pasalnya ia baru pulang dari Singapore, lalu harus terbang lagi ke Korea dalam waktu belum dua puluh empat jam menginjakan kakinya di Indonesia.


Bryand pun pergi langsung menuju bandara menggunakan jet pribadi milik Jo. Harus kamu sendiri yang membeli dan membawanya ke hadapanku besok.. Ucap Jo sebelum Bryand berangkat tadi.


.


.


.


"Bagaimana, dok?", tanya Alvaro setelah Jo selesai diperiksa oleh Shintia.


"Tuanmu baik-baik saja, Al...", jawaban yang tidak memuaskan.


"Bagaimana baik-baik saja, dok? Anda ini dokter gadungan atau dokter benaran? Masa Tuan saya beberapa hari ini terlihat pucat dan sering mual serta muntah-muntah tidak jelas dibilang baik-baik saja?", dengus Alvaro.


"Dia memang baik-baik saja.. Yang harus diperiksa itu istrinya..", jawab Shintia.


"Kenapa nyonya muda yang diperiksa?", tanya Alvaro penasaran.


"Kehamila simpatik...", jawaban singkat yang diberikan oleh Shintia.


Mendengar kata kehamilan, Jo langsung membuka matanya. Ia sangat lemah sehingga harus diinfus.


"Cla hamil?", kini Jo yang bertanya.


"Kurang tau... Coba tanyakan sendiri.. Kamu kan suaminya, Jo?", jawab Shintia.


"Dokter, kehamilan simpatik itu apa?", tanya Alvaro.


"Ohhh.. Jadi begitu.. Baguslah... Ehhhh tunggu.. Kenapa kamu bisa tahu kalau nyonya muda hamil? Kan beliau tidak berada di Indonesia..? Dokter rangkap jadi cenayang ya??", Alvaro masih terus bertanya karena penasaran.


"Yang begini.. Jo sebaiknya kamu mencari asisten lain.. Pria ini terlalu cerewet..", umpat Shintia.


"Hmmm.. Terima kasih.. Nanti Alvaro yang mengurus transferannya...", sahut Jo.


"Berapa?", tanya Shintia penasaran.


"Sesukamulah.. Keluar sana..! Aku mual melihat wajah sok cantikmu... Bersyukur suamimu mau denganmu.. Kalau tidak, siapa lagi yang mau dengan wanita bawel dan menjengkelkan serta pendek seperti kurcaci..?", hina Jo pada Shintia.


"Mungkin Rendra matanya buta, Tuan..", sambung Alvaro lalu terkekeh.


Shintia jengkel. Menghentikan kaki lalu keluar dari kamar istirahat yang dimiliki Jo dalam ruang kerjanya.


"Dua ratus juta... Tidak kurang tidak lebih.. Awas kalau kurang..", kesal Shintia dan melangkah pergi.


Shintia adalah dokter keluarga Jo Fernand, merangkap sebagai sepupu. Anak dari adiknya Momy Regina. Seperti kucing dan tikus.


"Katakan pada Bryand untuk bawa serta istriku dan asistennya ke tanah air..", diangguki oleh Alvaro.


.


.


.


.


Pagi tiba.


Jo yang terlelap merasakan ada bibir basah yang menempel di pipinya.


Ia rindu bau tubuh istrinya sehingga ia semakin terlelap dan memeluk bantal peluknya.


"Rich.. Bangun..", panggil orang itu.


Samar Jo mendengar suara istrinya. Masih dikira mimpi hingga matanya terbuka dan membola sempurna ketika tangan istrinya memegang senjata miliknya yang sudah berdiri. Laki-lakikan begitu. Setiap pagi pasti senjatanya berdiri. Kalau tidak berdiri, coba cek deh.... Hehehehe...


"Claaa?", tanya Jo memastikan.


"Iyaaaa??", jawab Claudya menggoda.


Jo langsung menyambar bibir istrinya. Dilumat lembut sehingga membangkitkan gairah kedua insan di pagi itu.


Claudya juga merasa heran, karena akhir-akhir ini ia merasa tubuhnya sangat ingin sentuhan Jo, dan nafsu makannya pun meningkat tajam.


Pernah sekali masih di Korea, Jeny terperangah, Claudya makan sepiring besar kimchi dengan lahap dan habis.


Kembali ke laptop.


Jo semakin membuat Claudya mabuk akan sentuhan. Hafal putus titik yang membuat tubuh istrinya bergerak seperti cacing..


"Richhhhh....".


"Sabar sayang.. Sebentar lagi....", ujar Jo yang masih kuat memompa.


"Akhhhhhhh", akhirnya suara itupun keluar dari mulut Jo.


"Terima kasih....", ucapnya sambil merapikan anak rambut yang menempel di kening istrinya.


"Kamu baik-baik saja?", tanya Claudya.


"Aku sudah baik-baik saja sekarang...", jawab Jo.


Hal itu ditanya karena Claudya mendapat laporan dari Bryand kemarin. Suaminya itu sudah beberapa hari aneh dan sulit makan. Hanya makan makanan yang ia inginkan. Akhirnya Bryandlah jadi sasaran pergi pulang Indonesia-Korea-Indonesia sambil memboyong istri tuannya itu.


"Bryand bilang kamu aneh beberapa hari ini...".


"Aku baik-baik saja, Cla.. Maaf Bryand harus menjemputmu pulang...", ucap Bryand.


"Kenapa? Mau ke rumah sakit?", tawar Claudya.


"Iya.. Kita akan ke rumah sakit hari ini...", jawab Jo.


"Mandi, yuk...?", ajak Claudya yang diikuti oleh Jo seperti anak ayam mengikuti induknya.


Tidak hanya mandi.


Ronde kedua di kamar mandi namun Jo tidak memasuki Claudya. Hanya saja, Claudya dibuat memintah lebih, namun Jo urungkan karena jika dihajar, takut terjadi apa-apa sesuatu yang belum pasti dikatakan Shintia kemarin.


"Akhhhhh, Richhhh... Aku keluaaarrrr........".