Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 43



Jo terdiam di dalam mobilnya.


Hatinya begitu perih ketika mendapatkan pesan yang sangat menohok. Melihat istrinya yang hanya terbalut pakaian dalam saja dengan tangan dan kaki terikat.


Sedangkan di sisi lain, Lucius sangat senang dengan apa yang baru saja asistennya lakukan. Tubuh putih mulus tak bercacat. Bukan hanya satu, tetapi dua orang perempuan sedang terikat yang ia tatap di dalam ruangan pribadinya. Ia tidak ingin anak buahnya melihat tubuh itu, hanya asistennya saja, meskipun asistennya itu hanya melihat melalui foto yang baru saja ia kirim ke ponsel Jo Fernand.


"Siapa dulu yang akan ku nikmati? Wanita itu, atau asisten wanita itu?", gumamnya pelan sambil menyeringai. "Ahhh, tapi tidak seru jika mereka masih dalam keadaan tidak sadar. Sensinya kurang..", lagi Lucius bermonolog.


Ia terus memperhatikan tubuh yang sangat ideal itu. Claudya dan Jeny. Dua wanita yang memiliki paras cantik juga menggugah selera kelaki-lakian bagi yang memandangnya.


Pelan-pelan pria itu berjalan mendekat, menelisik wajah yang tenang karena obat bius. "Cantik..", batin Lucius.


Meskipun lutut Claudya pernah menghantam tongkat naganya hingga harus dirawat di rumah sakit, namun tidak membuat benda kelakiannya itu kusut dan tak berselera. Tetap saja, ia mulai merasa panas dan gairah namun ditahannya. Berharap kedua wanita itu bangun, entah siapa yang lebih dulu.


.


.


.


.


Markas Black Hunter.


Bryand dan Alvaro menjalankan perintah Jo. Alvaro mencari tahu nomor yang dikirim oleh Jo, sedangkan Bryand mengerahkan seluruh mata-mata Black Hunter untuk mencari keberadaan kekasihnya juga istri tuannya.


Mereka sangat sibuk di markas. Semua dalam keadaan diam dan ketar-katir. Jika dalam waktu dua kali dua puluh empat jam tidak mendapatkan informasi mengenai istri dan asisten istrinya, maka tentu resiko yang mereka hadapi. Anak buah bayangan yang dikirim Alvaro untuk menjaga istri tuannya pun bergerak cepat untuk mencari, bahkan mereka meratakan seluruh organisasi bawah yang menurut mereka menjadi musuh Black Hunter meskipun bukan organisasi itu tidak ada kaitannya dengan hilangnya Claudya dan Jeny.


Alvaro terus menggerutu karena nomor yang dicari tidak ditemukan lagi. Istilahnya sekali pakai dan dibuang.


"Sial..!!!!!!", umpat Alvaro.


Sedangkan di sisi Bryand terus mendapat laporan dari anak buah intelnya yang mengatakan belum menemukan titik terang pencarian.


Jo semakin gusar, karena malam semakin larut namun belum mendapatkan informasi apapun mengenai istrinya.


Handphonenya berdering. Panggilan masuk dari nomor baru.


"Haloo", sapa Jo.


"Tuan Richard Jo Feernand atau dikenal dengan nama Rick di dunia bawah....", balas orang dari seberang.


"Siapa?", tanya Jo ketus.


"Kau sangat-sangat arogan.... Sombong sekali... Hahahahhahaha", jawab orang dari seberang.


"Jangan membuang waktuku...!".


"Istrimu sama menyebalkan sepertimu...", ucap pria itu.


Seketika Jo mengernyit heran.


"Lucius....".


Pria di seberang sana tersedak dan didengar oleh Jo.


"Benar kau, Lucius... Pria pemimpin the Centinental. Kumpulan pengawal terlatih yang dilegalkan oleh pemerintah karena campur tangan orang dalam.. Hahhahaha...", lanjut Jo.


"Sial... Kau tidak akan mendapatkan istrimu secara utuh.... Akan ku kembalikan setelah aku menikmatinya...", sarkas Lucius memancing amarah Jo.


"Kau mendapatkan sisa dariku... Ambil saja kalau kau bisa menyentuhnya...", balas Jo memancing.


"Tubuh istrimu sangat mulus... Terawat... Sepertinya aku akan sedikit mengintip lembah tersembunyi di balik kain segitiga ini", pancing Lucius.


"Aku tidak pernah mengusik mu... Bahkan kelompokmu...", Jo mulai terpancing.


"Tidak.. Aku berurusan dengan istrimu.. Dia sangat menyebalkan.. Aku akan memberikan pelajaran yang tidak ia lupakan...", kesal Lucius dari balik telepon.


"Kau salah jika harus berurusan denganku...", ketus Jo lagi.


"Dan kau tidak akan menemukanku.. Aku menutup semua akses yang terhubung dengan dunia luar.. Sekalipun melalui telepon ini..", balas Lucius.


"Aku akan membunuhmu jika kita bertemu....", geram Jo. Maksud hati memancing amarah Lucius, namun Jo yang termakan dengan pancingan lawannya.


"Kau tidak akan bisa menyentuhku, Tuan Rick..", lalu Lucius mematikan telepon sebelah pihak.


Jo membanting teleponnya. Ia langsung menggenggam erat gelas minuman yang dipegangnya hingga gelas itu pecah.


"Bryand dan Alvaro....", gumam Jo pelan lalu menghubungi anak buahnya itu.


Setelah selesai menghubungi Bryand. Jo bergegas menuju markas dari apartemennya. Ia pulang sejenak hanya untuk mentralkan amarahnya. Biar bagaimanapun, kelalaian anak buahnya tidak terlepas dari dirinya, ia tidak bisa menghukum anak buahnya lebih sadis.


Tiba di markas dengan waktu tengah malam, Jo langsung menuju ke ruangan IT di sana Alvaro sudah menunggu.


"Apa yang kau dapat?", tanya Jo langsung.


"Nomor yang tadi tidak dapat dilacak. Sepertinya orang-orang Lucius sangat ahli di bidang ini, Tuan...", jawab Alvaro.


"Selidiki terus... Bryand, malam ini, cari informasi mengenai the Centinental. Dapatkan bukti apa saja, sehingga mampu membuat kelompok itu hancur dan tidak ada satu orang pun di pemerintahan yang dapat melindungi kelompok itu..", perintah Jo.


Bryand mengangguk. Ia belum tahu jika Jo mendapatkan foto kekasihnya sedang terikat dengan hanya mengenakan pakaian dalam.


.


.


.


.


Villa milik Lucius di Sumba.


"Kau sudah bangun, cantik?", tanya Lucius menyeringai ketika Claudya sadar lebih dulu.


Claudya yang kini sadar sepenuhnya mulai merasa risih karena tubuhnya yang terbalut pakaian dalamnya ditatap lapar oleh Lucius.


"Cuih...", Claudya meludah.


Lucius hanya terkekeh.


"Jangan harap kau akan menikmati tubuhku...!", ketus Claudya.


"Cara bicaramu sama dengan suamimu yang sombong itu..!!!", balas Lucius dengan terkekeh.


"Suamiku? Richard Jo? Hahahhaa.. Kau belum mengenalku dengan baik, Tuan Lucius... Rasanya aku ingin meledakkan kepalamu sekarang...!", geram Claudya.


"Aku akan mengambilkan makanan untukmu lalu kita bermain... Akan ku tunjukan bahwa aku tidak kalah bisa memuaskanmu melebihi Jo...", ucap Lucius lalu berlalu dari kamar itu.


Claudya berdecak. Ia menoleh melihat Jeny yang masih belum sadar.


"Jenyyyyy....", panggil Claudya berteriak dengan maksud membuat asistennya itu kaget.


"Sial... Dia tidak sadar... Aku harus tenang...", gumam Claudya pelan.


Ia terus memperhatikan ruangan itu, mencari celah agar dapat membebaskan diri.


Beberapa saat, Lucius masuk membawa makanan ke dalam kamar.


"Jangan menatapku seperti itu... Aku semakin berselera ingin segera menikmatimu nanti...", sarkas Lucius.


Claudya membuang mukanya ke arah Jeny.


"Asistenmu itu sepertinya belum bangun... Setelah aku selesai denganmu, asistenmu berikutnya..", ucap Lucius.


Ia mulai menyiapkan makanan ke mulut Claudya namun wanita itu tidak membuka mulutnya. Lucius memaksa, namun tetap sama sehingga dengan kasar ia meremas kedua pipi Claudya, dan membuka mulut wanita itu secara paksa menyuapkan makanan.


Claudya menatap tajam Lucius.


Tertawa. Bahu Lucius bergoyang karena tertawa melihat tingkah Claudya yang membuatnya gemas.


"Makan lagi, atau ku paksa dengan bibirku?", tanya Lucius.


"Lebih baik aku mati, daripada harus menikmati bibirmu yang sangat tebal itu.. Membuatku jijik...", jawab Claudya tanpa takut.


Lucius geram lalu menampar wajah Claudya hingga memerah.


"Lebih baik kita langsung ke intinya...".


Lucius melepaskan kait penutup gunung Claudya, sehingga menyembullah apa yang ada di baliknya membuat pria itu semakin bergairah.


Claudya masih terikat kaki dan tangannya. Dadanya bergerak naik turun karena ia sangat merasa jijik. Tubuhnya atasnya dilihat oleh Lucius.


"Waowww... Sangat pas...", gumam Lucius yang kini dengan suara beratnya.


"Bagaimana kalau yang dibawah juga dibuka?", tanya Lucius.


Claudya semakin menegang ketika pria itu mengambil gunting di meja dan mulai sedikit perlahan menggunting kain segitiganya.


"Brengsekkkk... Jangan lakukan itu.....!", geram Claudya berteriak.


Tangan dan kakinya yang terikat terasa kebas. Sudah berjam-jam lamanya ia dan Jeny terikat seperti itu.


Memaksa bergerak agar kelakuan pria itu tidak berlanjut.


"Jangan bergerak cantik.,.. Nanti gunting ini yang akan masuk ke lembahmu, bukan tongkatku....", ucap Lucius tak berperasaan.


Ia semakin gemas, menggunting kain segitiga yang dikenakan oleh Claudya sehingga terpampang jelaslah apa yang ada. Bersih tanpa ada rambut yang tertinggal.


Lucius menggerakan jakunnya naik turun melihat pemandangan itu. Jemarinya mencoba mengelus.


Air mata Claudya merembes. Ia tidak menyangka jika menjadi korban pelecehan seperti ini.


"Ja....nga...n....", gumam Claudya lirih.


Lucius tertawa. Ia merasa menang membuat wanita itu menangis. Memohon.


Gairah yang terpancar dari mata Lucius menandakan bahwa ia sudah sangat tak tahan. Claudya sebagai wanita normal tau itu.


Ia terus menatap nyalang ke arah pria yang ada di depannya.


Perlahan jemari lusius mulai meraba wajahnya. Dari mati, turun ke bibir merah itu.


"Kau memancingku berbuat demikian, Claudya...", suara berat Lucius di samping telinga Claudya.


Tubuh Wanita itu bergetar.


"Jangan menangis, kita akan menikmati ini...", Lucius berucap sambil lidahnya bergerak ditelinga Claudya.


Ia terus melakukan itu, sampai turun ke bawah leher jenjang milik wanita cantik itu.


Claudya meremang. Gadis itu mulai bergetar, airmatanya tak tertahan. Berusaha kuat, namun apalah daya, ia merasa tubuhnya tak lagi bertenaga.


Lucius terus menjamah tubuh wanita itu. Leher putih mulus sudah ditandai dengan warna merah akibat sesapan.


Ia mencoba meraup bibir Claudya, namun Claudya melawan, ia menggigit lidah Lucius yang memaksa masuk ke dalam rongga mulutnya, sehingga Lucius geram dan menampar Claudya hingga wanita itu pingsan.


"Sial....", umpat Lucius. Ia jadi tidak berselera melihat Claudya yang tadi sadar dan berusaha berontak kini diam dengan mata tertutup.


Laki-laki itu memindahkan Claudya ke atas ranjangnya, membaringkan tubuh yang diam itu lalu kembali mengikatnya, yang tadi diikat berdiri, dilepaskan kemudian diikat di atas tempat tidur berbaring dengan posisi ikatan masih sama. Tangan dan kakinya diikat terbuka dengan tubuh polos.


Lucius melihat inti Claudya yang kini terbuka pun tidak tahan, namun apa lah daya, pria itu akhirnya berperang dengan kelima jarinya sambil menatap milik Claudya yang terbuka.


"Ahhhhhh, Claudya.........", erangan panjang Lucius setelah air dari tongkatnya merembes mengenai jarinya.


.


.


.


.


Di bandara, Kabupaten Sumba, Jo dan kedua asistennya serta beberapa anak buahnya telah tiba.


"Kita menuju ke Villa si brengsek itu ...!!".