Mr. Rick

Mr. Rick
Bab 21




Richard Jo Fernand.


Penerus JF Group. Putra Pertama Pasangan Don Adriand Jo Fernand dan Regina Parasela.


Presdir JF Group sekaligus Ketua Kalangan Bawah Black Hunter. Dingin, Cuek, dan Tak tersentuh oleh siapapun. Sadis di luar, Manis di dalam.



Lee Claudya Gitta.


Anak kedua, princessnya Ayah Albert Bernard Lee dan Ibu Ellena Martha. Pecicilan, tetapi berkemauan kuat, tidak ingin ditindas. Lebih tinggi pada mereka yang merasa tinggi, merendah pada mereka yang sadar diri.


...****************...


Back to story.....


Visual Pemeran lainnya, nyusul yaaaa?


Tetap stay pada cerita ini. Kalau bosan, coba deh ngopi dulu... Atau sekedar nulis komentar apa gitu...!!! Ya, ya, ya....??


Okey,... Kita Lanjut*,....😁😁😁😁😁


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Akhhh siallll.....!", gerutu Jo ketika mobilnya diserang.


Dengan cepat Jo menghubungi Alvaro.


"Al, lacak lokasiku... Red Kode", ucap Jo yang terus memacu kendaraannya ke jalanan sepi.


"Siap Tuan....", jawab Alvaro langsung mengecek lokasi Bosnya lalu menghubungi anak buah mereka yang lain.


Saling berpacu kecepatan, namun karena kondisi mobil Jo yang sudah ringsek sebagian, akhirnya kendaraan musuh dapat menyalip.


Posisi diapiti depan belakang, Jo tidak ingin berhenti. Ia terus menekan pedal gas agar mobilnya terus berjalan, bermaksud mengulur waktu hingga anak buahnya tiba di lokasi.


Selang beberapa menit, anak buah Jo beserta Alvaro melepaskan tembakan pada mobil yang menghimpit kendaraan Tuannya dari belakang, hingga akhirnya mobil itupun kehilangan keseimbangan dan terbalik.


Dengan posisi seperti itu, Jo akhirnya berhnti dan keluar dari mobilnya kemudian lari dan berlindung di bagian belakang mobil.


Alvaro dan anak buahnya terus menembak mobil yang ada di depan.


Duarrrrrrr...


Suara ledakan menggema di sini hari itu akibat ledakan dari mobil musuh yang mengakibatkan empat penumpang di dalamnya terpanggang.


"Mr. Rick....", panggil anak buahnya setelah mendapati posisi Jo di belakang mobilnya.


"Hmmm. Terima kasih...", ucap Jo pada mereka semua.


Alvaro kemudian datang, setelah memeriksa musuh di mobil pertama yang dilumpuhkan.


"Siapa mereka..?", tanya Jo.


"Mereka dari kumpulan Black Night...", lapor Alvaro.


"Rupanya Si Tuyul itu belum puas...", seringai Jo.


"Benar Mr... Laki-laki pendek itu belum sadar berhadapan dengan siapa...", jengkel Alvaro mengatai musuh mereka.


"Harusnya tak ku ampuni waktu itu....".


"Kematian adik perempuannya membuat ia tak berpikir panjang. Masih menyalahkan anda, Mr...", duga Alvaro.


"Hmm... Akan ku buat dia lebih pendek nanti... Ayo...!", ajak Jo. "Bersihkan area ini, kirim mereka semua (musuh) kembali ke markas Black Night..", perintah Jo lalu pergi dari situ diikuti Alvaro.


"Al, sepertinya informasi tentangku sangat berharga, sehingga sudah dua kumpulan mengikuti sampai di sini...?", tanya Jo.


"Benar, Tuan... Kita harus perbanyak pengawal untuk nyonya muda...", saran Alvaro sambil mengendarai kendaraan menuju rumah sakit.


"Lakukan, tetapi jangan disadari olehnya... Kau tahu, aku menjanjikannya kebebasan setelah menikah denganku...", ucap Jo.


"Siap, Tuan....!", sahut Alvaro kemudian fokus pada jalanan.


Sesampai di rumah sakit, Jo langsung menuju ke kamar inap sang istri yang sedari tadi dengan cemberut menunggu pria itu.


"Hehehehe.. Hai sayang... Sudah bangun? Ini masih pagi sekali....", nyengir Jo karena ketika membuka pintu kamar, langsung ditatap nyalang oleh Claudya.


"Dari mana?", tanya Cla kesal.


"Ada sesuatu yang harus ku bereskan....", jawab Jo langsung mengecup kening Cla.


"Bajumu bau asap....!".


"Oh, tadi kendaraan ku macet saat mau ke sini, jadi aku perbaiki sebentar....", bohong Jo.


Claudya yang tidak percaya terus menatap ke arah Jo dengan selidik.


"Kau berbohong....", tuduh Claudya.


"Aku mandi dulu...!", elak Jo lalu melangkah ke kamar mandi dengan cepat.


"Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu, Jo ..", batin Cla melihat tingkah Jo.


Setengah jam Jo membersihkan dirinya, ia keluar.


"Mau sarapan sekarang?", tanya Jo tersenyum.


"Aku belum sikat gigi....!", kesal Claudya.


"Tetap wangi.....", gurau Jo yang dibalas tatapan Cla.


"Kau kira, dengan mengatakan gombalan tidak masuk akalmu itu kau selamat dari pertanyaanku semalam ha?", sungut Claudya.


"Pertanyaan yang mana?", tanya Jo berpura-pura tidak tahu.


"Ahhh, sudahlah... Menyebalkan berbicara denganmu....", Claudya berucap kemudian kembali membaringkan tubuhnya di kasur.


"Tidur lagi?".


Jo hanya menghela napas panjang.


"Kita ke Korea besok....!", ucap Jo setelah beberapa saat terdiam.


Claudya yang mendengar perkataan Jo membuka matanya dan bangkit serta melirik ke arah pria itu.


"Apa?", tanya Jo ketika melihat Cla yang masih meliriknya kesal.


"Ternyata otakmu sepertinya sedikit geser karena bertarung dengan Willy kemarin....", ucap Claudya.


"Apa yang kau katakan? Aku baik-baik saja....!", heran Jo.


"Aku yang tidak baik-baik saja....", sungut Claudya.


"Apanya yang tidak baik-baik saja, hm?", Jo mendekat bermaksud mendekap Claudya namun ditepis.


"Aisshhhh... Sudahlah.. Katamu kita dua Minggu bulan madu kan?", tanya Cla.


"Terus?", Jo balik bertanya.


"Kita baru sampai di Swedia, aku sudah kecelakaan, Jeny sudah kau suruh pulang duluan dengan asisten menyebalkanmu itu, aku sudah lima hari mendekam di rumah sakit, kakiku, tanganku, belum digerakkan dengan sempurna. Kita harus terbang lagi ke Asia?", omel Cla panjang lebar.


"Kita berobat ke sana...!", sahut singkat Jo.


"Terus sakarang? Kita sedang bermain?", jengkel Claudya.


"Hm, maksudku, di sana metode penyembuhannya lebih cepat....".


"Dari mana kau dapatkan informasi itu?", selidik Claudya.


"Dari drama Korea....", sahut Jo kemudian siap berlari menghindar dari amukan singa betina.


"Richard Jo Fernanddddddddddddd", teriak Claudya.


"Hehehehe... Kau terlalu banyak mengomel, Cla... Kita ke sana karena ada cara agar kau cepat pulih...", ucap Jo lembut.


"Apa??? Ilmu gaib? Ha?", tanya Claudya dengan suara yang masih sedikit tinggi.


"Aku sudah mengirim hasil Rontgen tangan dan kakimu ke rumah sakit di sana dan kata dokter yang kebetulan temanku bahwa kakimu bisa pulih dengan cepat, tanpa harus menunggu beberapa Minggu dengan pengobatan yang mereka akan lakukan...", jelas Jo panjang tambah lebar.


"Terserahlah.......", sahut Claudya masih dengan tatapan marahnya.


"Oke...".


Mereka berdua terdiam dengan pikiran masing-masing.


"Jo... Sebenarnya aku apa bagimu?", tanya Cla pelan.


"Kau istriku....!", jawab Jo.


"Kau mencintaiku?".


"Aku belum menemukan jawabannya... Kau?", tanya Jo balik.


"Aku tidak tahu. Rasanya aku tidak percaya cinta....".


"Mengapa? Karena Willy?".


"Hm, bisa dibilang begitu, bisa juga tidak..".


"Maksudnya?", tanya Jo lagi.


"Kau tahu? Laki-laki sering mengatakan cinta, tetapi mereka juga sering mengingkarinya hanya karena napsu semata....".


"Aku belum pernah jatuh cinta....", ucap Jo. "Kamu yang pertama bagiku...!".


Claudya menoleh, menatap mata Jo mencari kebohongan yang ada di sana.


"Apa bedanya napsu dengan cinta....?", tanya Claudya.


"Aku tak tahu bedanya. Hanya saja, sangat tidak masuk akal kalau ada cinta tetapi tidak ada napsu...", Jo berpendapat.


"Maksudnya?", Cla.mengernyit heran.


"Adanya kau dan aku adalah bukti cinta, juga bukti napsu...".


Claudya semakin mengernyit heran.


"Cinta ya cinta, napsu ya napsu lah.....", bantah Claudya.


"Kan sudah aku katakan? Aku belum pernah jatuh cinta, jadi mendefinisikan cinta itu seperti apa ya aku tak tahu lah....", sahut Jo.


"Apa yang kau rasakan saat bersamaku?", tanya Claudya lagi.


"Tidak dapat dijelaskan....", jawab Jo mulai mendekat dan duduk berhadapan dengan Claudya sambil mengusap pipi wanita itu.


Cup...Cup...Cup...


Jo mengecup bibir Claudya.


"Ini yang ku rasakan....", lagi Jo menempelkan bibirnya ke bibir Claudya, hanya saja durasinya sedikit lebih lama dan ditambah dengan *******-******* kecil.


Claudya terhanyut lalu melingkarkan tangannya di leher Jo.


Mereka saling membelit, hingga Jo mnghentikan aktivitas itu.


"Itu yang aku rasakan....", ucap Jo menatap mata Claudya.


Claudya tertunduk malu dan pipinya bersemu merah.


Jemari Jo mulai memainkan perannya, mulai dari mata, turun ke bibir, dan terus turun.


"Mata ini, hanya boleh melihat ke arahku.. Bibir ini, hanya boleh menyebut, mendesahkan namaku... Dan.......", tangan Jo berhenti pada area kembar sang istri, menyentuh pelan, kemudian membuka kancing baju Claudya.


"Dan ini, hanya untukku, dan untuk anak-anakku....", bibir Jo mulai berperan di area kembar itu yang sudah terpampang tanpa penyanggah.


Jari jemari Jo menelusuri perut sang istri, semakin ke bawah..


Dan tau lah akhirnya seperti apa....... hehehehehhe