
Hari berlalu.
Perang dingin, tanpa komunikasi semakin terasa. Richard Jo dan Claudya Gitta semakin menjaga jarak.
Sebenarnya setiap masalah harus dihadapi dengan kepala dingin. Jo pernah coba menjalin komunikasi, hanya saja wanitanya terlalu keras kepala. Ia selalu berspekulasi yang tidak-tidak terhadap suaminya.
Malam ini pertemuannya dengan ketua Centinental. Kelompok yang disewa Claudya untuk menjadi pengawal bayangan.
Mereka bertemu di sebuah Club malam yang tidak semua orang bisa masuk ke Club tersebut sekalipun memiliki banyak uang.
Anak buah Jo tetap mengikuti pergerakan Claudya, namun mereka hanya sampai di depan Club malam itu. Tidak ada akses untuk masuk. Mau melawan pengawal yang berjaga di situ pun tidak, karena tidak ingin menarik perhatian.
Laporan diterima Jo.
Ia bergegas ke Club itu. Tentu ditemani oleh kedua asistennya.
Beberapa saat, mereka tiba. Jo dengan mudah memiliki akses untuk masuk. Orang berpengaruh di dunia bisnis, ketua paling berbahaya di organisasi bawah tanah. Sangat mudah.
Mereka bertiga berpencar mencari posisi Claudya, tetapi seakan ruangan di dalam Club itu berlapis.
"Kau menemukannya?", tanya Jo heran.
"Tidak, Tuan. Setiap ruangan sudah saya periksa, bahkan private room pun sudah, hanya saja tidak ada..", jawab Bryand ketika mereka kembali ke tempat semula.
"Saya juga tidak menemukannya, Tuan..", Alvaro ikut memberikan laporan.
"Anak buahmu tidak mungkin salah mengenali orang kan, Al?", lagi Jo bertanya.
"Benar, Tuan. Informasi yang kita dapatkan memang tidak salah...!", lagi Alvaro menjawab.
Mereka kebingungan.
"Cari pemilik tempat ini...!", perintah Jo.
Mereka mencari pemiliknya.
Di atas kertas, Club itu milik seorang pengusaha properti, namun di balik itu, Club itu adalah milik Lucius. Tentu sang pemilik akan terus bungkam meski didesak oleh tiga orang berbahaya itu.
Dalam sebuah ruangan.
Claudya yang kebetulan datang sendirian, karena Lusia ditugaskan untuk mengecoh, jadi aman-aman saja.
"Selamat datang, nyonya Lee...", sapa Lucius.
"Yahh. Ada apa mengajakku bertemu di sini?", tanya Claudya.
"Kita bersantai sejenak...", ucap Lucius basa-basi.
"Katakan, aku lelah, Tuan Lucius... Hanya ingin cepat pulang...!", ketus Claudya ketika melihat Lucius menatapnya seolah menelanjangi dirinya.
"Minum, nyonya Lee...", ajak Lucius yang kini menuangkan wine di dalam gelas Claudya.
"Kau tidak menaruh semacam obat perangsang atau obat tidur di dalam minuman ini kan?", tanya Claudya menyelidik.
"Hahahhaha... Tentu tidak, nyonya... Anda dapat mempercayai saya...", Lucius menjawab.
Claudya meneguk sedikit wine yang ada di dalam gelasnya.
"Katakan, Tuan Lucius...", desak Claudya.
"Ketujuh orang pengawal bayangan yang anda tugaskan menghilang sejak tiga hari yang lalu...", lapor Lucius.
Claudya membola.
"Bagaimana bisa? Bukannya anda mengatakan bahwa mereka terlatih?", tanya Claudya heran.
"Sepertinya ada kelompok lain yang mengawasi anda...", ucap Lucius santai.
"Saya sudah tahu siapa orangnya...", jawab Claudya.
Mereka berdua terdiam dengan pikirannya masing-masing.
"Bagaimana? Apa perlu dilanjutkan?", tanya Lucius.
"Tidak... Aku akan tetap membayarnya sesuai harga yang disepakati.. Kerjasama kita sampai di sini saja...!", ketus Claudya.
Katanya terlatih, namun sepertinya anak buah suaminya lebih kuat dibandingkan anak buah Lucius, sehingga dengan mudah menyingkirkan hama seperti itu.
Lucius mendelik.
"Kau tahu siapa suamimu, nyonya Claudya?", kini Lucius mengalihkan pembicaraan.
"Kau kenal suamiku, tuan Lucius?", tanya Claudya heran.
"Tentu. Richard Jo Fernand. Presdir muda JF Group. Pengusaha paling muda yang menyandang gelar Presdir. . Tetapi....", Lucius menjeda. Ia ingin memancing Claudya untuk semakin bertanya lebih dalam.
"Tetapi dia juga adalah ketua organisasi bawah tanah Black Hunter.. Ketua yang paling ditakuti oleh organisasi mafia yang lainnya..", lanjut Claudya santai.
Lucius membola. Dia tidak menyangkan bahwa Claudya mengetahui jati diri suaminya sendiri dengan baik.
"Anda tidak takut berhadapan dengan pembunuh sepertinya?", Lucius bertanya.
"Yahhh, aku tahu... Aku hanya memperingati anda... Tentu anda tahu resikonya menjadi wanita dari seseorang yang memilik banyak musuh...", ucap Lucius.
"Tenang saja... Anda belum mengenalku lebih jauh...", sahut Claudya.
"Kalau begitu, bagaimana jika kita saling mengenal lebih jauh, nyonya Lee?", seringai Lucius.
"Anda merayu, Tuan Lucius?", Claudya balik bertanya. "Maaf, aku tidak ingin berhubungan dengan laki-laki selain suamiku dan keluargaku...", jawab Claudya lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu ruangan private itu.
Lucius menahan pergelangan tangan Claudya.
"Lepaskan tangan anda dari pergelangan tangan saya.. Atau anda akan tahu akibatnya...", ancam Claudya yang kini merasa risih dengan cekalan tangan itu.
"Ahahahaha... Anda tahu, sekalipun anda berteriak, tidak akan ada yang mendengar... Ini adalah ruangan di dalam ruangan...", tawa Lucius pecah, namun tetap memegang erat pergelangan tangan Claudya.
Claudya menyeringai.
"Kau ingin kita bermain sebentar, Lucius?", kini ucapan Claudya dibuat selembut mungkin.
"Yahhh, begitu seharusnya.", ucap Lucius yang kini merapatkan tubuh Claudya padanya.
Claudya mengikuti alur. Ia merasa ingin muntah melihat kabut gairah dari mata Lucius.
Pelan, Claudya memainkan jemarinya di dada Lucius. Jemari itu terus turun, menuju pangkal paha milik pria itu.
Hingga pada akhirnya, ia meremas kuat telapak tangannya di area batang Lucius yang masih terbungkus dengan celana kain panjang.
Lucius meringis. Kesempatan bagi Claudya. Ia terus meremas milik Lucius semakin kencang, lalu melepaskannya dan menaikan lutut mengenai batang milik pria itu.
Seketika itu juga Lucius membola kemudian ambruk ke lantai.
"Jangan kau kira aku sama dengan perempuan lain... heeeh ..", Claudya berlalu pergi.
Sebelum keluar dari ruangan itu, Claudya kembali menoleh menatap Lucius yang tegelatak meringis.
"Kau pikir punyamu besar? Hahahah.. Kau tidak bisa menggantikan milik suamiku yang sangat memuaskan ku itu....!".
Claudya keluar dari ruangan.
Memang benar. Private room itu ada di dalam ruangan berlapis, sehingga jika Jo tidak bisa menemukannya pun wajar.
Sekejab bayangan tertangkap oleh Alvaro.
"Tuan, itu Nyonya muda....", ucap Alvaro yang membuat Jo menoleh.
"Tangkap pemilik Club ini... Bawa ke markas... Bryand, bantu Alvaro...", perintah Jo lalu berlari mengejar Claudya.
Setelah hampir sampai di mobilnya, tangan Claudya kini digenggam.
Wanita itu menoleh.
"Ikut aku...!", ucap Jo ketus.
Mereka berdua keluar dari parkiran dalam keadaan diam.
"Kamu mengikutiku, Tuan Jo?", tanya Claudya memecah keheningan di dalam mobilnya.
"Salah? Jangan katakan kau membahas bisnis di sini. Karena Jeny maupun Lusia tidak mengikutimu...", jawab Jo tenang.
"Terserah aku... Bertemu siapa dan siapa bukan urusanmu kan?", tanya Claudya memancing emosi Jo.
"Kamu istriku, Claudya.... Bagaimana jika paparazi melihatmu bertingkah seperti ini, atau bahkan anak buah orang tua kita yang melihatnya? Kamu tidak memikirkan itu?", panjang lebar Jo mengumpat.
"Urusan apa dengan kata orang? Persyaratanku tetap sama. Kebebasan... Kamu pahamkan itu?", tanya Claudya yang kini berbalik menyerang Jo.
"Iya... Bebas. Bukan berarti kamu tidak tahu menempatkan diri....", kini jawaban Jo semakin naik nada.
"Terus? Kebebasan menurutmu apa? Kamu menempatkan anak buahmu menjadi pengawalku, memata-matai segala kegiatanku? Begitu? Risih....", Claudya memberi penjelasan dengan nada tinggi juga.
"Aku hanya ingin melindungi mu.. Perusahaan kita perusahan besar Claudya. Semakin besar, kita akan terus diterpa masalah, seharusnya kamu tahu itu...", ucap Jo.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri....", balas Claudya ketus dan kini mengalihkan pandangannya ke luar jalanan.
"Kamu tidak mengerti, Cla...", kini Jo melembut.
"Kamu yang tidak mengerti, Rich... Kamu menjual perempuan dan narkoba, itu sangat membuatku kecewa.. Menyesal aku tidak mencari tahu tentangmu lebih dulu secara rinci....", Claudya menyampaikan kekesalannya.
"Kamu membohongiku.. Harusnya aku tahu dari dirimu sendiri, bukan musuhmu dan lain sebagainya. Aaaaa.......", Claudya kini berteriak di dalam mobil meluapkan emosinya.
"Maafkan aku...", ucap Jo pelan.
"Kamu tidak bisa mengembalikan setiap perempuan yang kau jual. Kamu tidak bisa menarik kembali narkoba yang kamu edarkan. Percuma...!", balas Claudya.
"Cla... Data yang kamu terima ada yang tidak benar....", ucap Jo membatah.
"Haah... Aku tak ingin mendengar penjelasanmu itu.. Kamu akan terus melindungi diri dari kesalahanmu...", elak Claudya.
"Mau kamu apa sekarang?".
"Jangan dekati aku sampai kamu tinggalkan organisasi itu...!", sahut Claudya yang kini keluar dari kendaraannya karena mobil mereka sudah tiba di kediaman.