Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 13



Terdengar bunyi kendaraan berhenti di depan teras rumah utama keluarga Jo Fernand.


Nyonya besar sedang menggerutu sedari apartemen putranya. Bahkan di teras rumah pun ibu dua anak itu terus saja banyak bicara.


Sang Putra yang menjadi tersangka utama hanya diam dan mengangguk tanda mengerti, padahal dirinya menulikan telinga akan suara cempreng sang ibu.


Dady Don yang mendengar gerutuan sang istri berjalan menuju teras rumah untuk mengecek apa yang sedang terjadi.


"Ada apa, sayang?", tanya sang suami menyela kotbah sang istri pada putra pertamanya.


"Dady diam. Ini akibatnya Dady terlalu memanjakannya....!!", rancau Momy Regina.


"Apaan? Datang-datang nyalahin Dady? Memangnya si es batu ini lakukan apa?", elak Dady Don sekalian bertanya heran.


"Es batu, es batu... Emangnya kulkas apa ya?", gumam Jo pelan tapi masih di dengar ibunya.


"Kau....", sang ibu negara langsung menjewer sang putra pertama lalu membawanya masuk ke dalam rumah mengabaikan suami yang berdiri di depan depannya.


"Aduhhh, Momy... Sakitttt...!!", rancau Jo.


"Dady.... Sini....!!", panggil sang istri berteriak.


Beberapa pengawal serta asisten rumah tangga yang ada di sekitar situ pun hanya tersenyum. Mereka heran dengan tingkah keluarga konglomerat satu ini.


"Jangan tertawa....!!", ancam Dady dong pada pengawalnya yang terus menahan tawa mereka.


"Duduk....!!", perintah sang istri pada suaminya serta anak pertamanya ketika sampai di ruang keluarga.


Mereka berdua pun menurut. Amukan sang istri sekaligus sang ibu lebih mengerikan daripada proyek yang gagal atau apapun.


"Dady tau, mengapa pernikahan dimajukan dalam empat hari ke depan?", tanya sang istri.


Richard Jo mulai panik akan perkataan ibunya yang mengingkari janjinya untuk tidak mengatakan alasan sebenarnya.


"Mom...?", rayu Jo.


"Apa? Kau mau marayu Momy dengan tampangmu itu?", skak Momy.


"Ada apa sih? Datang ribut-ribut... Tarik napas Momy, terus buang, sampai tiga kali. Habis itu kali yang keempat tahan napas terus sampai 2 jam baru dibuang...!", kelakar sang suami yang kemudian mendapat tatapan tajam dari sang istri.


"Kelakuan ayah sama anak sama saja. Main nyosor gak sabaran....!", gerutu Momy.


Dady Don yang tiba-tiba paham maksud sang istri pun kini beralih tatapan ke putra pertamanya.


"Son? Kau sudah sosor anak orang?", tanya Dady kemudian tersenyum.


Jo hanya menggaruk tengkuknya. "Dady ngerti apa yang dikatakan Momy?", tanya Jo.


"Kau memang bibit unggul ku Rich...", puji sang Dady kemudian menepuk bahu Jo bangga.


Tepat setelah itu, pundak Dady Don kemudian dipukul pakai tas mahal sang istri.


"Anak orang Dady... Kita tidak mengajarkan seperti itu pada anak-anak kita...!", sambil terus memukul pundak sang suami.


"Aduhhh sayang... Sakit....!", ngeluh Dady Don.


"Jadi ini alasan yang membuat Momy memajukan pernikahan Rich dan Cla?", tanya Dady Don.


"Iyalah.. Anakmu itu... Ihhhh... Pengen ku cincang pisangnya itu....", gemas Momy Regina merasa tingkah sang anak.


"Wahhh... Udah berapa kali, Rich?", tanya Dady Don pada putranya tanpa menghiraukan Omelan sang istri.


"Dady? Itu urusanku. Lagian belum masuk kok??", keluh Jo.


"What???? Gak kuat itu mu ya menerobos gawang?".


"Bukan, Dad. Aduh... Pembahasan kita apa sih?", Jo mencoba menghindari pertanyaan absurd sang ayah.


Regina hanya memutar bola matanya malas melihat tingkah sang suami dan anak pertamanya itu lalu menghentakan kakinya kemudian berlalu menuju kamar utama.


"Rich? Kalau tidak tahan bilang. Jangan seperti ini....! Anak orang...!", nasehat Dady Don.


"Yah, mau bagaimana Dad? Aku pria normal, ditantang, ya aku ladeni kan?", Jo memberikan alasannya.


"Dad? Serius?", tanya Jo.


"Mana hp, dompet dan kunci mobilmu?", minta Don pada anak pertamanya itu.


"Dad..... Aku bukan anak kecil atau labil....!", protes Jo.


"Kau labil, jika kau sudah sentuh anak orang tanpa terikat apa-apa dalam hubungan kalian".


"Ishhhhhh", keluh Jo kemudian menyerahkan segala yang diminta Dady Don.


"Laptop dan segala alat elektronik, kecuali TV di kamarmu akan disita sampai selama masa persiapan", kata Don kemudian berlalu pergi meninggalkan putranya yang terus menggerutu sepanjang langkah menuju kamarnya.


"Jangan berani-berani meminta dua asisten menyebalkanmu itu, juga pengawal dan asisten rumah tangga di rumah ini untuk membantumu..!", teriak Dady Don di depan pintu kamarnya.


Jo hanya mendengarnya tanpa ingin menjawab Dadynya. Membanting pintu kamar dengan keras lalu mengeluh.


"Memang aku anak kecil??".


Di sisi lain, rumah keluarga Lee. Claudya pun dilakukan sama seperti Jo. Dikurung di kamar tanpa fasilitas elektronik kecuali TV.


"Dasar lelaki menyebalkan... Tunggu saat hari pernikahan nanti.. Ku buat kau jadi lempeng", gerutu Claudya yang sedang dikurung di kamarnya.


hahhh. membosankan....


##########


Senin. Pukul 08.00 di Gereja Katedral kota B.


Suara lonceng gereja menggema tanda misa skaral yang dinantikan dunia bisnis akhirnya terlaksana.


Mengenakan gaun putih yang diberi aksesoris berlian di bagian leher serta bagian pinggangnya, Claudya berdiri di depan pintu gereja dengan anggun.


Menggandeng ayahnya menuju altar, di mana, calon suaminya Richard Jo Fernand sudah berada di sana menunggu. Lagu Tulang Rusuk dinyanyikan sepanjang mengiringi langkah mempelai wanita menuju altar gereja.


"Richard Jo Fernand, setelah menggenggam tangan ini, ku serahkan putriku, Lee Claudya Gitta yang ku jaga dari dalam kandungan hingga detik ini, semuanya menjadi tanggung jawabmu... Sayangi, cintai dia, dan lindungi serta berikan kebahagiaan padanya...", ucap Sang Ayah menyerahkan putrinya kepada seorang lelaki minim senyum, dingin, tetapi berkharisma untuk dijaga sampai maut memisahkan.


Jo hanya mengangguk, tersenyum lalu mengucapkan terima kasih kepada ayah mertuanya.


Prosesi sakral itu dihadiri oleh beberapa orang penting, petinggi perusahan JF dan JS Group, keluarga besar Jo Fernand dan Lee Albert, serta beberapa wartawan yang sudah memilik izin untuk meliput acara pernikahan itu.


Setelah beberapa jam, acara sakral itu pun selesai. Jo dan Claudya sah menjadi suami istri baik di mata agama dan hukum.


Kelancaran acara tersebut, tentu tidak terlepas dari kerjasama antar besan serta para asisten kepercayaan mereka.


Berdiri di depan gereja, Jo dan Claudya tersenyum sambil berfoto ria dengan beberapa anggota keluarga serta beberapa wartawan yang hanya diperbolehkan mengambil gampar, tanpa harus mengajukan pertanyaan.


Mereka seolah terlihat sangat bahagia, padahal, di dalam hati, belum ada cinta antara mereka. Lebih tepatnya, Claudya belum merasakan getaran berarti saat bersama Jo selain ambisinya.


Dengan pernikahan tersebut, bukan hanya menyatukan kedua keluarga, melainkan kedua perusahaan besar.


Claudya tentu mendapatkan hadiah pernikahannya yang diidamkan selama ini. Menjadi Wakil Presdir di JS Group berdampingan dengan kakak pertamanya El. Ambisi..


"Kau istriku sekarang... Jangan bertingkah menyebalkan", ucap Jo sambil sengaja mencuri kesempatan memeluk Claudya.


"Hmmmm.. Jangan ingkari janjimu...!", balas Claudya sembari tersenyum.


"Kita ke hotel tempat resepsi nanti malam...!", ajak Don pada besannya serta keluarga besar mereka.


"Kita ke hotel.. Ingat Rich, acara resepsi masih beberapa jam lagi, jadi Momy ingatkan, tahan itu pisangmu untuk masuk ke pembungkusnya...!", goda sang ibu negara pada putranya.


Jo hanya memutar bola matanya, sedangkan Claudya tertunduk malu mengingat mertuanya pernah memergokinya tanpa busana di apartemen suaminya.


"Jaga menantuku baik-baik. Awas kalau kau nakal", ucap sang Momy lagi. "Cla, jika dia nakal, remas saja pisangnya itu...".


Claudya hanya mengangguk tanpa berani mengangkat muka karena keluarga besarnya masih di situ, serta mendengar apa yang dikatakan sang ibu mertua.


"Ayo... Nanti telingamu bisa berdosa mendengar ucapan Momy...", Jo memeluk pinggang sang istri, kemudian berlalu menuju mobil yang sudah disiapkan oleh Bryand.


"Hei anak durhaka, sebelum itu kau sudah berbuat dosa duluan....", teriak sang Momy lalu menutup mulutnya karena keceplosan dan menjadi bahan tatapan suami serta besannya yang mendengar itu...


"Upssssss".....