Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 23



Seminggu di Soul, Richard dan Claudya kembali ke negara asal mereka.


"Home sweet home.....", teriak Claudya memasuki apartemen miliknya karena Jo belum memberikan kejutan lain yang telah disediakan olehnya.


"Jangan berteriak, Cla....!", dengus Jo melihat tingkah Cla seperti anak kecil.


"Ini rumahku... Jadi ya suka-suka lah...!", sahut Claudya berlalu ke kamar miliknya.


Jo mengikuti wanita itu sampai ke dalam kamarnya dengan menenteng barang bawaan.


"Apa yang kau lakukan?", tanya Claudya yang sedang berbaring di atas ranjang miliknya.


"Ya masuk lah... Apa lagi? Kita sudah menikah, Cla...", jawab Jo pelan sambil meletakan bawaan di lantai kamar itu.


"Pulang sana ke apartemenmu...!", usir Claudya.


"Enak saja... Geser... Aku lelah...", Jo menyahut lalu membaringkan tubuhnya di samping Cla.


"Jangan macam-macam, Richard Jo Fernand. Kau tahu aku belum pulih....!", ancam Cla ketika tangan Jo meraih tubuhnya lalu didekap.


"Hanya satu macam.. Istirahatlah...", Jo memejamkan matanya membenamkan kepalanya di ceruk leher Claudya.


Hembusan napas laki-laki itu di area leher Cla membuat darahnya mulai bergerak cepat.


"Jangan bergerak kalau tidak mau terjadi sesuatu....!".


"A....ppppa?", gagap Claudya karena jemari tangan Jo mulai bergerilya.


"Sudah seminggu aku puasa Cla...", Jo berbicara dengan pelan namun tetap terus menutup matanya.


"Jangan begini, Jo... Biarkan aku istirahat sebentar.... Kita baru sampai dari perjalanan jauh...", gerutu Cla dengan menjauhkan tubuhnya dari Jo namun tidak berhasil.


"Aku mengerti... Kau tidurlah.. Aku di kamar sebelah...", Jo bangkit dari ranjang Cla kemudian keluar dari kamar itu menuju ke kamar satunya yang ada di apartemen Claudya.


"Al, bagaimana?", tanya Jo saat teleponnya sudah terhubung dengan orang yang di maksud.


"Si tuyul itu sepertinya tau pergerakan kita, Tuan...", lapor Alvaro.


"Tetap awasi dia... Kalau perlu, tangkap dan bawa ke markas kita yang ada di situ... Siksa sampai dia sudah tidak berani muncul di hadapanku lagi...", perintah tegas Jo.


"Siap, Tuan...!", jawab Alvaro kemudian mematikan teleponnya.


Jo kemudian tidur setelah menelpon asisten keduanya itu.


...****************...


Hari terus berganti, hingga seminggu setelah kepulangan pengantin baru, juga pemulihan Claudya yang terus berjalan membuat Jo tidak menyentuh Claudya dengan alasan takut kelelahan karena menjalani terapi hingga tidurpun di kamar berbeda.


"Kau memasak?", tanya Jo yang melihat Claudya sudah rapih dengan setelan kerjanya tetapi masih sibuk di dapur apartemen mereka.


"Tidak... Sedang menanam....", jawab acuh Claudya.


"Kerja?", tanya Jo lagi kemudian menarik kursi di meja makan dan duduk.


"Iya.. Hari pertama jadi wakil CEO JS Group. Aku tidak boleh terlambat...", lagi Claudya menjawab namun tetap fokus pada masakannya.


"Si Jeny kemana? Biasanya dia yang membuatkan sarapan.....".


"Lagi dikurung Asisten Bryand di apartemennya...".


"Oh... Pantas... Bryand tidak menjawab teleponku semalam...".


Masakan alakadar telah jadi. Mereka berdua duduk di meja makan, menyantap tanpa ada yang mengeluarkan suara. Hening...


"Sepertinya aku pulang malam... Karena seharusnya aku sudah bekerja dari Minggu lalu...", ucap Claudya lalu berdiri mengambil piring kotor mereka dan membawanya untuk dicuci.


"Biarkan aku yang membereskannya.. Aku jemput nanti....", sahut Jo.


"Kau tidak ke kantor?", tanya Claudya karena melihat penampilan sang suami masih bertelanjang dada dan mengenakan boxer.


"Nanti siang... Aku masih ada pekerjaan di kamar yang perlu ku selesaikan...", jawab Jo.


"Baiklah... Byeee....", pamit Claudya sambil mencium sekilas bibir suaminya.


"Hm... Hati-hati...".


Sekitar setengah jam Claudya menyetir sendiri hingga tiba di parkiran JS Group.


"Selamat pagi, Nona.....", ucap security yang berjalan menghampiri mobil majikannya.


"Pagi... Tolong parkirkan ya, Pak....", balas Claudya lembut.


"Wah, Nona semakin bersinar setelah menikah...", lagi security berucap.


"Hahahaha... Bapak bisa saja.. Kira saya lampu apa, Pak?", Claudya tertawa renyah menampilkan senyumnya yang sangat manis lalu berjalan masuk menuju ke ruangan barunya.


"Selamat datang, anak ayah.....", ucap sang ayah setelah putrinya memasuki ruangan di sebelah ruangan sang kakak.


"Ayah..... Cla rindu.....", manja sang putri sambil berjalan mendekat untuk memeluk ayahnya.


"Kamu yaaa... Pulang-pulang bukannya ke rumah, eh malah ke apartemen.. Tidak bosan dikurung Jo?", canda sang ayah.


"Hehehehehhe.. Ayah seperti tidak pernah muda saja....", sahut Cla mengimbangi candaan ayahnya.


"Baiklah, karena ini hari pertamamu bekerja sebagai wakil kakakmu, maka akan ada klien besar yang perlu kamu temui. Kakakmu masih di luar negeri..", ucap sang Presdir JS Group.


"Siapa?", tanya Cla penasaran.


"Ada saja.. Oke? Selamat bekerja, cantik....", lalu sang ayah pergi dari ruangan anaknya itu.


Selang beberapa menit setelah ayahnya pergi, pintu ruang kerjanya diketuk.


tok-tok-tok


"Ya, masuk.....", sahut Claudya setelah mendengar pintunya diketuk.


"Nyonya muda....", Jeny menyapa.


"Wahhhh, kau ya Jen, mentang-mentang punya pacar baru, kau sampai meninggalkanku di Swedia juga tadi tidak ke apartemenku...", sungut Claudya setelah melihat siapa yang datang.


"Maaf, Nyonya muda... Lagi enak soalnya....", nyengir Jeny.


Jeny kemudian memberikan jadwal yang harus dilakukan Claudya hari itu.


"Frank Cole?", tanya Claudya.


"Kenapa Nyonya muda?", Jeny balik bertanya.


"Tidak... Jadi maksud presdir klien besar yang akan aku temui hari ini adalah Frank Cole?".


"Iya, Nyonya...", jawab Jeny.


"Kenapa harus malam?", lagi Claudya heran.


"Karena hanya waktu itu yang kosong, Nyonya muda...", sahut Jeny lalu membuka kembali jadwal sang bos.


"Baiklah... Mari kita bekerja....!".


Claudya lalu membuka map yang berisi pekerjaan hari itu. Menggunakan kacamata, mengikat rambutnya tinggi yang sedari tadi hanya digerai kemudian menggerakkan jemari lentiknya di papan keyboard.


Sedangkan di tempat lain. Pukul 18.13.


"Apa?", tanya Jo ketika Bryand menghubunginya.


"Lapor, Tuan.. Sepertinya anak buah The Blood mengikuti anda sampai di kota ini....".


"Sial.... Singkirkan orang itu hari ini juga...", perintah Jo cepat lalu mematikan teleponnya dan bergegas menuju ke JS Group.


"Macet....", gerutu Jo di dalam mobilnya.


Karena sudah setengah jam tetapi masih berada di tempat yang sama, Jo memutuskan meninggalkan mobilnya dan mencari kendaraan lain untuk membawanya ke JS secepat mungkin.


Sampai di parkiran kantor JS Group dengan ojek pangkalan, Jo berlari ke ruangan wakil CEO. Bukan Jo namanya kalau ia tidak tahu ruangan itu apalagi ruangan istrinya.


"Di mana Cla?", tanya Jo ketika tidak mendapati Cla di dalam ruangannya.


"Sudah pergi dari tadi bersama asisten Jeny, Tuan Jo...", sahut sekertaris yang tentu mengenal Richard Jo.


"Kemana?", tanya Jo lagi.


"Bertemu klien di restaurant Royal Hotel, Tuan.. Sesuai dijadwal Nona Cla yang saya dapat dari asistennya...".


Jo tidak lagi banyak berkata. Dia berjalan cepat menuju lift turun ke lobi perusahaan tetapi tangannya tidak berhenti bergerak melacak posisi sang istri.


"Segera menuju Royal Hotel. Aku akan menyusul secepatnya...", perintah Jo pasti pada anak buahnya melalui telepon yang ia genggam.


"Frank.... Akhhhhh siallll....", maki Jo di depan lobi menunggu kendaraan milik perusahaan untuk mengantarnya.


"Biar saya yang menyetir...", titah Jo tanpa basa-basi dan tidak menunggu sahutan dari sopir.


Jo mengambil alternatif jalur tercepat menuju ke tempat yang dimaksud. Di sana sudah ada beberapa pengawal yang tetap mengintai dari jarak jauh mengamati sang istri bos.


"Bagaimana?", tanya Jo pada Bryand yang juga sudah berada di sana sepuluh menit lebih dulu dari tuannya.


"Di sana, Tuan....!", tunjuk Bryand.


"Tetap awasi tempat ini. Laki-laki itu tidak mungkin datang hanya bersama asistennya...", perintah Jo.


Bryand hanya mengangguk tanda paham, sedangkan Jo berjalan cepat menuju ke arah wanitanya.


"Heiii sayang.....", sapa Jo sengaja.


Mereka berempat yang ada di tempat itu menoleh dengan saksama.


"Ah, hei.... Kau di sini juga?", jawab Cla lalu balik bertanya.


Jo hanya tersenyum lalu mengecup tiba-tiba bibir Cla di depan tiga orang yang masih ada di situ.


Muka Claudya memerah karena diperlakukan seperti itu oleh Jo.


"Ohhh, Hei Frank.....", sapa Jo kemudian pada klien istrinya juga musuh bebuyutannya.


"Ahh, hai Jo.....", sahut Frank dengan memaksakan senyum.


"Kalian saling mengenal?", tanya Claudya.


"Ya... Kami teman lama.....", jawab Frank menatap Cla dengan senyum aneh.


Jo yang melihat senyuman Frank pada istrinya seketika mulai merasa was-was.


"Kami teman yang lama sekali, sayang....", ucap Jo melanjutkan jawaban Frank.


Claudya hanya mengangguk lalu menyeruput minumannya.


"Sudah selesai?", tanya Jo.


"Sudah...", jawab Claudya.


"Kita pulang....", ajak Jo kemudian menarii lembut tangan Claudya.


"Kami permisi, Tuan Frank... Kalau ada hal yang kurang, bisa hubungi asisten saya atau sekretaris saya", ucap Claudya.


"Baiklah, Nona Claudya... Tetapi akan lebih sangat baik jika langsung pada anda....", seringai Frank melirik sekilas Jo.


"Terserah anda, Tuan... Kami permisi...!", pamit Claudya kemudian berjalan bersama Jeny meninggalkan Jo yang masih berada di tempat.


"Don't touch her, Frank...!", ancam Jo setelah melihat Claudya sudah menjauh dari mereka.


"Or what?" tantang Frank.


"You know i can make anything...", sahut Jo lalu beranjak pergi dari tempat itu menyusul Claudya dan asistennya Jeny.


"Dammmmmmm it....", kesal Frank lalu pergi dari situ.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



Jeny, sang asisten Claudya. Kekasih dari Bryand sang asisten satu Richard Jo. Hampir mirip dengan Claudya hanya mereka berdua berbeda takdir.. Satu sebagai bos, satu sebagai asisten kepercayaan.